DINASTI BANI ABBASIYAH

Oleh : Deden Sofyan dan Ani Rusmiati

BAB I

PENDAHULUAN

            Umat islam sekarang mengalami dekadensi yang teramat buruk, satu dengan yang lain saling mengkafirkan, watak mereka yang dicampuri imprealis lebih senang meng-eksploitasi, tidak sedikit masyarakat miskin kota digusur rumahnya padahal islam tidak mencontohkan seperti itu, pendidikan ter-influence oleh pendidikan barat yang kemudian lulusannya hanya menghasilkan agen barat dan mengikis kultur islami lokal dan menghilangkan identitas lokal, pemimpin yang mengaku beragama islam lebih senang menarik pajak dan tidak mendistribusikannya kepada masyarakat, mereka lebih senang memasukannya kedalam perut mereka, dan ada lagi kontradiksi dan kontra produktif yang tidak etis, seolah-olah mereka bukan penduduk Indonesia yang terkenal dengan kesopanannya.

            Persoalan ini menjadi ruwet kiranya karna tak kunjung bisa terselsaikan. pemerintah dan para ulama yang belum “masuk angin” sudah bekerja keras untuk mengatasi hal ini dengan mengadakan berbagai macam organ taktis dan ormas-ormas tapi tetap saja tidak bisa membuat masalah ini menjadi minim, disamping sedikitnya yang memiliki hati nurani, sedikit pula manusia yang sadar dan mau bangkit dari persoalan ini.

            Kalau meliahat sejarah kebelakang, ketika islam berada pada massa pertengahan, kemudian timbul dinasti-dinasti dengan berbagai macam coraknya ini telah memberi kita pelajaran dari mulai berdiri sampai runtuhnya. Berdiri dengan berebut kekuasaan, sistem politik yang keras dan siap memberlakukan apapun demi suksesi, ini tidak bisa dinafikan dari pergolakannya. Belum lagi masalah kediktatoran dan eksploitasi ekonomis  yang keuntungan besarnya hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan. Sistem politik yang dibangunnya tetap saja tidak bisa membangun masyarakat karna terdapat banyak pemimpin yang korup dan berwatak komprador. Pada akhir masa dinastinya pun diceritakan tidak sedikit masyarakat yang menyimpan “duri dalam hati” dalam waktu panjang yang kemudian menimbulkan gerakan baru separatis frontal dan pada akhirnya islam pun berperang dengan saudara se-islamnya untuk memperebutkan kekuasaan.

            Memang ada hal yang lain yang perlu diakui dan dibanggakan karna di samping mereka ber-konflik mereka juga mampu meninggalkan situs-situs yang bermanfaat kepada umat muslim pada jaman sekarang. Itu merupakan bukti bahwa peradabanya mengalami kemajuan pesat dalam berbagai macam hal; ekonomi, politik, sastra, sain, filsafat, teknologi dan lain-lain.

            Itulah sedikitnya gambaran atas apa yang pemakalah tulis, agar menjadi bahan pelajaran dan informasi bagi seluruh mahasiswa STFI Sadra. Untuk lebih memberi gambaran jelas, pemakalah ingin menguraikannya pada isi makalah ini agar menjadi titik semangat bagi umat muslim di seluruh dunia dalam mengembangkan hazanah islam yang sempat terkubur.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

 

Dinasti Abbasiyah didirikan secara revolusioner dengan menggulingkan kekuasaan dinasti Umayyah. Terdapat beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pembentukan dinasti Abbasiyah ini. Di antaranya adalah:

  • Meningkatnya kekecewaan kelompok Mawalli terhadap dinasti Baani Umayyah
  • Pecahnya persatuan antar suku-suku bangsa Arab
  • Timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginan mereka meiliki pemimpin kharismatik
  • Perlawanan dari kelompok syi’ah

Faktor-faktor tersebut pada satu sisi mendukung jatuhnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah, dan pada sisi lainnya sekaligus mendukung keberhasilan gerakan pembentukan dinasti Abbasyiah.

Pada masa kekuasaan dinasti Umayyah, sekitar pertengahan abad ketujuh, terjadi sejumlah pemberontakan di seluruh negeri. Puncak dari seluruh pemberontakan ini adalah peperangan antara kekuatan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan II. peprangan ini dimenangkan oleh kekuatan yang dipimpin Abbul Abbas. Sekalipun Marwan berhasil melarikan diri, namun pada akhirnya marwan berhasil ditangkap di Mesir dan di hukum mati. Dengan terbunuhnya Marwan dan jatuhnya negeri syiria, khususnya kota Damaskus, maka berakhirlah riwayat dinasti Umayyah dan bersaan dengan itu bangkitlah kekuasaan Bani Abbasyiah yang berusaha membuka lembaran baru sejarah Islam.

