PEMBAHARUAN DALAM ISLAM DAN TOKOH-TOKOHNYA

Oleh: Amar Faisal Haidar & Fatimatu Zahra

BAB I

Pendahuluan

 

  1. Kata Pengantar

Segala pujian dan permohonan hanya ditujukan kepada Allah SWT yang ditangan-Nya lah islam dapat berjaya hingga berabad-abad lamanya dan karena meninggalkan-Nya lah islam mengalami kemunduran. Shalawat serta salam kami sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAWW, keluarganya yang suci dan sahabtnya yang terpilih, karena merekalah pembaharu pertama dalam Islam dan membekas hingga kini.

 

Kami ingin berterima kasih kepada dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, Bapak Dani Nurfajar yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar dan menemukan hal-hal baru dalam ilmu dan pengetahuan. Kami juga berterima kasih kepada seluruh komponen yang telah membantu terwujudnya makalah ini. Semoga dapat berguna sekarang maupun di masa mendatang. Amien.

 

  1. Latar belakang

Setelah islam mengalami kekalahan dalam perang salib, banyak yang terjadi kemunduran pada umat islam. Perubahan besar pun terjadi pada Barat dari segala aspek, mulai dari ilmu pengetahuan hingga sistem kemiliteran. Barat dan islam menjadi dua sisi yang berlawanan karena masing-masing  memiliki dua perbedaan mencolok. Barat mengambil komponen-komponen penting dalam islam, tanpa meninggalkan sisa sedikitpun. Terbukti dengan pembakaran perpustakaan-perpustakaan islam dan perampasan buku-buku ilmu pengetahuan, hingga akhirnya islam memasuki era kegelapan. Umat muslim sedikit demi sedikit tersingkirkan dari pergerakan zaman, sampai pada akhirnya umat muslim;sebagian dari mereka namun tidak semua, merasa bahwa hal yang terjadi pada islam ini berupa kemunduran dan masa kegelapan haruslah diakhiri.

 

Umat islam pun melakukan semacam ‘Renaisance’. Tapi bagi umat islam, tidak hanya ilmu yang dikedepankan, namun juga dari segi keagamaan yang tentunya orang Barat tidak punya. Perlahan-lahan umat islam mulai meneliti faktor-faktor kemunduran dan komponen apa saja yang harus diperbaiki untuk kembali pada masa yang cerah. Satu persatu muncul tokoh-tokoh berpendidikan dari umat islam, mulai dari Jamaluddin Al-Afghani, Hasan Al-Banna, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, sampai pada Sayyid ‘Amir Ali. Masing-masing dari mereka melakukan remedi atau perbaikan pada hampir seluruh komponen yang dapat membantu kembalinya kejayaan umat islam. Seperti membentuk organisasi yang berlandaskan keislaman untuk memperjelas tujuan umat muslim dalam berjuang melawan Barat dan racun-racunnya.

 

Hingga pada masa kini dampak dari pergerakan mereka masih tercermin dalam organisasi-organisasi islam yang bergerak untuk membela islam dan membangun generasi islam. Namun pembahasan pada makalah ini lebih pada ide-ide dan pembaharuan yang dilakukan pada pembaharu tersebut, juga apa sumbangan nyata yang mereka berikan dan dapat kami manfaatkan hingga sekarang.

 

BAB II

Isi

 

  1. A.    Latar Belakang Terjadinya Pembaharuan Islam

Mulai abad pertengahan merupakan abad gemilang bagi umat islam , pada abad inilah daerah-daerah islam meluas di Barat melalui Afrika  Utara sampai Spanyol, di Timur melalui Persia sampai ke India.

Daerah-daerah ini tunduk karena kepada kekuasaan khalifah  yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian Damskus dan terakhir di Bagdad. Dari situlah banyak lahir pemikir-pemikir hebat. Dari lahirnya pemikir dan para ulama besar itu, maka ilmu pengetahuan berkambang pesat sampai ke puncaknya, baik dalam bidang agama, non agama dan bidang kebudayaan lainya.

Para pemikir dan ulama islam pada saat itu bukan hanya dapat mengislamisasikan pengetahuan-pengetahuan Persia kuno dan warisan-warisan Yunani, akan tetapi kedua kebudayaan itu di sesuaikan pula dengan kebutuhan dan perkembangan pemikiran pada masa itu. Ilmu pengetahuan yang telah di tampung dan diolah oleh para pemikir islam.

Pada abad selanjutnya pemikiran islam memasuki benua Eropa melalui Spayol dan Sisilia dan inilah yang menjadi dasar ilmu yang menguasai alam pikiran Barat.

Dipandang dari sisi sejarah dan kebudayaan maka tugas meme-lihara  dan menyebarkan ilmu pengetahuan tidaklah kecil nilainya dibanding mencipta ilmu pengetahuan. Jika tugas-tugas penelitian diadakan oleh Aristoteles, Galinus dan para ilmua lainnya tidak ditampung maka dunia akan miskin dengan ilmu. Puncak kemegahan dunia islam itu akhirnya menurun, islam mulai mengalami kemunduran pada abad ke-10 dan tenggelam berabad-abad lamanya.

Faktor penyebab kemunduran umat islam:

  • Isu pintu ijtihad tertutup telah meluas dikalangan umat islam. Berpaling pikiran untuk menggali secara langsung pada sumber  pertama dan utama, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apabila mereka menemukan persoalan baru, pikiran mereka hanya terpusat pada kepentingan mazhab. Praktek bermazhab dan ta’assuk terhadap mazhab tertentu sangat marak dilakukan. Karena itulah ilmu pengetahuan mulai berkurang, kehidupan berkelompok dengan pengaruh negatifnya tersebar hampir disemua tempat di dunia islam.
  • Keutuhan umat islam dalam bidang politik mulai terpecah, kekuasaan khalifah menurun, masyarakat islam yang berbentuk persatuan dan kesatuan dalam seiman telah pindah. Tidak ada satu ikatan di dalamnya kecuali nama dan tatanan. Umat Islam terpecah belah dan saling bermusuhan, masyarakat islam berubah dan kerajaan islam telah mewariskan kota-kota dan kerajaan yang telah bertikai selama berabad-abad, dalam sekejap mata sejarah kemanusiaan telah dirobek-robek oleh kelemahan strategi politik.
  • Adanya perang salib dibawah arahan gereja katolik Roma dan serbuan tentara barbar. Karena itu khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat islam hilang. Tentara salib ingin menguasai baitul maqdis untuk menyebarkan pengaruhnya dan mengajak bersatu dalam keyakinan.

 

Masa kemunduran ini berlangsung berabad-abad lamanya hingga muncul gerakan yang dikumandangkan oleh pelopor-pelopor pembaharuan seperti Ibnu Taimiyah dengan muridnya Ibnu Al-Qoyyim, Muhammad Ibnu ‘Abdul Wahab, Muhammad Ibnu Ali Sanusi Al-Kabir, dan lain-lain.

Diantara yang mendorong timbulnya pembaharuan dan kebangkitan islam adalah:

v  Paham tauhid yang dianut kaum muslimim yang bercampur dengan kebiasaan yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok, pemujaan terhadap orang-orang suci dan hal lain yang membawa kepada kekufuran.

v  Sifat jumud membuat umat islam berhenti berpikir dan berusaha. Umat islam maju dikarenakan pada saat itu mereka mementingkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu selama umat islam masih bersifat jumud dan tidak mau berpikir untuk berijtihad maka mereka tidak mungkin mengalami kemajuan. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan yang berusaha memberantas kejumudan.

v  Umat islam selalu berpecah belah, mereka tidak akan mengalami kemajuan apabila tidak adanya persatuan dan kesatuan yang diikat oleh tali ajaran islam. Karena itulah, bangkit suatu gerakan pembaharuan.

v  Hasil dari kontak yang terjadi antara dunia islam dan barat. Dengan adanya kontak ini mereka sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan dengan barat. Terutama sekali saat terjadinya peperangan antara kerajaan ustmani dengan kerajaan eropa, yang biasanya tentara kerajaan utsmani selalu menang dalam peperangan dan pada akhirnya mengalami kekalahan ditangan barat. Hal ini membuat pembesar-pembesar utsmani menyelidiki rahasia kekuatan militer eropa yang baru muncul. Ternyata rahasianya adalah kekuatan militer modern yang dimiliki eropa sehingga pembaharuan juga dipusatkan pada bidang militer.

Pembahuran dalam islam berbeda dengan renainsans Barat. Kalau renainsans Barat muncul dengan menyingkirkan agama, maka pembaharuan islam sebaliknya, yaitu untuk memperkuat prinsip dan ajaran-ajaran agama islam. Islam bukan hanya mengajak maju ke depan untuk melawan segala kebodohan dan kemajuan islam itu sendiri.

