SEJARAH STUDY ISLAM & ORIENTALIS

Oleh: Deni Gunawan & Ahmad Muti’ul Alim

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Islam adalah agama yang kaya akan keilmuan. Dalam agama islam banyak hal yang menarik untuk diteliti dan dikaji. Agama samawi yang dibawa oleh Muhammad sebagai tangan kanan Allah SWT, ini membawa begitu banyak hal (keilmuan) yang membuatnya menjadi menarik bagi para peneliti dan pencinta ilmu untuk dikaji.

Dalam perkembangannya, penelitian studi islam menjadi salah satu  hal yang di dalami oleh beberapa orang baik di Barat maupun di Timur, banyak hal yang telah di alami dalam perjalanan agama islam dalam hal studi ilmu-ilmu keislaman, selain itu juga dalam perkembangannya metodologi studi islam telah menjadi bagaian dalam khasanah keilmuan di dalam dunia pendidikan atau akademis. Baik di Barat maupun di Timur, itu telah mengkaji islam dalam berbagai hal, sehingga kajian-kajian tersebut benyak menghasilkan karya-karya berupa pandangan-pandangan terhadap islam baik yang mengkritik Islam atau yang membela islam itu sendiri. Sehingga dengan itu pula banyak metodologi-metologi islam muncul serta dibarengi pula dengan problematika-problematikanya.

Di dunia islam sendiri banyak hal yang telah dilakukan  untuk penilitian khasanah keilmuannya, sebagaimana itu telah dilakukan ketika Rasulullah SAW ketika masih hidup memimpin umat islam, kemudian disusul beberapa abad kemudian setelah wafatnya beliau, kajian itu terus berkembang  sebagai contoh semangat yang luar biasa diperlihatkan oleh orang-orang islam dalam pengkajian keilmuannya pada masa Dinasti Umayah dan Abbasyah.

Kemudian banyak tempat-tempat pendidikan yang dibangun demi mendukung penelitian dan pengkajian keilmuan tersebut, banyak sudah para ilmuan-ilmuan besar yang telah dilahirkan pada masa tersebut. Di masa sekarang keilmuan keislaman bukan hanya dikaji oleh umat islam saja, namun bangsa Barat pun berminat dalam mengkaji ilmu-ilmu keislaman.  Itu dibuktikan dengan banyak ilmuan-ilmuan barat yang tekun mendalaminya yang biasa disebut orientalis, hal itu memungkinkan untuk terjadi pertukaran budaya serta keilmuan baik Barat maupun Timur terlebih akibat perang salib yangberlangsung lama antara Islam dengan Kristen.  Para peniliti Barat ini memiliki motif dan tujuan yang bermacam- macam dari kegiatan mereka meneliti islam.

Karena hal itu pula, banyak model penilitian yang dikembangkan oleh para peneliti tersebut yang kemudian banyak juga digunakan oleh peniliti-peniliti sekarang dalam mengkaji islam. Nah untuk itu dalam makalah ini pula penulis mencoba untuk mengungkap apa sebenarnya yang terjadi dan sedang berlangsung dulu hingga saat ini dalam Metologi Studi Islam juga model-modelnya serta problematika yang terjadi di dalamnya.

Selain untuk memenuhi persyaratan perkuliahan, juga makalah ini penulis buat untuk bahan kajian dan pembelajaran ulang serta mengetahui tentang model-model yang digunakan, sehingga paling tidak kajian singkat yang menggunakan metode kepustakaan ini akan    membantu penulis dan pembaca dalam membahas Metologi Studi Islam dalam tema kajian ini.

1.2 Kajian Keislaman dalam sejarah

1. Bagaimana perkembangan sejarah Metodologi islam dari awal hingga saat ini?

2. Model-model apa saja yang digunakan dalam mengkaji dan meneliti islam dalam Metodologi Studi Islam?

3. Melihat dan mengkaji  problematika model-model studi islam serta bagaimana pandangan para orintalis tentang islam serta apa saja kekeliruan yang dilakukan oleh para orientalis?

1.3 Tujuan

1. Sebagai syarat untuk mengikuti perkuliahan

2. Memahami model-model studi islam serta problematikanya

3. Menjadi bahan kajian bagi penulis dan pembaca

4. Memperluas pengetahuan serta sebagai bahan rujukan untuk meenganalisis dan mengkritisi pandangan-pandangan orientalis yang keliru.

BAB II

SEJARAH STUDI ISLAM

2.1 Kajian Keislaman dalam sejarah

Ilmu-ilmu islam banyak dikaji pada abad ke-2,3 dan 4 Hijriyah atau abad 8,9 dan 10 masehi.  Pada masa ini pula muncul penghargaan dan juga parhatian terhadap ilmu-ilmu keislaman. Dengan bukti bahwa pada waktu itu banyak  bermunculan para mujtahid yang mungkin tak dapat ditandingi oleh masa manapun, pada masa ini pula banyak lahir ahli-ahli di bidang ilmu-ilmu keislaman dengan memperlihatkan pembahasan ilmiah di bidang ini.