  1. B.  Corak Baru Dinasti Bani Abbasiyah

 

Dengan beridirnya kekuasaan dinasti Abbasiyah terjadilah beberapa perubahan sosial politik. perubahan yang menonjol adalah tampilnya kelompok Mawalli, khususnya Persia-Irak. Mereka menduduki peran penting dan posisi penting dalam pemerintahan menggantikan kedudukan bangsa Arab.

Pergeseran kedudukan sosial dari kaum ningrat Arab oleh kelompok elite pemerintahan dalam seluruh aspeknya melibatkan kecerdasan dan kesungguhan bangsa persia. karena itu pemerintahan Abbasiyah sangat dominan terhadap pengaruh-pengaruh persia. Gelar-gelar bangsawan persia, nyanyian persia, tradisi pergundikan persia, dan tradisi keilmuan persia berkembang dengan pesat menjadi mode.

C. Para Penguasa Dan Kebijakannya.

 

  1. 1.   Abbul Abbas as –Saffah (133-137 H/750-754 M)

Abbul Abbas as-Saffah dinobatkan sebagai khalifah pertama dinasti Abbasiyah oleh pengikutnya pada tahun 133 H/ 720 M. Tindakan pertama yang ditempuhnya adalah menyapu bersih keturan dinasti Umayyah dari muka bumi. Atas perintahnya, sang paman yang bernama Abdullah membantai keturunan dinasti Umayyah secara licik. Agen-agen rahasia Abbul Abbas tersebar diseluruh wilayah negeri untuk memburu pelarian keturunan Umayyah. Salah satu keturunan Umayyah yang berhasil melarikan diri yakni Abdur Rahman, cucu Hisyam. ia berhasil mendirikan kekuasaan bani Umayyah di Spanyol.

Perlakuan kejam Abbul Abbas tidak hanya terbatas pada mereka yang masih sidup saja, bahkan ia menodai makam-makam keturunan Umayyah. Ia mengeluarkan jenazah mereka dari kuburan lalu membakarnya menjadi abu. Dengan cara demikian Abbul Abbas membuktikaan gelar dirinya sebagai as-Saffah (si pernumpah darah atau si haus darah) dan sekaligus merealisasikan sumpahnya suaktu penobatan sebagai khalifah. Masa pemerintahan Abbul Abbas tidak berjalan lama, hanya sekitar lima tahun. Ia meninggal di istana Ambariyah pada tahun 133 H/ 754 M. Akibat serangan penyakit cacar. Namun sebelum meninggal, ia telah menunjuk saudaranya yang bernama Abul Jaa’far sebagai pengganti tahta kerajaan. Sekalipun ia terkenal kejam. namun masa pemerintahannya dipandang sebagai pemerinyahan yang disiplin. Ia diakui sebagai penguasa yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

 

  1. 2.   Abu Ja’far al-Mashur (137-159 H/754-775 M)

Al-mashur dan beberapa khalifah Abbasiyah pertama merupakan penguasa yang memilikikemampuan dan kecakapan yang luar biasa yang mencurahkan segala waktu, tenaga dan pikirannya demi kemajuan dan kesejahteraan bangsanya. Al-Manshur tidak pernah tidak kejam terhadap musuh-musuh yang menyebabkan kepentingan dinasti terancam bahaya.

Terdapat beberapa pemberontakan yang cukup besar namun semuanya dapat ditaklukan dengan mudah oleh Al-Mashur. diantaranya ialah:

  • Pemberontakan yang dilakukan oleh Abdullah Ibn Ali yakni paman al-Mashur yang menjadi gubernur di syiria
  • pemberontakan yang lakukan oleh sekte persia yang bernama “ Rawandiyah”
  • Pemberontakan yang dilakukan oelh gubernur Khurasan

Setelah berhasil mengamankan situasi politik dalam negeri, al-Manshur merencanakan pembangunan kota Baghdad. Ia memulainya pada abad 145 H/762 M. Dan merampungkannya selama empat tahun. Baghdad menjadi pusat ibu kota Imperium Abbasiyah dan merupakan kota yang paling megah pada abad pertengahan. Dalam masa al-Manshur ini terdapat keluarga Barmakhiyang dibentuk oleh Khalid Ibn Barmaki mulai memrankan peran utama dilingkungan istana. 

Al-Manshur menguasai pemerintahan selama 22 tahun telah membuktikan prestasi besar dalam mengkonsolidasikan situasi politik. Pada masa pemerintahannya, berbagai disiplin ilmu seperti kepustakaan, sejarah, kedokteran, dan khususnya astronomi dipelajari dan berkembang dengan pesat.

