KAUM SOPHIS & TOKOH-TOKOHNYA

Oleh: Ahmad Muti’ul Alim & Dina Fadilah

1         Kaum Sophis

1.1       Beberapa ciri Sofistik

1.1.1       Nama

Nama “Sofis” (sophistes) tidak dipergunakan sebelum abad ke-5.Arti tertua dari kata “Sofis” adalah “seseorang bijaksana” atau “seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu”. Agak cepat kata ini dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendekiawan”. Herodotos memakai nama sophiestes untuk Phytagoras. Pengarang Yunani yang bernama Androtion (4 SM) menggunakan nama ini untuk menunjukkan “ketujuh orang bijaksana” dari abad 6 dan Sokrates. Lysias, ahli pidato Yunani yang hidup sekitar permulaan abad ke-4 memakai nama ini untuk Plato. Tetapi pada abad ke-4 nama philosophos menjadi nama yang biasanya dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendekiawan”, sedangkan nama sophistes khusus dipakai untuk guru-guru yang berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peranan penting dalam masyarakat Yunani sekitar paruh abad ke-5.

Pada kemudian hari nama “Sofis” menjadi tidak seharum sebelumnya. Dalam bahasa Inggris, kata “sophist” menunjukkan seseorang yang menipu orang lain dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang tidak sah. Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan kritiknya pada kaum Sofis menyebabkan nama “Sofis” makin mencerminkan citra buruk. Salah satu tuduhannya adalah ahwa para Sofis meminta uang untuk pengajaran yang mereka berikan. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para Sofis merupakan “pemilik warung yang menjual barang rohani”. Dan Aristoteles mengarang buku Sophistikoi elenchoi (Cara-cara berargumentasi kaum Sofis); maksudnya cara berargumentasi yang tidak sah. Dari hal-hal tersebutlah sehingga nama kaum Sofis pada saat ini memiliki kesan buruk.

1.1.2       Faktor-faktor munculnya kaum Sofistik

1.1.2.1       Sesudah perang Parsi selesai (449 SM), Athena berkembang pesat dalam bidang politik dan ekonomi. Dibawah pimpinan Perikles, polis inilah yang menjadi pusat seluruh dunia Yunani. Sampai saat itu Athena belum mengambil bagian dari filsafat dan ilmu pengetahuan yangs edang berkembang sejak abad ke-6. Tapi seringkali dapat disaksikan dalam sejarah bahwa negara atau kota yang mengalami zaman keemasan dalam bidang politik dan ekonomi menjadi pusat perhatian pula dalam bidang intelektual dan kultural. Demikian halnya juga dengan kota Athena. Anaxagoras, adalah figur pertama yang memilih Athena sebagai tempat tiinggalnya, sehingga ia mendapatkan gelar fisuf pertama di Yunani serta meletakkan dasar-dasar filsafat Yunani. Para Sofis juga tidak membatasi aktivitas mereka pada polisi Athena saja, mereka adalah guru-guru yang berkeliling dari satu kota ke kota yang lain. Protagoras misalnya, yang dari sudut pandang filsafat boleh dianggap sebagai tokoh utama antara para Sofis, yang seringkali mengunjungi Athena.

1.1.2.2       Kebutuhan akan pendidikan yang dirasakan seluruh Hellas[i] pada waktu itu. Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa bahasa merupakan alat politik terpenting dalam masyarakat Yunani. Sukses tidaknya dalam bidang politik sebagian besar tergantung pada kemahiran berbahasa yang diperlihatkan dalam sidang umum, dewan harian atau sidang pengadilan. Itulah sebabnya tidak mengherankan bahwa orang muda merasakan kebutuhan akan pendidikan serta pembinaan, supaya nantinya mereka dapat memainkan peranannya di bidang politik. Sampai saat itu pendidikan di Athena tidak melebihi pendidikan elementer-elementer saja. Kaum Sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan lebih lanjut. Mereka mengajarkan ilimu-ilmu seperti matematika, astronomi, dan terutama tata bahasa. Mengenai ilmu bahasa mereka boleh dipandang sebagai perintis. Tentu saja, mereka memiliki jasa yang sangat besar dalam pengembangan bidang ilmu retorika dan berpidato. Selain dari pelajaran dan latihan untuk orang muda, mereka juga memberi ceramah-ceramah dengan cara populer untuk kalangan umum yang lebih luas. Kaum Sofis juga tidak bisa berbicara untuk diri mereka sendiri, mereka adalah pengarang yang produktif. Tetapi hanya sedikit dari karya mereka yang bisa bertahan selain dalam bentuk-bentuk yang singkat dan terpecah-pecah. Tidak hanya itu saja, sumber informasi utama kita tentang segala aspek kelompok Sofis, Plato seringkali bermusushan dan sulit memahami penjelasannya tentang kaum Sofis. Plato menggambarkan Sofis sebagai individu-individu yang suka bermusuhan dan suka berpindah tempat, terutama di polis di luar Athena, dimana mereka menghasilkan dampaknya yang paling kuat. Bagi Plato, Sofis lebih dekat dengan sejarah publisitas daripada dengan ide, sebuah penilaian yang diartikulasikan oleh antitesis antara Sokrates dan Sofis yang meliputi tulisan-tulisan Plato[ii]. Akan tetapi, dari penjelasan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa, Kaum Sofislah kelompok yang pertama kali dalam sejarah mempelopori pendidikan untuk orang muda. Oleh karena itu paideia (kata Yunani untuk “pendidikan”) dapat dianggap sebagai penemuan Yunani[iii].