Begitu juga pada masa ini pula dasar-dasar metodologi hampir di semua bidang ilmu dirumuskan. Teori penelitian hadist Nabi misalnya muncul dan berkembang sejalan dengan pencarian sabda-sabda Nabi yang bertebaran di berbagai tempat yang oleh para peneliti dan pengkaji yang tekun dihimpun dan dianalisisnya.

Begitu juga dalam penetapan hukum islam menuntut ijtihad juga mendorong munculnya metodologi istimbath. Metodologi menafsirkan Al-Qur’an juga sesuatu yang wajib dikuasai bagi setiap orang ingin menafsirkan Al-qur’an. Dari pembahasan aspek metodologi inilah kemudian muncul ilmu-ilmu bantu yang menjadi pedoman bagi para peneliti ilmu-ilmu keislamanseperti ilmu hadist, ulumul qur,an, ushul fiqih, dan lain sebagainya, perkembangan ilmu-ilmu keislaman tersebut didukung oleh pembahasan dan penetapan metodologi yang sistematis dan mapan.

 2.2 Signifikansi Studi Islam

Dari segi tingkatan kebudayaan,agama merupakan universal cultural, salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya, karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat (Djamari, 1993:79). Oleh karena itu, secara umum, study islam menjadi penting kerena agama, termasuk islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.

Dalam pengantar simposium  nasional yang diselenggarakan oleh forum komunikasi mahasiswa pascasarjana (FKMP) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 Agustus 1998 di pusat pengkajian Islam dan masyarakat (PPIM), harun nasional (1998:1) mengatakan bahwa persoalan yang menyangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama – terutama dari sisi etika dan moralitasnya-kurang mendapat tempat yang memadai.

Situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistik-formalistik. Agama “harus” dimanifestasikan dalam bentuk ritual-formal, sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan “bentuk” daripada “isi” kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai perangkat paradigma moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Disamping itu formalisme gejala keagamaan yang cenderung individualistik daripada   4 kesalehan sosial mengakibatkan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi (Harun Nasution, 1998: 1-2).

Harun nasution berpandangan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan cegahan-Nya. Dengan demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yang dekat dengan Tuhan; dan yang dekat dengan Yang Maha Suci adalah “suci”; orang-orang yang sucilah yang mempunyai moral yang tinggi.

Gambaran yang dikemukakan oleh Harun Nasution di atas mendapat sambutan cukup serius dari Masdar F. Mas’udi. Masdar F. Mas’udi mengatakan bahwa kesalahan kita, sebagai umat Islam di Indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai sistem nilai etika dan moral yang relevan bagi kehidupan manusia sebagai makhluk yang bermartabat dan berakal budi. Karena itulah, kita tersentak ketika temuan memperlihatkan kepada dunia sesuatu yang sangat ironi: Negara Indonesia yang penduduknya 100% beragama, mayoritas beragama Islam (sekitar 90%), dan para pejabatnya rajin merayakan hari-hari besar agama, ternyata menduduki peringkat terkemuka di antara Negara-negara yang paling korup di Indonesia. (h.8)

Dari gambaran umat Islam Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat Islam. Oleh karena itu, signifikansi studi Islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umumnya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan Islam diubah menjadi format agama yang substantive. Sikap enklusivisme, kita ubah menjadi sikap universalisme, yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama diwahyukan untuk manusia. Di samping itu, studi Islam diharapkan dapat melahirkan suatu komunitas yang mampu melakukan perbaikan secara intern dan ekstern. Secara intern, komunitas itu diharapkan dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik intra-agama Islam; tampaknya, konflik internal umat Islam yang didasari dengan organisasi formal keagamaan belum sepenuhnya final. Di samping itu, akhir-akhir ini kita dihadapkan pada krisis nasional –salah satunya krisis kerukunan umat beragama: pembakaran gereja di Ketapang Jakarta dan Banjarsari Ciamis, pembakaran mesjid di Ambon, serta persoalan-persoalan lainnya. Studi Islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh)  dalam wacana pluralitas agama, sehingga tidak melahirkan Muslim ekstrem yang membalas kekerasan agama dengan kekerasan pula: pembakaran mesjid dibalas dengan pembakaran gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup keberagaman di Indonesia , studi agama —terutama Islam, karena merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk—sangat penting dilakukan. (h.8-9)