  1. 3.   Al-Mahdi (159-169 H/ 755-785)

 

Al-Mahdi menggantikan kedudukan ayahnya, al-Manshur. Ia merupakan penguasa yang lemah lembut dan dermawan. Ia menandai awal masa pemerintahannya dengan membebaskan seluruh tahanan,penjahat kejam sekalipun. Kekayaan ayahnya yang melimpah membuatnya berkesempatan melakukan program-program pembangunan yang besar. dengan memperluas masjid kota-kota islam, dan juga membanguna ibukota kerajaan menjadi sangat megah. Kemajuan musik, sastra dan filsafat telah menghiasi masa pemerintahannya. pada masa, di Khurasan terjadi penyebaran ajaran sesat yang dipelopori oleh Hisyam ibn Hakim yang mengaku dirinya sebagai “Nabi berkerudung”.

Pada sekitar tahun 163 M. pasukan Romawi menyerbu beberapa wilayah muslim perbatasan. mereka berhasil menaklukan dan menduduki Marash. Al-Mahdi beserta puteranya yang bernama Harun berhasil merebut kembali bebrapa wilayah peerbatasan bagian barat. 

Masa pemerintahan Al-Mahdi merupakan era kemakmuran. Ia telah berbuat banyak dami ketertiban imperium. pertanian dan perdagangan dengan pesat. Ia berusaha menyelamatkan ajaran ortodok dan menindas segala macam sekte-sekte sesat, dan ia juga tidak memberikan kesepatannya berkembangannya pemikiran bebas.

  1. 4.   Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)

 

Sepeninggalan al-Mahdi tahta kerajaan Abbasiyah dijabat oleh putera yang tertua, Musa al-Hadi. Sekalipun Harun adik Musa menyatakan persetujuan dan dukungan atas penobatan Musa, namun sang kakak tidak menaruh kepercayaan terhadap dukungan Harun. Musa mengatur rencana mendepak Harun dan berusaha memindahkan Khalifah kepda puteranya yang bernama Ja’far. Demi terwujudnya  rencana ini Musa memenjarakan penasehat utama Harun yang bernama Yahya Ibn Khalid al-Barmaki, dan beberapa pendukung Harun yang dipandang membahayakan kedudukan Musa. Ketika konflik sudah semakin kritis, Harun meninggalkan istana demi untuk menyelamatkan diri dari ancaman Musa al-Hadi. Musa al-Hadi meninggal setelah memegang pemerintahan tidak lebih dari dua tahun.

 

  1. 5.   Harun Al-Rasyid (170-194 H/786-809 M)

            Sesuai dengan amanat al-Mahdi, Harun al-rasyid segera menduduki tahta kerajaan sepeninggal saudaranya yakni al-hadi. Ia berkuasa selama 23 tahu. penobatan ini mengantarkan dinasti Abbasiyah pada kemajuan yang gemilang.

            Kebijakan pertama yang ditempuh Harun adalah melantik seorang penasehat pribadinya yang bernama yahya ibn Khalid al-Barmaki sebagai perdana mentri dan sekaligus mengangkat dua putera yahya yang bernama fadl dan ja’far sebagai pejabat tinggi Harun.

            Harun sangat dikenal sebagai penguasda yang taat terhadap ajaran agama, dan sangat dermawan. Atas pengaruh isterinya Zubaidah, Harun menunjuk tiga anaknya sekaligus sebagai penggantinya secara berurutan yakni: al-amin, al-Makmun dan al-Ma’tasim.

            Harun al-Rasyid tidak hanya sebagai khalifah terbesar Abbasiyah sekaligus sebagai penguasa terbesar dunia pada saat itu. “ Abad kesembilan belas ditandai dengan tampilnya dua raja besar dunia: Charlemagne penguasa Barat. dan Harun di timur”.[1] Selama pemerintahannya rakyat hidup dalam kemakmuran yang merata, dan ilmu pengetahuan dan peradaban memasuki era kemajuan yang menakjubkan. Untuk melengkapi kesejahteraan rakyat, ia mendirikan rumah sakit, sekolahan, perguruan tinggi, membangun masjid, jalan,irigasi dan menetapkan tunjangan fakir miskin. Bidang tulis menulis merupakan kegiatan yang paling menonjol kemajuannya.

  1. 6.   Al-Amin (194-198 H/809-813 M)

            Sepeninggal Harun, puteranya yang tertua yakni Al-Amin meneruskan kedudukan ayahnya. Ia adalah pemuda yang suka kemewahan dan kesenangan dunia. ia menyerahkan urusan pemerintahan kepada perdana menterinya, yakni Fazl Ibn rabi, sedangkan ia tetap sibuk dengan urusan peribadinya.  pada saat itu al-Makmun, saudara al-Amin,menjabat gubernur untuk wilayah-wilayah timur. Ia sangat dipuja oleh masyarakat karena sikapnya sangat bertolak belakang dengan al-Amin, maka ada kecemasan pada diri al-Amin sehingga ia memecatnya dari jabatan gubernur, dan secara curang ia menunjuk puteranya yang bernama masa sebagai putera mahkota dan menghianati amanat ayahnya. 

