Aliran-aliran Pemikiran Dalam Islam

Oleh : Harkaman, Heki Hartono & Agus Setiawan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Di dalam al-Qur’an terdapat ayat yang Qathi’ (pasti, yang tidak mungkin lagi dimasuki oleh daya nalar manusia, seperti kewajiban melakukan shalat, wajib puasa, zakat dan haji. Kemudian ada lagi ayat-ayat yang zhanni (dugaan,memungkinkan beberapa pengertian dan penafsiran). Dari ayat-ayat yang bersifat zhanni ini timbul berbagai macam pendapat dan aliran dalam Islam.[1]

Dari interpretasi yang berbeda terhadap ayat-ayat yang zhanni,  kemudian muncul berbagai macam aliran pemikiran Islam. Ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW wafat. Di zaman Nabi pemetaan pemikiran belum terjadi karena Nabi menjadi sumber rujukan tunggal dalam memahami ayat-ayat tersebut.

Sekarang kita kenal berbagai macam pemikiran atau aliran-aliran pemikiran dalam Islam.  Hal tersebut sedikit menjelimet dan membuat kaum muslimin sedikit bingung dalam pmenyaksikan realitas yang ada. Terlebih dalam persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah? Maka dari itu, siapa yang akan diikuti menjadi persoalan yang lebih rumit lagi.

Aliaran –aliran dalam Islam secara garis besarnya adalah tasawuf, politik, hukum, filsafat dan teologi. Masing-masing dari pembagian aliran-aliran yang telah kami sebutkan di atas. Mereka terbagi-terbagi lagi menjadi beberapa bagian.

Namun hal yang terpenting yang harus digaris bawahi sumber mereka satu yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedang realitas yang ada meman benar adanya bahwa Allah SWT menurunkan ayat yang sifatnya zhanni lebih banyak daripada ayat yang sifatnya Qhat’i. Agar daya nalar yang dimiliki oleh manusia berkembang.

Dan kami di sini ingin mengatakan perbedaan tersebut janganlah dianggap sebagai sebuah masalah, terlebih mengatakan hal itu adalah ‘aib. Tidak perlu bingung, dan menjadikannya sebagai beban yang memberatkan kehidupan kita. Yang terpenting mengikuti ajaran yang telah diyakini dengan sebaik mungkin. Dengan landasan fitrah yang menjadi neraca.

 

1.2.Rumusan Masalah

Sehubungan latar belakang masalah telah kami uraikan di atas, maka ada beberapa masalah yang akan kami rumuskan. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sebutkan dan jelaskan aliran-aliran pemikiran dalam Islam?
  2. Pokok permasalahan yang menjadi perdebatan utama umat Islam itu dalam bidang apa?
  3. Jelaskan eksistensi aliran-aliran pemikiran dalam Islam terhadap masyarakat?

1.3.Hipotesis

Persoalan ke-Islaman adalah hal yang sangat menarik untuk dikaji. Tentunya hal ini tidak dimiliki oleh agama-agama sebelumnya. Berangkat dari Latar Belakang dan Rumusan Masalah, kami mencoba membuat sebuah kesimpulan sementara.

Adanya persoalan tersebut adalah sebuah rahmatan lil’alamin. Perbedaan kemudian muncul karena satu faktor penyebab yaitu interpretasi yang berbeda. Terkadang yang memandang sebuah kemaslahatan dari kiri dan ada juga yang memandangnya dari sebelah kanan. Atau segi kedalaman yang dliahatnya dalam sebuah kemaslahatan. Tentunya objek mereka sama bahakan sumber dalil yang mereka pegangi sama.

Saling menyalahkan, bukan sebuah disiplin ke-Ilmuan yang baik. Yang terpenting adalah solidaritas dan pemahaman tentang permasalahan dengan mendalam. Sehingga hasil yang mereka timbulkan tidak memunculkan perdebatan yang panjang dan berujung pada persoalan yang meresahkan masyarakat.

Eksistensi dari berbagai aliran yang muncul itu, mempunyai tujuan tersendiri. Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah niat mereka masing-masing. Karena 90% dari golongan itu mempunyai niat baik. Yaitu menginkan umat Islam agar memahami Islam secara mendalam. Walau ada beberapa persen yang tujuan mereka untuk menghancurkan Islam. Namun itu dalam persoalan khusus dan berada dalam komunitas kecil.

1.4.Tujuan Penulisan

Dengan adanya makalah yang telah kami susun ini bisa menambah khasanah keilmuan kita, khususnya dalam kajian ke-Islaman. Bukan sekadar berislam akan tetapi benar-benar mengerti apa itu Islam. Sehingga masyarakat dapat tercerahkan dengan eksisistensi yang diperkenalkan oleh pemikiran-pemikiran Islam yang mengarah kepada kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Tujuan yang kami targetkan juga diinginkan masyarakat muslim mengenal pokok permasalahan Islam, sehingga taqliq yang mereka lakukan bukan sekadar berkiblat semata. Tidak berarti segala hal harus dikeritisi dan harus mereka rasionalisasikan. Misalnya pada bidang fiqih, tentunya mereka wajib taqliq. Tidak perlu mempersoalkan kenapa sholat subuh dua rakaat, puasa itu wajib dan lain-lain.

Dalam pembahasan lain persoalan taqliq justru kurang afdal dilakukan. Yaitu pada persoalan tauhid atau ke-Tuhanan. Mereka harus bisa juga menjawab persoalan kenapa harus ber-Tuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1.4.Manfaat Penulisan

Setelah melihat semua kerangka tersebut di atas, maka tibalah saatnya kami membahas manfaat dari makalah yang telah kami susun ini. Adapun manfaat-manfaat yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

  1. Mampu memahami ajaran Islam yang sesungguhnya.
  2. Mampu mengklarifikasi dan memetakan aliran-aliaran penmikiran dalam Islam.
  3. Wilayah taqliq dan wilayah non-taqliq dapat dimengerti.
  4. Diharapkan masyarakat Muslim bisa bersikap kritis dan analis objektib.
  5. Menciptakan masyarakat yang berakhlak muliah.

BAB II

ALIRAN-ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM

  1. A.    Teologi
    1. Pengertian ilmu Kalam (Teologi Islam)

Menuurut Ibnu Kaldum, sebagaimana dikutip A. Hanafi, ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan=kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.

Setelah itu pula yang mengatakan bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Di dalam Ilmu ini dibahas tentang cara ma’rifat (mengetahui secara mendalam) tentang sifat-sifat Allah dan para Rasul-Nya dengan menggunakan dalil-dalil yang pasti guna mencapai kebahagian hidup abadi. Ilmu ini termasuk induk ilmu agama dan paling utama bahkan paling mulia, karena berkaitan dengan zat Allah, zat para Rasul-Nya.[2]

  1. Sejarah Munculnya Teologi

Di masa Nabi Muhammad umat Islam belum mengenal namanya teologi. Karena sumber  penyelesaian segala permasalahan masa di tangan Nabi. Setelah wafatnya Nabi barulah mulai muncul sedikit permasalahan yang penyelesaiannya agak rumit. Persoalan pertama itu adalah masalah siapa yang akan menggantingan Nabi. Namun persoalan ini masi bisa diselesaikan, terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah. Hingga di zaman Umar bin Khattab persoalan teologi belum muncul.

