Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Oleh: Harkaman

 

Perbincangan yang cukup populer saat ini mengenai Hak Asasi Manusia (HAM), sebuah gerakan yang mengangkat dan melindungi derajat (kedudukan) manusia, hingga akirnya menjadi senjata bagi setiap orang dan begitu mudahnya mengajukan tuntutan atas dasar pelanggaran HAM yang dilakukan seseorang terhadap dirinya.

Bagaimana pandangan Islam tentang HAM? Ini yang menjadi sebuah topik yang cukup hangat. Misalnya seorang guru yang memukul siswanya yang malas, seorang uztad memukul santrinya karena suka berbohong. Apakah mereka itu melakukan pelanggran atau sebaliknya tidak melakukan peanggara HAM. Inilah yang akan kita bicarakan.

Islam adalah agama yang sangat mengharagai dan memuliakan manusia. Hak-hak kemanusian sangat dijaga dan dilindungi. Bukan hanya antar pemeluk Islam saja, akan tetapi non-muslim pun menjadi sebuah perhatian penting. Di mana harus menjaga hukum dan harus bersikap toleran terhadap orang yang berlainan keyakinan.

Kita kembali pada pesoalan tersebut di atas. Dalam pandangan Islam perbuatan seorang guru atau pun uztad tersebut di atas tidak dinilai sebagai pelanggaran HAM. Selama mengikuti presedur dan tidak memukul karena sebuah kekerasan atau karena nafsu. Tapi memukul benar-benar karena mengingkan seorang anak berubah dan mejadi lebih baik. Sebelum itu ada ketentuan yang harus dipenuhi seperti memberi peringatan terlebih dahulu sebelum berujung pada tangan, apabilah tidak diindahkan maka memukul dengan sewajarnya tidak ada persoalan. Nabi juga membeikan contoh seperti demikian.

Hadits Abudaud 417:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى يَعْنِي ابْنَ الطَّبَّاعِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, & apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tak melaksanakannya.”

Hadits Abudaud 418:

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ سَوَّارٍ الْمُزَنِيُّ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ وَزَادَ وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ عَبْدَهُ أَوْ أَجِيرَهُ فَلَا يَنْظُرْ إِلَى مَا دُونَ السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَةِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهِمَ وَكِيعٌ فِي اسْمِهِ وَرَوَى عَنْهُ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ حَدَّثَنَا أَبُو حَمْزَةَ سَوَّارٌ الصَّيْرَفِيُّ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, & apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tak melaksanakannya, & pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya. Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Dawud bin Sawwar Al-Muzani dgn isnadnya & maknanya & dia menambahkan; (sabda beliau): Dan apabila salah seorang di antara kalian menikahkan sahaya perempuannya dgn sahaya laki-lakinya atau pembantunya, maka janganlah dia melihat apa yg berada di bawah pusar & di atas paha. Abu Dawud berkata; Waki’ wahm dalam hal nama Sawwar bin Dawud. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah Sawwar Ash-Shairafi.”

 

Jadi, ada prosedur yang harus dipenuhi tidak seenaknya saja melakukan dan menjatuhkan hukuman sesuka hati. Hanya karena dibuat kesal atau jengkel oleh seorang anak. Bahan dalam riwayat dikatakan juga bahwa “Janganlah kalian memukul ketika masih dalam keadaan marah”. Dimaksudkan agar hukuman tersebut dijatuhkan tidak bercampur dengan unsur-unsur yang lain yang bisa  melenserkan niat kita. Karena ketika marah lantas menjatuhkan sebuah hukuman, maka akan ada campur tangan syaithan di sana. Akibatya hanya mudharat saja yang dihasilan bukan hikmah.

Apa yang saya utarakan sebelumnya, hanyalah sebuh contoh kasus, yang mungkin bisa menimbulkan argumentasi bahwa di dalam Islam hak-hak kemanusian tidak dijaga. Setelah penjelasan singkat tersebut, mungkin sudah merbah paradigama yang keliru. Dan untuk lebih jelas lagi, Imam al-Gazali mengatakan dalam kitabnya al-Musthofa al-‘Ilm al-ushul ada lima perinsip umum tentang kemanusian dalam Islam, yaitu hifzh ad-diin, hifzh an-nafs, hifzh al-aql, hifzh an-nasl, dan hifzh al-maal. Dengan lima konsep yang diperkenalkan oleh ulama Islam, hak-hak asasi tentang kemanusian sudah ada sebelum adanya HAM. Istilah HAM adalah istilah yang dating jauh sebelum apa yang ditetapkan oleh Islam.