2.3 Pertumbuhan Studi Islam Di Dunia

Pada zaman awal pendidikan islam dilakukan di masjid-masjid. Mahmud Yunus menjelaskan di dalam buku Metodologi Studi Islam karya Drs. Atang Abd. Hakim, MA. Dan Dr. Jaih Mubarok dijelaskan bahwa pusat-pusat studi islam klasik adalah Mekkah dan Madinah (Hijaz), Basrah dan Kuffah (Irak), Damaskus dan Palestina (Syam), dan Fistat   5 (Mesir). Madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman; madrasah Basrah dipelopori oleh Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik; madrasah Kuffah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan “Abd Allah bin Mas’ud; madrasah Damaskus (Syiria) dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda; sedangkan madrasah Fistat (Mesir) dipelopori oleh Abd Allah bin Amr bin ‘Ash. (Zaini Muchtarom, 1986: 71-5)

Dalam buku yang sama, dijelaskan bahwa pada masa islam berjaya, studi islam dipusatkan di ibukota negara yaitu bagdad. Di istana Dinasti Bani Abbas pada zaman al- Makmun (813-833), putra Harun al-Rasyid. Didirikan Bait al-Hikmah yang dipelopori khalifah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan wajah ganda: sebagai perpustakaan serta sebagai lembaga pendidikan (sekolah) dan penerjemahan karya-karya Yunani Kuno ke dalam bahasa Arab untuk melakukan akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan. ( Harun Nasution, I, 1985:68)

Selain itu juga di Eropa terdapat pusat kebudayaan yang merupakan tandingan bagdad, yaitu Universitas Cordova yang didirikan oleh Abd al-Rahman III (929-961 M.) dari Dinasti Umayah di Spanyol. Di Timur Islam, Bagdad, juga didirikan Madrasah Nizhamiah yang didirikan oleh Perdana Menteri  Nizham al-Muluk; dan di Kairo Mesir didirikan Universitas al-Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fatimiah dari kalangan Syiah. Untuk itu, pusat-pusat kebudayaan yang juga merupakan pusat studi islam pada zaman kejayaan islam adalah Bagdad, Mesir, dan Spanyol.  (Drs. Atang Abd. Hakim, MA. Dan Dr. Jaih Mubarok, 2004:10)

Studi islam sekarang ini juga berkembang hampir di seluruh negara di Dunia Islam maupun bukan negara islam. Di dunia islam seperti Universitas al-Azhar di Mesir dan Universitas Ummul Qura di Arab Saudi. Di Teheran didirikan Universitas Teheran. Di universitas ini, studi islam dilakukan dalam satu fakultas yang disebut Kulliyat Ilahiyyat (Fakultas Agama). Di Universitas Damaskus (Siria), studi islam ditampung dalam Kulliyat al-Syari’ah (Fakultas Syari’ah) yang di dalamnya terdapat program studi ushuluddin, tasawuf, dan sejenisnya.

BAB III

MODEL-MODEL STUDI ISLAM

3.1 Pengertian

Model-model keagamaan yang akan kami berikan disini adalah model yang disesuaikan antara penelitian agama dan penelitian hidup keagamaan. Jadi secara tidak langsung, model- model ini memperlihatkan model-model penelitian agama melalui pendekatan sosiologis.

Djamari, dosen pascasarjana IKIP Bandung, menjelaskan bahwa kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan, antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survei sampel, dan analisis isi1.

3.1.1 Analisis Sejarah

Sejarah tidak memusatkan perhatiannya pada bentuk peradaban pada tahap permulaan pada waktu tertentu (etnografi), tetapi menerangkan realitas masa kini, realitas yang berhubungan erat dengan kita, yang mempengaruhi gagasan dan prilaku kita. Supaya kita mengerti persoalan manusia sekarang, kita harus mempelajari sejarah masa silam. Dalam hal ini, sejarah hanya sebagai metode analisis atas atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain. Dengan menggunakan data historis, sejarawan cenderung menyajikan detail dari situasi kejadian. Sedangkan sosiolog lebih tertarik pada persoalan apakah situasi sosial tertentu diikuti oleh situasi sosial yang lain. Sosiolog mencari pola hubungan antara kejadian sosial dan karakteristik agama. Berikut beberapa pakar yang telah menggunakan analisis historis. a. Talcott Parson dan Bellah ketika ia menjelaskan evolusi agama b. Berger dalam uraiannya tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern c. Max Weber ketika ia menjelaskan sumbangan teologi Protestan terhadap lahirnya kapitalisme

3.1.2 Analisis Lintas Budaya

Dengan membandingkan pola-pola sosial keagamaan di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsur budaya tertentu atau kondisi sosio-kultural secara umum. Weber mencoba membuktikan teorinya tentang relasi antara etika Protestan dengan kebangkitan kapitalisme melalui kajian agama dan ekonomi di India dan China.