  1. 7.   Al-Makmun (198-318 H/813-933 M)

Dengan kemenangan dalam perang saudara, al-Makmun menduduki tahta kerajaan Abbasiyah. Namun ia tidak segera menjalani kehidupan istana di baghdad, melainkan tetap menyibukan diri dengan kajian filsafatnya di Merv. karena itu ia menyerahkan urusan pemerintahan kepada wakilnya yakni Fadl Ibn Sahal. Sementara itu di Merv al-Makmun menetapkan keputusan yang membuat keluarga Abbasiyah bagai tersambar petir yakni pada tahun 202 H. al-Makmun menunjuk Imam Ali al-Ridha Ibn Musa al-Kadzim,seorang keturunan keluarga Ali,sebagai pengganti kedudukan Khalifah kelak. Ia juga melarang memakai pakaian hitam,yakni warna yang melambangkan semangat perjuangan Abbasiyah dan menggantinya dengan warna hijau, yakni warna yang mnelambangkan perjuangan keluarga Ali.

Al-Makmun berkuasa selama 21 tahun. Masa pemerintahannya meninggalkan warisan kemajuan intelektual Islam yang sangat berharga,dalam bisang pemikiran, matematika, astronomi, kedokteran dan filsafatmencapai kemajuan yang hebat pada masa ini. Masa pemerintahan al-makmun diwarnai dengan gerakan pendidikan, baik di wilayah timur maupun barat. Masa pemerintahan al-Makmun merupakan kejayaan sejarah bangsa Arab dan dapat disebut dengan “ zaman Agustan islam”.

  1. 8.   Al-Mu’tasim (833-845 M)

      Al-mu’tasim mengklaim dirinya sebagai khalifah ketika al-Makmun sedang dalam keadaan sakit. Banyak tentara yang tidak sepakat atas tindakannya itu. Untuk mengamankan rakyat baghdad, al- mu’tasim memindahkan ibukota kerajaan ke Samarra tahun 836, sekitar 95 km dari arah hulu sungai Tigris. Di kota ini ia membangun istana kerajaan dan perkampungan untuk 250.000 tentara, dan tidak lama kemudian samarra menjadi semegah kota Baghdad, kecuali ia tidak mampu menandingi baghdad sebagi pusat perkembangan intelektual muslim. Al-Mu’tasim meninggal pada tahun 842 H. Menurut Gibbon, “ pada masa pemerintahan al-Mu’tasim ini kebesaran Abbasiyah dan bangsa Arab mulai mundur”

 

D. Kondisi Sosial Dan Kemajuannya Pada Masa Abbasiyah

Seni musik mengalami kemajuan pesat pada masa Abbasiyah, ulaiyah merupakan salah satu pakar musik yang tersohor pada masa itu. seni tari juga berkembang dikalangan masyarakat. Bersamaan dengan kemajuan seni musik dan seni tari, minuman keras, perjudian juga berkembang di tengah masyarakat.catur,panahan,menunggang kuda, berburu merupakan permainan yang populer. sistem perbudakan tetap berkembang pada masa Abbasiyah.

  1. a.      Kondisi Perekonomian

Masyarakat memiliki bergam profesi untuk memenuhi kebutuhan perekonomian mereka. periode Abbasiyah banyak mencapai kemajuan pada bidang perdagangan dan perniagaan. Baghdad, Basrah, dan Alexandria merupakan pusat bisnis pada saat ini. kegiatan industri juga berkembang pesat pada masa Abbasiyah.Tidak hanya perdagangan dan industri yang mengalami kemajuan, tapi di bidang pertanianpun ikut maju karna memang kondisi abbasiyah itu terletak di tepian sungai. Kemudian mereka menyadari bahwa pertanian sumber utama pemasukan negara; dan karna pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang setatusnya mengalami peningkatan secara rezim baru ini. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancur di berbagi wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah di lembah Tigris-efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah mesir, dan dipandang sebagai surga aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Mereka membuka kembali saluran irigasi yang lama dari sungai Efrat, dan membuat saluran irigasi baru, sehingga membentuk sebuah “jaringan yang sempurna”

b.  Kondisi Keilmuan 

            Dalam bidang kedokteran dan filsafat, mereka tidak menghasilkan karya yang cukup independen seperti dalam bidang kimia, astronomi, matematika, dan geografi. Dalam bidang hukum, teologi, filologi, dan bahasa, sebagai orang arab dan muslim, mereka berhasil mengembangkan pemikiran dan penelitian yang orisinal. Karya-karya terjemahan mereka, yang banyak dipengaruhi oleh pikiran arab selama beberapa abad, serta sebagai kontribusi baru mereka, masuk kedataran eropa melalui suriah, spanyol, dan sisilia, kemudian membangun dasar-dasar ilmu yang mendominasi pemikiran eropa abad pertengahan. Transmisi pengetahuan ini, dari sudut pandang sejarah budaya, tidak kalah pentingnya dengan penemuan ilmu baru. Seandainya pemikiran hasil aristoteles, galen dan ptolemius hilang tanpa jejak, maka dunia menjadi miskin seolah-olah pengetahuan tersebut tidak pernah dihasilkan.

