Sholat Siapakah Yang Benar?

Oleh: Harkaman

            Sholat adalah ibadah yang wajib bagi umat Islam dan ini tidak ada perdebatan di kalangan ulama tentang penetapan hukum tersebut. Sholat merupakan ibadah yang paling istimewa karena langsung datang dari Allah SWT, di saat Nabi sedang melakukan perjalanan ke sdiratul muntaha atau di kenal dengan peristiwa isra’ dan mi’raj yang dilakukan pada suatu malam hingga menjelang subuh Nabi kembali ke dunia.

            Kita tahu puasa juga wajib, namun wajibnnya berbeda dengan sholat. Sholat haruslah dilakukan dalam kondisi apapun sehat ataupun sakit, siapa pun itu presiden ataupun rakyat, dan tidak memandang golongan kaya atau miskin. Allah memerintahkan kita untuk puasa, namun Allah juga berpuasa karena Dia tidak makan, memerintahkan untuk bersedekah, Dia pun senagntiasa memberikan rahmat dan kasih sayangnya kepada manusia, sedangkan sholat Allah tidak melakukannya dan hanya khusus bagi umat Islam.

            Apa yang saya ungkapkan di atas hanyalah sebuah pengantar, ada hal yang sangat penting ketimbang mengetahui hukum sholat dan faedah sholat yaitu pengetahuan tentang kebenaran gerakan sholat yang kita sedang apahami. Tidak sedikit kaum muslimin yang telah menumpahkan darahnya, karena berbeda pendapat terhadap gerakan sholat. Di dalam al-Qur’an hanyalah diterangkan sebuah perintah dan tidak dijelaskan tata cara pelaksanaan.

            “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukkulah beserta orang-orang yang rukuk”. (QS. Al-Baqarah: 43)

            Karena di dalam al-Qur’an tidak dijelaskan tata cara tersebut, maka datanglah hadits Nabi menjadi bayan (penejelas) terhadap ayat yang memerintahkan untuk mendirikan sholat. Dan sebuah hadits yang sangat populer di kalangan umat Islam yang menjadi dasar dan panduan untuk mendirikan sholat.

            “sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku”. (HR. Bukhori)

            Sahabat yang menyaksikan Nabi ketika sedang mendirikan sholat, kemudian memberitahukan kepada sahabat yang lain dan inilah dinamakan hadits fi’liyah (perbuatan Nabi). Akan tetapi Nabi tidak pernah mengatakan sholatlah kalian dengan cara bersedekap, tangan di atas dada atau tangan lurus. Dan Nabi tidak pula mengatakan sholatlah kalian seperti yang aku kerjakan. Perbedaan cara kita mendirikan sholat bukanlah sebuah persoaln yang harus diributkan apalagi samapai berselisih. Perbedaan itu juga muncul, karena para sahabat menyaksikan Nabi dalam sebuah keadaan yang berbeda-beda pula. Yang harus kita salahkan adalah orang-orang Islam yang tidak mengerjakan sholat. Pada hakikatnya mereka telah menentang Islam, karena sudah dietapkan kewajiban untuk mendrikan sholat tapi tidak dilakukan.

            Lagi-lagi kita selalu berdebat pada persoalan fiqh, tidak tahukah kita bahwa ini adalah wilayah ijtihadi dan fiqh ini terkadang bersifat kontemporer. Berbeda dengan persoalan aqidah, dari dulu hingga sekarang Tuhan umat Islam harus satu yaitu Allah SWT dan nabi-Nya adalah Muhammad SAW. Banyak  permasalahan besar yang harus kita selesaikan, bukan perbedaan sholat yang harus kita ributkan setiap hari yang hanya menghabiskan waktu kita dan berpaling dari masalah yang sebenarnya.

            Saya terkadang heran melihat orang-orang yang begitu mudahnya menyalahkan orang lain seakan-akan sudah ahli dalam bidang fiqh dan menduduki posisi mujtahid. Sadarkah kita orang seperti ini telah melanggar sunnah Nabi, karena Nabi tidak pernah melakukan hal seperti itu, apalagi mempunyai sifat yang fanatik. Kembali kepada pembahasan sholat, dirikanlah sholat menurut keyakinan kita masing-masing, baik itu beraliran ahlu sunnah wal jama’ah, wahabi salafi ataupun syi’ah. Tidak sepantasanya perbedaan cara mendirikan sholat ini, lantas merusak hubungan tali silaturahim dan memutuskan tali persaudaraan umat Islam. Satu hal harus selalu diingat bahwa kita umat yang satu, umat yang sama yaitu umat Islam, Tuhan yang sama yaitu Allah SWT dan Nabi yang sama yaitu baginda Muhammad SAW.