3.1.3 Eksperimen

Penelitian yang menggunakan eksperimen agak sulit dilakukan dalam penelitian agama. Namun, dalam beberapa hal, eksperimen dapat dilakukan dalam penelitian agama, misalnya untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model pendidikan agama. Darley dan Batson melakukan eksperimen di sekolah seminari, dengan mengukur pengaruh cerita- cerita dalam Injil terhadap perilaku siswa.

3.1.4 Observasi

Partisipatif Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religius. Orang yang diobservasi boleh mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi secara terang-terangan atau diam-diam. Di antara kelebihan penelitian ini adalah memungkinkannya pengamatan simbolik antar anggota kelompok secara mendalam. Adapun salah satu kelemahannya adalah terbatasnya data pada kemampuan observer. 3.1.5 Riset Survei dan Analisis Statistik Penelitian survei dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sampel dari suatu populasi. Sampel dapat berupa organisasi keagamaan atau penduduk suatu kota atau desa. Prosedur penelitian ini dinilai sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakkteristik keagamaan tertentu dengan sikap sosial atau atribut keagamaan tertentu 3.1.6 Analisis Isi Dengan metode ini, peneliti mencoba mencari keterangan dari tema-tema agama, baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks, dan yang lainnya. Umpamanya sikap kelompok keagamaan dianalisis dari substansi ajaran kelompok tersebut. (Djamari, 1993: 53-9)

BAB IV

ISLAMISTIS ORIENTALIS

4.1 Pengertian

Orientalisme adalah studi islam yang dilakukan oleh orang-orang barat. Kritikus orientalisme Edward W Said menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia barat Eropa.  Secara bahasa orientalisme berasal dari kata “orient” yang artinya “timur” secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa di timur” dan secara geografis  “hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya” orang yang menekuni dunia ketimuran disebut orientalis. Orientalisme adalah suatu faham atau aliran yang berkeinginan  menyelidiki  hal-hal yang berkaitan dengan bangsa timur beserta lingkungannya.

4.2 Latar Belakang

Munculnya Orientalisme  Salah satu penyebab munculnya orientalisme adalah perang salib yakni ketika terjadi pergesekan politik dan agama antara islam dan kristen barat di Palestina. Argumentasinya adalah permusuhan politik berkecamuk antara umat islam dan kristen selama pemerintahan Nuruddin Zanki dan Shalahudin al-Ayubi.   Karena pihak kristen sering mengalami kekalahan atas umat islam, maka dendam untuk membalas membara selama berabad-abad. Di sisi lain faktor lain yang memunculkan munculnya orientalisme untuk kepentingan Barat (Eropa) terhadap negara-negara Arab dan Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara, serta adanya juga kepentingan dari mereka dalam memahami adat istiadatdan agama, bangsa-bangsa jajahan yang tujuannya memperkuat kekuasaan dan dominasi mereka di bidang ekonomi pada bangsa-bangsa jajahan.

4.3 Dogma Orientalisme

Menurut Amien Rais di dalam buku Metodologi Studi Islam karya Didin Saefudin Buchori, sekurang-kurangnya terdapat enam dogma orientalisme. Pertama ada perbedaan mutlak dan sistematik antar Barat yang rasional, maju, manusiawi, dan superior dengan Timurg yang sesat, irrasional, terbelakang, dan inferior. Menurut anggapan mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manusia-penuh, sedangkan orang Asia-Afrika hanya bertaraf setengah-manusia.

Edward W Said menyatakan orientalisme memandang Timur sebagai suatu keberadaanya tidak hanya disuguhkan melainkan juga tetap tinggal pasti dalam waktu dan tempat bagi Barat. Seluruh periode sejarah budaya, politik, dan sosial Timur hanyalah dianggap sebagai tanggapan semata-mata terhadap Barat. Barat adalah pelaku (actor), sedangkan Timur hanyalah penanggap (reactor) yang pasif. Barat adlah penonton, penilai, dan juri bagi setiap tingkah laku timur.

Sikap-sikap orientalis kotemporer, lanjut Said (dalam buku yang sama), telah menguasai pers dan pikiran masyarakat. Orang-orang Arab, umpamanya, dianggap si hidung belang yang senang menerima suap yang kekayaanya merupakan penghinaan terang-terangan terhadap peradaban sejati. Selalu ada asumsi bahwa meskipun  konsumen Barat minoritas dari penduduk penduduk dunia, mereka berhak memiliki atau membelanjakan sebagian besar sumber daya dunia. Itu dikarenakan mereka manusia-manusia sejati yang berlainan dengan dunia Timur.

Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti nyata dari masyarakat Timur yang konkret dan riil. Kenyataanya dalam masalah ini, para orientalis tidak bisa mengelakkan tuduhan Edward W Said bahwa mereka tidak mau menyelidiki perubahan yang terjadi dalam masyarakat Timur, namun lebih mengutamakan isi teks-teks kuno sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual, tidak realistis. Philip K Hitti, umpamanya, mengatakan bahwa untuk mempelajari islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru karena, menurutnya, masyarakat islam yang sekarang ini masih persis sama dengan masyarakat islam Sembilan abad lalu.