Persoalan yang benar-benar merisaukan umat Islam setelah wafatnya khalifah yang ke-3 Utsman bin Affan. Kemudian dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib. Di mana pemerintahan di kala itu sangat kacau balau. Bahkan terjadi di antara umat Islam itu sendiri. Yaitu perang jamal, Aisya binti Abu Bakar dengan Ali bin Abi Thalib. Namun perang ini dapat diselesaikan oleh khalifah. Peran selanjutnya dikenal dengan nama perang shiffin terjadi pada abad ke-7 M, anatara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.

Di sinilah awal perpecahan umat Islam yang benar-benar tampak. Di saat pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Amr bin Ash nyaris mengalami kekalahan, kemudian Amr mengangkat al-Qur’an sebagai isyarat perdamaian. Usulan ini kemudian diterima. Sehingga diadakan perundingan. Hasilnya Ali diturunkan dari jabatannya dan Muawiyah diangkat menjadi Khalifah.

Dari kelompok Ali tidak sepenuhnya mengikuti keputusan sang khalifah, ada yang sepakat kemudian disebut syi’ah dan yang tidak sepakat disebut khawarij.

Khawarij, dianggap sebagai kelompok politik pertama yang kemudian memunculkan persoalan teologi yakni tuduhan siapa yang kafir di kalangan kaum muslimin. Mereka memandang bahwa orang yang berdosa besar telah berubah menjadi kafir. Orang-orang yang terlibat dan menyetujui perundingan pascaperang shiffin adalah orang-orang berdosa besar.[3] Kelompok inilah yang paling ekstrim, mereka menganggap hanya dirinyalah yang benar. Sehingga Ali dan Muawiyah harus dibunuh. Dan hal itu terwujud pada Ali, namun Muawiyah tidak berhasil.

Lebih khususnya mazhab teologi atau ilmu kalam yang pertama dalam Islam adalah Qadhariyah dan Jabariyah. Qadhariyah didirikan oleh Ma’bad bin Khalid al-Juhani (79 H/699 M) dan Jabariyah Jahm bin Shafwan (127 H/745 M).

  1. ALiran-aliran Teologi Islam
    1. Khawarij

Golongan yang memisahkan diri kelompok Ali bi Abi Thalib, lebih tepatnya kelompok yang tidak sepakat dengan tahkim yang diusulkan oleh kelompok Muawiyah. Kelomapok ini dipelopori oleh Atab bin A’war dan Urwah bin Jarir.

Kelompok ini mempunyai ajaran yang keras yang menjastifikasi Ali dan Muawiyah sebagai pelaku dosa besar. Sehingga darahnya halal dan wajib untuk diperangi. Atau dengan sebutan ajaran khawarij adalah murtakib al-akbar.

  1. Murji’ah

Tindakan pengkafiran terhadap Ali bi Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, Amr bin Ash, Abu Musa al-Asy’ari yang dilakukan oleh kalangan Khawarij, mengundang sikap kekhawatiran di tengah umat Islam. Khususnya para ulama.

Munculnya Murji’ah itu sangat erat kaitannya dengan khawarij, di mana golongan yang dipimpin oleh Ghilan al-Dimasyai berusaha bersikap netral. Golongan tidak sepaham dengan khwarij yang mengkafirkan para sahabat tersebut.

Pokok ajaran dari golongan ini adalah orang Muslim yang melakukan dosa besar tidak boleh dihukumi dengan hukuman dunia, sehingga masuk surga atau neraka tidak bisa ditentukan, karena diakhiratlah nanti yang menjadi sah. Golongan ini memandang orang yang beriman tidak merusak iman ketika berbuat maksiat. Sama halnya dengan ketaatan bagi orang yang kufur.

Iman diartikan sebagai pengetahuan tentang Allah secara mutlak dan kufur adalah ketidaktahuan tentang Allah secara mutlak. Oleh karena orang Murji’ah menganggap iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.

  1. Qadariyah

Aliran yang didirikan oleh Ma’bad al-Juhani berpandangan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam menentukan hidupnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia menentukan segala perbuatan yang dia inginkan.

  1. Jabariyah

Golongan ini sangat berbeda dengan paham Qahariyah, karena manusia dianggap tidak mempunyai kehendak. Perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Tuhan. Golongan yang dibawah oleh Jahm bin Safwan ini, bahkan menyalahkan Tuhan atas perbuatan dosa manusia. Di mana hal itu sudah menjadi setingan Tuhan. Manusia tinggal menjalankan scenario yang telah ada tersebut.

  1. Mu’tazilah

Munculnya golongan ini benar-benar membawa sejarah baru, yang berpegangan kepada konsep rasionalitas. Bahkan dianggap kedudukan akal sebanding dengan wahyu. Pertama kali diperkenalkan oleh Washil bin Atha.

Perinsip-perinsip kalam Mu’tazilah terhimpun dalam apa yang disebut al-ushul al-khamzah atau “pokok-pokok yang lima” yaitu at-tahid, al-manzilah bainal manzilatain, al-wa’d wal wa’id, al-adl, al-amar bil ma’ruf wan nahy anil mungkar.

Atau dapat dirincikan seperti :

1. Keesaan tuhan (al-tauhid )
2. Keadilan tuhan (al-adl )
3. Janji dan ancaman (al-wa’d wa al-waid )
4. Posisi diantara dua tempat ( al-manzilah bain al-manzilatin )
5. Amar makruf nahi munkar (al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy’an al-munkar)

  1. Asy’ariyah

Kelompok asy’ariyah berhasil mengukuhkan pemahaman mereka melalui pendekatan rasional dan sistematika yang dilakukan oleh mu’tazilah. Namun faham-faham ini kemudian juga mengkritik mu’tazilah sendiri.

Dalam hal sifat Tuhan asy’ari berpendapat bahwa Tuhan mempunya sifat seperti ilm, hayat, sama’, bashith dan qudrat. Sifat-sifat tersebut bukanlahdzat-Nya. Kalaui itu dzat-Nya berarti dzat-Nya adalah pengetahuan, dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukanlah ilmu melainkan ‘alim (yang mengetahui).[4]

Tokoh-tokoh aliran asy’ariyah yang terkemuka setelah Abu Hasan adalah al-Baqillani, al-Juwaeni, dan al-Ghazali. Tokoh yang disebut terakhir dapat disebut sebagai tokoh yang berpengaruh besar dalm menybarkan faham asy’ariyah.[5]

  1. Metode Ilmu Kalam

Dari uaraian pemikiran kalam di atas setidaknya kita dapat menunjukkan bahwa pembicaraan kalam itu biasa menyangkut hal-hal berikut:

  • Konsep Iman
  • Konsep keesaan Tuhan
  • Konsep kehendak Mutlak Tuhan
  • Konsep Kehendak Bebas Manusia
  • Konsep Keadilan Tuhan
  • Konsep Kasb Manusia
  • Konsep Meliahat Tuhan di Akhirat
  • Konsep Janji dan Anacaman Tuhan
  • Konsep Urgensi Wahyu
  • Konsep Statu al-Qur’an[6]

Persoalan pertama, apakah konsep iman itu dengan ucapan, perbuatan atau ucapan dan perbuatan. Jika hanya sekadar ucapan, maka perbuatan tidak penting, karena tidak mempengaruhi. Sebaliknya dengan perbuatan dan ucapan tidak penting. Akan tetapi dengan ucapan dan perbuatan, maka ucapan yang harus diikuti oleh perbuatan. Adapun perihal penelitian terhadap metode kalam seseorang, maka hal yang pertama harus dilakukan dan paling menentukan adalah sepuluh konsep tersebut di atas. Yang manakah dianut oleh orang yang akan diteliti.