Hifzh ad-diin, artinya kebebasan bagi kaum muslimin untuk menjaga dan memelihara hak-hak mereka dalam beragama. Tidak hanya itu yang dimasudkan akan tetapi hubungan terhadap agama lain harus juga dijaga, bagaimana sikap saling menghargai dan solidaritas yang tinggi harus dimiliki oleh setip orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim.

لاَإِكْرَاهَفِيالدِّينِقَدتَّبَيَّنَالرُّشْدُمِنَالْغَيِّفَمَنْيَكْفُرْبِالطَّاغُوتِوَيُؤْمِنبِاللّهِفَقَدِاسْتَمْسَكَبِالْعُرْوَةِالْوُثْقَىَلاَانفِصَامَلَهَاوَاللّهُسَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah :256)

Hifzh an-nafs ,artinya memberikan jaminan pada setiap jiwa manusia. Bahwa setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang adil, kemerdekaan dan bebas dari penganiayaan. Islam sangat melarang keras untuk mengintimidasi atau mendzolimi orang lain, apalagi sampai membunuh. Sama halnya jika membunuh seluruh manusia dan dapat diapahami menyelamatan seorang nyamwa berarti menyelamatkan seluruh manusia.

Hifzh al-aql,artinya memelihara akal.Yang dimaksudan di sini memelihara akal berarti setiap orang memiliki kebebasan untuk berpendapat, berekspresi, mengembangkan ilmu pengetahuan, melakukan penelitian dan berbagai macam aktivitas ilmiah lainnya. Namun akal tersebut harus dijaga dari bahaya-bahaya yang dapat merusak funsinya seperti meminum khamar. Perbuatan ini akan mengganggu hingga merusak kerja akal manusia Barang siapa yang tidak mengindahkan berarti telah melanggar ketentuan ajaran Islam.

Hifzh an-nasl,artinya menjaga keturunan. Maka dari itu untuk mnghindari anak-anak yang lahir tanpa ada kejelasan siapa yang menjadi orang tuanya, Islam sudah melarang free sex (Zina). Namun yang kia saksikan tidak sedkit umat Islam melanggar atuaran ini. Barapa banyak anak-anak yang harus menderita akibat perbuatan orangtua mereka yang tidak bertanggungjawab atas perbuatan mereka. Atau dalam pepata dikatakan “habis manis sepah dibuang”. Oleh karena itu, jauh-jauh sebelum itu sudah ada peringatan untuk tidak mendekati zina.

Hifzh al-maal,artinya menjaga harta. Islam memberikan jaminan terhadap setiap orang atas kepemilikan barang mereka masing-amasing. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil ataupun merampas harta yang bukan menjadi haknya. Hal ini relevan dengan larangan untuk mencuri yang mebuktikan pencegahan akan terjadi pengambil hak orang lain. Dapat juga kita lihat hukuman orang yang mencuri sangat berat yaitu potong tangan.

Ada satu hal lgi yang harus diperhatikan dalam penjagaan yaitu hifzh al-bi’ahhal ini ditambahkan oleh Prof. Dr. Yusuf Qardawi. Yag dimaksudkan adalah lingkungan harus juga diajaga, bagaimana menjaga kelestarian alam, tidak menimbulkan kerusakan. Nantinya akan merugikan manusia. Mislanya saja pencemaran lingkungan, membuang sampah sembarangan, hasilnya mendatangkan banjir.

Dari enam peinsip tersebut, cukup jelas bahwa dalm Islam hak-hak asasi manusia sangat dipelihara. Di sini tidak hanya berbicara dan ditujukan kepada umat Islam saja, akan tetapi sifatnya umum. Karena ditujukan kepada seluruh manusia.