1.1.2.3       Faktor terakhir adalah karena pergaulan dengan banyak negara asing, orang Yunani mulai menyadari bahwa kebudayaan mereka berbeda dari kebudayaan-kebudayaan lain. Kebudayaan Yunani terletak di tengah kebudayaan-kebudayaan yang coraknya sangat berlainan. Bisa jadi bahwa apa yang dengan tegas ditolak dalam kebudayaan yang satu, sangat dihargai dalam kebudayaan lain. Sejarawan Yunani Herodotos yang hidup dalam zaman ini dan banyak berpergian ke negeri-negeri lain, telah menuliskan pengalaman itu dengan cukup jelas, dan ia menyetujui pendirian penyair Pindaros bahwa adat kebiasaan raja segala-galanya. Pengalaman itu menampilkan banyak pertanyaan. Apakah peraturan-peraturan etis, lembaga-lembaga sosial dan tradisi-tradisi religius hanya merupakan satu kebiasaan atau konvensi saja? Apakah semuanya hanya kebetulan tersusun seperti itu? Apakah mungkin suatu susunan yang sama sekali berlainan? Para Sofis akan merumuskan persoalan ini dengan bertanya : apakah peraturan-peraturan etis beralaskan adat kebiasaan (nomos) atau beraaskan kodrat (physis)? Pada umumnya para Sofis akan menjawab bahwa hidup sosial tidak mempunyai dasar kodrati. Sampai-sampai Protagoras tidak ragu-ragu mengatakan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala sesuatu. Dengan demikian kaum Sofis jatuh dalam relativisme di bidang tingkag laku etis dan di bidang pengenalan. Dengan relativisme dimaksudkan bahwa pendirianbaik buruk dan benar salah itu bersifat relatif saja. Atau dengan kata lain, baik buruk dan salah benar tergantung pada manusia bersangkutan. Sokrates dan Plato dengan tajam mengkritik pendirian tersebut, tetapi dapat dibayangkan bahwa kaum Sofis mengalami sukses besar dengan anggapannya yang menentang tradisi-tradisi tua, terutama dalam kalangan kaum muda.

1.1       Tokoh-tokoh Sofis

1.1.1       Protagoras

1.1.1.1       Riwayat Hidup

Protagoras lahir kira-kira pada tahun 485 di kota Abdera di daerah Thrake. Demokritos adalah warga sekotanya yang lebih muda. Seringkali ia datang ke Athena dan ia disana terhitung pada kalangan sekitar Perikles. Atas permintaan Perikles ia mengambil bagian dalam mendirikan kota perantauan Thurioi di Italia Selatan pada tahun 444. Pendirian kota itu dimaksudkan Perikles sebagai usaha pra-Hellen, berarti seluruh Hellas diharapkan mengambil bagian di dalamnya. Ada tokoh-tokoh terkemuka yang ikut dalam usaha itu, seperti misalnya Herodotos, Hippodamos, dan Lysias. Protagiras diminta untuk mengarang undang-undang dasar bagi polis baru itu. Menurut Diogenes Laërtios, pada akhir hidupnya Protagoras dituduh di Athena karena kedurhakaannya (asebeia) dan bukunya tentang agama dibakar di hadapan umum. Diceritakan pula bahwa Protagoras melarikan diri ke Sisilia, tetapi dalam perjalanan ini ia tewas, akibat perahu layar tenggelam. Tetapi karena kesaksian Diogenes Laërtios ini tiidak dapat dicocokkan dengan data-data lain, kebanyakan sejarawan modern menyangsikan kebenarannya.

Protagoras mengarang sejumlah buku. Hanya beberapa fragmen pendek masih disimpan. Tetapi isi ajarannya dapat diterapkan, karena gagasan-gagasan Protagoras masih ramai dipersoalkan di kemudian hari. Plato merupakan sumber yang utama, khususnya kedua dialognya yang berjudul Theaitêtos dan Protagoras.