Abuddin Nata dalam bukunya “Metode Studi Islam”  membagi metode itu menjadi dua, Penelitian Pemula dan Penelitian Lanjutan.

  • Penelitian Pemula

Pada tahap ini hanya tataran membangun ilmu kalam menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan dengan merujuk kepada al-Qur’an dan hadits dan berbagai pendapat aliran teologi.

Sebagai contoh yaitu model al-Ghazali (w.111 M). Imam al-Ghazali yang pernah belajar kepada imam al-haramain sebagaiamana disebutkan di atas, dan dikenal sebagai Hujjatu lislam telah pula menulis buku berjudul al-Iqtisad fi al-I’tiqad dan telah diterbitkan pada tahun 1962 di Mesir. Dalam buku ini di bahas tentang perlunya ilmu sebagai fardhu kifayah, pembahasan tentang zat Allah, tentang qadimnya alam, tentang bahwa penciptaan alam tidak memiliki jisim, karena jisim memerlukan pada materi dan bentuk; dan penetapan tentang kenabian Muhammad SAW.[7]

  • Penelitian lanjutan

Pada tahapan penelitian lanjutan, akan dideskripsikan adanya ilmu kalam. Dengan rujukan pada penelitian tahapan pertama. Para peneliti mencoba deskripsi, analisis, klasisifikasi dan generalisasi.

Sebagai contoh  model Abu Zahrah. Abu Zahrah mencoba melakukan penelitian terhadap berbagai aliran dalam bidang politik dan teologi yang dituangkan dalam karyanya berjudul Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah fi al-Siyasah wal ‘Aqaid. Pernmasalahannya. Teologi yang diangkat dalam penelitiannya ini sekitar masalah objek-objek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada masalah teologi. Selanjutnya, dikemukakan pula tentang berabagai aliran mazhab Syi’ah yang mencapai dua belas golongan, diantaranya Al-Sabaiyah, Al-Ghurabiyah, golongan yang keluar dari Syi’ah, Al-Kisaniyah, Al-Zaidiyah, Itsna Asyariyah, Al-Imamiyah, Isma’iliyah. Selanjutnya dikemukakan pula aliran Khawarij dengan berbagai sektenya yang jumlahnya mencapai enam aliran; jabariyah dan Qadariyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyah lengkap dengan berbagai pandangan teologinya.[8]

  1. B.     Politik

Dalam domain, sebagaiamana halnya dalam bidang sosial dan ekonomi, ada kerangka kerja dari titik acuan Islam yang ditentukan oleh al-Qur’an dan sunnah yang lebih kurang bersesuaian dengan status hukum dasar-konstitusi (di mana ia membuat formasinya)-viv-a-vis perundang-undangan nasional.[9]

Oleh karena itu banyak hal yang harus di titik beratkan dalam pembahasan politik. Khususnya pada kajian metodologi. Sorotan harus berfokus pada permasalahan yang semestinya menjadi pembahasan utama. Jangan keluar dari focus pembahasan.  Mengingat khasanah pendidikan keislaman adalah hal yang sangat urgen.

  1. Pengertian Politik

Dalam  kamus umum bahasa Indonesia, karangan W.J.S Poerwadarminta, politik diartikan sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tatacara pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan dan sebagainya; dan dapat pula berarti segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan), siasat dan sebagainya mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap sesuatu lain.

Selanjutnya sebagai suatu system politik, politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara antara lain ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan negara; siapa pelaksana kekuasaan tersebut; apa dasar dan bagaimana cara untuk menentukan serta kepada siapa kewenangan melaksanaka kekuasaan itu diberikan; kepada siapa pelaksanaan kekuasaan itu bertanggung jawab dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya.[10]

Sedangkan dalam Islam politik diwakili oleh kata siyasah dan daulah; dan ini berkaitan dengan politik keadilan dan musyawarah. Walau pada awalnya tidak digunakan untuk masalah politik. Kata siyasah ini dijumpai pada persoalan hukum, makanya dalam Islam ada istilah fiqh siyasah. Demikian juga kata daulah digunakan pada persoalan penguasaan harta. Misalnya zakat, hak asuh anak dan lain-lain. Namun dalam perkembangannya, kemudian kata siyasah mempunyai makna yang mengatur persoalan pemerintahan atau masalah kenegaraan.

  1. Eksistensi Politik dalam Islam

Minimnya pengetahuan tentang hal tersebut, membuat masyarakat pada umumnya menganggap antara politik dan agama adalah suatu hal yang tidak relasi. Mereka tidak menyadari bahwa Islam bukan hanya sekadar agama, akan tetapi sebuah komunitas. Banyak orang yang beragama Islam, tapi pemahaman yang mereka bawa adalah pemahaman individual.

Persoalan yang pertama muncul dalam Islam adalah persoalan politik. Ketika nabi berada di Madinah kedudukan beliau bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai kepala pemerintahan. Ini adalah sejarah Islam yang telah terjadi di masa lalu.

Sistem pemerintahan yang dibentuk oleh Nabi inilah berhasil mengharmoniskan masyarakat madinah yang flural. Kita kenal “Piagam Madinah”, sebuah konsep yang dibangun melampaui kemodernan pada zamannya. Sehingga dikenallah orang yang hidup di zaman itu, sebagai Masyarakat Madani.

Dan setelah wafatnya Nabi, ini terus berlangsung. Di mana pemerintahan dipengang oleh para khulafu rasyidin secara bergantian. Hingga munculnya teori politik.

  1. Model-model Penelitian Politik

MenurutAlfian, permasalahan politik dapat dikaji melalui berbagai macam pendekatan. Ia dapat dipelajari dari sudut kekuasaan. Struktur politik, partisipasi politik, komunikasi politik, dan juga kebudayaan politik.[11]

Saya akan memperkenalkan metode yang dilakukan oleh M. Syafi’I Ma’arif dan harry J. Benda.

  1. M. Syafi’I Ma’arif

Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan yang handal dan dengan pendekatan normatif historis tersebut, Syafi’I Ma’arif berhasil mengeksplorasi umat Islam Indonesia pada abad ke-20.

Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam lima bab yang saling berhubungan secara organic dan logis. Bab I adalah pendahuluan. Pada bagian ini ia mengemukakan pengertian singkat dan tempat tentang al-Qur’an  dan sunnah Nabi  yang bertalian dengan dengan topic kajiannya. Selanjutnya diikuti dengan Bab II yang mengemukakan secara hati-hati teori-teori politik yang dirumuskan para yuris Muslim abad pertengahan dan sarjana-sarjana serta pemikir Muslim modern. Pada Bab III bertitik berat pada mendekati Islam Indonesia di abad ke-20, yang tidak saja bersifat deskriptif historis, tetapi juga analisis evaluative. Bab ini menurutnya dimaksudkan untuk memberikan suatu latar belakang sejarah yang konprehensif terhadap topic yang dibacakan. Penyajian Islam menurut, lebih diberikan pada penyajian Islam sebagai sutu kekuatan pembebas.

Selanjutnya pada Bab IV, ia menguraikan secara kritis masalah yang sangat krusial, yaitu pengajuan Islam sebagai dasar falsafah negara oleh partai-partai islam dan tantangan kelompok nasionalisme republic Indonesia. Perbenturan ideology antara kedua kekuatan politik itu sangat mewarnai iklim demokrasi Indonesia pada bagian akhir tahun 1950-an, sedangkan dampaknya masih terasa sampai hari ini. Prospek dan kemungkinan-kemungkinan hari depan Islam di Indonesia juga dimaksud dalam Bab IV. Sedangkan Bab V sebagai kesimpulan dari penelitiannya.

  1. Model Harry J. Benda

Harry J. Benda melakukan penelitian politik dengan menggunakan pendekatan historis normatif. Hal ini terbukti dengan adanya judul buku yang diterbitkan dengan judul Bulan Sabit dan Matahari Terbit Islam di Indonesia pada masa pendudukan jepang, diterjemahkan oleh Daniel Dhakidae, sebelumnya judul asli buku tersebut adalah The Crescent and The Rising Sun yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1980.

Penelitian tersebut mengupayakan mengumpulkan informasi setelah terjadinya perang, berusaha mencari catatan kependudukan. Menurutnya pada masa Jepang berbeda dengan masa colonial Belanda. Dan khususnya perkembangan islam di Indonesia selama bertahun-tahun, tidak mendapat perhatian khusus di kalangan penulis.

C. Tasawuf

Islam adalah agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia selain menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran penilain yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Hal ini misalnya terlihat pada salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yaitu harus disertai niat.

Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktifitas dunia yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya.

  1.  Pengertian Tasawuf

Dari segi kebahasaan (linguistik) terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah, saf yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat berjama’ah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos (bahasa Yunani:hikmah), dan suf (kain wol kasar).[12]

Jika diperhatikan secara saksama, tampak kelima istilah tersebut bertemakan tentang sifat-sifat dan keadaan yang terpuji, sederhana dan kedekatan dengan Tuhan. Kata ahl al-suffah misalnya menggambarkan keadaan orang yang mencurahkan jiwa raganya, harta benda dan lainnya hanya untuk Allah. Mereka rela meninggalkan kampung halamannya, rumah, kekayaan, harta benda dan sebagainya yang ada di Makkah untuk ditinggalkan karena ikut hijrah bersama Nabi ke Madinah. Tanpa ada unsur iman dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidaklah mungkin hal demikian mereka lakukan.

Selanjutnya kata saf juga menggambarkan keadaan orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal kebajikan lainnya. Demikian pula kata sufi yang berarti bersih, suci dan murni menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari perbuatan dosa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya kata suf yang berarti kain wol yang kasar menggambarkan orang yang hidupnya serba sederhana, tidak mengutamakan kepentingan dunia, tidak mau diperbudak oleh harta yang menjerumuskan dirinya dan membawa ia lupa akan tujuan hidupnya, yakni beribadah kepada Allah. Demikian pula kata sophos yang berarti hikmah juga menggambarkan keadaan orang yang jiwanya senantiasa cenderung kepada kebenaran.

Dengan demikian dari segi kebahasan tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang lebih mulia disisi Allah. Sikap demikian pada akhirnya membawa seseorang berjiwa tangguh, memiliki daya tangkal yang kuat dan efektif terhadap berbagai godaan hidup yang menyesatkan.

Tasawuf dari segi istilah terdapat tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf. Pertama, sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas; kedua, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang; dan ketiga, sudut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan.

Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya menyucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah. Selanjutnya, jika sudut pandang yang digunakan adalah pandangan bahwa manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk bertuhan, tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah (perasaan percaya kepada Tuhan) yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.

Jika ketiga definisi tasawuf tersebut satu dan lainnya dihubungkan, segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri manusia dari pengaruh kehidupan duniawi, selalu dekat dengan Allah, sehingga jiwanya bersih dan memancarkan akhlak mulia. Tasawuf secara hakiki memasuki fungsinya dalam mengingatkan kembali manusia siapa ia sebenarnya.

Tasawuf atau sufisme adalah salah satu dari jalan yang diletakkan Tuhan di dalam lubuk Islam dalam rangka menunjukkan mungkinnya pelaksaan kehidupan rohani bagi jutaan manusia yang sejati yang telah berabad-abad mengikuti dan terus mengikuti agama yang diajarkan Al-Qur’an.

Dengan menempatkan pengertian yang proporsional sebagaimana telah disebutkan di atas, tampak tasawuf tidak mengesankan keterbelakangan, kemunduran, atau semacamnya, melainkan justru memperlihatkan ketangguhan jiwa dalam menghadapi berbagai problema hidup yang senantiasa datang silih berganti.

  1. 2.      Tokoh-tokoh Tasawuf dalam Sejarah

Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal dalam sejarah antara lain Hasan al-Bashri, Ibrahim bin Adham, Rabiah al-Adawiyah, Abu Yazid al-Bustami, Zunnun al-Mishri, Ibn Arabi, dan al-Ghazali. [13]

Kemunculan para sufi sebagiannya telah membuka perdebatan yang sengit dengan kaum syari’at. Mereka dituduh mengabaikan syari’at dengan ungkapan-ungkapan yang menjurus syirik. Hal tersebut akibat perbedaan yang jauh antara pengalaman spiritual yang diperoleh kaum sufi dengan patokan-patokan baku hukum fiqih yang tanpa kompromi. Tak dapat diabaikan faktor polotok yang turut memperkuat penghakiman sebagai menyimpang terhadap kaum sufi seperti yang menimpa al-Hajjaj.

Hasan al-Bashri lahir di Madinah pada 21 H/642 M dan wafat di Bashra pada 110 H/729 M. ia tumbuh dalam lingkungan yang shaleh dan memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalam. Ia banyak belajar dari Ali bin Abi Thalib dan Huzaifah bin al-Yaman, dua sahabat Nabi yang banyak menimba pengetahuan kerohanian.

