AKHLAK NABI MUHAMMAD

Oleh: Harkaman

            Siapakah gerangan yang tidak mengakui kualitas akhlak Nabi yang begitu tinggi. Baik di kalangan umat Islam itu sendiri maupun di kalangan nonmuslim. Sebelum Nabi diutus untuk mengembang sebuah amanah dari Allah SWT, beliau sudah memperlihatkan betapa baiknya perangai dan tabiatnya, hingga mendapat gelar al-amin (orang yang terpercaya) oleh bangsa Arab. Dalam al-Qur’an sendiri disebutkan “Sungguh ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik)” (Q.S. al Ahzab : 21).

Beliau memperlakukan semua orang lain sama, tidak membeda-bedakan orang kaya dengan orang muskin, orang yang kuat dengan orang yang lemah, si kulit putih dengan si kulit hitam. Bahkan Nabi sendiri memperlakukan dirinya dengan sewajarnya, tidak sombong dan tidak melebih-lebihkan dirinya. Walau kita ketahui dia adalah seorang Rasul yang sangat mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT. Suatu ketika dalam sebuah pertemuan. Di mana para sahabat sudah mempersiapkan tempat duduk khusus untuk beliau, namun tempat itu tidak dipilihnya. Bahkan lebih memilih bergabung bersama orang-orang pada umumnya. Dalam menegakkan hukum Nabi juga tidak memandang dan tidak pernah berpihak kepada siapa pun. Muhammad Husain Thabatabai dalam bukunya “Inilah Islam” Nabi pernah mengatakan “Jika putriku Fatimah, yang paling aku cintai, mencuri, pasti aku akan memotong tangannya.”.

Nabi meman mempunyai karakter yang lembut, hatinya muda tergugah melihat penderitaan orang, murah hati, namun untuk persoalan hukum. Tidak akan segang-segang menegakkan kebenaran dan mengadili para pelaku kejahatan. Nabi sangat bijak dalam menetapkan sesuatu. Bukan hanya dalam persoalan hukum, akan tetapi dalam segala hal. Maka wajarlah jika al-Qur’an memujinya.

            “Dan sungguh kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.Al-Qalam:4)

Tidak hanya itu, diutusnya menjadi seorang Rasul yang menjadi wakil Allah SWT untuk mengantarkan manusia ke jalan yang lurus. Di sini tidak berarti diutusnya Nabi kepada umat islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia.

Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. alAnbiya’ : 107)

Sebagai kapala negara (khalifah) dan sebagai seorang Rasul yang memiliki otoritas tertinggi, beliau tidak bersikap berlebih-lebih sebagaimana para pemimpin saat ini. Pekerjaannnya diselesaikan sendiri, tidak membutuhkan pengawal dan keamanan yang harus selalu mejaganya di mana pun beliau akan pergi. Beliau bergaul dengan siapa saja, tidak memilah-milah mana orang miskin dan mana orang kaya. Sehingga sangat disegani oleh orang lain, orang-orang akan merasa nyaman apabilah berada di samaping Rasulullah. Jika beliau tidak ada di tengah-tengah suatu golongan atau sekelompok orang, maka kehadirannya sangat dinanti-nati. Dan selaku kepala Negara, benar-benar memberikan contoh yang sangat baik. Ketika ada permasalahan maka beliaulah yang akan pertama kali turun untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bertindak cepat dan tepat serta penuh dengan pertimbangan. Begitu juga dengan fasilitas negara, hanya dipergunakan untuk kepentingan negara saja. Sekarang kita bandingkan, penggunaan fasilitas pemerintah kita. Tidak sedikit kendaraan berpelat merah berkeliaran tidak pada tempatnya, atau fasilitas itu digunakan oleh keluarganya dan untuk kepentingan peribadi. Bukan kepentingan negara. Ya. Bagaiamana kita bisa maju jika pemimpin kita kurang adil dalam bertindak.

Di saat bertemu dengan orang lain beliau selalu mengucapkan salam dan tersenyum. Hubungan silaturahmi sangat dijaga, sikap menghormati dan soladaritas yang tinggi tidak dipertanyakan lagi. Tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak pernah meyela ketika ada orang yang sedag berbicara dan beliau juga penyimak yang baik, tidak akan berbicara sebelum lawan bicaranya selesai berbicara. Di kala berbicara tidak bertele-tele, tidak kemana-mana, tapi singkat dan padat. Kerena tepat pada sasaran, serta cara bicara Rasulullah sangat mudah dipahami. Ketika berbicara selalu mengungkapkan kata-kata yang benar, tidak pernah berdusta. Bahkan ketika ia bercanda. Dalam riwayat disebutkan, pernah suatu ketika nenek bertanya kepada “Wahai Rasulullah berikan kepadaku tentang syurga. Nabi menjawab “Tidak ada orang tua di dalamnya”. Seketika wajah nenek tersebut berubah penuh dengan kesedihan. Kemudian beliau menyambung jawabannya, karena orang yang berumur tua akan dibangkitkan menjadi muda.” Sebenarnya hal itu bukanlah sebuah gurauan karena tetap saja apa disampaikannya itu mengadung nilai kebenaran. Kita ketahui bersama bahwa segala perbuatan, ucapan, dan ketetapan Nabi merupakan wahyu dari Allah SWT. “Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya.”(QS. 53:3-4)

Sebenarnya untuk mengungkapkan karakter Nabi tidak akan selesai-selesai untuk dibahas, akan tetapi saya hanya memberikan pemaparan sesuai dengan pengetahuan yang sempat saya baca dalam buku-buku. Masih banyak lagi akhklak-ahklaknya yang mulia yang belum diungkapkan di sini, namun setidaknya dapat meberikan pencerahan kepada kita. Agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak penting terutama perbuatan yang dapat mengantarkan kita kepada jalan yang sesat.