 

  1. B.     Tokoh-tokoh pembaharuan Islam

Berawal dari kemunduran yang di alami oleh umat islam dan Barat semakin menunjukan Eksistensinya sebagai pusat peradaban. Akhirnya munculah banyak pemikir-pemikir islam yang tersadar bahwa keadaan umat islam saat itu sangat terbelakang. Maka mereka melakukan suatu gerakan yang menghasilkan gagasan untuk membangkitkan umat islam dari ketepurukan itu. Dan sangat banyak tokoh-tokoh yang memberikan jasa nya. Di makalah ini kita hanya memaparkan beberapa tokoh yang paling berpengaruh bagi islam.

  1. a.      Hasan Al-banna

Perintis Negara Islam Modern

Dunia islam mengenal Hasan Al-banna sebagai pejuang dan pembangkit umat islam. Para pengamat mengaitkan Al-banna dengan pembaru juga yang juga berasal dari Mesir yaitu Muhammad Abduh, mereka bagai satu badan dan ruh. Abduh yang senior dari Al-bannah sebagai kepalanya sementara Al-banna sebagai ekornya. Abduh sebagai revolusinya sedangkan Al-banna sebagai penggerak revolusi kebangkitan perjuangan umat islam internasional .  Keduanya memang tidak bertemu secara fisik tapi pemikiran dan visi mempersatukan keduanya dalam tujuan yang sama.

Hasan Al-banna dilahirkan didesa Mahmudiyah kawasanBuhairah, Mesir tahun 1906 M, sejak kecil Al-banna sudah menunjukan kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun dia telah menghafal separuh isi al-Quran. Ayahnya, Syaikh ahmad Al-bannna yang ulama fiqih dan hadits, terus menerus melengkapi hafalanya. Sejak itu dia mendisiplinkan waktunya menjadi 4 tahap; siang hari dipergunakan untuk belajar disekolah , kemudian belajar dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore, sore hari digunakan untuk mengulang pelajaran sekolah hingga malam, dan shubuh untuk menghafal al-Quran. Pada usia 14 tahun dia telah menghafal al-Quran.

Hasan Al-banna lulus sekolah dengan predikat terbaik di sekolahnya dan lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun dia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi di Kairo. Selain prestasinya dibidang akademik, Al-banna memiliki bakat sebagai leadership yang sangat cemerlang. Dia selalu terpilih menjadi ketua dalam organisasi siswa di sekolahnya. Pada usia 21 tahun Al-banna telah menamatkan studinya di Dar Al-Ulum dan di tunjuk menjadi guru Ismai’liyah.

Hasan Al-banna sangat prihatin dengan kelakuan koloni yang memperbudak bangsanya. Pada masa itu adalah masa dimana uamt islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifaan Utsmaniyah di Turki sebagai pengayom umat islam di seluruh dunia runtuh. Sementara kaum penjajah mempermainkan umat islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki , Kemal Attaturk membengarus islam . ini adalah salah satu penyebab kemunduran islam dan umat islam bodoh terhadap ajaran islam.

Kenyataan itu yang membuat benar-benar Al-banna bergerak, khususnya dalam bidang dakwah. Dakwa Al-banna dimulai dari menggalang dari sekolompak orang. Dia berdakwah dikedai-kedai kopi , hal ini dilakukan teratur 2minggu sekali. Dan usaha Al-banna ini mendapat banyak sambutan dikalanga umat islam di Mesir. Tercatat kaum muslim dari kalangan buruh/petani, usahawan, ilmuan, ulama, dokter mendukung dakwahnya.

Saat berdakwah dia lebih suka menyebutkan “wahai manusia”  yang mengacu pada seluruh umat tanpa memandang ras, kebanggaan, bahkan agama dari pada menyerukan dengan kata-kata “wahai bangsa arab” atau “wahai kaum muslimin”. Bersandar pada nilai-nilai universal, masalah jarak bukanlah kendala. Kecintaan yang universal pada nila-nilai kemanusiaan dan komitmennya pada uhkuwah islamiyah mendorong Hasan Al-banna untuk mendirikan Komite Solidaritas bagi kemerdekaan Indonesia dan dia sendiri yang menjadi ketuanya.

 

Al-banna dan Ikhwan Al-Muslim

sepak terjang Hasan Al-banna dimulai sejak dia menjadi bocah tanggung. Saat kecilnya dia bergabung dengan masyarakat untuk tingkah laku moral ini menunjukan bahwa Al-banna saat kecil sudah tertarik pada masalah keagamaan. Pada tahun 1928, Al-banna mendirikan IM. Pada 1932, dia pindah ke Kairo. Bersama itu pula gerakannya berpindah dari isma’liyah ke Kairo. Untuk menyebarkan pemikiran dan gerakan dakwah IM ke masyarakat pada 1352 H/ 1933 M Al-banna menerbitkan sebuah majalah mingguan ikhwan yang di pimpin oleh Muhibudin Khatib dan kemudian banyak majalah-majalah lanjutan yang diterbitkan.

Pada awal berdirnya, IM hanya beranggotakan 100 orang yang dipilih langsung oleh Al-banna. Hingga akhirnya terus berkembang, baik keanggotaanya maupun amal usahanya. Bahkan IM berkembang pesat di luar Mesir, seperti di Jordania dan Syiria, serta Sudan. Di bidang amal usaha, gerakan ini banyak kesamaan dengan ormas Islam Muhammadiyah, dari mengelola amal sosial, seperti panti asuhan, rumah sakit, lembaga pendidikan, perdagangan, hingga para kardernya kini banyak menguasai organisasi profesi seperti persatuan wartawan Mesir, organisasi kedokteran dan organisasi pengacara, serta perdagangan. Di kancah politik, pada 1948 turut serta dalam perang palestina. Mereka masuk dalam angkatan perang khusus.

Berkaitan dengan pemikiran dan visi IM sendiri tidak lepas dari cara pandang pendirinya. Pemahamannya bersifat universal tidak menganal pemisahan dari satu aspek ke aspek yang lain. Kaitan dengan dakwah, Al-banna mengatakan “gerakan ikhwan adalah dakwah salafiah , thariqah sunniyah,haqiqqah sufiyah, lembaga politik, klub olahraga, lembaga ilmiyah dan kebudayaan, peserikatan ekonomi dan pemikiran sosial”

Al-banna mengatakan bahwa ciri gerakan IM adalah: jauh dari sumber pertentangan, jauh dari riya dan kesombongan, jauh dari partai politik dan lembaga-lembaga politik, memperhatikan kaderisasi dan bertahap dalam melangkah, lebih mengutamakan aspek-aspek amaliah produktif dari pada propaganda reklame, memberi perhatian khusus kepada para pemuda, dan cepat tersebar di kampung-kampung dan si kota-kota.

Sebagaimana dakwah yang berkarakter rabbaniyah yang menyeru manusia menjauhi, menentang, melawan tirani materialisme, dan kembali beriman kepada allah, dan selalu berada pada pengawasan nya selain itu juga mengandung dakwah yang berkarakter insaniyah yang mengajak kepada persaudaraan di antar manusiadan berusaha membahgiakan mereka, karena dakwah ini bersifat islamiah dan islam di peruntunkan untuk setiap manusia.

Sementara masalah ideologi IM banyak mengadopsi dakwah salafiah menjadi gerakan dakwahnya. Dia menekankan kepada pentingnya penelitian dan pembahasan terhadap dalil serta kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah dan membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan untuk mencapai kesempurnaan tauhid. Dakwah nya banyak di pengaruhi oleh Syaikh Abdul Wahab, Sanusiyyah dan Rasyid Ridha. Pada umumnya dakwa tersebut lanjutan dari madrasah Ibnu Taimiyah, yang juga kelanjutan madrasah imam Ahmad Hambal. I M merupakan tasawuf sebagai sarana pendidikan dan peningkatan jiwa seperti pernah dilakukan para ahli tasawuf terdahulu yang akidahnyabenar dan jauh dari segala bentuk bidah, khurafat, meghina diri dan sifat negatif.

Namun, jalan yang di tempuhnya tak semulus yang dibayangkan. Serbuan fitnah seakan mengikuti langkah kaki Hasan Al-banna. Pada suatu ketika, dia dituduh sebagai penganut komunis yang menentang negara dan Raja Fahd. K esempatan lainya, sebuah petisi seorang warga menyebutkan dia diskriminatif dengan membeda-bedakan perlakukan terhadap murid-murid beradama islam dan kristen. Uniknya, pembelaan justru datang dari umat kristen sendiri. Sekempulan tokoh agama Kristen pun datang dipimpin pastor Gereja Orthodoks Isma’iliyah yang menolak petisi tersebut. Salah satu yang melakukan pembelaan ini adalah ketua Asosiasi Gereja, Jirjis Sorial Afandi.