Rabi’ah al-Adawiyah yang wafat pada tahun 801 M memiliki ajaran al-Mahabbah. Bagi Rabi’ah, zuhud dilandasi oleh mahabbah (rasa cinta) yang mendalam. Kepatuhan kepada Allah Swt. pada pemikiran tasawufnya bukanlah tujuan karena ia tidak mengharapkan nikmat surga dan tidak takut azab neraka tetapi ia mematuhi-Nya karena cinta kepada-Nya.

Rabi’ah dilahirkan di Bashra. Kemudian ia hidup sebagai hamba sahaya. Dalam kehidupan demikian, ia menghabiskan waktunya sepanjang malam untuk shalat dan dzikir.

Dapat dipastikan bahwa Rabi’ah adalah peletak dasar doktrin al-mahabbah dalam tasawuf. Menurutnya, cinta kepada Ilahi mempunyai dua bentuk yaitu cinta rindu dan cinta karena Dia yang layak dicintai. Menurut al-Ghazali, mungkin yang dimaksud cinta rindu ialah cinta kepada Allah Swt. karena kabaikan dan karunia-Nya kepadanya.

Adapun cinta kepada-Nya karena Dia layak dicintai ialah cinta karena keindahan dan keagungan-Nya, yang tersingkap kepadanya. Dan yang terakhir inilah cinta yang paling lujur dan mendalam serta merupakan kelezatan yang tiada taranya.

Ajaran tasawuf Zunnun al-Mishri (w. 860 M) adalah al-Ma’rifah. Bahkan Zunnun disebut sebagai bapak al-Ma’rifah. Menurutnya, al-Ma’rifah adalah mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Pengetahuan hakiki adalah yang dimiliki kaum sufi dan pengetahuan ini disebut Ma’rifah. Ma’rifah hanya terdapat pada kaum sufi, yang sanggup melihat Tuhan dengan hati sanubari mereka. Ma’rifah dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi sehingga hatinya penuh dengan cahaya.

Tokoh lain yang mengembangkan tingkat ma’rifat adalah al-Junaid al-Baghdadi (w. 867 M). Menurut al-Junaid, manusia memiliki wujud yang lebih riil sebelum mendapat wujudnya di dunia ini, yaitu wujud rohani yang disebutnya wujud rabbani, yang diciptakan Tuhan di dalam azal dan bagi azal. Dengan wujud rabbani itulah manusia dapat mengenal Tuhan secara langsung yang disebut ma’rifat. Apabila ma’rifat itu telah tercapai maka itulah saatnya diri yang mengenal kehilangan wujudnya dalam Wujud Yang Dikenal. Karena itu dalam pandangan orang arif yang sudah sampai ke taraf demikian, yang ada hanya satu, Allah Swt.

Ajaran tasawuf Abu Yazid al-Bustami (w. 874 M) adalah al-Fana wal-Baqa. Yang dimaksud al-Fana adalah penghancuran diri (al-fana anin-nafs). Artinya adalah hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Menurut para sufi, fana berarti sirnanya sifat yang tercela yang dibarengi dengan baqa, yaitu munculnya sifat yang terpuji. Kalau sufi sudah mencapai tingkat ini maka yang akan tinggal adalah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan.

Ajaran tasawuf al-Hajjaj (w. 922 M) adalah al-Hulul. Yaitu faham bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Menurut al-Hajjaj, Allah mempunyai dua sifat dasar yaitu ketuhanan lahut dan kemanusiaan nasut. Dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan dan dalam diri Tuhan terdapat sifat kemanusiaan. Dengan demikian persatuan antara Tuhan dan manusia bisa terjadi dan persatuan ini mengambil bentuk hulul (mengambil tempat). Pada hulul terkandung kefanaan total kehendak manusia dalam kehendak Ilahi. Setiap tindakan manusia berasal dari Tuhan.

Al-Ghazali tampil dalam khazanah tasawuf sebagai tokoh penengah. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (450 H/1058M-505/1111M). Tokoh ini demikian berpengaruh di dunia Islam. Ia lahir di Thus. Pada waktu muda ia belajar teologi pada al-Juwaini di Nisyafur. Ia kemudian menjadi begitu masyhur sebagai ahli teologi dan sains agama, sehingga pada usia muda ia diundang ke Baghdad untuk menjabat guru besar pada universitas Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk, seorang wazir Bani Saljuk adalah pengusaha di Baghdad yang menggantikan Bani Buwayh.

Perjalanan intelektualnya berakhir setelah ia mendalami tasawuf dan tampaknya ia memiliki puncak kepuasannya di dunia tasawuf. Segala jabatan duniawi ia tinggalkan kemudian ia memutuskan kembali ke Thus. Karyanya yang paling monumental adalah Ihya Ulumuddin. Karya yang dapat disebut sebagai magnum opus al-Ghazali mengenai etika spiritual. Al-Ghazali menulis karya logika dan filsafat. Namun menurut Nasr kehebatannya di bidang ini bukan dalam mengulas melainkan memberikan kritik pada pemikiran filsafat.

Al-Ghazali dapat disebut sebagai tokoh pertama yang mencoba mengkompromikan ajaran tasawuf dengan syari’at. Ajaran-ajaran tasawuf yang mulanya seperti terpisah dari syari’at oleh al-Ghazali diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi amalan yang sah di kalangan kaum muslimin sunni. Pada saat yang bersamaan ia berhasil mengurangi pengaruh filsafat Peripatetik di dunia Islam. Bahkan akibat umat Islam tidak lagi menyukai filsafat terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa al-Ghazali anti intelektual seperti komentar Philip K. Hitti dan Sultan Takdir Alisyahbana.

Ajaran tasawuf al-Ghazali tampak jauh berbeda dengan ajaran tasawuf yang lain. Dapat dikatakan bahwa tasawuf al-Ghazali cenderung ortodokoks dan moderat, sedangkan ajaran tasawuf yang lain cenderung bebas, ekstrim dan dianggap berisiko terhadap kepercayaan seseorang. Hal ini terdapat pada ajaran-ajaran tasawuf yang dianut oleh Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al-Bustami dan al-Hajjaj.

  1. Komentar atas Tasawuf

Munculnya ajaran-ajaran tasawuf ekstrem di atas tampaknya disebabkan oleh antiklimaks dari kecenderungan hidup masyarakat yang serba materialistis dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan serta etika sosial. Terjadinya perilaku kehidupan yang keras, pergaulan yang heterogen, persaingan yang kadang menjurus pada permusuhan, serta pengabaian nilai-nilai spiritual oleh masyarakat pada waktu itu, boleh jadi telah menyebabkan sebagian masyarakat menjadi terasing di tengah kelompoknya.

Kenyataan ini mendorong mereka untuk menemukan jati diri mereka sebenarnya. Maka lari dari kenyataan hidup yang serba duniawi menuju kehidupan asketisme menjadi pilihan mereka yang terbaik.