Bagi orang arab, filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu bisa dipahami oleh pikiran manusia. Secara khusus, nuansa filsafat mereka berakar pada tradisi filsafat yunani, yang dimodifikasi dengan pemikiran para penduduk di wilayah taklukan,serta pengaruh timur-timur lainnya yang disesuaikan dengan nilai-nilai islam, dan diungkapkan dengan bahasa arab. Orang arab percaya bahwa karya-karya aristoteles merupakan kodifikasi filsafat yunani yang lengkap, seperti halnya karya galen yang mempresentasikan ilmu kedokteran yunani. Dengan demikian, filsafat dan kedokteran yunani yang berkembang saat itu senyatanya merupakan ilmu yang dimiliki barat. Sebagai muslim, orang arab percaya bahwa al-qur’an dan teologi islam merupakan rangkuman dari hukum dan pengalaman agama. Kontribusi orisinal mereka terletak diantara filsafat dan agama di satu sisi, dan di antara filsafat dan kedokteran di sisi lainnya. Dengan berlalunya waktu, para penulis arab akhirnya menerapkan kata falasifah atau hukama (filosof atau sufi) terhadap para filosof yang pemikiran spekulatifnya tidak dibatasi agama, dan menerapkan istilah mutakallimun atau ahl kalam (ahli bicara, ahli dialektika) pada orang-orang yang memposisikan sistem pemikirannya di bawah ajaran agama samawi. Untuk menjawab para penulis skolastik eropa kristen, kelompok mutakallimun merumuskan teori mereka dalam bentuk proposisi sehingga mereka disebut sebagai ahli pembuat proposisi. Kalam perlahan-lahan berubah maknanya menjadi teologi, dan mutakallimun akhirnya sinonim dengan teolog. Contoh teolog adalah imam al-gozali dan contoh filosof adalah al-kindi, al-farabi dan ibn sina.

Selanjutnya kajian ilmiah tentang perbintangan dalam islam mulai dilakukan, seiring dengan masuknya pengaruh buku india, siddhanta (bahasa arab, sindhind), yang dibawa kebagdad pada 771, diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim Al-Fazari, dan digunakan sebagai acuan oleh para sarjana belakangan. Tabel berbahasa pahlawi (zik) yang dihimpun pada masa dinasti sasaniyyah ikut dimasukan dalam bentuk terjemahan (zij). Unsur-unsur yunani, yang baru muncul belakangan, termasuk di antara unsur penting pertama. Terjemahan awal karya ptolemius, almages, disususl kemudian oleh dua karya yang lebih unggul: karya al-hajjaj ibnu mathar yang selsai ditulis pada 212 H./827-828 M; dan karya Hunayn ibnu Ishaq yang direpisi oleh tsabit ibn qurroh (w. 901). Pada awal abad ke9 sebuah observasi (rasyid) rutin pertama dengan menggunakan peralatan yang cukup akurat dilakukan di jundaysabur (persia sebelah barat daya). Berdekatan dengan bayt al-hikmah di pintu masuk syammasiyah, bagdad, al-makmun membangun sebuah observatorium dengan supervisor seorang yahudi yang baru masuk islam, sind ibn ‘ali dan yahya ibn abi mansur (w. 830 atau 831)

Sarjana hindu itu yang memperkenalkan buku astronomi, sindhind, keistana al-mansur diklaim juga telah memperkenalkan ilmu aritmatika hindu dengan sistem angka (disebut dalam bahasa arab dengan istilah hindi) dan nol. Oleh karna itu, buku-buku hindu yang diterjemahkan oleh al-fazari turut memberi jalan bagi masuknya sistem angka ke dalam islam. Tabel-tabel al-khawarizmi dan habasy al-hasib (meninggal antara 867 dan 874) mungkin telah berjasa memasyarakatkan penggunaannya di seluruh dunia arab. Namun,ahli matematika dan astronomi arab agak lambat mengadopsi penemuan orisinal orang hindu ini. Pada akhir abad ke 11, kita menemukan bahwa abu bakr muhammad al-karaji (secara keliru disebut karhkhi, meninggal antara 1019 dan 1029) masih menulis semua bilangan menggunakan huruf dalam bukunya, al-kafi fi al-hisab (tuntutan aritmatika).

Setelah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, orang arab memberikan kontribusi ilmiah terbesar dalam bidang kimia. Dalam ilmu kimia, dan ilmu pengetahuan fisika lainnya, orang arab telah memperkenalkan tradisi objektif, sebuah perbaikan penting terhadap tradisi pemikiran spekulatif orang yunani. Meskipun terkenal akurat dalam mengamati berbagai fenomena alam, dan giat menghimpun berbagai fakta, orang arab tetap saja sulit memberikan hipotesis yang memadai. Menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar ilmiah, dalam menjelaskan sistem yang sudah baku merupakan titik kelemahan tradisis intlektual mereka.

