Islam Agama Tauhid

Oleh: Harkaman

            Ketika memandang indahnya alam semesta, gunung yang  tinggi, lautan yang luas. Maka manusia akan merasa tenang, ini sudah menjadi fitrah manusia. Alam merupakan manifestasi Tuhan, termasuk manusia adalah manifestasi-Nya jua. Keberadaan semua itu memaksa manusia harus mengakui adanya pencipta yang tidak diciptakan. Apakah mungkin alam yang begitu teratur ini, tersusun dengan sempurna ada begitu saja. Jika dipersepsikan bahwa alam ada dengan sendirinya. Argumentasi seperti itu sangat tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan teori yang sebenarnya. Di sini juga tidak terlepas dari hukum sebab-akibat. Alam sebagai akibat sedangkan sebagai sebab utama adalah Tuhan.

            Dengan demikian tidak ada alsan bagi manusia untuk tidak mengukuhkan satu pencipta dalam jiwanya. Dalam filsafat Islam alam, manusia dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita merupakan manifestasi Tuhan ini sesuai dengan teori manisfestasi Ibnu Arabi. Atau dalam filsafat Mulla Shadra bahwa hal ini merupakan satu konsep gradasi.  Sama halnya dengan cahaya yang menghasilkan terang, sehingga memiliki tingkatan terang. yaitu sangat terang, cukup terang, tidak terang dan sangat tidak terang. Dan melalui teeori keteraturan, memberikan salah satu argumen yang cukup kuat untuk membuktikan eksistensi dari pencipta.

            “Sekiranga ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah. Tentulah langit dan bumi telah rusak.” (QS. Al-Anbiya: 22

            Tidak bisa dibayangkan apa jadinya, jika segala sesuatu masing-masing mempunyai Tuhan sendiri-sendiri. Langit ada tuhannya, tanah ada tuhannya, laut ada tuhannya, binatang atau hewan mempunyai tuhan, manusia juga mempunyai tuhan sendiri. Maka yang didapati bumi tidak akan bisa berputar sebagaimana yang sedang kita saksikan sekarang, pastilah bumi ini hancur, karena masimg-masing dari tuhan mereka yang akan mengatur. Bilah terjadi ketidaksesuaian keinginan di antara tuhan-tuhan itu, akan berdampak buruk bagi alam dan seisinya. Sebagai contoh jika tuhan tanah ingin mensuburkan tanahnya sedangkan tuhan hujan tidak menginkan hal itu. Tetap saja tanah akan kering, karena tidak tersirami oleh air.

            Muncul pertanyaan “bagaimana jika tuhan-tuhan tersebut saling mengerti, karena memahami mereka saling membutuhkan”. Tanpa menjawab sebenrnya sudah terjawab dengan sendirinya. Kenapa? Sebagaimana yang kita pahami Tuhan itu maha segala-galanya. Dan pertanyaan tersebut di atas tidak sesuai, sebagaimana yang kita ketahui Tuhan tidak butuh terhadap yang lain. Jika alasannya hanyalah karena Tuhan-itu tidak bodoh mereka sangat cerdas, sehingga menghindari perselisihan. Lantas apa bedanya manusia dengan Tuhan yang dinisbatkan sebagai pencipta segala sesuatu.

            Sejak mata mulai menyaksikan dunia, kita sudah mulai memperhatikan sistem alam semesta. Berbagai macam keunikan ciptaan-ciptaan yang menjadi pemandangan indah membuat kita kagum dengannya. Kemudian kita berbuat sesuatu untuk mempertahankan diri, agar bisa tetap hidup, berusaha untuk beradaftasi dengan alam. Di kala lapar dan minum, maka kita tidak berpikir lama untuk makan dan minum. Di saat panas, maka kita akan mencari tempat yang sejuk untuk berteduh. Dapat dikatakan bahwa tindakan tersebut mengikuti pemikiran, sedang pemikiran mengikuti sistem kehidupan.

            Adanya berbagai macam ciptaan Tuhan yang tampak dalam pandangan kita ini. Tentunya tindak sama dengan pemikiran manusia berawal dari konsep-konseps. Karena Tuhan tidak melakukan hal seperti manusia, Dia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan apapun yang dia inginkan.Tidak ada satupun hukum yang dapat mengikat atau mebatasinya. Dia Maha sempurna yang tidak butuh apapun, namun segala sesuatunya adalah miliknya dan bergantung kepadannya.