Dalam ajaran Islam tidak terdapat perintah eksplisit untuk melakukan praktek tasauf atau menjadi sufi. Yang dipraktekkan oleh Nabi adalah hidup sederhana, zuhud, dan tidak menjalankan praktek pemborosan. Dengan kata lain, menjadi sufi atau melakukan amalan tasauf lebih sebagai pilihan untuk mengekspresikan keshalehan dan tidak serta merta identik dengan aktualisasi ajaran Islam.

Ibnu Taymiah, seperti dikutip Nurcholish Madjid, menyatakan bahwa “Sesungguhnya Allah dengan kitab-Nya dan petunjuk Nabi-Nya Saw telah membuat kaum beriman tidak memerlukan apa yang ada dalam ajaran kesufian, yang dianggap orang mampu melembutkan hati dan membersihkannya.

4. Model Penilitian Tasawuf

a.  Model Harun Nasution

Harun Nasution, guru besar dalam [14]bidang Teologi dan Filsafat Islam juga menaruh perhatian terhadap penelitan di bidang tasawuf. Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia tuangkan antara lain dalam bukunya berjudul Faslsafat dan Mistisisme dalam Islam, yang diterbitkan oleh Bulan Bintang, Jakarta, terbitan pertama tahun 1973. Penelitian yang dilakukan Harun Nasution pada bidang tasawuf ini mengambil pendekatan tematik, yakni penyajian ajaran tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan, zuhud dan station-station lain, al-mahabbah, al-ma’rifah, al-fana’ dan al-baqa, al-ittihad, al-hulul dan wahdat al-wujud.[1]

Penelitian yang menggunakan pendekatan tematik tersebut terasa lebih menarik karena langsung menuju kepada persoalan tasawuf dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat tokoh. Penelitian tersebut sepenuhnya bersifat deskriptif eksploratif, yakni menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan mengemukakannya sedemikian rupa, walaupun hanya dalam garis besarnya saja.

b. Model A.J. Arberry

Arberry salah seorang peneliti Barat kenamaan, banyak melakukan studi keislaman, termasuk penelitian dalam bidang tasawuf. Dalam bukunya berjudul Pasang Surut Aliran Tasawuf, Alberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan tersebut ia coba mengemukakan tentang firmanTuhan, kehidupan Nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, struktur teori tasawuf, struktur teori dan amalan tasawuf, tarikat sufi, teosofi dalam aliran tasawuf serta runtuhnya aliran taswuf.

D. Filsafat

Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mereka berpikiran maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni berpegang teguh kepada doktrin ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits secara tekstual, cenderung kurang mau menerima filsafat bahkan menolaknya. Dari kedua kelompok tersebut nampak bahwa kelompok terakhir masih cukup kuat pengaruhnya di masyarakat dibandingkan dengan kelompok pertama.

Berbagai analisis tentang penyebab kurang diterimanya filsafat di kalangan masyarakat Islam pada umunya adalah karena pengaruh pemikiran Al-Ghazali yang dianggapnya sebagai pembunuh pemikiran filsafat. Anggapan ini selanjutnya telah pula dibantah oleh pendapat lain yang menyatakan bahwa penyebabnya bukanlah Al-Ghazali, melainkan sebab-sebab lain yang belum jelas.

Dengan mengkaji metodologi penelitian filsafat yang dilakukan para ahli, kita ingin meraih kembali kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan sebagaimana yang pernah dialami di zaman klasik. Hal ini terasa lebih diperlukan pada saat bangsa Indonesia menghadapi tantangan zaman pada era globalisasi yang demikian berat.

Untuk lebih memberikan pemahaman yang mendalam tentang mengkaji berbagai metode dan pendekatan yang digunakan para ahli dalam meneliti filsafat Islam, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian filsafat Islam.

  1. Pengertian Filsafat Islam

Dari segi bahasa, filsafat Islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan Islam. Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian secara bahasa filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Al-Syaibani berpendapat bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya.

Selanjutnya kata Islam berasal dari kata bahasa arab yaitu aslama, yuslimu, islaman yang berarti patuh, tunduk, berserah diri. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman, dan damai. Selanjutnya Islam menjadi suatu istilah atau nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul.

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para pakar filsafat tentang pengertian filsafat Islam. Pertama, Musa Asy’ari mengatakan bahwa Filsafat Islam itu pada dasarnya merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan berubah. Dalam kaitan ini, diperlukan pendekatan historis terhadap Filsafat Islam yang tidak hanya menekankan pada studi tokoh, tetapi yang lebih penting adalah memahami proses dialektik pemikiran yang berkembang melalui kajian-kajian tematik atas persoalan-persoalan yang terjadi pada setiap zaman. Musa Asy’ari berpendapat lagi bahwa filsafat Islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami. Islam di sini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran.

Kedua, Amin Abdullah mengemukakan pendapatnya yang mengatakan bahwa meskipun saya tidak percaya untuk mengatakan bahwa filsafat Islam tidak lain dan tidak bukan adalah rumusan pemikiran Muslim yang ditempeli begitu saja dengan konsep filsafat Yunani, namun sejarah mencatat bahwa mata rantai yang menghubungkan gerakan pemikiran filsafat Islam era kerajaan Abbasiyah dan dunia luar di wilayah Islam.

Ketiga, menurut Damardjati Supadjar yang mengatakan bahwa dalam istilah filsafat Islam terdapat dua kemungkinan pemahaman konotatif. Pertama, filsafat Islam dalam arti filsafat tentang Islam ( Pholosophy of Islam). Dalam hal ini Islam menjadi bahan telaah, objek material suatu studi dengan sudut pandang atau obke formalnya, yaitu filsafat.Kedua, ialah filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy, yaitu suatu filsafat yang Islami. Di sini Islam menjadi genetivus subjektivus, artinya kebenaran Islam terbabar pada dataran kefilsafatan.

2. Aliran Utama Pemikiran Filsafat

      a. Rasionalisme

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan oleh kelemahan indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Fungsi pancaindera adalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akal menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide. Kebenaran mengandung makna ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan,

Descartes seorang pelopor rasionalisme, tidak ragu bahwa ia ragu. Kebenaran adalah cahaya terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak dapat diragukan. Ide adalah bukanlah ciptaan manusia, fungsi pikiran manusia hanyalah untuk mengenali prinsip-prinsip tersebut lalu menjadikannya pengethuan.

Kelemahan rasionalisme adalah criteria untuk mengetahui kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah utamanya adalah evaluasi kebenaran dari premis-premis yang digunakan.

b. Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Empeirikos artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Namun hasil tangkapan inderawi masing-masing individu dapat berbeda karena terbatas pada sensiblitas organ-organ tertentu.

Aliran empirisme memandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
Contoh : Bagaimana orang mengetahui bahwa e situ dingin. Seorang empiris  akan mengatakan bahwa “karena saya merasakan hal itu. Dalam pernyataan tersebut terdapat tiga unsur yaitu : Mengetahui (subjek), yang diketahui (objek), dan cara dia mengetahui (metode).

John Locke (1632-1704), bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalaman mengisi jiwanya, maka ia kemudian memiliki pengetahuan.