Ketiga, Timur dianggap begitu lestari (tidak berubah-ubah), seragam, dan tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Karena itu menjadi tugas Barat untuk mendefinisikan apa sesungguhnya Timur itu, dengan cara sangat digeneralisasi, dan semua itu dianggap cukup “obyektif”.

Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu ditaklukan. Apabila seorang orientalis mempelajari islam dan umatnya, keempat dogma itu perlu ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.

Kelima, al-Qur’an bukanlah wahyu ilahi, melainkan hanyalah buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsure-unsur agama Yahudi, Kristen, dan tradisi Arab pra-Islam. Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa seorang orientalis bernama Chateaubriand, misalnya, buku karangan Muhammad. Al-Qur’an tidak memuat prinsip- prinsip peradaban maupun ajaran yang memperluhur watak manusia. Ia bahkan mengatakan, al-Qur’an tidak mengutuk tirani dan tidak menganjurkan cinta pada kemerdekaan.

Keenam, kesahihan atau otentitas semua hadis harus diragukan. Malah ada yang mengkritik syarat-syarat sahihnya hadis seperti yang dilakukan Joseph Schacht. Amin Rais menyindir bahwa disamping ada hadis riwayat Bukhari dan Muslim ada juga “hadis riwayat Joseph Schacht”.

4.4 Tujuan Orientalisme

Edward W Said kritik keras terhadap orientalisme. Menurutnya (di dalam buku Metodologi Studi Islam karya Didin Saefudin Buchori) orientalisme tidak terletak dalam suatu ruang hampa budaya; ia merupakan kenyataan politik dan budaya. Barat, tulis Said,   10 bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka ”jelaskan”.

Secara garis besar tujuan para orientalis menyajikan karya tulisannya terbagi tiga yaitu: pertama, untuk kepentingan penjajahan, ini jelas tergambar dari penelitian-penelitian yang serius yang dilakukan para orientalis. Contoh dalam kasus Indonesia, Snouck Hurgronye begitu jelas. Nama ini, oleh pemerintah belanda  diberi kepercayaan untuk mengkaji  Islam sedalam-dalamnya sehingga sempat menetap di Mekkah bertahun-tahun. Namun tujuan pengkajiannya tidak lain kecuali untuk melemahkan perlawanan umat Islam terhadap Belanda serta mengobrak-abrik pertahanan dan persatuan kaum Muslimin dengan politik belah bambunya. Kedua, untuk kepentingan agama mereka, ini juga jelas karena semua penjajah yang menguasai negara-negara Muslim adalah berlatar belakang agama Kristen. Sekalipun ada teori bahwa para kolonialis tidak berambisi mengkristenkan penduduk, namun setidak- tidaknya para penginjil telah menemukan momentumnya dengan membonceng pihak kolonialis untuk menyebarkan Kristen ke tengah penduduk. Ketiga, untuk kepentingan ilmu pengetahuan; memang para orientalis berasal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran. Hampir di setiap universitas di Amerika selalu ada pusat-pusat kajian ketimuran seperti pusat kajian ketimuran seperti pusat kajian Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Selatan.  Tujuan yang ketiga dapat menghasilkan kesimpulan yang netral dan fair tentang Islam sekalipun demi kenetralan ilmu mereka juga dapat member kesimpulan kurang fair tentang Islam. Tujuan pertama dan kedua sudah pasti akan menghasilkan penilaian yang miring, bias dan tidak fair tentang Islam demi kepentingan colonial dan ekspansi agama merdeka.

4.5 Pro Kontra terhadap Orientalisme

Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap orientalisme. Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrem dan menolak seluruh karya orientalis. Bahkan diantara mereka ada yang secara emosional bahwa orang Islam yang mempelajari karya orientalis termasuk antek zionis8.

Mereka mempunyai argumen bahwa orintalisme bersumber pada ide-ide Kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bertujuan menyerang benteng pertahanan Islam dalam. Karena pada fakktanya tidak sedikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan Islam. H.A.R.Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karang Nabi Muhammad; juga menanamkan Islam sebagai Mohammedanism, Gibb mencoba menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal ia tahu persis tak ada seorang manusia Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad SAW.

Pandangan yang sepenuhnya negatif dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang   11 mempunyai ikatan yang sangat erat dengan kolonialisme Barat; kedua, orientalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan Kristenisasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapa dipertanggung jawabkan secara mutlak khusunya dalam mengutarakan kajian tentang Islam; keempat, orientalisme merupakan bentuk kajian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat utnuk melawan Islam10.

Sebagian lagi bersikap toleran dan meraka terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok bersikap sangat berlebihan, artinya semua karya tulis kaum orientalis dinilai sangat ilmiah sehingga bagi mereka seluruh karya orientalis sangat obyektif dan dapat dipercaya.

Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis. Mereka selalu berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya kaum orientalis yang berisi informasi dan analisis obyektif tentang Islam dan ummatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan Islam melainkan hanya sebagian kecil saja.

Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali. Sejumlah pemikir besar di Barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak diantara pengetahuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang11. Para orientalis dari Inggris seperti mendinag Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry berhasil menulis karya penting berupa penerjemahan karya-karya Islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh pembaca di Eropa.

Pada umumnya para orientalis itu benar-benar menekuni pekerjaan penerjemahan ini. Mereka yang cenderung membatasi cakupan pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang- kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat bermanfaat, informatif dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang benar dan berusaha menafsirkan Islam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia Islam berdasarkan pandangan-pandangan pribadi yang tidak cocok.

Yang paling jelek di antara mereka adalah para orientalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan kita dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap agama kita12. Kritik tajam, ilmiah dan berdampak pada dunia orientalisme datang dari Edward W Said dalam karyanya Orientalisme. Karya guru besar universitas Columbia, New York, ini telah menimbulkan kehebohan dan kontroversi di lingkungan dunia akademis Barat yang biasa disebuat kaum orientalis. Menurut Said, orientalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis, bahkan relijius. Secara politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia “oriental” bertujuan untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa tak   12 bisa lain berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan, tegasnya penyebaran kristen

4.6 Beberapa Contoh Orientalis

4.6.1 H.A.R. Gibb

Ia meninggal tahun 1971. Dulu mengajar di Oxford dan Harvard. Pendapat Gibb tentang Islam sering dianggap simpatik oleh kalagan Islam sendiri. Salah satu pendapatnya yang simpatik adalah ia menyatakan bahwa “Islam is indeed much more than a system of theology, it’s complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari satu sistem teologi, ia adalah peradaban yang sempurna). Tetapi menurut pengamatan Amien Rais, kalau diteliti dalam salah satu bukunya ia mengarahkan pembacanya supaya yakin bahwa pada zaman modern peranan Islam dalam kehidupan sosial pasti akan sirna. Secara ringkas argumennya adalah: sebagai agama dalam arti sempit, Islam hanya kehilangan sedikit kekuatannya. Namun sebagai penentu dalam kehidupan sosial di zaman modern, Islam sedang dicopot dari singgasananya. Dslam kehidupan modern terlalu banyak masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Dalam hal ini, tidak bisa berbuat apapun, kecuali menyerah pada keadaan, dan Islam akan ditelan oleh perkembangan zaman15.

4.6.2 Wilfred Cantwell Smith

Orientalis ini sering juga dianggap simpatik pada Islam. Bukunya Islam in Modern History sangat masyhur termasuk di negara kita. Menurut Smith, perkembangan yang paling menggembirakan dalam Islam sedang dialami oleh Islam India dan Turki. Tetapi bagaimana mungkin Smith bisa mengambil kesimpulan yang ahistorical? Islam sedang terbentur di samudra Hindunya India, dan sampai sekarang pun tetap jadi minoritas yang keadaannya sangat memprihatinkan, sedangkan Islam di Turki yang dimaksud adalah sisa-sisa Sekularisme Attaturk yang mengakibatkan luka-luka terlalu dalam.

  4.7 Studi Islam

Para Orientalis Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari paradifma berfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan kalau mereka begitu bebasnya menilai, mengkritik bahkan melucuti ajaran-ajaran Islam yang bagi kaum Muslim tabu untuk dipermasalahkan.  Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran Islam seperti sejarah, hukum, Qur’an, hadits, tasawuf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran. Di antara mereka ada yang mengaji Islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga yang hanya meneliti satu aspek saja. Philiph K Hitti, HAR Gibb, dan Montgomery Watt banyak memfokuskan pengkajian pada aspek sejarah Islam. Sementara Joseph Schact pada kajian Islam, David Power pada kajian Alquran, dan A.J Arberry pada aspek tasawuf.

4.8 Orientalis dan Islamisis

Akhir-akhir ini pengkajian Islam oleh orang-orang bukan Islam terus dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para pemikir Barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orientalis maka sekarang mereka tidak suka disebut orientalis. Sebutan yang mereka lebih sukai adalah Islamisis.  Menurut Azyumardi Azra kecendrungan mereka tidak ingin disebut orientalis muncul setelah kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme16. Dalam buku ini Said mengungkapkan secara tajam bias intelektual barat terhadap dunia timur (oriental) umunya, dan Islam serta dunia Muslim khususnya. Dengan tegar ia mengemukakan gugatan bahwa Barat bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka ‘jelaskan’.