Bapak kimia bangsa arab adalah Jabir ibn Hayyan (Geber), hidup dikuffah sekitar 776. Setelah al-razi (w.925), ia merupakan tokoh terbesar dalam bidang ilmu kimia pada abad pertengahan. Sebuah legenda menyebutkan bahwa putra mahkota dinasti umayyah, khalid ibn yazid ibn muawwiyah (w.704), dan imam syi’ah 4 Ja’far al-sodiq dari madinah (w.765), pernah menjadi gurunya. Seperti orang mesir dan yunani, Jabir percaya pada pendapat bahwa logam biasa seperti seng, besi, dan tembaga dapat di ubah menjadi emas, atau perak dengan formula misterius, yang untuk mengetahuinya ia telah menghabiskan banyak tenaga dan waktu. Ia telah mengakui dan menyatakan pentingnya eksperimen secara lebih seksama dari pada ahli kimia sebelumnya, dan telah melangkah lebih maju baik dalam perumusan teori maupun dalam praktek kimia. Beberapa abad setelah kematiannya, dalam pembangunan sebuah jalan besar di kufah, laboratoriumnya ditemukan kembali, dan di dalamnya ditemukan sebuah mangkok dan sebongkal emas.

  1. E.  Masa Kekuasaan Keluarga Barmakiyah

 

Pendiri kelurga Barmakiyah adalah Khalid Ibn Barmak yang selama masa pemerintahan As-Saffah dan Al-Manshur telah membuktikan keberhasilan dalam membela kepentingan dinasti Abbasiyah. Atas dasar mandat yang diberikan kepadanya, Yahya Ibn Khalid al-Barmak berhasil membuktikan kemampuan dan kecakapannya dan tidak ada bandingannya untuk menunaikan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Atas dasar inilah kelurga Barmakiyah menjadi sangat besar pengaruhnya untuk dinasti Abbasiyah.

Runtuhnya Keluarga Barmakiyah

Jatuhnya keluarga Barmakiyah secepat kemunculan mereka. Menurut Ibn Khaldun, faktor penyebab utama hancurnya kelurga Barmakiyah harus di lacak daari segi sejauh manakah otoritas mereka dan bagaimana mereka menjalankan otoritas tersebut, khususnya dalam hal pengaturan negara. Bahwa sesungguhnya pengaruh mereka tidak terbatas dan kemasyhuran mereka telah menyebar ke segala penjuru imperium.

Keluarga Barmakiyah adalah orang-orang persia. Kelompok Arab dari kalangan penguasa tidak dapat menerima supremasi mereka yang dianggap sebagai orang asing. Lebih-lebih sikap mereka ada kecendrungan ke pihak Syi’ah. Menurut Jurji Zaidan, keluarga Barmakiyah adalah orang-orang Syi’ah, dan Khalid Ibn Barmak telah menunjukan kecondongannya terhadap Bani Ali. Sementara itu mayoritas bangsa Arab adlah pengikut sunni, maka mereka tidak dapat menerima dominasi kelurga Barmakiyah-Syi’ah di istana Abbasiyah-Sunni. Salah seorang pembesar Arab yang bernama Fazl Ibn Rabi’ telah lama berusaha memata-matrai mereka. Ia adalah salah seorang pegawai kerajaan harun. Dia menghasut sang Khalifah dengan laporan palsu bahwa keluarga Barmakiyah sedang menyusun rencana rahasia untuk menggulingkan kekuasaan Bani Abbasiyah.

Atas hasutan ini, tanpa berpikir panjang Khalifah Harun Ar-Rasyid mengambil tindakan kejam terhadap keluarga Barmakiyah dengan tanpa mempertimbangkan jasa dan pengabdian mereka selama ini. Ja’far adlah orang Barmakiyah yang pertama kali dihukum mati. Setelah itu ayahnya yang bernama Yahya dan saudaranya yang bernama Fadl serta seluruh pejabat Barmakiyah lainnya dipecat dari jabatannya dan dihukum penjara, harta kekayaan mereka disita oleh nagara. Satu-satunya keluarga Barmakiyah yang tidak dipecat adalah Muhammad, yakni saudara laki-laki yahya namun dia hanya seorang penjaga istana yang tepat dipertahankan posisinya oleh sang Khalifah. Dengan demikian berakhirlah peran dan posisi keluarga Barmakiyah di tengah-tengah dinasti Abbasiyah.