Pada sekitar 1930 an Hasan Al-banna kenudian mengajar ke Kairo, dan IM merambah ke kegiata politik. Mereka berupaya menciptakan islam yang bersih dan menolak sekularisasi dan westernisasi. Ketika perang dunia II, IM berkembang pesat dan menjadi elemen pentin di Mesir, dengan itu IM banyak menarik perhatian mahasiswa, pegawai, pekerja kota dan berbagai kalangan lain nya.

Banyak anggota IM menganggap pemerintah Mesir telah berkhianat pada kepentingan nasinalisme Mesir sendiri. Demi perbaikan, Hasan Al-banna menjalin kerja sam taktis dengan pemerintahan, sayang nya dia dan para pengikutnya terlanjur menjadi ancaman bagi pemerintahan pusat. Para anggota IM mulai mendapatkan serangan fitnah, termasuk pada Hasan Al-bannah.

Tokoh-tokoh mereka pun di tangkapi, hingga pada akhirnya pada 1949, Al-banna di tembak oleh penembak misterius yang di yakinin penembak titipan pemerintah. Dua karya monumentalnya yang diwariskanya adalah  Muzdakariyat Al-Dakwah wa Da’iyyah dan Majmu’ah Rasail.

 

  1. b.      Jamaluddin al-afghani

Jiwa Rainesans Umat

Jamaluddin al-afghani adalah pahlawan besar dan salah seorang putra terbaik islam. Kebesaran dan kiprahnya membahana hingga keseluruh dunia. Sepak terjangnya dalam menggerakkan kesadaran umat islam dan gerakan revolusionernya yang membangkitkan dunia islam, menjadikan dirinya orang yang paling dicari oleh pemerintah kolonial ketika itu, pemerintah inggris. Tapi, komitmen dan konsistensinya yang sangat tinggi terhadap nasib umat islam, membuatnya tak pernah kenal lelah apalagi menyerah.

Sastrawan dan pemikir besar muslim abad ke-20 sir muhammad iqbal mengatakan : “….jiwa yang tak mau diam itu selalu mengembara dari negara islam satu ke negara islam lain… memang, jamaludin al-afghani tak pernah menuntut sebutan sebagai pembaharu, akan tetapi tidak ada seorangpun di zaman ini yang lebih mampu mengungkapkan getaran jiwa agama islam melebihi dirinya. Semangat dan pengaruhnya masih tetep besar bagi dunia islam, dan tak ada seorangpun tahu kapan berakhirnya…”

Dia adalah cahaya besar dalam kegelapan islam abad ke-13 hijrah. Dari afghanistan sinarnya memancar ke seantero didunia. Jamaludin al-afghani dilahirkan 1838, tempat kelahiranya sulit dipastikan. Dia mengaku dilahirkan di asabadad, konar distrik kabil, Afghanistan. Versi lain, terutama dari lawan-lawan politiknya, menyebutkan bahwa jamaluddin dilahirkan di asabadad dekat hamadan, Iran. Menurut versi ini, jamaluddin mengaku lahir di afghanistan dengan maksud menyelamatkan dirinya dari kesewenangan penguasa persia (Iran) yang tidak menyukainya.

Al-afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India bahkan sampai ke Prancis. Pada usia 18 tahun di kabul, jamaluddin tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga mendalami ilmu falsafah, hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, atronomi, dan astrologi. Dia seorang yang sangat cerdas jauh melampaui remaja-remaja seusianya. Etelah menguasai beberapa disiplin ilmu, jamaluddin ke India. Dia berkelana ke negri ini. Kemampuanya berbicara dan pengetahuanya yang dalam, muda usia 18 tahun ini memukau banyak orang. Dia orator yang tangguh. Dia mendorong rakyat india untuk bangkit melawan kekuasaan inggris. Hasilnya, pada 1857 muncul kesadaran baru dikalangan pribumi India melawan penjajah. Perang kemerdekaan pertama di India pun meletus.

Dari India jamaluddi  melanjutkan perjalananya ke Mekkah. Di Kabul, sepulang menunaikan ibadah haji, Jamaluddin diminta penguasa Afghanistan Pangeran Dost Muhammad Khan, untuk membantunya. Tahun 1864, Jamaluddin yang progresif, menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi perdana mentri Muhammad A’zham Khan. Namun karna campur tangan Inggris dan kekalahanya terhadap golongan yang disokong Inggris, Jamaluddin akhirnya meninggalkan Kabul ke Mekkah. Inggris yang menilai Jamaluddin sebagai tokoh yang berbahaya karna ide-ide pambaharunya, terus mengawasinya. Dia tidak diperkenankan melalui jalur darat, juga tidak diperkenankan bertemu dengan pemimpin-pemimpin India. Melalui jalur laut, Jamaluddin kemudia pergi ke Kairo dan menetap disana.

Pada awalnya, Jamaluddin mencoba menjauhi diri dari politik dengan memusatkan diri mempelajari ilmu pengetehuan dan sastra Arab. Rumahnya dijadikan tempat pertemuan para pengikutnya. Di sinilah dia memberikan kuliah dan berdiskusi dengan berbagai kalangan, termasuk intelektual muda, mahasiswa, dan tokoh-tokoh pergerakan. Salah seorang muridnya adalah Muhammad Abduh dan Saad Zaglul, pemimpin kemerdekaan Mesir. Melihat campur tangan Inggris di Mesir, Jamaluddin akhirnya kembali ke politik. Dia melihat Inggris tidak ingin melihat islam bersatu dan kuat. Jamaluddin memasuki perkumpulan freemason, satu organisasi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik Mesir. Dari sini, 1879, terbentuk partai politik Hizb Al-Wathani (partai kebangsaan). Partai ini menanamkan kesadaran berbangsa, memperjuangkan pendidikan Universal, dan kemerdekaan pers. Aktivitas politik Jamaluddin memberikan pengaruh besar bagi umat islam. Dia mendorong bangkitnya gerakan berfikir sehingga mesir mencapai kemajuan.

Seperti juga di Kabul dan di India, Inggris memperlihatkan ketidaksenanganya terhadap Jamaluddin. Inggris menghasut kaum teolog ortodoks melawan Jamaluddin. Ini menjadi alasan Inggris mengusir Jamaluddin dari Mesir, 1879. Jamaluddin  akhirnya pergi ke Hyderabad Deccau (India). Di sana, dia menulis risalah yang sangat terkenal, Pembuktian Kesalahan Kaum Materialis. Risalah ini menimbulkan gejolak besar kalangan kaum materialis.

Pada 1882, Jamaluddin ke Paris. Dia mendirikan perkumpulan Al-Urwat Al-Wuthqa. Organisasi ini kemudian menerbitkan jurnal –dengan nama yang sama- yang mengecam keras barat. Penguasa barat melarang jurnal ini beredar di negara-negara muslim karna khawatir akan dapat menimbulkan semangat persatuan Islam. Karna dilarang diedarkan, usia jurnal ini hanya delapan bulan. Aktivitas Jamaluddin tidak hanya di Paris dia juga bergerak di berbagai negara Eropa. Dia berdiskusi tentang Islam di London, diantaranya dengan Lord Salisbury, yang berkuasa ketika itu. Dia pergi ke Rusia, membangun pengaruh dikalangan cendekiawan Rusia dan menjadi orang kepercayaan Tsar. Karna pengaruhnya itu Rusia memperkenankan orang Islam mencetak Al-Qur’an dan buku-buku islam yang sebelumnya dilarang.

Pengaruh Jamaluddin menyebar ke Persia. Shah Nasiruddin Qochar, penguasa Persia, menawarkan posisi perdana menteri. Awalnya, Jamaluddin ragu-ragu, namun akhirnya dia menerima posisi itu. Ide-ide pembaharuan Islam, membuat Jamaluddin semakin populer di Persia. Ini menghawatirkan Nasiruddin, apalagi Jamaluddin terang-terangan mengkritik praktik-praktik kekuasaan penguasa Persia itu. Jamaluddin, Revolusioner dan anti-tirani itu kemudian ditangkap dan diusir, namun kesadaran rakyat untuk menumbangkan Nasiruddin.

Pada 1892, Jamaluddin ke Istanbul, Turki, atas permintaan Sultan Abdul Hamid. Sultan pada saat itu ingin memanfaatkan pengaruh Jamaluddin atas negara-negara Islam untuk menentang Eropa, yang ketika itu mendesak kedudukan Kerajaan Utsmani (otonomi) di Timur Tengah. Namun upaya Sultan itu gagal. Pada satu sisi, Jamaluddin berjuang untuk terbentuknya pemerintahan demokratis, sedangkan Nasiruddin mempertahankan kekuasaan otokrasi lama. Jamaluddin wafat di Istanbul, 9 Maret 1897 dalam usia 59 tahun. Sepanjang hayatnya, Jamaluddin Al-Afghani telah menulis puluhan karya tulis dan buku, antara lain : pembahasan tentang sesuatu yang melemahkan orang-orang Islam, tipu muslihat Orientalis, Risalah untuk menjawab golongan Kristen, Hilangnya Timur dan Barat, Hakikat Manusia, dan Hakikat Tanah Air.