4.9 Menggeledah Orientalis

4.9.1 Dakwah kenabian dan problem kewahyuan

Keprihatinan dan kedukalaraan Muhammad menghadapi segala jenis kesukaran di Mekkah pada periode Dakwah Kenabian (call to prophet), ungkap Watt, menyebabkan dia mencari keheningan. Di lereng sebuah bukit batu yang gersang terdapat sebuah Gua tempat dia kadang-kadang menyendiri dan tafakkur beberapa malam. Selama malam-malam yang sunyi sepi itu, dia mulai memperoleh kemenangan yang tidak pernah dirasakannya. Pengalaman yang tidak pernah dirasakan ini, lanjut Watt, adalah wahyu yang diperolehnya dalam “keadaan mimpi atau penglihatan Ruhani” (Dreams of Vission).

Gambaran Watt mengenai kondisi atau situasi sebelum Nabi menerima Wahyu memang tidak bisa kita salahkan. Tetapi ketika Watt menyatakan bahwa wahyu itu diperoleh saat Nabi dalam keadaan tidur (mimpi) ini tidak bisa dibenarkan. Sebab pertama, ketika beliau sedang mencari hakekat kebenaran Allah, wahyu itu turun secara tiba-tiba dan mengejutkan. Karena itulah, Nabi ketakutan, segera pulang menemui istri istri beliau, Siti Khadijah r.a.., dengan hati berdebar.

  Seandainya peristiwa itu terjadi dalam mimpi, tentu tidak ada ketakutan hebat setelah beliau bangun, dan tidak akan turun ayat (QS.53: 11-12). Sebab kedua, diriwayatkan Aisyah r.a., bahwa, turunnya wahyu kepada Rasulullah, sebelumnya diawali dengan mimpi yang benar pada saat beliau tidur. Dalam mimpi itu dilihatnya cahaya fajar pagi, kemudian (setelah bangun) beliau ingin berkhalwat. Nabi lalu pergi berkhalwat ke Gua Hira. Di sana beliau sembah sujud selama beberapa malam sebelum kembali kerumah untuk mengambil bekal. Hal tersebut beliau lakukan berulang-ilang, dan untuk itu Khadijah selalu menyediakan bekal untuk beliau, hingga akhirnya datang al-Haq, malaikat Jibril. Setelah peristiwa itu, Rasulullah pulang membawa firman tersebut dengan hati berdebar, lalu berkata kepada Khadijah: “Selimuti aku… selimuti aku”. Beliau segaera diselimuti. Tak lama kemudian beliau tidak merasa ketakutan lagi. Tak lama kemudian beliau tidak merasa ketakutan lagi. Kepada Khadijah beliau berkata: “Tidak Demi Allah, Tuhanmu tidak akan merendahkanmu…”   14 Jika peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan Nabi tersebut adalah suatu pengalaman mimpi, seperti  pernyataan Watt, maka itu mustahil. Al-Qur’an dengan jelas membantah orang-orang yang menyatakan turunnya wahyu melalui proses mimpi (QS. 21:5) Kepercayaan Muhammad bahwa wahyu datang kepadanya dari Tuhan, tulis Watt, tidaklah merintanginya menyusun kembali bahan-bahan tersebut, dan kalu tidak, memperbaikinya dengan pengurangan dan penambahan. Dalam al-Qur’an selanjutnya tulis Watt (di dalam buku DR. Lukman S.Thahir, MA. Studi Islam Interdisipliner ) terdapat beberapa isyarat pada Tuhan yang menyebabkan Muhammad lupa beberapa ayat, dan telaah yang mendalam terhadap teks, membuatnya hampir pasti bahwa kata-kata atau ungkapan- ungkapan tetentu ditambahkan.  Misalnya, tulis Watt (lagi) ajaran Islam ortodoks mengakui bahwa beberapa ayat al- Qur’an yang berisi aturan-aturan bagi kaum Muslimin diman-sukhkan (digantikan) oleh ayat- ayat yang datang kemudian, sehingga aturan-aturan semula tidak berlaku lagi. Menurut DR. Lukman S. Thahir memang benar apa yang dikatakan Watt, bahwa ada beberapa ayat dalam al-Qur’an yang dimansukhkan. Ini tidak dapat dipungkiri. Tetapi, penggantian yang dimaksud bukan atas imajinasi Nabi seperti tuduhan yang Watt, apalagi Nabi lupa dan menambahkan beberapa ayat, tetapi atas kehendak atau perintah Allah, melalui wahyu-Nya. Al-qur’an menjelaskan bahwa ketika orang-orang mekah mendesak Muhammad untuk mengubah doktrin al-quran sehhingga dapat mereka terima beliau menjawab: “hanya allah saja yang dapat membuat perbuatan itu sedang ia samasekali tidak berdaya (Qs.15 -16) di dalam al- Quran, banyak sekali bukti-bukti yang menunjukan bahwa ketika nabi  pada waktu wakt tertentu menginginkan perkembangan ke arah tertentu,ternyata wahyu allah menunjukan arah yang lain : “jangan gerakan lidahmu(sebelum menerima wahyu) dengan ceroboh karena mengharapkan wahyu seperti yang engkau inginkan sesungguhnya kamilah yang menghimpunkannya dan membacakannya. Jadi jika kamu di bacakannya(oleh jibril)hendaklah engkau turutin dan setelah itu kamilah yang berhak menjelaskannya”(Qs.75:16-19) dari keterangan diatas di katakan bahwa apa yang di tuduhkan oleh Watt,terhadap nabi tidak beralasan sama sekali ,sebab allah tidak memberikan otoritas pada nabi untuk merubah menambah atau menggantikan al-quran.