 

 

  1. F.  Kekuasaan Buwaihiyah (932-1055 M)

Semenjak Mutawakkil khalifah ibarat sebuat boneka yang tidak memiliki kekuasaan, sedang yang berkuasa adalah pemimpin-pemimpin Turki. Untuk menghindari kelompok Turki ini, al-Mustakfi meminya bantuan kepada kesultanan Buwaihiyah.

Sejarah Bani Buwaihiyyah bermula dari tiga putera Suza’ yakni Ali, Hasan, dan Ahmad. Ketiganya adalah putera keluarga miskin dari Dailam. Kemudian mereka memasuki dinas kemiliteran untuk mengatasi problem kemiskinannya. Semula mereka bergabung dengan kekuatan Makan Ibn Khali, seorang panglima perang dari daerah Dailam. Dan selanjutnya bergabung dengan kekuatan Mardawij Ibn Zayyar al-Dailamy. Prestasi mereka sangat menonjol, sehingga Mardawij mengangkat Ali menjadi gubernur al-Kharaj dan memberi kedudukan tinggi kepada kedua saudaranya. Semenjak inilah kekuatan Buwaihiyah muncul. Dan setelah Mardawij meninggal anak keturunan Buwaih ini menduduki jabatan penting, Ali memohon pengesahan kekuasaannya dari pemerintahan Abbasiyah di pusat. Selanjutnya dia melanjutkan ekspansi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari sinilah pasukan Buwaihiyah dengan mudah memasuki baghdad untuk menguasai pusat pemerintahan Abbasiyah.

 

Runtuhnya kekuasaan Buwaihiyah

 

            Kekuasaan bani Buwaihiyah mengalami kehancuran setelah mendominasi Khalifah Abbasiyah selama lebih kurang satu abad. Setelah pemerintahan Azad Daulat, permusuhan dan perebutan kekuasaan melanda keturunan Buwaihiyah. Perebutan kekuasaan antara keturunan Buwaihiyah ini merupakan faktor internal kelemahan Buwaihiyah. Kelemahan internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer. Adapun faktor yang berasal dari eksternal yang mendukung kehancuran kekuasaan Buwaihiyah antara lain: serangan-serangan Bizantium, dan semakin banyaknya dinasti-dinasti kecil yang melepaskan dari ikatan pemerintahan pusat di Baghdad. Dinasti ini antara lain: dinasti Fatimiyah di Mesir, Ikhtisadiyah di Mesir dan Syria, Hamdaniyah di Aleppo dan lembah Furat. Gaznawiyah di Gazna, dan dinasti Saljuk yang berhasil merebut kekuasaan pusat di Baghdad dari tangan keturunan buwaihiyah.

 

G.Masa Kekuasaan Bani Saljuk

 

            Saljuk berasal dari kabilah kecil keturunan Turki, yakni kabilah Qunuq. Kabilah ini bersama dua puluh kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Ghuz. Semula gabungan kabilah ini tidak memiliki nama, hingga muncullah tokoh Saljuk Ibn Tuqaq yang mempersatukan mereka dengan nama suku Saljuk. Suku ini bermukim di Turkistan dibawah pemerintahan raja Bighu yang mengangkat Saljuk Ibn Tuqaq sebagai pimpinan militer suku Saljuk. Dari masa kepemimpinan Saljuk Ibn Tuqaq sampai Alp Arselan dinasti bani Saljuk sukses dalam setiap ekspansi. Alp Arselan digantikan oleh putranya yaitu Malik Syah. Akan tetapi karena pada saat itu Malik Syah masih berumur 18 tahun, sehingga roda kepememerintahan dipercayakan kepada wazir yang bernama Nizam al-Muluk. Saljuk memasuki masa kejayaan sebab pengabdian sang Wazir yaitu Nizam al-Muluk, dia seorang yang kuat dan cakap. Pada masa pemerintahannya, seluruh wilayah kesultanan Saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup. Demi kenyamanan para pelancong sang Wazir membangun tempat peristirahatan, membangun jalan,masjid dan rumah sakit untuk melengkapi kesejahteraan rakyatnya. Perdagangan industri berkembang dengan cepat, demikian juga dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan. Nizam al-Muluk sendiri adalah pecinta ilmu pengetahuan. Dia menulis dasar-dasar teknik kepemerintahan dalam karyanya yang berjudul Siyasah Namah. Dia juga melancarkan program pendirian sejumlah lembaga pendidikan yang terkenal dalam sejarah sebagai madrasah Nizamiyah antara tahun 1065-1067 M. Tokoh filsafat terkemuka, Imam Ghazali merupakan salah seorang pengajar dalam madrasah ini. 

 

Runtuhnya Kekuasaan Bani Saljuk

 

Pada masa pemerintahan Sultah Malik Syah, khalifah AL-Qa’im meninggal dan jabatan khalifah Abbasiyah oleh cucunya yang bernama Al-Muqtadi. Sultan-sultan pengganti Malik Syah tidak memiliki kecakapan sehingga kesultanan Saljuk mangalami masa-masa kemunduran. Kemunduran ini terdukung dengan adanya konflik-konflik dan perebutan dan perebutan kekuasaan di antara beberapa anngota kelurga. Sementara itu beberapa dinasti kecil berhasil melepaskan diri. Kesultanan Saljuk semakin melemah hancur ditangan Khawarizm syah pada tahun 509 H/1199 M.