Jamaluddin adalah tokoh pembaharu. Dia melihat kemunduran umat Islam bukan karena Islam tidak sesuai dengan perubahan zaman, melainkan disebabkan umat islam telah dipengaruhi oleh sifat statis, fatalis, meninggalkan akhlak yang tinggi, dan melupakan ilmu pengetahuan. Ini, menurutnya, umat Islam telah meninggalkan ajaran sebenarnya. Islam menghendaki umatnya dinamis, mencintai ilmu pengetahuan, dan tidak fatalis. Sifat statis membuat umat Islam tidak berkembang dan hanya mengikuti apa yang telah menjadi ijtihad ulama sebelum mereka. Mereka hanya pasrah pada nasib.

Faktor lain, menurut Jamaluddin, salah faham terhadap qodha (ketentuan Tuhan yang belum terjadi) dan qodar (ketentuan Tuhan yang sudah terjadi). Paham itu membuat ummat Islam tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaluddin menyebutkan, qhada dan qadar mengandung pengertian bahwa segla sesuatu terjadi menurut sebab musabbab (kausalitas). Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan ummat tentang dasar-dasar ajaran agama, lemahnya persaudaraan, perpecahan umat Islam yang diikuti pemerintah yang absolut, mempercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dipercaya, dan kurangnya pemerintahan militer, merupakan faktor-faktor yang membawa kemunduran umat Islam. Faktor-faktor ini menjadikan umat Islam statis, fatalis, dan mundur.

Jamaluddin menyebutkan, Islam mencakup segala aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, dan sosial. Corak pemerintahan otokrasi harus diubah menjadi demokrasi. Persatuan umat Islam harus diwujudkan kembali. Menurutnya, kekuatan umat Islam bergantung pada keberhasilan membina persatuan dan kerja sama. Jamaludiin juga menyorot soal peran wanita. Dian menilai kaum pria dan wanita, sama dalam beberapa hal. Keduanya mempunyai akal untuk berfikir. Tidak ada halangan bagi wanita untuk bekerja ketika situasi menuntut untuk itu. Jamaluddin menginginkan pria dan wanita meraih kemajuan dan bekerja sama mewujudkan Islam yang maju dan dinamis.

Jamaluddin tak hanya pandai bicara. Malang melintang kebebagai negara dia lakukan bagi terciptanya renaisans (kebangkitan) dunia Islam. Proyeknya itu kemudian dikenal dengan “Pan-Islamisme”, sebuah gagasan untuk membangkitkan dan menyatukan dunia Arab khususnya, dan dunia Islam umumnya untuk melawan kolonial barat, Inggris dan Prancis khususnya yang kala itu banyak menduduki dan menjajah dunia Islam dan negara-negara berkembang. Secara umum, inti Pan-Islamisme Jamaluddin itu terletak pada ide bahwa Islam adalah satu-satunya ikatan kesatuan kaum muslim. Jika ikatan itu diperkokoh, jika dia menjadi sumber kehidupan dan pusat loyalitas mereka, maka kekuatan solidaritas yang luar biasa akan memungkinkan pembentukan dan pemeliharaan negara Islam yang kuat dan stabil. Berbagai kalangan, seperti ditulis pakar sejarah Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Kontemporer, menilai ide Jamaluddin itu sebenarnya sebagai entitas politik Islam Universal. Mau tak mau, dia pun bersentuhan langsung dengan para penjajah itu.

Dengan gagasan ini, Jamaluddin mengubah Islam menjadi ideologi anti-kolonialis yang menyerukan aksi politik menentang barat. Baginya, Islam adalah faktor yang paling esensial untuk perjuangan kaum muslimin melawan eropa, dan barat pada umumnya. Namun demikian, pada saat yang sama Al-Afghani juga mendukung ide semacam nasionalisme, lebih tepatnya “nasionalitas” (jinsiyyah) dan “cinta tanah air” (wathaniyyah). Sepintas, dua gagasan ini boleh jadi kontradiktif dengan gagasanya tentang Pan-Islamisme. Namun, tampaknya Jamaluddin tak ambil pusing. Baginya, bial dua ‘entitas’ itu dapat disatukan menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat merubah nasib dunia Islam, mengapa tidak dicoba ? terlepas dari kekurangan, kelebihan dan sekaligus kontroversi ki kiprah dan pemikiranya, Jamaluddin pantas dicatat orang besar yang bersaham signifikan bagi kesadaran dan renaisans umat dan dunia Islam.

 

  1. c.       Muhammad Abduh

Sang Modernis yang Tradisional

Akhir abad ke-18 dunia islam terbantai oleh penjajah. Mesir, Pakistan, Sudan dan Bangladesh, Malaysia dan Brunei Darussalam diduduki Inggris. Aljazair, Tunisai dan Maroko dijajah perancis. Italia mendapatkan Libya. Indonesia oleh Belanda. Pada saat itu juga kekhalifaan yang menjadi kebesaran islam yang ada di Turki yaitu kahlifah Utsmani dalam keadaan sakit. Dan Muatfa Kamal Attaturk mengganti sistem pemerintahan kesultanan menjadi republik sekuler untuk menyelamatkan Turki. Sejak inilah dunia islam mengalami kemunduran.

Sebenarnya kemunduran islam sudah terjadi 6 abad sebelumnya. Yaitu pada pemerintahan Andalusia dan kekhalifaan Bani Abbasiyah oleh tentara Mongol, selama itulah pemikiran islam berhenti. Dan pada abad ke 19 kondisi mencair denagn muculnya pelopor yang mengelaborasikan antara agama yang di sesuaikan pemahaman masyarakat. Nama-nama seperti Jamaludin Al-afghani, Muhammad Bin Abdul Wahab, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dan Syaikh Muhammad Abduh menjadi pelopor cairnya kebekuan pemikiran islam.

Sejarah mencatat, peranan Muhammad Abduh tidak hanya membangkitakan gerakan revolusioner melalui pemikiranya akan tetapi sebagai pencetus muncul paham “islam kiri” dan “islam kanan” melalui murid-muridnya. Gerakan revolusionernya membuat takut pemerintahan kolonial. Munculnya gerakan perlawanan umat islam terhadap Eropa juga salah satu pemikiran Abduh.

Abduh, nama lengkapnya Muhammad Abduh bin Hassan Khair Ullah, lahir di desa Mahalat Nashr, provinsi Gharbiyah, Mesir pada 1265 H. Dia menganal agama dari orang tuanya. Dia sudah dapat menghafal seluryh isi al-Quran dari kecil. Dan dia melanjutkan pendidikan formalnya di Thanta, dis ebuah lembaga pendidikan Masjid Al-Ahmad, milik Al-Azhar.

Gurunya, Syaikh Darwisi membimbingnya dan mengantarkannya dalam kehidupan sufi. Tahun 1871 Abduh bertemu dengan Jmaludin Al-Afghani. Pada jamaludi Al-Afghani dia belajar filsafat, ilmu kalam, ilmu pasti, ilmu pengetahuan lain yang juga didapatkan di al-Azhar metode diskusi yang diterapakan Jamaludin menarik minat Abduh.

Dalam karirnya ia pernah menjadi dosen di Al-Azhar, Dar Al-Ulum dan perguruan bahasa Khedevi. Ia pernah menjadi mufti Mesir dan menjabat sebagai Hakim agung. Di jurnalistik ia adalah penulis produktif dari sebuahkoran dan dia menjadi pimpinan redaksi, yaitu koran Waqai Al-Misriyah yang membahas persoalan politik, sosial, agama dan negara. Dia meninggal pada tahun 1905.

Gagasan Pembaharuan

Kontribusi pembaharuan pemikiran abduh paling menonjol dan menjadi fokus gerakanya meliputi dua bidang yaitu teologi dan hukum, dua aspek ini yang dianggapnya vital yang telah di lupakan oleh umat islam sehingga benih kemunduran di setiap kehidupan tidak dapat dihindari.

Pemikiran teologi Abduh didasari oleh tiga hal yaitu; kebebasn manusia dalam memilih perbuatan, kepercayaan yang kuat terhadapsunnah allah dan fungsi akal yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan. Pandangan Abduh tentang perbuatan manusia bertolak dari satu deduksi, bahwa manusia adalah mahluk yang bebas dalam memilih perbuatanya, akan tetapi kebebasan tersebut bukanlah kebebasan tanpa batas.

