Kembali Kepada al-Qur’an

Oleh: Harkaman

            “Telah aku tinggalkan dua perkara dan bila kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits”. (HR. Muslim)

            Sudah lama al-Qur’an tidak diletakkan pada posisi yag sebenarnya, umat Islam melupakan petunjuk sekaligus mukjizat yang tidak terikat dengan waktu. Berbagai macam urusan penting tidak lagi berasaskan dilakukan al-Qur’an, Seperti urusan kenegaraan, politik, ekonomi dan berbagai macam urusan besar lainnya. Pengimanan terhadap kitab suci ini hanyalah sebua formalitas yang harus dipenuhi oleh seorang umat yang beragama Islam.

            Terlihat cela di tengah-tengah umat, pedoman sendiri diabaikan. Akibatnya umat begitu mudahnya diadu domba di antara mereka sendiri. Mereka tidak sadar ada suatu hal yang terlupakan. Ketika ada sebuah keganjalan yang muncul, maka masalah itu seharusnya dikembalikan kepada al-Qur’an. Tidak memperlihatkan keegoisan masing-masing dan menunjukkan subjektivitas atas kebenaran al-Qur’an. Al-Qur’an bukanlah milik satu aliran, akan tetapi milik semua manusia, karena sebagai petunjuk kepada jalan yang lurus.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. AL-Baqarah: 185)

            Dalam dunia Islam saat ini ada dua kelompok Islam yang muncul dan masing memperkenalkan ideologi dan pemahaman mereka, yaitu kelompok Islam Puritan dan Moderat. Gologan puritan yang begitu keras dan mereka menganggap semuanya harus islami. Golongan yang berbeda dengan golongannya dinilai sesat dan harus diperagi. Apakah mereka itu tidak berpedoman kepada al-Qur’an? Mereka tetap berpedoman kepada al-Qur’an, namun yang menjadi pesoalan adalah mereka menafsirkan ayat dengan cara monolitik.

Mereka adalah golongan yang anti-barat, namun menikmati hasil kreasi barat. Menggunakan mobil, hanphone, computer dan berbagai fasilitas modern lainnya. Sebenarnya budaya dan peradaban yang ditawarkannya tidak jelas..Kelompok inilah yang tampak sangat radikal dan fanatik, tidak peduli berapa banyak korban yang berjatuhan, demi membela apa yang diyakini. Kematian bagi dirinya adalah sebuah anugrah menuju kesyahidan dan akan mendapatkan syurga di hari pembalasan. Karena mereka rela mati memperjuangkan agama Allah dan mencari keridhahan-Nya. Kelompok ini juga tidak sepakat dengan sistem pemerintahan saat ini apa lagi membenarkan atas adanya hak asasi manusia.

Adapun kelompok moderat  yang juga mengaku berpegang teguh kepada al-Qur’an. Kelompok ini tentunya sangat betentangan dengan kelompok puritan yang telah saya sebutkan sebelumnya dan mereka cukup kritis dalam menanggapi sebuah permasalahn yang muncul.Jika kelompok puritan tidak membenarkan tentang sistem pemerintahan yang sedang berjalan saat ini, maka kelompok moderat justru mendukung kedua hal itu. Kelompok moderat juga menilai bahwa pemimpin yang memeluk agama non-muslim akan tetapi adil dan jujur, lebih baik daripada pemimpin yang mengaku Islam sedang ia tidak adil dan tidak jujur dalam kepemimpinanya.

            Masalah kita sebagai umat Islam adalah belum menjadikan al-Qur’an sebagai pedoaman yang utama, setiap kali ada permasalahan atau munculnya ikhtilaf (perbedaan) di antara umat Islma, belum sepenuhnya dikembalikan kepada al-Qu’an. Dan inilah yang membuat umat ketertinggalan semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Terutama dalam masalah persatuan.

Sampai kapan harus terus tertinggal dari bangsa-bangsa barat, mereka sudah sangat jauh melangka. Sedang kita sibuk mengurusi persoalan perbedaan, siapa benar dan siapa yang salah? Fiqh kamu salah, kamu ini sesat, kamu ini kafir, seakan-akan menjadi wakil Tuhan, sedang tindakan mereka belum mampu bersikap bijak apalagi menghasilkan ide-ide yang cemerlang. Seperti itukah yang diajaran oleh Islam, apakah Islam hanya mengingkan umatnya bisa sholat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi persoalan keilmuan adalah hal yang sangat penting. Tidak sedikit ibadah yang tertolak karena tidak adanya ilmu dan mungkin ada hal-hal yang kecil tidak dinilai sebagai ibadah akan tetapi memliki nilai yang tinggi. Karena adanya ilmu pengetahuan yang mendukungnya.

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kita pada ketauhidan dan bagaimana menyambah Allah semata, akan tetapi segala aspek ikut menjadi suatu hal yang wajib untuk dipahami. Seperti inilah yang seharusnya dipahami umat Islam. Karena seperti itulah yang ditawarkan oleh al-Qur’an. Jangan kita memaknai al-Qur’an itu mengatur satu aspek saja dan jangan sekali-kali memandang Islam sebagai agama yang memiliki keterbatasan. Umat Islam harus menunjukkan kereatifitas mereka. Karena umat Islam peduli terhadap masa kini dan masa yang kan datang. Oleh karena itu untuk tawaran saya agar umat Islam bisa bangkit dari ketertinggalannya saat ini, maka harus kembali kepada al-Qur’an dan memahami isinya dengan baik.