 

 

  1. H.  Hancurnya Dinasti Abbasiyah

 

            Ada dua faktor yang telah membuat dinasti abbasiyah hancur, yaitu : faktor internal dan faktor eksternal.

Di antara faktor-faktor eksternal, serbuan kaum barbar (dalam kasus ini, mongol atau tartar) –kendati begitu dahsyat –nyatanya Cuma berperan sebagai senjata pamungkas yang meruntuhkan ke khalifahan. Bahkan munculnya banyak dinasti-seperti cendawan di musim hujan- dan semi- dinasti di jantung kekhalifahan dan sekelilingnya sebenarnya lebih tampak sebagai gejala penyakit ketimbang sebagai penyebab keruntuhan. Sebagaimana kasus serupa dalam imperium romawi di barat, si sakit sudah berada di ranjang kematiannya ketika perampok   mendobrak pintu dan segera mengambil bagian dari warisan imperium.

            Faktor internal lebih banyak berperan sebagai sebab kehancuran kehalifahan ketimbang faktor eksternal. Banyak peristiwa penaklukan terdahulu hanya tinggal nama. Kemungkinan terjadinya desentralisasi dan pembagian kekeuasaan di daerah-daerah selalu mengiringi setiap penaklukan yang dilakukan tergesa-gesa dan tidak usai. Metode administrasinya yang diterapkannya pun tidak kondusif bagi penciptaan stabilitas negara. Eksploitasi dan pajak berlebihan menjadi kebijakan favorit yang dibebankan kepada semua rakyat, tak terkecuali. Perpecahan antara suku asli arab dan non arab, tak ada satu jenis kesadaran yang bisa menyatukan keragaman yang terjadi.

Akibatnya, muncul disintegrasi antara kekuatan-kekuatan sosial dan kelompok-kelompok moral. Seiring lintasan zaman, darah penakluk telah bercampur dengan darah taklukan, disertai hilangnya kualitas dan posisi dominan yang mereka miliki. Menggiring hancurnya kehidupan bangsa arab, hancur pula stamina dan semangat juang mereka.

 

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Beberapa faktor dinasti abbasiyah bisa berdiri:

  • Meningkatnya kekecewaan kelompok Mawalli terhadap dinasti Baani Umayyah
  • Pecahnya persatuan antar suku-suku bangsa Arab
  • Timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginan mereka meiliki pemimpin kharismatik
  • Perlawanan dari kelompok syi’ah

sekitar pertengahan abad ketujuh, terjadi sejumlah pemberontakan di seluruh negeri. Puncak dari seluruh pemberontakan ini adalah peperangan antara kekuatan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan II. peprangan ini dimenangkan oleh kekuatan yang dipimpin Abbul Abbas. Sekalipun Marwan berhasil melarikan diri, namun pada akhirnya marwan berhasil ditangkap di Mesir dan di hukum mati. Dengan terbunuhnya Marwan dan jatuhnya negeri syiria, khususnya kota Damaskus, maka berakhirlah riwayat dinasti Umayyah dan bersaan dengan itu bangkitlah kekuasaan Bani Abbasyiah yang berusaha membuka lembaran baru sejarah Islam.

Cirikhas bani abbasiyah adalah mulainya berkembang sain, filsafat, sastra, teknologi, astronomi dan keilmuan yang lain-lainnya. Transmisi pun tidak bisa di elakkan, melalui suriah, spanyol, dan sisilia, kemudian membangun dasar-dasar ilmu yang mendominasi pemikiran eropa abad pertengahan.

Sebab-sebab runtuhnya dinasti Abbasiyah diantaranya:

  • Sikap khalifah yang acuh tak acuh terhadap ancaman-ancaman yang dapat membahayakan dinasti Abbasiyah
  • pemberontakan tentara mongolia yang di pelopori oleh Hulagu Khan.
  • Mayoritas Khalifah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara. mereka hanya bermegah-megahan dan bermewah-mewahan.
  • Supermasi bangsa Turki pada periode akhir Abbasiyah
  • Pengelepasan diri sejumlah dinasti
  • Terabaikannya urusan kemiliteran
  • Merenggangnya hubungan antara wilayah-wilayah propinsi dengan pemerintahan pusat di baghdad.
  • permusuhan antar suku
  • Faktor ekonomi 

 

 

Daftar Pustaka

Philip K. Hitti, History Of  The Arab,cet ke.1,2005

Sejarah Peradaban Islam (Buku Perpus)


[1] p.k Hitti, Hisory of The Arabs.