Abduh memandang akal berperan penting dalam mencapai pengetahuan yang hakiki tentang iman, bahkan menurut Abduh akal memilik kekuatan yang sangat tinggi. Berkat akal, orang dapat mengetahui adanya tuhan dan sifat-sifat nya, adanya hidup di akhirat , kewajjiban terhadap tuhan, kebaikan dan kejahatan, serta mengetahui kewajiban membuat hukum-hukum. Tapi bukan berarti manusia tidak membutuhkan wahyu. Wahyu tetap dibutuhkan, sebab wahyu sesungguhnya memiliki dua fungsi utama, yakni menolong akal untuk mengetahui secara rinci kehidupan akhirat dan menguatkan akal dalam mendidik manusia untuk hidup damai dalam lingkungan sosialdengan itu maka para mukmin baru dapat mengenali tuhan dengan baik yang tercermin oleh tindakan baik manusia.

Dalam aspek hukum, pemikiran Abduh tercermin dalam 3prinsip, yaitu: al-Quran sebagai sumber syariat , memerangi taklid dan berpegang kuat pada akal dalam memahami ayat Al-Quran.dia membagi syariat menjadi 2: yang pasti (qath’i) dan yang tidak pasti (zhani). Hukum syariat yang pertama wajib mengetahui dan mengamalkan tanpa interpertasi karena dia jelas dalam al-Quran dan al-Hadits.  Yang kedua dengan tunjukan nash dan ijma’ yang tidak pasti.

Jenis hukum kedua hukum inilah yang mejadi lapangan ijtihad dan mujtahid. Dalam komteks ini, ijtihad Abduh tampak begitu jelas. Bebeda pendapat, menurutnya wajar dan merupakan tabiat manusia. Keseragaman berpikir dalam semua hal adalah sesuatu yang tidak mungkin di wujudkan. Akan membawa perpecahan jika semua perbedaan pendapat di jadikan sebagai hukum. Maka dari itu kita harus kembali pada sumber aslinya, yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Bagi yang berilmu pengetahuan wajib berijtihad, sedangkan bagi awam wajib bertanya pada orang yang ahli  dalam agama.

Dia menyarankan agar para ahli fiqih membentuk tim yang bekerja untuk mengadakan penelitian tentang pendapat yang terkuat di antara di antara pendapat-pendapat yang ada. Kemudian keputusan itu yang di jadika pegangan umat islam. Tim ahli fiqih itu juga bertugas mengadaka reinterpretasi terhadap hasil ijtihad ulam amupun mazhab masa lalu, jadi, menurutnya, bermazhab mencontoh metode ber-instinbath hukum.

Peran dan kiprah Abduh mengangkat citra islam dan kualitas umatnya tidak kecil. Dialah seorang mujahid dan mujadid sekaligus pada masanya. Bukan saja mengalami tentangan internal dan eksternal. Berkat upayanya, meski begitu maksimal, modernisme pemikiran sudah kelihatan. Dalam amatan cendikiawan muslim indonesia Dr. Nurcholis Majid (islam kemoderenan dan keindonesiaan mizan: 1987), “modernisme” Abduh, antara lain, tercermin dalam sikapnya yang apresiatif terhadap filsafat yang di perolah dari gurunya yaitu Jamaludin al-Afghani, seorang penganjur gigi Pan-Islamisme dan orator politik yang memukau.

Di Indonesia, pemikiran Abduh banyak mempengaruhi pelajaran dan patron ormas lainnya. Di antara warisan nya adalah Risalah Al-Tauhid  sedangkan Tafsir Al-Manar merupakan kumpulan pidato-pidatonya,  pikiran-pikiran, dan ceramah-ceramhanya yan di tulis oleh muridnya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.

Kiri dan kanan Islam

Tidak berlebihan jika Abduh dikatakan sebagai seorang figur yang modernis yang menggerakan kebangkitan umat islam. Karena modernis , Abduh tetap di terima di kalangan Al-Azhar , terbukti ia tetap menjadi mufti agung Mesir. Dalam hal ini, Abduh sangat pandai bagaimana bersikap sebagai orang alim dan sekaligus menjadi intelektual modernis. Selama menjadi mufti, ia mengeluarkan fatwa yang berkaitan dengan persoalan-persoalan modernis. Tiga fatwa nya yang terkenal dan masih kontroversial yaitu bunga bank, pakaian tradisional dan tentang daging hasil sembelih non-muslim.

Karena sikapnya yang “dua wajah” itu ia diterima oleh kalangan tradsional dan modernis, dengan sama kuatnya. Dalam satu sisi, ia selalu dilihat sebagai seorang tokoh alim, mujtahid dan penganjur doktrin orisinalitas Islam. Pada sisi lain, Abduh juga dianggap sebagai reformis yang toleran, liberal dan kaya akan gagasan-gagasan modern. Tidak heran kalau murid-murid Abduh kemudian terpecah menjadi dua kelompok besar yang oleh Hasan Hanafi, pemikir Mesir kontemporer, dianalogikan seperti murid-muridnya Hegel dalam tradisi filsafat Barat.

Sama seperti yang Hegel lahirkan yaitu dikotomi  “kanan” dan “kiri”, menurut Hasan Hanafi, murid-murid Abduh juga dapat dikategorikan  seperti kelompok kanan yang cenderung mengembangkan pemikiran-pemikiran keagamaan, dan kelompok kiri Abduh yang lebih cenderung mengembangkan gagasan modernnya. Di antara murid-murid Abduh yang memiliki kecenderungan “kanan” adalah Muhammad Rasyid Ridha (w.)(1935) dan Shakib Arselan (w.)(1946), Sayyid Qutb dan Hasal al-Banna. Sementara Qasim Amin (w.)(1908), Thaha Husein, Ali Abduraziq, Hasan Hanafi di anggap sebagai murid-murid Abduh beraliran “kiri”. Kecenderungan “kanan” dan “kiri” dalam aliran mazhab Abduh ini dalam perkembangsn selanjutnya mengalami radikalisasi yang cukup signifikan. Baik yang “kiri” dan “kanan” sama-sama menganggap dirinya sebagai penerus Abduh yang paling benar.

  1. d.      Muhammad Iqbal

Filosof Agung dari Timur

Iqbal, atau lengkapnya Sir Allama Muhammad Iqbal, adalah fenomena legendaris intelektualitas dunia Islam abad ke-20 bisa dikatakan, tak ada tokoh sebesar dia di abad ke-20 yang menggabungkan sekaligus potensi kepakaran mistisisme, budaya, dan pemikiran dalam dirinya. Bahkan, tokoh sufi dan islamologi jerman ternama, Prof. Annemarie Schimmel, hanya menyebut dua sufi dan pemikir besar muslim yang pemikiran dan karyanya sampai kini berpengaruh besar di dunia keilmuan barat, yakni Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal.

Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot, Punjab, Pakistan tidak ada informasi pasti tanggal dan tahun berapa dia dilahirkan. Tiga pendapat menyatakan, Iqbal dilahirkan pada 22 Februari 1873, antara lain dikemukakan oleh Miss-Luce Claude Maitre, Osman Ralibly, dan Bachrum Rangkuti. Yang kedua mengatakan Iqbal lahir pada tahun 1876, tanpa menyebut tanggal, misalkan dikatakan Wilfred Cantwell Smith. Pendapat terakhir Iqbal dilahirkan pada 9 november 1887 (2 Dzulqodah 1294). Tetapi, seperti diungkapkan Syafi’i Ma’arif, dari penelitian terakhir terungkap, pendapat terakhirlah yang benar, dan bukan 22 februari 1873, sebagaimana yang sering disebut orang. Karna itu, bila orang ingin memperingati hari kelahiran Iqbal, haruslah disesuaikan dengan hasil penelitian yang baru itu.

Terlahir dari keturunan Brahmin yang hidup di lembah Khasmir, keluarga Iqbal telah memeluk agama Islam sejak awal. Iqbal melalui masa kecilnya dalam suasana keilmuan yang kental. Kakeknya, Muhammad Rafiq, adalah seorang sufi terkenal. Sementara ayahnya, Muhammad Nur, selain orang yang saleh juga seorang sufi yang telah mendorong Iqbal menghafal dan mengkaji Al-Qur’an sejak usia dini. Kecenderungan sepiritual yang tinggi dalam keluarganya, terutama kedua orangtuanya inilah, yang kelak berpengaruh berpengaruh besar dalam hidup Iqbal. Tidak seperti para pemikir klasik, Iqbal dapat menikmati kehidupan bahagianya bersama kedua orang tuanya hingga tua. Maklum saja, ayahnya meninggal pada tahun 1930 dalam usia yang amat senja, 100 tahun. Sementara ibunya meninggal lebih dulu, 16 tahun sebelumnya. Itu artinya hingga usia ke-57, Iqbal masih merasakan keberadaan kedua orangtua di sisinya.