1.1.1.2       Ajaran tentang pengenalan

Dalam buku yang berjudul Alêtheia (“Kebenaran”) terdapat tuturan Protagoras yang terkenal, yang disimpan dalam kumpulan H.Diels sebagai fragmen 1: “Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada”. Pendirian ini boleh disebut relativisme, artinya kebenaran dianggap tergantung pada manusia. Manusialah yang menentukan benar tidaknya, bahkan ada tidaknya. Disini dapat dipersoalkan bagaimana kita mesti mengerti kata ”manusia” itu. Yang dimaksudkan Protagoras, manusia perorangan ataukah manusia sebagai umat manusia? Apakah kebenaran tergantung pada Anda atau pada saya, sehingga kita mempunyai kebenaran sendiri-sendiri? Atau kebenaran tergantung pada kita bersama-sama, sehingga kebenaran itu sama untuk semua manusia, biarpun tidak mempunyai arti terlepas dari manusia? Tidak dapat disangsikan bahwa Plato mengartikan perkataan Protagoras tadi mengenai manusia perorangan. Itu jelas karena contoh yang diberikannya untuk menerangkan pendapat Protagoras. Contohnya sebagai berikut; Angin yang sama dirasai panas oleh satu orang (yaitu orang sehat) dan dirasai dingin oleh orang lain (orang sakit demam). Mereka kedua-duanya benar! Dan tidak ada alasan yang menuntut bahwa kita membatasi pendapat Protagoras ini atas pengenalan indrawi saja. Oleh karenanya, kebenaran seluruhnya harus dianggap relatif terhadap manusia bersangkutan. Semua pendapat sama benar, biarpun sekali bertentangan satu sama lain. Tetapi, kalau demikian, pendapat Protagoras sendiri tidak merupakan kekecualian. Karena, sebagaiman disimpulkan oleh Plato, secara konsekuen pendapat Protagoras hanya benar untuk dirinya sendiri saja dan mungkin sekali bagi orang lain kebalikannya yang benar.

1.1.1.3       Seni berdebat

Karangan lain berjudul Antilogiai (“Pendirian-pendirian yang bertentangan”). Dalam karya ini Protagoras mengemukakan anggapan yang tentu ada hubungan relativisme yang diuraikan diatas. Dan anggapan ini sesuai dengan keaktifan khusus kaum Sofis, sebab kita sudah melihat bahwa mereka terutama giat dalam bidang kemahiran berbahasa. Suatu fragmen disimpan yang barangkali merupakan kalimat pertama dari karya tersebut: “tentang semua hal terdapat dua pendirian yang bertentangan”. Dalam karya ini Protagoras mengemukakan anggapan yang tentu ada hubungannya dengan relativisme yang diuraikan di atas. Dan anggapan ini sesuai dengan keaktifan khusus kaum Sofis yang memiliki kemahiran dalam berbahasa. Ada sebuah petikan atau fragmen dari karya Protagoras yang berbunyi “Tentang semua hal terdapat dua pendirian yang bertentangan”. Boleh diandaikan bahwa perkataan ini menyatakan gagasan pokok yang terkandung dalam karya tersebut. Kalau benar tidaknya sesuatu tergantung pada manusia, harus disimpulkan bahwa satu pendirian tidak lebih benar daripada kebalikannya. Ini mempunyai konsekuesi besar untuk seorang ahli berpidato. Tergantung pada kepandaiannya apakah ia akan berhasil meyakinkan para pendengarnya mengenai kebenaran suatu pendirian yang sepintas lalu rupanya tidak begitu sah. Dari sebab itu perlu suatu latihan yang memungkinkan orang membuat orang “membuat argumen yang paling lemah menjadi yang paling kuat”

Para musush kaum Sofis telah menafsirkan gagasan ini dalam arti moral. Mereka memberi kesan seakan-akan menurut Protagoras perbuatan yang sama serentak dapat dicela dapat juga dipuji, sehingga sesuatu yang baik menjadi buruk begitu pula sebaliknya.

