ISLAM DAN SEJARAH “Sejarah Yang Benar”

Oleh: Harkaman

                        Mungkin anda mulai meraba-raba dari judul tersebut di atas dan mulai menebak apa yang akan saya akan kemukakan dalam tulisan ini. Dalam kesempatan ini saya tidak berbicara tentang sejarah pada umunya. Membahas sejarah-sejarah Islam yang beberapa abad yang lalu, tidak akan membahas esensial Islam ataupun yang berkaitan dengan esensi sejarah sebuah sejarah.

            Pembahasan tentang sejarah pada umumnya yang seringkali kita temui membahas tentang peradaban ataupun kebudayaan Islam. Seperti yang dijadikan sebuah suatu pelajaran khusus di sekolah dan diperguruan tinggi. Saya hanya ingin mengajak bagaimana memahami sejarah yang sebenarnya dan bagaimana merenspon sebuah kebenaran sejarah. Mengingat sejarah adalah tumpuhan utama dalam mencari akar keilmuan dalam Islam.

            Realitas umat yang tak henti-hentinya saling membenci dan mengkafirkan terlebih lagi mengklem diri merekalah yang paling benar. Kenapa perpecahan terjadi? Karena faktor sejarah yang mereka temui berbeda. Tokoh Islam yang mereka yakini berbeda dengan tokoh Islam yang lainnya yang juga dipahami sebagai tokoh yang benar pada suatu kelompok. Lebih khusus lagi masuk pada persoalan mazhab yang memiliki hukum, yang berbeda. Namun tidak berarti mereka tidak mempunyai banyak kesamaan. Sebagaimana yang dikemukan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukumnya “Sunni-Syi’ah Bergabndengan Tangan”. Buku tersebut mengungkap kesamaan di antara sunni dan syi’ah. Namun sayangnya kita tidak melanjutkan pembahasan kesamaan tersebut, hanya sekadar pelengkap.

            Menurut Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya  “Al-Qur’an dan Realitas Umat” bahwa untuk merekonstruksi tentang masa ada dua pilar yang tidak boleh terlepas yaitu logika dan pengetahuan. Dengan logika yang dimiliki oleh seorang peneliti nantinya mampu memisahkan antara fakta dengan mitos (legenda). Di mana seorang sejarawan tidak boleh berat sebelah atau menjadi partisan pada suatu mazhab tertentu. Dan ini merupakan penyakit oleh sebagian sejarawan. Adapun pengetahuan yang luas merupakan faktor pendukung seorang sejarawan bagaimana bisa meneliti dengan baik tanpa didukung oleh pengetahuan yang dimiliki.

            Sejarah ditulis untuk siapa dan buat apa? Sangat tergantung pada peneliti, kebanyakan meneliti secara subjektif dibandingkan dengan sikap objektif. Karena terdapat kepentingan politik. Demi mendukung kekautan kelompok, maka dimodifikasilah sejarah. Seorang muslim yang sejati tentunya dengan logika dan pengetahuan yang dimiliki tidak boleh begitu terpengaruh terhadap tulisan-tulisan sejarah yang mengandung unsur pemecah belah ummat. Perselisishan timbul dari persolan ini, terlalu cepat menjastifikasi. Padahal sejarah itu tidak hanya satu versi, namun banyak versi. Dan untuk mendapatkan kebenaran, tentunya harus melihat semua versi itu.

            Sifat dari sejarah itu sendiri adalah kontemporer, maka dari itu sikap subjektif sulit untuk dilepas. Untuk memahami sejarah secara seratus persen dengan keontitan tingkat tinggi yaitu kembali ke zaman itu. Tapi hal itu tidak bisa kita lakukan, maka kebanaran sejarah diperoeh melalui jejak atau peninggalan orang-orang yang hidup di masa itu. Misalnya dari karya-karaya meraka. Persoalan ini sangat sensitiv. Kita tidak bisa secara serta merta menyalahkan oaring lain, bisa saja dia yang benar dan kita yang salah. Dan sebaliknya. Oleh karena itu, mau tidak mau harus meneliti dan mencari sumber sejarah sebanyak mungkin. Kemudian membandingkan mana yang paling kuat di antara mereka.

            Saya sangat perihatin melihat keaadan ummat yang mengedepankan ego mereka. Baru mendapat satu versi sejarah saja, sudah menganggap dirinya yang paling benar. Lagi-;agi ini sebuah penyakit dan ini tidak sama sekali mencerminkan sikap keislaman mereka. Padahal dalam al-Qur’an diperintahkan untuk selalu fatabayyanu  (teliti) terhadap berita yang datang kepada kita.

            Satu hal lagi, dalam mencari kebenaran khususnya sejarah. Cara narasumber yang jujur dan yang terpenting sumber tersebut bukan merupakan musuh dari apa yang kita ingin teliti. Misalnya untuk memahami sunni maka bertanyalah pada orang yang bermazhab sunni dan mencari referensi-referensi sunni pula. Atau ingin meneliti tentang syi’ah maka pakai referensi syi’ah. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah sebuah subjektifitas yang duperoleh. San merupakan penelitain yang dilakukan kepada orang lain dengan menggunakan orang lain pula, hasilnya hanya sok tahu. Inilah yang meraja lela di tengah-tengah ummat. Sunni menyalahan syi’ah dan syi’ah menyalahkan sunni. Kenapa karena referensi mereka tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Logikanya tidak masuk, kenapa kita mau menjelaskan rumah seseorang sedang kita hanyalah tetanggnya, apa mungkin kita mengatahui segala sesuatunya dengan jelas. Biarkanlah mereka menjelaskan dirinya sendiri. Dan itu lebih baik.