MAKNA SYAHADATAIN

Oleh: Harkaman

            Saya teringat perkataan seorang ustadz, di saat-saat nafas terakhirnya beliau berkata kepada anaknya:“masih banyak jama’ah saya yang belum sah syahadatnya, maka bantulah mereka”. Mungkin kita bertanya mengapa demikian? Bukankah syahadat mudah untuk diucapkan dan tidak ada yang sulit dengan hal itu. Apakah karena kurang faseh bahkan tidak faseh sama sekali pada saat mengucapkan? Ini tidak bisa menjadi sebuah alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan tersebut.

            Ingin saya katakana: “kenapa kita masi sering terjebak pada perbuatan dosa, ini menunjukkan syahadat belum benar, karena di saat mempersaksikan diri belum menyaksikan Allah di hadapan kita sendiri”. Sebuah analogi, ketika seseorang dipanggil untuk bersaksi pada sebuah kasus di pengadilan, tentunya orang yang pernah menyaksikan kejadian yang dimaksudkan. Kebenaran atas kesaksian itu hanyalah anda dan Allah yang tahu. Apabilah tidak menyaksikan lantas mengaku bersaksi, inikan sama halnya dengan omongan belaka (kebohongan) yang anda lakukan. Maka pertanyakanlah diri kita masing-masing, apakah kita sudah bersyahadat dengan sempurna atau hanya sekadar ucapan yang tidak mempunyai dasar? Kita sendirilah yang lebih tahu hal ini.

            Muhammad al-Ghazali mengakatan, orang yang yang benar-benar bersyahadat dengan benar akan nampak dari perilakunya. Selalu menghindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan melaksanakan yang semestinya menjadi kewajibannya. Karena sesungguhnya syahadat itu akan menegakkan kebenaran dan mematahkan kebatilan.

            Lihatlah kenyataan sekarang, masih banyak saudara muslim kita yang tunduk pada Tuhan yang banyak, sedang ia mengaku beriman kepada Allah.  Berapa banyak yang mempertuhankan nafsu dan harta benda yang dimiliki.  Berapa banyak yang disesatkan oleh Allah, sedang ia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.  Dan saudara-saudara yang lainnya memiliki pemahaman yang keliru tentaang ketauhidan (ketuhanan).

            Indikator syahadat bukan pada persoalan iman saja. Akan tetapi merealisasikan apa yang menjadi kesaksian dalam kehidupan yang kemudain menjadi identitas diri. Dengan demikian syhadat akan mendarah daging dan meresap kedalam jiwa. Sehingga setiap langkah kaki kita selalu menyaksikan Allah dan hal ini akanmenjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan (dosa).

            Dengan mengimani Allah berarti mengimani nabi-nabi-Nya. Secara otomatis harus percaya kepada pemabawa risalah-Nya yaitu Nabi Muhammad. Dan tidak dicukupkan pada satu Nabi, akan tetapi Nabi Adam as, Musa as, Isa as, dan yang telah diutus Allah sebelumnya wajib juga untuk diimani. Karena mereka merupakan utusan sama seperti dengan Nabi Muhammad. Pada hakikinya barangsaiapa yang tidak mengimani salah satu dari mereka, maka telah melakukan sebuah pengingkaran dan kafir kepada Allah. Orang yang beriman merekalah yang mengimani semua utusan Allah.

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. AL-baqarah: 285)

            Nabi Muhammad pun membenarkan kenabian yang terdahulu dan ini merupakan salah satu risalah Nabi, selain membenarkan, Nabi juga memberikan penjelasan lebih lanjut, namun bukanlah sesuatu yang baru karena sebelumnya para nabi juga menyampaikan hal yang sama. Pada hakikatnya mereka juga adalah menyampaikan  Islam. Namun yang membedakan hanyalah pada syari’at saja.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 122)

            Melakukan kesaksian terhadap kerasulan Nabi Muhammad, berarti siap melaksanakan sunnah Nabi, menjadikan Nabi sebagai suri tauladan dalam kehidupan  dan di dalam berbagai aspek. Mengingat nabi sebagai adalah Insan Kamil dan tidak ditemukan sedikit cela pada dirinya.

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)