1.1.1.4       Ajaran tentang negara

Dalam karya yang bernama Tentang keadaan yang asali, Protagoras memberi suatu teori tentang asal-usul negara. Teori ini dipengaruhi di satu pihak oleh pengalaman yang telah disebutka diatas, yakni tiap-tiap negara mempunyai adat kebiasaan sendiri dan di lain pihak kenyataan di lapangan banyak kota perantauan masing-masing mendapat undang-undang baru. Protagras juga berpendapat bahwa negara tidak berdasarkan kodrat, tetapi ia diadakan oleh manusia itu sendiri. Ia melukiskkan timbulnya negara dengan memulainya bahwa manusia pada awalnya hidup sendiri-sendiri. Kemudian karena terdapat lemah dan banyak mendapatkan ancaman binatang buas, mereka mulai mencari teman manusia lainnya. Ternyata setelah berkumpul mereka mendapatkan kendala lagi, bahwa hidup bersama itu tidak semudah yang difikirkan, karena terdapat banyak keragaman di dalamnya. Akhirnya seorang dewa turun dan memberikan mereka anugrah berupa keinsyafan akan keadilan (dike) dan hormat kepada orang lain. (aidos). Berkat kedua berkah ini manusia akan dapat hidup bersama. Ia sendiri dapat mengadakan undang-undang. Jadi, undang-undang tertentu tidak “lebih benar” daripada undang-undang yang lain. Permasalahannya adalah antara cocok atau tidaknya undang-undang tersebut diterapkan di negara tersebut.

1.1.1.5       Ajaran tentang dewa

Salah satu karya Protagoras yang berjudul Peri theôn (“perihal dewa-dewa) diambil sebuah kutipan yang menyatakan “saya tidak merasa sangggup menetapkan mereka (dewa-dewa) itu ada atau tidak; dan saya juga tidak dapat menentukan hakikat mereka. Banyak hal yang merupakan halangan, baik kaburnya pokok bersangkutan maupun pendeknya hidup manusia”. Pendapat Protagoras tentang dewa-dewa boleh disebut suatu skeptisisme, artinya disini tidak mungkin mencapai kebenaran. Sangat cocok denga anggapan relativistis yang dianut oleh Protagoras dalam bidang pengenalan.

1.1.1       Gorgias

1.1.1.1       Riwayat hidup

Georgias lahir di Leontinio di Sisilia sekitar tahun 483. Rupanya ia merupakan murid Empedokles, kemudian dipengaruhi oleh dialektika Zeno. Pada tahun 427 ia datang ke Athena sebagai dua kota asalnya untuk meminta pertolongan melawan kota Syrakusa. Sebagai Sofis ia mengelilingi kota-kota Yunani, terutama Athena, dimana ia mengalami sukses besar, karena luar biasa fasih lidahnya. Ia meninggal pada usia 108 tahun, kira-kira pada tahun 375.

1.1.1.2       Ajaran

Dalam bukunya yang berjudul Tentang yang tidak ada atau alam, Gorgias menuliskan tiga pendiriannya: [1] tidak ada sesuatu pun; [2] seandainya sesuatu ada, maka itu itu tidak dapat dikenal; [3] seandainya sesuatu dapat dikenal, maka pengetahuan itu tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Ketiga pendirian ini disokong oleh banyak argumen. Jika yang dimaksudkan oleh Gorgias itu seperti apa adanya, maka Gorgias bukan saja menganut suatu paham skeptisisme, melainkan juga memihak kepada nihilisme (anggapan bahwa tidak ada sesuatu pun atau tidak ada sesuatu yang bernilai). Tetapi sulit sekali untuk membayangkan bahwa pendirian-pendirian itu mengandung maksud Gorgias sendiri. Agaknya is ingin menyindir metode berargumentasi yang dipakai madzhab Elea dengan memperlihatkan bahwa cara berargumentasi mereka dapat diteruskan hingga menjadi mustahil.

1.1.2       Hippias

1.1.2.1       Riwayat hidup

Hippias adalah kawan sebaya dengan Sokrates dan berasal dari kota Elis. Ia dibicarakan dalam kedua dialog Plato yang berjudul Hiipias Major dan Hippias Minor. Rupanya ia menguasai banyak lapangan keahlian. Terutama ia mempunyai jasa-jasa besar dalam bidang ilmu ukur.

1.1.2.2       Ajaran

Seperti Sofis lainnya, Hippias juga mencurahkan perhatiannya pada

pertanyaan, apakah tingkah laku manusia dan susunan masyarakatharus berdasarkan nomos (adat kebiasaan, undang-undang) atau harus berdasarkan physis (kodrat). Tapi ia memberi jawaban yang bertolak belakang dengan kebanyakan rekan Sofis. Ia beranggapan bahwa kodrat manusiawi merupakan dasar bagi tingkah laku manusia dan susunan masyarakat. Ia berfikir begitu, karena undang-undang berkali-kali harus dikoreksi atau diubah. Oleh karenanya bukan undang-undang yang merupakan norma terakhir yang menentukan yang baik dan yang jahat. Palagi, undang-undang menggolongkan manusia sebagai penguasa atau bawahan, sebagai orang bebas atau budak. Padahal, menurut kodratnya, semua manusia sama derajatnya. Dengan demikian pada Hippias tampaklah suatu kosmopolitisme dan universalisme yang menandai banyak Sofis.