Sebelum menempuh pendidikan formal, ayah Iqbal memasukkan Iqbal kecil ke maktab (surau) untuk belajar Al-Qur’an. Di sini, Iqbal banyak menghafal hampir keseluruhan ayat Kitab Suci Islam ini, yang kelak di kemudian hari dia jadikan rujukan gagasan dan pemikiranya. Dari sini Iqbal kemudian dimasukan pendidikan formal sekolah dasar di Scottish Mission School Sialkot. Stamat dari sini, Iqbal melanjutkan study di Murray College Sialkot. Sementara pendidikan menengah dia tempuh di Government College di Lahore, salah satu kota pusat pengetahuan, seni dan kebudayaan di India. Di lembaga studi ternama inilah, dia berguru pada Sir Thomas Arnold, seorang orientalis asal Inggris yang juga guru besar di Aligarh University. Melihat potensi yang besar pada anak didiknya inilah, Arnold menyarankan agar Iqbal meneruskan studinya di Eropa.

Ketika belajar di Lahore ini pula, Iqbal berkenalan dengan Musya’arah para sastrawan, yaitu pertemuan-pertemuan para sastrawan yang membacakan sajak-sajaknya. Pada tahun 1897 Iqbal menyelesaikan program BA dan dilanjutkan ke program Mater dalam bidang filsafat. Atas saran Arnold tadi, Iqbal lalu melanjutkan studi ke Inggris. Pada tahun 1905, berangkatlah Iqbal ke Cambridge University untuk mendalami filsafat. Di sana dia dibimbing oleh R.A Nicholson, seorang sepesialis sufisme dan Jhon M.E. Taggart, seorang neo-hegelian. Dua tahun kemudian, Iqbal pindah ke Munich ,Jerman dan disanalah Iqbal menyabet gelar Ph.D. dalam studi tasawwuf dengan mengajukan desertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia

Setelah mendapat gelar tersebut, Iqbal pergi ke London dan mulai belajar keadvokatan sambil mengejar bahasa dan sastra Arab di universitas London. Di sisi lain, dia menggantikan Thomas Arnold yang telah lanjut usia. Di luar aktivitas akademis, Iqbal, sebagaimana ditulis Muhammad Iqbal dalam skripsinya Rekonstruksi Pemikiran Islam (1994), juga mendalami hukum islam dan keadvokatan. Bahkan, setelah mendapat ijazah sebagai advokat, Iqbal kemudian ditarik oleh Lincoln Inn sebagai pengacara di lembaga hukum yang dipimpinya.

Kembali ke Lahore

Masa-masa periode di eropa ternyata sangat berpengaruh dalam membentuk tipologi pemikiran keislaman Muhammad Iqbal. Wilfred Cantwel Smith dalam Modern Islam In India , setidaknya ada 3 hal yang mendasar yang mempengaruhi pemikiran Islam Iqbal ketika di Erop. Pertama, keleluasaan vitalitas dan aktivitas kehidupan orang Eropa; inisiatif orang-orang di Eropa yang dilihatnya, bila mereka tak menyenangi sesuatu, mereka akan mengubahnya. Kedua, Iqbal menangkap visi yang sangat mungkin dikembangkan dalam kehidupan manusia, suatu potensi yang orang-orang Timur sendiri belum memimpikanya, sementara orang Barat telah mewujudkanya dan ingin memeliharanya terus menerus. Terakhir, Iqbal mengkritik secra tajam terhadap bagian-bagian tertentu kehidupan Eropa, yang menyebabkan pribadi terpecah. Jiwa frustasi dan rusaknya sebagian individu dalam masyarakat kapitalis yang makmur, dan lebih buruk lagi, kompetensi yang buas antar sesama, serta lebih nyata lagi, destrukifnya antara suatu negara dengan negara yang lain, dipandang Iqbal dengan perasaan benci. Atas fakta-fakta inilah Iqbal melihat kehidupan Eropa tidak bisa dijdikan model yang sempurna.

Pada tahun 1908, Iqbal kembali ke Lahore dan mengajar di Goverment College untuk mata kuliah filsafat dan sastra Inggris sambil menggeluti profesi sebagai pengacar. Iqbal kemudian terjun ke dunia politik bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga Muslim India. Dia terpilih sebagai anggota legislatif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum ketika dirinya diberi gelar Sir oleh pemerintah Inggris yang aktif melihat sepak terjang Iqbal dibidang intelektual dan politik. Pada hakikatnya, pemberian gelar ini menunjukkan pengakuan dari pemerintah kerajaan Inggris akan kemumpunian intelektualitasnya dan memperkuat bargaining position politik bagi perjuangan umat Islam didunia saat itu.

Iqbal yang juga turut mengilhami berdirinya negara Pakistan melalui gagasan dan karyanya itu, mengabdikan dan mendedikasikan dirinya pada dunia ilmu, setelah sekian tahun menerjunkan diri pada dunia ilmu di kampus, Iqbal menghabiskan sisa usia dengan memilih dunia kepenyairan sebagai pilihanya. Dititik inilah, dia menunjukkan dirinya sebagai penyair sejati.

Iqbal, penyair dan filsuf Timur, yang meninggal dunia pada 21 april 1938, telah mengukir hidupnya sedemikian rupa hingga akan dikenang umat manusia ratusan tahun yang akan datang, sebab seluruh karyanya dalam bentuk puisi dan prosa dalam bahasa urdu, parsi, dan inggristelah terdokumen dengan baik. Intelektualisme Iqbal dapat ditinjau dari berbagai jurusan : Puisi, filsafat, hukum, pemikiran islam, dan kebudayaan.

 Dalam semua wilayah itu, Iqbal telah mengerahkan hampir seluruh energinya dengan tujuan tunggal: reorientasi nilai-nilai kemanusiaan, Timur dan Barat, dengan landasan tauhid yang teramat kokoh. Peradaban Barat, sekalipun dalam beberapa segi dikaguminya, dalam prespektif moral transendental sudah sangat jauh meluncur ke jurang berbahaya. Sementara Timur yang terpasung dalam spiritualisme, telah lama pula dalam keadaan steril tanpa dinamika. Lalu untuk membangun sebuah peradaban baruyang anggun dan segar diusulkanya agar Barat dan Timur dipertautkan dengan mengawinkan penalaran (ziraki) dan cinta (‘isyq).

Iqbal, Rekonstruksi, dan Barat

“Iqbal adalah suara dari Timur yang menemukan denominator yang sama dengan Barat dan telah membantu terciptanya sebuah komunitas universal yang berlapang dada terhadap semua perbedaan ras, agama, dan bahasa. Sekalipun Iqbal putra Pakistan, Kami bangsa Amerika juga mengakuinya.”

Ungkapan William O. Douglas, mantan hakim agung di mahkamah Agung Amerika Serikat, sesungguhnya mencerminkan intelektualitas Iqbal jauh melebihi dirinya sebagai orang Timur. Sampai pada batas tertentu di dunia Barat, apresiasi terhadap gagasan dan pemikiran Iqbal telah menggugah spirit intelektualitas di dunia Barat dan Timur. Pemikiranya yang cukup beragam, hampir merangkum semua disiplin keislaman, menjadikan dirinya rujukan banyak kalangan.

Soal dunia Barat dan Timur misalnya, betapa terlihat obsesi besar Iqbal bagi terciptanya perdamaian antara dua entitas yang selama ini dikenal tidak “akur” itu. Dia memimpikan kehidupan indah itu melalui peradaban cinta. Dalam sajaknya tentang kerinduan cinta sebagai ornamen penting terciptanya perdamaian peradaban berikut ini, tampak jelas betapa rindunya Iqbal untuk melihat Barat dan Timur tidak lagi berada dalam dua kubu dikotomis, tetapi dalam posisis yang saling mengisi.

Bagi Barat penalaran (akal) merupakan instrument kehidupan; bagi Timur rahasia alam semesta terletak pada cinta (‘isyq). Dengan bantuan cinta akal akan berkenalan dengan realitas; sedangkan untuk penguatan pondasinya, cinta menerima kekuatan dari akal. Bila cinta dan akal saling berpelukan, akan terciptalah sebuah dunia baru; (oleh sebab itu), “Bangkitlah dan bangunlah sebuah dunia baru itu, dengan mengawinkan cinta dan penalaran”.

Obsesi Iqbal adalah cepat terwujudnya saling pengetian spiritual antara Barat dan Timur. Bertolak dari doktrin Al-quran tentang persauaraan universal umat manusia, penyair ini pada masa hidupya amat gelisah menyaksikan komplik berkepnjangan antara Barat dan Timur. Boleh jadi, bila dia menyaksikan pemandangan saat ini yang dipenuhi oleh nafsu-nafsu ego dan kekuasaan yang mengantarkn komplik Barat-Timur semakin menganga, Iqbal akan merasa betapa prinsip-prinsip kemanusiaan menjadi “bualan “ para pengambil kebijakan bik di Barat maupun Timur.

