IRFAN

“Pengertian Dan Pembagiannya”

 Kata irfan berasal dari kata bahasa Arab yang dalam bentuk masdarnya arafa yang berarti ma’rifat (pengetahuan), yang kemudian irfan lebih dikenal sebagai terminologi tasawuf yang berkaitan dengan pengetahuan esoteris, atau yang terkenal dengan istilah gnostik. Dan terminologi irfan ini banyak digunakan dikalangan para pengikut madzhab Ahlul Bayt atau Syi’ah. Antara irfa dan tasawuf ada sedikit perbedaan. Irfan lebih menitik beratkan pada konsep pengetahuan (ma’rifat) dan hal ini menyatu dengan ajaran-ajaran islam yang lain baik dari unsur Ushuluddin dan Furu’uddin. Sedangkan konsep tasawuf berkembang dalam tradisi madzhab Sunni yang cenderung berdiri sendiri dan membentuk semacam madzhab tersendiri yaitu tasawuf. Dalam tradisi Syi’ah mereka yang mendalami bidang irfan disebut arif, sementara dalam tradisi Sunni mereka yang mendalami atau menjalani ajaran-ajaran tasawuf disebut Sufi.

 

Irfan Amali dan Irfan Nadhari

Sebagaimana tasawuf, Irfan meliputi 2 aspek, yaitu aspek teori dan aspek praktik atau amali.

Irfan Amali

 Menurut Muthahhari aspek praktik dari Irfan menjelaskan dan menguraikan hubungan dan tanggung jawab yang diemban manusia kepada dirinya sendiri, kepada alam semesta, dan kepada Allah. Ajaran praktik dari irfan ini disebut juga perjalanan rohani (sayr wa suluk = perjalanan dan bepergian) Perjalanan disini adalah perjalanan menuju puncak keagungan dan kemuliaan manusia yaitu tauhid.Menurut ahli irfan (urafa) dalam perjalanan spiritual ini sang musafir(salik) harus mendapat bimbingan dari seorang  manusia sempurna tentang tahap-tahap yang harus dilewati dan stasiun-stasiun mana yang akan disinggahi, serta peristiwa pristiwa apa nanti yang akan terjadi. Didalam al-Quran dikisahkan perjalanan ruhani Nabi Musa a.s dalam bimbingan Nabi Khidir.

 

Puncak tujuan dari perjalanan ruhani agar mencapai pada tingkat tauhid ini tentu berbeda dengan tauhid dalam pandangan umum. Tauhid bagi seorang arif (orang yang mendalami irfan) berarti realitas utama hanyalah Alla, dan segala sesuatu selain Allah hanyalah penampilan luar, bukan realitas, atau biasa disebut manifestasi. Bagi seorang arif selain Allah tidak ada, maksudnya pada tahap tertentu seorang arif itu tidak melihat sesuatu selain di melihat Allah. Tentu yang dimaksud melihat disini tidak semata-mata dengan indra mata,akal atau renungan  tapi lebih dengan mata hati. Dan tingkatan ini adalah buah dari usaha keras, melalui pembersihan diri.

 

Perbedaan Irfan Amali dengan Akhlak

Sekilas aspek amali dari irfan tampak seperti akhlak, karena keduanya membahas serangkaian hal yang harus dilakukan. Tetapi sebenarnya ada beberapa perbedaan.

  1. Akhlak lebih menekankan pada hubungan manusia dengan manusia, kalau irfan lebih menekankan pada hubungan manusia dengan Allah, maksudnya hubungan manusia dengan Allahlah yang mendasari baik hubungan manusia dengan manusia maupun hubungan manusia dengan alam.
  2. Dalam irfan amali ada metodologi gerak maju rohani yang  dinamis, karena dalam sayr wa suluk ada tujuan puncak yang ingin diraih, dan ada tahap-tahap (hal) yang harus dilalui, dan ada stasiun-stasiun (maqamat) yang akan disinggahi. Dan urutan-urutanya sudah teratur. Jadi Arif memandang ruh atau jiwa manusia sebagai organisme yang hidup, yang pertumbuhan dan kematangannya sesuai dengan sistem tertentu. Sementara dalam akhlak metodologinya bersifat statis. Dalam hal ini tidak ada aturan-aturan yang mengharuskan seseorang memulai dari mana dan mengakhirinya sampai mana. Sebagaimana kita ketahui bahwa subyek pembahasan akhlak meliputi serangkaian kebijakan yang harus dilakukan seperti keikhlasan, kejujuran, kewajaran, kemurahan hati, keadilan, ithar (lebih mementingkan kepentingan orang lain ketimbang diri sediri) dsb.

Irfan Nadhari (Teori)

Irfan Teori (nadhari) berkaitan dengan ontologi (ilmu pengetahuan ttg realitas wujud), yang membahas tentang wujud Allah, manusia dan juga alam semesta.  Dalam hal ini irfan nadhari mirip dengan filsafat teologi yang sama-sama menjelaskan tentang wujud. Perbedaannya, kalau filsafat mengandalkan prinsip-prinsip rasional agi argumentasinya, sementara irfan mendasarkan deduksinya pada prinsip-prinsip yang ditemukan melalui pengalaman mistis (kashf) kemudian diubah menjadi bahasa akal untuk menjelaskan. Dalam pandangan filosof, Allah dan selain Allah sama-sama mempunyai realitas, dengan perbedaan bahwa Allah merupakan wajib al-Wujud dan ada dengan sendirinya, sementara selain Allah merupakan mungkin al-Wujud sebagai akibat dari wajib al-Wujud. Ontologi irfan berpendapat bahwa tidak ada tempat bagi selain Allah, sekalipun mereka  merupakan akibat dari Dia sebagai sebabnya. Selain Allah hanyalah nama yang merupakan manifestasiNya, bukan berada disampingnya.

Dalam memandang alam semesta, seorang filosof ingin membentuk di dalam pikiranya sebuah gambar yang relatif lengkap dan benardari eksistensinya; sehingga makrokosmos mendapatkan refleksi didalam pikiranya yang pada gilirannya seorang filosof akan menjadi mikrokosmos yang rasional yang sama dengan makrokosmos. Sementara seorang arif dia hanya menginginkan untuk mencapai inti dan realitas eksistensi yaitu Allah, menjadi terhubung denganNya dan menyaksikanNya dengan perjalanan ruhani, mengatasi keterpisahan dirinya dengan Sumbernya, dengan jalan melenyapkan keterbatasan dirinya dan kemudian tinggal dalam kemutlakan Illahi.

 Oleh : Endang Sri Rahayu, telah didiskusikan bersama Mahasiswa STFI Sadra Jakarta.

About these ads