Keniscayaan Perbedaan Dan Persatuan

Oleh:Harkaman

            Sebelum saya mengutarakan argument pada tulisan ini, sekadar informasi judul ini diadopsi dari buku M.Quraish Shihab “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan”.

            Perbedaan sudah lahir sejak dahulu dan ini bukan lagi persoalan baru untuk diperbincankan. Mungkin kita berfikir kenapa mesti ada perbedaan di antara manusia? Satu hal yang harus dipahami perbedaan bukanlah sebuah masalah yang mutlak mendatangkan mudharat, walau harus diklasifikasi lagi perbedaan itu apa dulu, perbedaan itu dalam bidang apa dan yang membuat berbeda karena apa. Meman terkadang perbedaan itu justru tidak baik, akan tetapi di sisi lain justru perbedaan itu mendatangkan sebuah anugerah (manfaat) bagi kita semua. Dan ketahuilah perbedaan itu adalah kehendak Tuhan.

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maaidah: 48)

Coba anda bayangkan jikalau bunga yang ada di tamana-taman hanyalah satu warnah, maka tidak akan menarik untuk dipandang dibandingkan dengan bunga yang beraneka warnah. Bagaimana dunia ini jikalau dihuni oleh manusia yang memiliki keinginan yang sama, apakah dunia masih bisa berputar, sebagaimana yang kita rasakan saat ini? Bisakah anda memenuhi kebutuhan sehari-hari anda, jika semua orang mempunyai pekerjaan yang sama? Misalnya semua orang bekerja sebagai petani tidak ada nelayan, lantas siapa yang akan menghasilkan ikan. Sungguh besar anugerah Tuhan kepada manusia walau seringkali mereka tidak menyadari hal itu. Karena mereka hanya melihat satu sisi saja sedangkan sisi-sisi yang lain lebih banyak menyimpan makna dan lebih banyak pelajaran yang dapat diambil darinya, namun mereka tidak melihat hal itu.

Kenapa seringkali manusia tidak melihat hal itu? kerena tidak mau membuka diri untuk menerima kenyataan yang sebenarnya, ini disebabkan oleh tingkat keegoisan dan kefanatikan mereka sudah sangat tinggi.  Tidak bisa lagi mendengar kebaikan dan tidak bisa lagi menyaksikan realitas  yang sebenarnya. Mereka lupa berbeda bukan berarti kita ini berbeda secara mutlak, boleh saja berbeda akan tetapi jangan pernah lupa bahwa kita ini satu.

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Sangat menarik firman Allah di ata, menurut saya ada dua hal yang sangat penting. Jika dikatakan bahwa kita ini satu dan di sisi lain harus membangung kerjasama, ini membuktikan bahwasanya manusia adalah makhluk sosial (saling membutuhkan antar yang satu dengan yang lainnya). Maka dari itu kita tidak akan pernah lepas dengan sebuah keterkaitan dan ketergantungan terhadap orang lain. Harus selalu diingat hal tersebut, agar kita tidak sombong merasa segalanya sudah dimiliki. Semua itu juga tidak ada artinya, jika tidak diberi arti oleh orang lain.

 Mengingat hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan adalah keniscayaan dan persatuan adalah sebuah keharusan. Agar roda kehidupan tetap bisa berjalan sempurna. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya harus menjalin hubungan kerjasama dan kerjasama ini sendiri tercapai dengan adanya persatuan di antara manusia. Benar adanya bahwa perbedaan tidak terhindarkan oleh kehidupan manusia bukan berarti persatuan itu mustahil dan harus ditinggalakn, akan tetapi harus diwujudkan.

Perbedaan akan menjadi rahmat selama berada pada jalur yang tepat dan memenuhi syarat. Akan menjadi sebuah bencana apabilah diperselisihkan. Karena yang terpenting adalah membuang sifat keegoisan, tidak mengaku kelompoknyalah yang paling benar sehingga kelompok yang lain harus disalahkan.

Sebelumnya saya sebutkan bahwa ada wilayah yang tidak boleh ada perbedaan. Wilayah itu adalah ushul ad-Din (Perinsip-perinsip pokok ajaran agama), misalnya menganggap ada Tuhan selain Allah ( wilayah tauhid), ini tidak boleh berbeda semua orang harus mengakui hal tersebut. Sedang pada persoalan furu’ ad-Din (Rincian ajaran agama), misalnya pada persoalan fiqih. Tidak ada persoalan jika memiliki perbedaan, lebih spesifik lagi saya akan memberi contoh pada persoalan sholat, anda ingin sedekap dan tidak sedekap (lurus atau gaya yang lain) bukanlah suatu hal yang harus diperselisihkan, para mujtahid (imam mazhab) masing-masing mempunyai dasar dan argumentasi yang kuat untuk mendukung pendapatnya, dan sekali lagi harus ditekankan di sini bahwa fiqih adalah wilayah ijetihadi. Selain itu, ada beberapa hal yang juga harus dibedakan yaitu persoalan yang mana sajakah ajaran agama yang sifatnya pasti (qath’i) dan penafsiaran yang masih memiliki kemungkinan-kemungkinan (zhanny), pada persoalan ini bisa saja keduanya benar atau sebagian benar dan sebagiannya lagi salah.

Sedikit melihat kebelakang terhadap sejarah Nabi Muhammad, kita akan menemui Beliau pernah mengajak para Ahlu al-Kitab untuk menemukan sebuah kesepakatan, agar bisa bekerjasama dalam kebajikan. Al-Qur’an sendiri mengakui mereka secara de facto. Oleh karena itu, umat Islam dilarang untuk mengganggu mereka untuk menjalankan syariat dan akidah mereka. Jika seperti itu, berbeda akidah saja dapat ditemukan kesepakatan, dengan demikian maka sangatlah mungkin ditemukan di dalam Islam, karena akiadah kita sama. Beda persoalan pada penumpang gelap yang hanya mengaku berakidah Islam, namun hati mereka sangatlah busuk, namun tidak nampak yang sebenarnya. Intinya perbedaan tak terhindarkan namun persatuan harus diwujudkan.