1.1.3       Prodikos

1.1.3.1       Riwayat hidup

Prodikos berasal dari pulau Keos dan ia juga boleh dianggap sebagai kawan sebaya Sokrates.

1.1.3.2       Ajaran

Prodikos menganut suatu pandangan hidup yang pesimistis. Kematian dianggapnya sebagai jalan untuk melepaskan diri dari kesusahan dalam hidup manusia. Pendapatnya tentang asal-usul agama adalah bahwa agama merupakan penemuan manusia. Mula-mula manusia memuja tenaga-tenaga alam sebagai dewa, misalnya matahari, bulan, sungai-sungai dan pohon-pohon. Sebagai contoh, ia menunjuk kepada pemujaan sungai Nil di Mesir. Taraf berikut ialah bahwa mereka yang menemukan keahlian tertentu (pertanian, perkebunan anggur, pengolahan besi) dipuja sebagai dewa. Sebagai contoh, ia menyebut dewa-dewa Yunani Demeter, Dionysos dan Hephaistos yang dalam agama masing-masing dikaitkan dengan pertanian. anggur dan besi. Jadi berpendapat bahwa agama juga merupakan ciptaan manusia. Ia menyangka pula bahwa berdoa itu mubazir.

1.1.4       Kritias

1.1.4.1       Riwayat hidup

Kritias hidup di abad ke-5 SM. Ia berasal dari Athena dan memainkan peranan pentik dalam politik kota itu.

1.1.4.2       Ajaran

Pokok ajaran Kristias yang harus disebut disini adalah pendapatnya tentang agama. Ia beranggapan bahwa agama ditemukan oleh penguasa-penguasa negara yang licik. Kebanyakan pelanggaran dapat diadili menurut hukum. Tetapi selalu ada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tersembunyi dan tidak diketahui umum. Oleh sebab itulah penguasa-penguasa menemukan dewa-dewa supaya orang percaya bahwa mereka akan membalas juga pelanggaran-pelanggaran tersembunyi.

1.2       Pengaruh aliran Sofistik

Dalam uraian-uraian sejarah filsafat, kaum Sofis tidak selalu dipandang dengan cara yang sama. Kadang mereka dikemukakan dalam timbangan yang negatif, tetapi dalam uraian lainnya kaum Sofis mendapatkan citra positif.

Di satu pihak gerakan para Sofis menyatakan krisis yang tampak dalam pemikiran Yunani. Rupanya pada waktu itu orang merasa jemu dengan sekian banyak pemikiran dan pendirian yang telah dikemukakan dalam filsafat prasokratik. Reaksinya adalah skeptisisme yang dianut oleh para Sofis. Kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan sendiri digoncangkan (Protagoras, Gorgias). Dengan itu, Sofistik pasti mempunyai pengaruh negatif atas kebudayaan Yunani waktu itu. Banyak nilai tradisional dalam bidang agama dan moralitas mulai roboh. Peranan polis sebagai kesatuan sosial-politik mulai merosot, karena kaum Sofis memajukan suatu orientasi pan-Hellen. Tekanan pada ilmu berpidato dan kemahiran berbahasa menampilkan bahaya bahwa teknik berpidato akan dipergunakan untuk maksud-maksud jahat. Kalau prinsip Protagoras, yakni”membuat argumen paling lemah menjadi paling kuat”, dikaitkan dengan relativisme dalam bidang moral, maka dengan sendirinya jalan terbuka untuk penyalahgunaan itu. Sofis-Sofis yang besar seperti Protagoras dan Gorgias tidak menyalahkangunakan ilmu berpidato untuk maksud-maksud jahat. Mereka orang yang dihormati oleh umum karena moralitas yang bermutu tinggi. Hal yang sama tidak bisa dikatakan mengenai Sofis lain.

Akan tetapi di lain pihak aliran Sofistik pasti juga mempunyai pengaruh positif atas kebudayaan Yunani. Bahkan boleh dikatakan bahwa para Sofis mengakibatkan suatu revolusi intelektual di Yunani. Gorgias dan Sofis lain menciptakan gaya bahasa yang baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar, seperti Herotodos dan Thukydides, dipengaruhi secara mendalam oleh pemikiran Sofistik. Pandangan hidup kaum Sofis bergema juga pada dramawan-dramawan terkenal seperti Sophokles dan terutama Euripides. Jasa terbesar mereka adalah mempersiapkan kelahiran filsafat baru. Sokrates, Plato, dan Aristoteles merealisasikan semua itu.

2         Sokrates

2.1       Riwayat Hidup Sokrates

2.1.1       Siapakah Sokrates

Sokrates (470-399 SM) sebenarnya tidak ada penjelasan pasti mengenai kapan sokrates itu lahir, hasil diatas lebih kepada penghitungan perkiraan bahwa saat sokrates dihukum  mati itu dia berusia sekitar 70 tahun,  yang kemudian dikurangkan dengan tahun kematiannya.