David Hume menyatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Berdasarkan teori ini, akan hanya mengelola konsep gagasan inderawi, menyusun atau membagi-baginya. Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari pancaindera.

Kelemahan aliran empirisme antara lain :

  • Indera terbatas, benda yg jauh kelihatan kecil ternyata tidak.
  •  Indera menipu, pada org yang sakit demam, udara akan terasa dingin.
  • Objek menipu misalnya pada fatamorgana atau ilusi.
  • Berasal dari indera dan objek sekaligus. Misalnya mata tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan.

c. Idealisme

Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau psikologis yang bersifat subjektif. Oleh karena itu pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran, yang diberikan oleh pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang (subjek).

Idealisme subjektif akan menimbulkan kebenaran yang relative karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya, sehingga kebenaran universal tidak diakui. Oleh karena itu kebenaran agama dan aturan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain.

3. Model-model Penelitian Filsafat Islam

Model penelitian filsafat islam yang dilakukan para ahli dengan tujuan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafat islam selanjutnya.

  1. Model M. Amin Abdullah

Dalam rangka penulisan desertasinya, M. Amin Abdullah mengambil bidang penelitiannya pada maslah filsafat islam. Hasil penelitiannya ia tuangkang dalam bukunya berjudul The Idea of Universality Ethical Norm In Ghazali and Kant dan Studi Agama Normativitas atau Historisitas?, dalam bukunya “Studi Agama Normativitas atau Historisitas” M. Amin Abdullah mengatakan ada kekaburan dan kesimpangsiuran yang patut disayangkan didalam cara berfikir kita, tidak terkecuali di lingkungan perguruan tinggi dan kalangan akademis. Tampaknya kita suliot membedakan antara filsafat dasn sejarah filsafat; antara filsafat islam dan sejarah filsafat islam. Biasanya kita korbankan kajian filsafat, karena kita selalu dihantui oleh trauma sejarah abad peretngahan, ketika sejarah filsafat islam diwarnai oleh pertentangan pendapat dan perhelatan pemikiran antara Al-Ghozali dan Ibn Sina, yang sangat menentukan jalannya sejarah pemikiran umat islam.

Kritik Amin Abdullah timbul setelah ia melihat melalui penelitian, bahwa sebagian penelitian filsafat islam yang dilakukan para ahli selama ini berkisar pada msalah sejarah filsafat islam, dan bukan pada materi filsafatnya itu sendiri.

  1. Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan Hrun Nasution

Dalam bukunya berjudul History of Muslim Philosophy, yang diterjemahkan  dan disunting oleh M.M Syarif kedalam bahasa Indonesia menjadi Para Filosf Muslim, Otto Horrassowitz telah melakukan penelitian terhadap seluruh pemikiran filsafat islam yang berasal dari tokoh-tokoh filosof abad klasik, yaitu Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibn Miskawih, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Tufail, Ibn Rusyd, dan Nasir Al-Din Al-Tusi. Dari Al-Kindi dijumpai pemikiran filsafat tentang Tuhan, keterhinggaaan, ruh dan akal. Dari Al-Razi dijumpai pemikiran filsafat tentang teologi, moral, metode, metafisika, Tuhan, ruh, materi, ruang, dan waktu. Selanjutnya, dari Al-Farabi dijumpai pemikiran filsafat tentang logika, kesatuan filsafat, teori sepuluh kecerdasan, teori tentang akal, teori tentang kenabian, serta penafsiran atas al-Qu’an.

Selain mengemukakan  berbagai pemikiran filosofis sebagaimana tersebut diatas, Horrassaowitz juga mengemukakan mengenai riwayat hidup serta karya  tulis dari masing-masing  tokoh tersebut.

Dengan demikian jelas terlihat bahwa penelitiannya termasuk penelitian kualitatif. Sumbernya kajian pustaka. Metodenya deskriptis analitis, sedangkan pendekatannya historis dan tokoh. Yaitu bahwa apa yang disajikan berdasarkan data-data yang ditulis terdahulu, sedangkan titik kajian-nya adalah tokoh.

E. Hukum                             

Terdapat dua dimensi dalam memahami hukum islam. Pertama, hukum islam berdimensi  illahiyah, karena ia diyakini sebagai  ajaran yang bersumber dari Yang Mahasuci, Mahasempurna, dan Mahabenar. Dalam dimensi ini, hukum islam diyakini oleh umat islam sebagai agama yang suci­-karena bersumber dari Yang Maha Suci-dan sakralitasnya senantiasa dijaga. Dalam pengertian seperti ini, hukum islam dipahami sebagai syari’at yang cakupannya  begitu luas, tidak hanya sebatas pada fikih dalam artian terminologi. Ia mencakup bidang keyakinan, amaliah, dan akhlak. Kedua, hukum islam berdimensi insaniyah. Dalam dimensi ini, hukum islam merupakan upaya manusia secara sungguh-sungguh untuk memahamiajaran yang dinilai suci dengan melakukan dua pendekatan, yaitu pendekatan kebahasaan dan pendekatan maqasid. Dalam dimensi ini, hukum islam dipahami sebagai produk pemikiran yang dilakukan dengan berbagai pendekatan yang dikenal dengan sebutan ijtihad atau pada tingkat yang lebih teknis disebut istinbath al-ahkam.

  1. Perinsip-perinsip Hukum

Mu’arikh hukum islam menjelaskan berbagai prinsip hukum islam. Prinsip-prinsip hukum Islam yang dijelaskan mu’arikh adalah sebagai berikut.

  1. Menegakkan mashlahat

Mashlahat  berasal dari kata al-ishlah yang berarti damai dan tenteram. Damai  berorientasi pada psikis. Adapun mashlahat secara terminologi adalah

“ Perolehan manfaat  dan penolakan terhadap kesulitan”

(Al-syathibi, 11, 1341 H:

  1. Menegakkan keadialan (tahqiq al-adalah)

Keadilan memiliki beberapa arti. Secara bahasa, adil, adalah melekkan sesuatu pada tempatnya (wadl’ al-syai’ fi mahalih). Murtadha Muthahhari(1920-1979), sebagaimana dikutip oleh Nurcholis Madjid (1992:512-6), menjelaskan bahwa pengertian pokok keadilan adalah sebagai berikut.

  1. Perimbangan atau keadaan seimbang (mauzun). Dalam makna ini, keadilan antonim dengan kekacauan atau ketidakadilaan (al-tanasub).
  2. Persamaan (musawah) atau ketidakadaan diskriminasi dalam bentuk  apapun. Hal ini didasarkan pada prinsip demokrasi dan Universal Declaration of Human Right (UDHR) yang dibangun atas dasar persamaan.
  3. Penunaian hak sesuai dengan kewajiban yang diemban.
  4. Keadilan Allah, yaitu kemurahan-Nya dalam melimpahkan rahmat kepada seseorang sesuai dengan tingkat kesediaan yang dimilikinya.
  1. Tidak menyulitkan (‘adam al-haraj)

Al-haraj memiliki beberapa arti, diantaranya sempit, sesat, paksa, dan berat.