Berkait dengan kondisi bangsa-bangsa Asia, Iqbal begitu prihatin atas kemunduran yang dialami bangsa-bangsa ini. Kondisi seperti ini, menurut Iqbal, tak boleh dibiakan. Harus ada upaya serius membangkitkan bangsa-bangsa Asia dari ketertinggalan dan kemunduran. Keprihatinan itu misalnya, terlihat jelas dalam gagasannya tentang khud (pribadi, diri) dan ishq (cinta Ilahi). Seluruh gagasan dan pemikiran Iqbal tentang kebangunan Islam dan Asia memancar dari gagasannya tentang pentingnya “diri “  dan “cinta” tersebut.

Menurut Iqbal, kebangunan Islam merupakan prasyarat bagi renaisans Asia. Bagi Iqbal, keduanya (kebanguna Islam dalam rainesans Asia) ibarat dua sisi mata uang, satu sama lain tak terpisahkan. Dengan kata lain, Asia dan Islam tidak boleh dipisahkan, satu pandangan yang jauh berbeda dari tokoh Asia lain yang sering meletakkan Islam dan khazanah intelektualnya di luar arus kebangunan global Asia.

Itu sebabnya, tak berlebihan bila mantan deputi PM Malaysia, Anwar Ibrahim, cukup tepat jika menyebut Iqbal, bersama tokoh Asia lainnya seperti Rabindranath Tagore dan Sun Yan Set, sebagai tokoh awal “Renainsans Asia” dan pelopor tradisi humanistik Asia yang sesungguhnya. Mereka, menurut Anwar Ibrahim, tidak hanya memperjuangkan cita-cita kemanusiaan akan tetapi juga menumbuhkan dalam diri mereka gairah hidup. Pemikiran, keseniana dan imajinasi. Mereka melmpaui kekhasan budaya mereka dan hidup dalam dunia gagasan universal. Mereka menegaskan kembali semangat Asia yang luluh lantak akibat kolonialisme.

Iqbal memang dikenal sebagai salah seorang pemikir kontemporer yang sangat gigih melawan kolonialisme dan rasialisme yang telah membelah dan menghancurkan persaudaraan universal antar umat. Dalam suratnya tertanggal 24 januari 1921 kepada Dr. Nicholson, Iqbal mengeritik Emest Renan, tentang pemikiran nya yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah Musuh islam tebesar. Renan sama sekali salah, kata Iqbal, musuh islam terbesar adalah  gagasan tentang ras, yang sebenarnya juga merupakan musuh terbesar kemanusiaan. Oleh sebab itu, menjadi kewajiban seluruh pencinta kemanusiaan untuk berontak untuk hasil temuan setan yang mengerikan ini.

Demi penyatuan umat manusia di muka bumi ini kata Iqbal, al-Quran mengabaikan perbedaan-perbedaan kecil antar sesama. Untuk tujuan ini dia mengutip surat Ali Imran ayat 64, “marilah kita bersatu atas platform yang sama antara kita.” Bagi Iqbal, gagasan tentang persaudaraan universal umat manusia ini tidak menjadi kenyataan, bila kekuatan-kekuatan sejarah masih mendominasi oleh budaya sekularistik-ateistik, sebagaimana yang tercermin dengan sangat tajam dalam pemikiran Freidrich Nietzsche yang menafikan keabadian ruh manusia.

Agar Umat Tidak Terlindas zaman

Di bidang pembaharuan pemikiran islam, Iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat islam selama 500 tahun terakhir di sebabkan oleh kebekuan dalam pemikiran. Dengan alasan untuk mempersatukan umat, sebagian ulam membuat syaria menjadi alat yang ampuh untuk membuat umat menjadi jumud dan statis. Dengan cara menutup pintu ijtihad seolah-olah qaul-qaul ulama terdahulu  adalah sesuatu yang sakral dan tak boleh diperdebatkan. Padahal menurut Iqbal hukum tidak statis, tetapi dapat berkembang sesuai perkembangan zaman.

Ijtihad tidak boleh tertutup, kebebasan menggunakn rasio dan berpikir harus dikembangkan. Secara prinsip, Islam mengajarkn dinamisme, AL-Qur’an selalu menganjurkan pemakaian akal sehat atau tanda yang terdapat di alam seperti pertukaran siang-malam, hewan-hewan dan lain sebagainya. Orang-orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda itu akan “Butek” (Buta teknologi) dan ketinggalan. Islam mengajarkan dinamisme dan mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup sosial manusia, dan hal ini yang prinsipil adalah ijtihad. Karena itu, Iqbal mengecam fatalisme yang dianut sebagian kau muslim.

Dalam syair-syairnya, Iqbal mendorong umat Islam agar selalu bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak dan hukum hidup adalah berkreasi, maka Iqbal dengan bersemangat tinggi mengajak umat islam agar bangkit dari “tidurya” dan berkreasi menciptakan tatanan dunia baru. Bahkan, begitu tingginya Iqbal menghargai gerak-gerak sampai menyatakan bahwa seorang kafir yang aktif dan gesit lebih baik dari pada seorang muslim yang suka tidur.

Walau mengecap pendidikan di barat, negeri asal kapitalime dan imperialisme saat itu, Iqbal tidak mengambil mentah-mentah paham dari barat. Kapitalisme dan imperialisme barat tidak disetujuinya karena telah banyak dipengaruhi metrealisme dan lari dari agama. Iqbal justru bersikap simpatik pada sosialisme, karena melihat ada segi-segi persamaan antara paham tersebut dengan Islam, bahkan suatu saat dia pernah mengatakan bahwa Bolysevisme plus Tuhan hampir identik dengan islam, maka dia tak heran jika suatu saat Islam menelan Rusia atau sebaliknya.

Berkaitan dengan politik, Iqbal melihat tidak ada masalah dalam kaitanya dengan agama.  Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pandangan inilah yang kemudian dia kembangkan dalam merumuskan ide berdirinya negara Pakistan yang memisahkan diri dari India yang mayoritas memeluk Hindu. Hanya dengan adanya pemerintahan yang tersendiri bagi umat Islam, merek aajan dapat melaksanakan prinsip-prinsip doktrin Al-Qur’an dalam kehidupan mereka.

Sementara, sebagian mistikus, gagasan-gagasan sufisme Iqbal, selain dinilai banyak mengilhami para filosof Barat dan Timur modern, juga dikenal memiliki eksotisme yang tinggi. Suatu ketika misalnya, dia amat merindukan pada “kampung halamanya”, yakni “rumah” di alam prakehidupan duniawi yang merupakan asal dari semua yang ada di dunia ini, dalam syairnya :

Kenangan pada kampung halaman menimbulkan kesedihan tanpa sebab. Kadangkala dia menjelma menjadi kerinduan untuk menatap keindahan dan kadangkala menjadi pencarian yang menggebu.

Iqbal juga menentang pandangan sempit sebagian ulama (Mullah) yang menganjurkan umat Islam tidak mempelajari ilmu pengetahuan modern yang datang dari Barat, termasuk bahasa Inggris. Ketidaksetujuanya itu dengan bagus dia lukiskan dalam sajak berikut :

Agama sejati tenggelam. Kalah pada bukan Agama. Bagi para Mullah agama ialah kesibukan. Mengecam orang sebagi kafir. Bagi para kafir agama adalah bagaimana mengatur siasat dan menimbun kekayaan. Bagi para Mullah agama adalah bagaimana mendatangkan kesulitan atas nama Tuhan.

Meski gagasan dan karyanya paling banyak dikaji, seperti diakui intelektual, Djohan Effendi, dan dihormati banyak kalangan di Barat dan di Timur, bukan berarti kecaman kepada Iqbal tidak ada. Setidaknya disebagian sarjana dia dicaci karna keyakinanya yang sangat tinggi terhadap kekuatan. “Kekuatan itu lebih ilahiah dibanding kebenaran. Tuhan adalah kekuatan.”

Banyak aspek gagasan Iqbal yang relevan dengan kondisi umat Islam sekarang. Apalagi ditengah krisis saat ini, rekonstruksi pemahaman keagamaan dan alam pikiran umat Islam menjadi penting bila umat ini tak mau ketinggalan zaman. 