[i]Sokrates dilahirkan di Athena,  bisa dikatakan bahwa dia menjalani sebagian  besar hidupnya di alun-alun dan pasar-pasar untuk berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya disana. Dia juga dapat tenggelam dalam pemikiran selama berjam-jam tanpa henti.

Sokrates, bisa dikatakan adalah tokoh paling misterius dalam sejarah filsafat. Sokrates tidak pernah menuliskan pemikirannya bahkan sebaris pun, namun dia menjadi salah seorang filosof yang memiliki pengaruh paling besar dalam pemikiran filsafat kemudian. Bahkan bisa dikatakan filsafat memulai babak baru pada masa sokrates.

2.1.2       Sumber-sumber Sejarah Sokrates

Sulit untuk benar benar mengungkap sosok sokrates yang sebenarnya, karena sokrates sendiri tidak pernah menulis sebaris pun tentang pemikiran-pemikirannya. Selama ini orang-orang mempelajari sokrates melalui pengkajian terhadap sumber-sumber yang ada, disisni kita akan membatasi diri pada keempat sumber saja namun keempat sumber inilah yang  memainkan peranann terpenting dalam  menginterpretasikan kepribadian dan ajaran sokrates.

2.1.2.1       Aristophanes

[ii]Aristophanes, Aristophanes adalah seorang Komedian ternama di Athena yang hidup pada masa sokrates. Komedi-komedi pada abad ke 5 membicarakan dengan lucu peristiwa-peristiwa actual, tokoh-tokohdan pikiran-pikiran yang lazim dikalangan para penonton di Athena. Dalam salah satu karya komedinya dia menyebut sokrates yaitu pada karya komedi yang berjudul Burung-burung dan Katak-katak dan dalam karyanya yang berjudul awan-awan sokrates mementaskan sokrates sebagai pelaku  utama.

2.1.2.2       Xenophon

Xenophon dalam beberapa waktu adalah pengikut sokrates , tetapi tidak diketahui berapa lama dia menjadi pengikut sokrates . sebab pada tahun 401 itu ia meninggalkan kota Athena untuk ikut serata dalam  perjalanan  militer kyros muda (Putra Raja Parsi Darios).

Xenophon menulis beberapa tulisan. di mana sokrates mempunyai peranan . karangannya yang paling penting adalah  Memorabilia (Kenangan-kenangan  akan Sokrates. Namun kesaksian dari  Xenophon  oleh beberapa pihak disangsikan karena dikatakan bahwa Xenophon itu terlampau lugu, jadi susah untuk  mengikuti apa yang ia katakan Xenophon jika itu mengenai masalah yang pelik dalam filsafat .[iii] Laporan orang yang bodoh mengenai apa yang dikatakan seorang yang pandai  tak akan pernah akurat, sebab tanpa disadari ia menerjemahkan apa yang ia dengar itu sesuai dengan tingkat pemahamannya.

2.1.2.3       Plato

Telah  kita ketahui sebelumnya, bahwa kehidupan Socrates banyak kita ketahui melalui tulisan-tulisan plato, yang merupakan murid dari sokrates dan juga salah satu filosof  terbesar sepanjang sejarah.  Plato menulis sejumlah dialog atau diskusi-diskusi mengenai filsafat dimana dia menggunakan sokrates sebagai tokoh utama dan juru bicaranya. Jadi bisa dikatakan sulit untuk membuktikan apakah itu benar-benar omongan sokrates atau filsafat plato.

2.1.2.4       Aristoteles

Karena aristoteles lahir lima belas tahun setelah sokrates meninggal, kita tidak bisa mencari kesaksian langsung mengenai sokrates tapi hal ini bukan  berarti aristoteles tidak bisa memberikan informasi yang berguna untuk memecahkan masalah historis yang menyangkut sokrates. Aristoteles adalah murid  plato sehinnga sudah pasti dia mendengar banyak hal tentang kehidupan dan ajaran sokrates dari plato. Dalam karya-karyanya kerap kali dia mengikhtisarkan pendirian filsuf-filsuf yang mendahuluinya.

2.2       Sokrates dan kaum Sofis

Setelah  sekitar 450 SM,  Athena merupakan pusat  kebudayaan. Sejak masa inilah filsafat menemui babak baru. Jika dahulu para filosof alam hanya memusatkan perhatiannya pada alam dunia fisik semata, pada babak ini yang menjadi kajian pokoknya adalah manusia.

Sokrates dan kaum sofis hidup  pada rentang waktu yang sama tapi kenapa sokrates tidak dikatakan seorang sofis, itu dikarenakan sokrates berbeda dengan kaum sofis, perbedaan mendasar dan paling penting adalah bahwa sokrates tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang sofis (orang yang pandai dan bijaksana ) melainkan sebagai seorang yang mencintai kebijaksanaaan .