4.9.2 Kritik teks :antara pendekatan fenomenologi vis a vis pendekatan sejarah

Pembahasan-pembahasan  mengenai latar belakang (anteseden)  Yahudi-Kristen  di dalam al-Qur’an seringkali dilakukan oleh para orientalis guna membuktikan bahwa al- Qur’an adalah tidak lebih daripada gema agama Yahudi-Kristen. Watt, misalnya, dalam persoalan ini berkesimpulan, “Muhammad menerima pengetahuan dari konsepsi-konsepsi Bibel secara umum ( seperi jelas dari keterangan  beberapa bibel) dari lingkupan terpelajar Mekkah tertentu”. Artinya islam termasuk Yahudi-kristen, sebab ia timbul dalam lingkungan yang telah dimasuki gagasan-gagasan Bibel. Menanggapi pandangan Watt tersebut, barangkali ada baiknya penulis mengungkapkan pandangan fenomenolog agama, sebelum menjelaskan bagaimana pandangan islam itu sendiri. Dalam penelitian islam, (yang kami kutip dari buku dalam DR. Lukman S. Thahir) tulis J.E. Royster, dalam The Studi of Muhammad: “ A Survey of   15 Approaches from the Perspective of History and Phenomenology of Religion” dinyatakan bahwa tidak ada data yang bisa menghasilkan konklusi yang  sebenarnya selain data dari umat islam sendiri. Ini berarti, validitas suatu kesimpulan penelitian terhadap islam, maka data yang harus dipergunakan adalah al-Qur’an dan hadis, bukan sekadar reka-rekaan historis. Dalam persepektif Royster ini, kesalahan Watt adalah mengambil kesimpulan bahwa islam itu adalah tradisi Yahudi dan Kristen dengan berdasarkan pada kesamaan-kesamaan pada konsepsi Bibel, bukan berdasrkan esensi ajaran islam itu sendiri yang al-qur’an sendiri banyak mencela tradisi tersebut.

BAB V

KESIMPULAN

Ada beberapa hal yang menarik dalam bahan kajian yang penulis buat dalam bentuk makalah dalam tema pembahasan ini. Begitu banyak model-model studi islam dikembangkang untuk memahami khasanah keilmuan keislaman yang begitu luas. Bahkan kajian tentang ilmu-ilmu Islam ini bukan hanya dilakukan oleh kalangan di dalam Islam Sendiri melainkan setelah terjadinya perang antar Islam dan Kristen (salib) yang mau tidak mau pasti ada pertukaran kebudayaan serta ilmu pengetahuan dan lain sebagainya orang- orang Barat pun cenderung lebih tekun dalam meneliti dan mengkaji Islam. Terkadang dari kajian-kajian yang dilakukan oleh Barat pun terkesan memojokkan Islam, yang pada akhirnya mendeskreditkan agama tersebut melalui pandangan mereka yang subyektif dan terlalu otoriter dalam menggambarkan Timur dalam hal ini Islam. Oleh karena itu penulis melihat untuk membendung serangan-serangan argument para orientalis itu kita butuh pemahaman yang lebih terhadap Islam, sehingga apa yang dilakukan Barat terhadap kita bisa kita tepis dan kita kritik dengan argument yang kuat dan menyakitkan yang pada akhirnya melumpuhkan kesewenang-wenangan mereka

DAFTAR PUSTAKA 

1 : Atang Abdul Hakim & Jaih Mubarok, 2004, Metodologi Studi Islam, hal:64, remaja rosdakrya, Bandung Nasution, harun. Islam ditinjau  dari berbagai aspeknya. 2001. Universitas Indonesia. Jakarta Saefudin bukhori, didin. Metodologi Studi Islam. 2005. Granada Sarana Pustaka. Bogor W Said, Edward. Orientalisme. 2001. Penerbit pustaka. Bandung Abdul Hakim, atang dan Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam. 2004. PT Remaja Rosdakarya Offset. Bandung Thahir, Lukman S. Studi Islam Indispliner. 2004. Qirtas. Yogyakarta