 

  1. e.       Sayyid Amir Ali

Pemikir-Sejarawan Muslim Modern

Di kalangan pemikir  islam dan intelektual barat, Sayyid Amir Ali di anggap dinilai sangat berjasa bagi perkembangan islam. Gagasan pembaruan dalam pemikiran islam yang di lontarkan sosok ini banyak mendapatkan apresiasi tak saja di dunia islam, juga di dalam dunia barat. Pada masa, gagasan dan pemikiran pentingnya rethingking islam marak digaungkan. Di kawasan anak benua india, atau asia selatan inilah, kiprah Sayyid Amir Alidalam proyek tersebut. Di kawasan ini, selain dirinya juga ada tokoh pemikir lain semisal muhammad Iqbal, Ali Jinnah, dan Abul A’la Al-Maududi pada generasi berikutnya. Pada saat yang sama, pelopor pembaru juga muncul dikawasan dunia Arab. Sebut juga tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.

Di lahirkan di Cuttack, India, pada 6 april 1849, Amir Ali memiliki garis keturunan dari keluarga  Arab syi’ah yang pindah dari Khurasan, Persia dan menetap di Mohan, Oudh, India pada pertengahan abad ke 18. Ayahnya Sa’adat Ali  Khan, adalah dokter dan berasal dari keluarga kaya dan terhormat dimasa nya. Ali menempuh pendidikan formal di Muhsiniyah College, Calcutta. Di lembaga pendidikan inilah, dia mendapatkan predikat sebagai pelajar terbaik dan meraih penghargaan untuk jenjang studi atas dan pendidikan tinggi (S1) pada bidang hukum, serta master (S2) pada bidang sejarah pada 1868. Dia memperdlam agama islam dari guru setempat , dengan guru inilah Ali dapat berbahasa Urdu, tak hanya itu pemerintah Inggris memberika beasiswa untuk mengambil gelar doktor di bidang spesifikasi hukum islam di London University.

Pada 1873 Ali telah lulus program doktornya dengan baik. Tak lama kemudian, dia kembali ke India. Ali tertarik pada dunia politik karena itu ia mendirikan sebuah organisasi yang bernama National Muhammadan Association. Organisasi ini dalam waktu singkat menyebar keseluruh India. Pembentukan organisasi ini di maksudkan untuk melengkapi kalangan muslim India dengan pengalan teknik politik Eropa, dan untuk melindungi dan menjaga kepeningan umat islam.

Atas prestasi studinya itu, pada 1883, pemerintahan mengangkat  Ali menjadi anggota The Viceroy’s Council di india. Berbekal ilmunya itu Ali mendedikasikan dirinya di negeri kelahirannya sebagai pengacara, guru besar hukum islam, dan pegawai pemerintahan. Namun pada 1904, dia memutuskan menetap di Inggris bersama istrinya yang asli Inggris. Keputusan itu diambil lantaran dia angkat menjadi anggota Judicial Commite Of Privaci Council (dewan kehormatan komite pengadilan). Prestasinya itu menjadiakn Ali sebagai orang India pertama yang menduduki jabatan tersebut.

Sebagai tokoh pembaru pemikir islam. AmirAli banyak melontarkan gagasan-gagasan pemikiran sekitar ijtihad, rasionalisme, dan Ilmu pengetahuan. Pada bidang ijtihad misalnya, Ali berpendapat bahwa pintu ijtihad telah ditutup dan umat berpegang kepada ulama-ulama abad ke 19 yang tidak mengikuti perkembangan zaman itu yang membuat dunia islam mundur. Salah satu pandangan Ali yang sangat di tonjolkan adalah dia merujuk pada surat al-Ra’d yang menjelaskan bahwa setiap kaum tidak akan berubah nasibnya sebelum mereka merubahnya. Dari situ Ali menyimpulkan bahwa Allah Swt memberi kesempatan pada setiap manusia untuk merubah keadaan, sekaligus menjelaskan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehandak.

Karena itu Ali meminta kepada umat islam agar tidak terpuruk oleh pendapat lama yang membuat umat tidak maju. Amir Ali berpendapat “ijtihad sebagai sarana untuk mencapai berbagai penemuan haruslah bersifat rasional dan semestinya ia menjadi lebih memajukan umat islam di bidang ilmu pengetahuan”. Ali berpendapat bahwa semangat ijtihad, kecintaan pada ilmu pengetahun dan sikap rasional umat islam dibangkitkan kembali, ini  aspek yang menurtnya akan membawa kejayaan dunia islam.

Berkaitan dengan kehidupan akhiran , aliran memiliki pemikiran bahwa gagasan hidup di akhirat merupakan fenomena umum umat islam sejak zaman primitif, ini muncul ketika umat manusia ingin berkumpul dengan orang yang mereka kasihi dan terpisah dari mereka oleh kematian. Dengan pelbagai pandangan Ali menjelaskan pandangannya secara kronologis.

Dalam soal wanita dan perbudakan, Amir Ali berpendapat bahwa betapa kejamnya manusia kepada kaum wanita. Menurutnya hanya islam yang menyajikan cara bagaimana memperlakukan seorang wanita dan memberantas perbudakan.

Terkait pada perbudakan, Amir Ali berpendapat bahwa hal itu menunjukan kesombongan manusia. Katanya “memang pebudakan ada dalam sejarah hidup manusia dari semua bangsa; Romawi, Yahudi, Yunani danJerman tapi hal itu bukan berarti itu menjadi alasan untuk melakukan hal yang sama pada masa modern ini” agama kristen bahkan tidak melarang tapi ketika islam datang, perbudakan secara langsung dihapuskan melalui berbagai cara.

Sayyid Amir Ali  dituding sebagai seorang apolog muslim tersebar abad modern menurut barat. Ini dipahami mengingat posisi dan gagasan pembaruan islam Ali yang merintik beratkan pada rethingking Islam disertai pembelaan yang pada batas-batas tertentu melewati pembelaan seperti yang dilakukan pemikir muslim lainya. Pembelaan terhadap islam terhadap serangan-serangan barat itu jelas terlihat sekali dalam tulisan Ali. Latar belakang kondisi faktual saat itu sedikit banyak pengaruh yang cenderung apologetik itu.

Walaupun demikian, Amir Ali telah berbuat banyak pada umat ini. Melalui karya-karyanya, dia berupaya membangkitkan islam yamg sekian lama terlelap dalam mimpi kejayaan masa lalunya. Hingga akhir hayat nya, Amir Ali telah menulis beberapa buku, antara lain: the spirit islam,  a Critical Examinitation of the life and teaching of mohammed dan A Short History of the Sarances.

 

 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

“Islam adalah agama yang mencakup  berbagai macam aspek, baik itu ekonomi, politik, budaya, ibadah, dan lain-lain.” Inilah ungkapan yang Jamaluddin Al-Afghani  tegaskan dalam pemikiran dan gagasannya. Bila memandang Islam dalam konteks kekinian, rasanya memang perjuangan atau usaha yang dilakukan oleh para tokoh pembaharu islam belum sempurna. Perjuangan dan usaha mereka kami analogikan sebagai sebuah ajang lari estafet, mereka—para tokoh pembaharu islam—berlari dan membawa tongkat estafet kemajuan islam dengan susah payah dan penuh perjuangan agar sampai kepada kita—umat saat ini—dengan harapan besar kita mampu melanjutkan tongkat estafet tersebut sampai pada generasi selanjutnya hingga akhir  zaman. Namun, potret umat islam saat ini bisa dikatakan amat menyedihkan dari segi keilmuan dan persatuan. Umat islam saat ini tidak lagi dinamis, dan seperti tidak memiliki pendirian. Hal ini terlihat dari mudahnya umat islam terprovokasi oleh oknum-oknum tertentu yang tak bertanggung jawab.Hal ini menunjukkan kesadaran umat islam untuk melanjutkan tongkat estafet kemajuan itu masih belum maksimal.

Semoga dengan hadirnya kajian(studi tokoh) ini kita semakin menyadari kondisi islam yang masih terpuruk saat ini dan harapan besar kami adalah munculnya jiwa dan semangat Al-Afghani,  Muhammad Iqbal, dan lain-lain yang mampu kembali meneruskan tongkat estafet perjuangan itu dan menanggalkan seluruh pengaruh barat pada islam yang merupakan hambatan bagi umat islam untuk maju. Amien.

 

Daftar pustaka

Asmuni, Drs. H. M. Yusran, Pengantar Studi Pemikiran Dan Gerakan Pembaharuan (Dirasah Islamiah III), Rajawali Pers: Jakarta, 2001

Rahman, Fazlur, Kebangkitan dan Pembaharuan di dalam Islam, Penerbit Pustaka: Bandung, 2001

Sucipto, Hery, Ensiklopedi Tokoh Islam;Dari Abu Bakr  sampai Nashr dan Qardawi, Hikmah Kelompok Mizan:Bandung, 2003

 

 

 

Fatimatuz Zahra dan Amar Faisal Haidar

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:6.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:110%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.5pt;
font-family:”Tw Cen MT”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:”Tw Cen MT”;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:”Tw Cen MT”;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-font-kerning:10.5pt;
mso-ansi-language:IN;}