Disini  dapat kita  lihat perbedaaan besar antara seorang sofis  dan sokrates. Jika seorang sofis menuntut bayaran untuk apa yang mereka ajarkan, sokrates tidak, jika kaum sofis menganggap dirinya mengetahui segalanya, maka sebaliknya sokrates  menganggap dirinya tidak mengetahui apa-apa. Sokrates berbeda dengan seorang sofis, meskipun mereka hidup sezaman.

Sokrates juga menentang pendapat para sofis dalam pendapat mereka tentang relativisme. Jika para sofis berkeyakinan relativisme, sokrates sebaliknya menurut sokrates ada kebenaran yang objektif, yang tidak tergantung pada saya atau pada kita penjelasan tentang ini akan dibahas lbih dalam, dalam penjelasan tentang ajaran sokrates.

Sekilas soal Sokrates, pada suatu  hari, salah seorang sahabat sokrates pernah bertanya kepada dewata delphol, apakah ada orang yang lebih bijaksana daripada sokrates ?, dewata tersebut menjawab bahwa tidak ada orang yang lebih bijaksana daripada sokrates. Sokrates terkejut dan tidak percaya dengan jawaban dewata itu, sokrates kemudian mulai mencari tahu tentang hal itu.

Dia sebenarnya mencari tahu dengan tujuan, untuk membuktikan bahwa jawaban dewata itu salah, sokrates kemudian bercakap-cakap dengan para negarawan dengan maksud menunjukkan bahwa mereka lebih bijaksana daripada dia sendiri. Orang tersebut memang dipandang bijaksana oleh banyak orang dan mereka sendiri pun berkeyakinan bahwa mereka itu bijaksana. Namun dari percakapan-percakapan yang telah sokrates lakukan dia tidak menemukan jawaban yang pas dan sokrates juga menemukan bahwa mereka itu tidak bijaksana. Kemudian sokrates pergi pada para penyair, tukang-tukang dengan tujuan yang sama, tapi hasilnya sama. Oleh karena itu sokrates kemudian menarik keismpulan bahwa dia lebih bijaksana dari mereka semua. Sokrates lebih bijaksana karena dia menyadari bahwa ia tidak bijaksana

1.1       Ajaran Sokrates

1.1.1       Cara Pengajaran Sokrates

Sebelum kita memasuki ajaran sokrates sebelumnya mari kita bahas dulu bagaimana cara pengajaran sokrates. Cara pengajaran sokrates itu sangat berbanding terbalik dengan cara pengajaran seorang sofis , yang hanya satu arah saja dari sofis itu pada orang yang diajarkannya, dimana cara pengajaran ini adalah cara pengajaran yang dapat kita temukan  dari zaman dahulu sampai zaman sekarang. Sokrates tidak seperti itu, dia tidak ingin menggurui orang tapi dia memberi kesan bahwa dia ingin belajar dari orang yang diajak berdialog olehnya.

Cara pengajaran sokrates ini disebut  dialektika,  dalam pengajaran ini dialog memegang peranan  yang penting, dia memulai dialog tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan  seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa. Dan dengan cara itu dia berhasil membuat lawan bicaranya mengakui kelemahan argumen mereka, yang membuat mereka menyadari apa yang benar dan apa yang salah.

Sebutan lain untuk cara pengajaran sokrates adalah maieutika, seni kebidanan disini sokrates memposisikan dirinya sebagai seorang bidan, mengapa disebut seni kebidanan karena menurut sokrates dia tidak melahirkan sendiri anak itu melainkan ia hanya membantu orang-orang itu melahirkan wawasan yang benar, dan sokrates meyakini bahwa pemahaman sejati itu timbul dari dalam diri seseorang itu sendiri, hal itu tidak bisa ditanamkan oleh orang lain. Pemahaman sejati itulah yang dapat membawa kita pada wawasasn yang benar.

1.1.2       Inti Ajaran Sokrates

                        Menurut Socrates, bahwasanya pengertian dari etika atau intisari dari etika yaitu budi yang berarti tahu. Orang yang tahu dengan sendirinya berbudi baik. Sebagai contoh, apabila seseorang telah mengetahui tentang kebenaran adanya kenikmatan surga dan siksa neraka, maka sudah pastil ia akan mengikuti jalan ajaran Tuhannya untuk memperoleh kenikmatan tersebut. Dan hanya orang-orang yang tidak mempercayai adanya kenikmatan surga dan siksa nerakalah yang enggan untuk melaksanakan aturan dari Tuhannya yang dapat membawanya kepada kenikmatan surga tersebut. Akan tetapi ia malahan melakukan tindakan yang dilarang oleh Tuhannya dan meniggalkan perintah dari Tuhannya.