Adapun terminologinya adalah “ segala sesuatu yang menyulitkan badan, jiwa, atau harta secara berlebihan, baik sekarang maupun dikemudian hari. (Shalih ibn ‘Abdullah ibn Hamid, 1416 H:48).

  1. Menyedikitkan beban (taqlil al-takalif)

Taklif secara bahasa berarti beban. Arti etimologinya adalah menyedikitkan. Adapun secara istilah, yang dimaksud taklif adalah “ Tuntutan Allah untuk berbuat sehingga dipandang taat dan tuntutan untuk menjahui cegahan Allah. (Wahbah al-Zuhaili,1,1986:134)

  1. Berangsur-angsur (tadrijiyah)

Hukum tadrijiah adalah hukum yang bertahap. Hukum tadrijiah ditetapkan sesuai dengan kesiapan atau kematangan manusia untuk bisa menerima hukum yang akan ditetapkan.  Diantara bidang hukum yang ditetapkan secara berangsur adalah sebagai berikut.

  • Pengharaman riba’. Pada awalnya, riba hanya dikatakan sebagai perbuatan tercela. Kemudian, dinyatakan bahwa riba’ yang diharamkan adalah yang berlipat ganda. Dan yang terakhir, riba’ diharamkan secara keseluruhan.
  • Pengharaman khamr. Pada awalnya, meminum khamr dipandang tercela untuk dilakukan karena lebih banyak mudharotnya dari pada manfaatnya. Selanjutnya, disebutkan bahwa orang yang hendak melakukan sholat dilarang meminum khomar.

Dan yang terakhir, dengan tegasnya Allah melarang meminum khomar.

Prinsip tadrijiyah memberikan jalan kepada kita untuk melakukan pembaruan karena hidup manusia mengalami perubahan. Dan agar manusia tidak merasa langsung terbebani.

  1. Periodisasi Sejarah Hukum Islam

Pada dasarnya, sejarah merupakan penafsiran terhadap peristiwa zaman lampau yang dipelajari secara kronologis. Ulama berbeda pendapat tentang sejarah periodisasi hukum islam.

Menurut ‘Abdul Wahab Khallaf, ia menetapkan bahwa periodisasi sejarah hukum islam adalah sebagai berikut.

  1. Hukum islam zaman Rasul
  2. Hukum islam zaman sahabat
  3. Hukum islam zaman imam pendiri mazhab
  4. Hukum islam zaman statis (jumud)

Mushthafa Sa’id al-Khinn (1984: 13-4) berpendapat bahwa periodisasi hukum islam adalah sebagai berikit.

  1. Hukum islam zaman Rasul
  2. Hukum islam zaman sahabat
  3. Hukum islam zaman tabi’in
  4. Hukum islam zaman taklid
  5. Hukum islam zaman sekarang
  1. Kegunaan Sejarah Studi Hukum Islam

Sebagaimana dalam ‘ulum al-Qur’an terdapat didalamnya ilmu asbabun nuzul dan didalam ilmu hadits terdapat asbabul wurud, begitu juga didalam memahami hukum islam. Dalam memahami hukum islam kita perlu mengetahui latar belakang terbentuknya atau munculnya suatu hukum. Terkadang karena salah dalam memahami suatu hukum, itu akan melahirkan kecenderungan merasa benar sendiri dan cenderung ” ekstrem”. Karena itu, memahami hukum islam dengan mengetahui latar belakang pembentukannya menjadi penting agar kita tidak “keliru” dalam memahami hukum islam.

Dengan demikian, diantara kegunaan mempelajari sejarah hukum islam, paling tidak, adalah dapat melahirkan sikap hidup yang toleran, dan dapat mewarisi pemikiran ulama klasik  dan langkah-langkah ijtihadnya, serta dapat mengembangkan gagasannya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Sejarah merekam bahwa Islam sebagai agama Universal justru mendapat tantangan dari dirinya sendiri (Universalitas). Setiap pemeluk islam jika melihat ke dalam keluasan aspek dan pembahasannya maka meniscayakan beragamnya pendapat dan pandangan , tak ayalnya samudera tak bertepi, islam berusaha untuk selalu “diarungi” sejauh dan sedalam mungkin. Maka dari itu, kita melihat banyaknya kaum muslimin baik perorangan atau kelompok yang senantiasa berusaha sekuat mungkin untuk menemukan hakikat ajarannya yang Universal. Tak heran jika terjadi gesekan pandangan dan perbedaan pendapat yang mengemuka. Namun, bagi kami justru hal ini merupakan anugerah yang memperkaya khazanah keilmuan islam.

Perbedaan yang terjadi pada ranah teologi, politik, tasawuf, hukum hingga bangunan filsafat dan yang lainnya memberi warna dan corak tersendiri bagi dinamika peradaban Islam. Dari pemaparan kami di atas, dapat pembaca bayangkan betapa kayanya peradaban yang dibangun oleh Islam dan semua hal itu adalah buah hasil dari pergesekan, perbedaan dan dialektika yang terjadi di sepanjang sejarah islam.

Terlalu naif rasanya jika kami harus menyimpulkan ( menyempitkan ) keluasan khazanah yang dimiliki Islam. Namun, jika diizinkan kami ingin memberi catatan akhir bagi pemaparan pembahasan kami bahwasanya jika kita tarik ke kehidupan beragama kita saat ini, tentu kita seharusnya meneladani semangat yang diwariskan oleh para penyambung keagungan pesan yang terkandung dalam Islam.

  1. B.     Saran

Semoga Allah memberikan keberkahan terhadap makalah yang telah kami susun ini. Tentunya kami juga berharap partisipasi dari para pemabaca untuk memberikan keritikan dan saran demi perbaikan karya kami selanjutnya.

Mohon maaf, jika makalah yang singkat ini didapati berbagai kesalahan baik dari segi penulisan, referensi dan lainnya, kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca khususnya dari pihak pengajar (Dosen).


[1]M. Ali Hasan. Studi Islam. (Jakarta, Rajagrafindo Persada : 2000). Hal. 146

[2]Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam. (Jakarta, PT Rajagrafindo Persada : 2004). Hal. 268

[3]Didin Saefuddin Buchori. Metodologi Studi Islam. (Bogor, Granada Sarana Pustaka : 2005). Hal. 78

[4]Didin Saefuddin Buchori Ibid. Hal 82

[5]Didin Saefuddin Buchori Ibid. Hal. 84

[6] Didin Saefuddin Buchori. Ibid. Hal. 84

[7]Abuddin Nata. Op.Cit. Hal. 275

[8] Abuddin Nata. Ibid. Hal. 278

[9]Tariq Ramadan. Menjadi Modern Bersama Islam. (Jakarta, Teraju : 2003). Hal. 98

[10]Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam. (Jakarta, PT Rajagrafindo Persada : 2004). Hal. 315

[11]Abuddin Nata. Ibid. Hal. 324

[12] Abuddin Nata, hal. 286-289

[13]  Didin Ssefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, Granada Sarana Pustaka, hal.102-105

[14] Abuddin Nata, hal. 292-293