Sedangkan paham etika Socrates selanjutnya yaitu kelanjutan daripada metode-metodenya. Selanjutnya, siapa yang mengetahui hukum mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan, maka budi itu dapat dipelajari.

Dari ucapan itu nyatalah bahwa ajaran etika Socrates intelektuil sifatnya. Selain dari itu juga rasionil. Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja, atas maunya sendiri, berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. Apabila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka “jahat” hanya datang dari orang yang tidak tahu, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar. Orang yang kesasar adalah korban daripada ketidak tahuannya sendiri. Kesasar bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya sendiri.

Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti  segala barang yang ada, itu ada tujuannya, begitu juga hidup manusia. Apa misalnya tujuan meja? Kekuatannya, kebaikannya. Begitu juga dengan manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya.

Dari pandangan etika yang rasionil itu Socrates sampai kepada sikap hidup, yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, mendapatkan kezaliman lebih baik dari berbuat zalim. Sikap itu diperlihatkannya dengan kata dan perbuatannya, dalam pembelaannya di muka hakim. Socrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Alam ini teratur susunannya menurut wujud yang tertentu. Hal itu katanya adalah tanda perbuatan Tuhan. Kepada Tuhan dipercayakannya segala-galanya yang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangannya bagian daripada Tuhan yang menyusun alam. Sering pula dikemukakannya, bahwa Tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam, yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disebutnya daimonion. Bukan dia saja yang begitu katanya. Semua orang dapat mendengar suara daimonion itu dari dalam jiwanya, apabila ia mau. Daimonion yang dimaksud disini adalah suara hati atau fitrah.

Juga dalam segi pandangan Socrates yang berisi keagamaan, terdapat pengaruh paham rasionalisme. Semuanya itu menunjukan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia seorang filosof yang terutama seluruh masa.

1.2       Pengikut-pengikut Sokrates

Meskipun sokrates merupakan filosof yang paling penuh teka-teki, dan sokrates juga dianggap agak membingungkan. Namun tak lama setelah kematiannya dia dianggap sebagai pendiri sejumlah aliran pemikiran filsafat. Sokrates tidak pernah memiliki murida dalam arti yang sebenarnya, sokrates juga tidak pernah mendirikan mazhab apapun, sokrates hanya mengajak pengikutnya agar mereka berfilsafat sendiri. Stelah kematian sokrates, pengikut-pengikut sokrates itupun memilih jalan mereka masing-masing, dari semua pengikut sokrates itu tidak ada yang dapat membandingi plato. Pengikut sokrates yang lain disebut dengan “The Minor Socratics”, yang kemudian mereka-mereka ini mendirikan beberapa pokok ajaran, antara lain :

  1. Mazhab Megara

Didirikan oleh pengikut sokrates yang bernama Eukleides dari Megara. Ia mencoba mendamaikan “yang ada” dari mazhab elea  dengan “yang baik” dari sokrates

 

  1. Mazhab Elis dan Eretria

Didirikan oleh Eretria, ia menaruh perhatian pada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan dialektika

                                                                      

  1. Mazhab Sinis

Tokoh utamanya adalah Antisthenes, dalam bidang dialektika ia menentang teori plato mengenai ide yang berdiri sendiri, dan dalam bidang etika ia beranggapan bahwa  manusia mempunyai keutamaan, bila ia tahu, ia kan melepaskan diri dari  barang jasmani dan segala macam kesenangan karena kesenangan adalah musuh besar bagi orang yang ingin hidup bahagia.

 

  1. Mazhab Hedonis

Tokoh utamanya Aristippos, ajarannya adalah bahwa keutamaan tidak lain daripada mencari”yang baik” namun yang baik disini disamakan dengan kesenangan (hedone), kesenangan disini juga termasuk kesenangan badani juga, akan tetapi seporang yang bijaksana tidak akan mengejar kesenanagan tanpa batas, karena kesenangan yang tanpa batas akan menyebabkan kesusahan. Dalam perspektif hedonisme, pengendalian diri dan pertarakan perlu untuk mencapai cara hidup yang ideal.

 

 


[i] Justin gaarder, dunia sophie hal 82

[ii] Prof  Dr. K. Bertens, sejarah filsafat yunani. Hal. 95

[iii] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat. Hal. 112


[i] Nama Yunani waktu itu (± 2 SM)

[ii] Rhow and Schofield, Sejarah Pemikiran Politik Yunani dan Romawi. Hal.107

[iii] Werner Jaeger dalam “Paedeia” memandang bahwa seluruh kesusastraan Yunani dari sudut pendidikannya