DINASTI-DINASTI DI DALAM ISLAM

“Dinasti Fathimiyah,Dinasti Al-Murabitun,Dinasti Muwahhidun, Dinasti Saljuk Besar,Dinasti Buwaihi, & Dinasti Aghlabiyah”

Oleh: Deni Gunawan & Febi Febriansya

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Sebagaimana mahasiswa yang lain di kelas A STFI SADRA program S1 yang mendapatkan tugas untuk membuat makalah dalam mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, kami pun mendapatkan tugas yang sama untuk membuat makalah tersebut. Maka latar belakang penulisan utama makalah ini adalah untuk menunaikan kewajiban tersebut sebagai syarat dalam mengikuti  perkuliahan dalam mata kuliah Sejarah Peradaban Islam .

Namun, selain  latar belakang utama tadi, sejatinya kami melihat bahwa tujuan kami menulis makalah ini juga untuk memperkaya khasanah keilmuan keislaman kami, dalam hal ilmu pengetahuan terutama dalam Sejarah Peradaban Islam. Untuk itu, sebenarnya bukan hanya karena didasari motif untuk menunaikan kewajiban kami dalam mata kuliah ini, namun kami melihat bahwa Sejarah Peradaban Islam, sungguh menarik untuk dikaji.

Namun untuk berbicara masalah Sejarah Peradaban Islam, tentu tidak akan cukup kiranya untuk membahas keseluruhan dalam satu makalah ini. Maka ,Sejarah Peradaban Islam yang kami bahas dalam makalah ini adalah lebih kepada pembahasan Sejarah dinasti-dinasti lain dalam islam. Tentu materi ini  bukanlah materi yang kami pilih sendiri, namun telah ditentukan sebelumnya oleh dosen pengajar.

Walaupun materi ini ditentukan tidak lantas kami merasa bahwa apa yang akan kami bahas dalam makalah ini, adalah sebuah kewajiban sehingga memaksa kami untuk membuatnya sehingga menghilangkan makna utama dalam pembuatan makalah ini. Tentu tidak demikian, berbicara masalah Sejarah Peradaban Islam, tentu  tidak terlepas dengan apa yang terjadi dalam perjalanan sejarah kaum muslimin. Yang diantaranya adalah dinasti-dinasti lain dalam dunia islam yang pernah ada dan berkembang pada masanya.

Dikatakan dinasti-dinasti lain dalam islam, bukan karena ajaran mereka yang berbeda dalam islam, sehingga dikatakan lain, namun dinasti-dinasti lain ini adalah dinasti-dinasti selain dinasti besar yang umumnya telah kita ketahui bersama, yaitu: Dinasti Bani Umayah I dan II dan juga Dinasti Abbasiyah selain itu ada juga dinasti Monggol, Safawiyah dan Turki Usmani. Dinasti-dinasti lain yang kami bahas dalam makalah ini adalah, Dinasti Buwaihi, Salajikah, Aghlabiyah, Fathimiyah, Ayyubiyah, Murabithun, dan Muwahidun.

Selain dinasti-dinasti besar tadi, dinasti-dinasti lain tersebut memiliki sejarah dan peradaban bagi agama Islam. Itu bisa kita lihat bagaimana dinasti lain tersebut contohnya Dinasti Fathimiyah diwilayah Afrika bagian utara tepatnya di Mesir, meninggalkan peradaban yang begitu luar biasa dibidang ilmu pengetahuan dengan meninggalkan jejaknya sampai sekarang berupa sebuah pusat pendidikan dan kajian islam pada waktu itu yang bernama Al-azhar yang sekarang menjadi Universitas islam Al-azhar, dan ini merupakan  Universitas pertama didunia yang artinya bahwa dinasti lain (Fathimiyah) ini juga  memiliki peradaban yang besar.

Dan dinasti-dinasti lain yang kami maksud selain Fathimiyah, juga memiliki sejarah peradaban yang luar biasa terhadap manusia dan islam pada khususnya. Untuk itu, pada bab berikutnya akan kami bahas dalam makalah ini keluarbiasaan masing-masing dari dinasti-dinasti lain tersebut. Jelas sudah, selain memang  didasari sebuah kewajiban untuk menyelesaikan tugas makalah ini, ada sisi lain yang menarik bagi kami untuk menyelesaikan makalah ini secara holistik. Karena memang pembahasan ini sangat membuat kami merasa kagum dan terkejut atas peradaban yang dibentuk oleh masing-masing dinasti lain tersebut. Maka kami merasa menikmati kewajiban ini sebagai sebuah gairah keilmuan khususnya dalam mengkaji keilmuan islam.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami hanya memfokuskan pada poin-poin sebagai berikut:

1. Bagaimana dan apa saja peranan dinasti Fathimiyyah dalam memebentuk Sejarah Peradaban Islam?

2. Bagaimana dan apa saja peranan dinasti Al-Murabitun dan Muwahidun dalam memebentuk Sejarah Peradaban Islam?

3. Bagaimana dan apa saja peranan dinasti dalam Ayyubiyah memebentuk Sejarah Peradaban Islam?

4. Bagaimana dan apa saja peranan dinasti Salajikah dan Buwaihi dalam memebentuk Sejarah Peradaban Islam?

5. Bagaimana dan apa saja peranan dinasti Aghlabiyah dalam memebentuk Sejarah Peradaban Islam?

1.3 Tujuan

Ada beberapa tujuan yang kami tuju dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:

1. Menyelesaikan kewajiban dalam mata kuliah sejarah peradaban islam

2. Menambah wawasan penulis dan pembaca tentang sejarah dinasti-dinasti lain islam.

3. Bisa menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin mengetahui Sejarah Peradaban dinasti-dinastin lain islam tersebut

 

BAB II

DINASTI-DINASTI

2.1             DINASTI FATHIMIYAH

Wilayah kekuasaan Dinasti Faathimiyah (909-1171 M) meliputi Afrika Utara, Mesir dan Suriah.Berdirinya Dinasti Fathimiyah dilatar belakangi oleh lemahnya Dinasti Abbasiyah dinasti fathimiyah yang lepas dari kekuasaan Abbasiyah. Dinasti ini mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Al-Aziz. Kebudayaan islam berkembang pesat pada masa dinasti fathimiyah yang ditandai dengan bedirinya Masjid Al-Azhar. Masjid ini berfungsi sebagai pusat pengkajian islam dan pengetahuan. Dinasti Fathimiyah berakhir setelah Al-Adid, khalifah terakhir setelah dinasti Fathimiyah, jatuh sakit. Shallahudi Ayyubi, wazir dinasti Fathimiyah menggunakan kesempatan tersebut dengan mengakui kekuasan khalifah Abbasiyah, Al-mustahdi. Sekarang terkenal dengan Universitas Al-Azhar, Bab Al-futuh (benteng Al-futuh) dan Masjid Al-Ahmar di Kairo,Mesir.

Dinasti ini mengklaim sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulullah. Menurut mereka Abdullah Al-mahdi sebagai pendiri dinasti ini merupakan cucu Ismail bin ja’far Ash-shadiq. Sedangkan Ismail merupakan imam Syi’ah yang ketujuh.

Setelah Imam Ja’far Ash-shadiq wafat, Syiah terpecah menjadi dua cabang. Cabang pertama meyakini Musa Al-Khazim sebagai Imam ketujuh pengganti Imam Ja’far, sedang cabang lainnya memmpercai Ismail bin Muhammad Al-Maktum sebagai Imam Syi’ah Ismailiyah. Syiah Ismailiyah tidak menampakan gerakannya secara jelas sehingga muncullah Abdullah bin Maimun yang membentuk syiah Ismailiyah sebaggai sebuah sistem gerakan politik keagamaan. Ia berjuang mengorganisir propaganda Syiah ismailiyah dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fhatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syi’ah Ismailiah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fathimiyah di Afrika dan kemudian berpindah ke Mesir.

Sebelum abdullah bin Maimun wafat pada tahun 874 M, ia menujuk pengikutnya yang paling bersemangat yakni Abdullah Al-Husain sebagai pemimpin Syiah Ismailiyah. Ia adalah orang Yaman asli sampai dengan abad kesembilan ia mengklaim diri sebagai wakil Al-Mahdi. Ia menyebrang ke Afrika Utara, dan berkat propagandanya yang bersemangat ia berhasil menarik simpatisan suku Barbar, khusunya dari kalangan Khitamah menjadi pengikut setia gerakan Ahli Bait ini. Pada saat itu penguasa Afrika Utara, yakni Ibrahim bin Muhamad, berusaha menekan usaha ismailiyaah ini namun usahanya sia-sia. Ziyadatullah putranya dan pengganti Ibrahim bin Muhammad tidak berhasil menekan gerakan ini.

Setelah berhasil menegakkan pengaruhnya di afrika Utara, Abu Abdullah Al-Husain menulis surat kepada Imam Ismailiyah, yakni Sa’id bin Husain As-Salamiyah agar sgera berangkat ke Afrika Utara untuk menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi gerakan Ismailiyah. Said mengabulkan undangan tersebut, dan ia memproklamirkan dirinya sebagai putra Muhammad Al-habib, seorang cucu Imam Ismail. Setelah berhasil merebut kekuasaan Ziyadatullah, ia memproklamirkan dirinya sebagai pemimpin tertinggi gerakan Ismailiyah. Selanjutnya gerakan ini berhasil menduduki tunis, pusat pemerintahan Dinasti Aghlabiyah , pada tahun 909 M, dan sekaligus pengusir penguasa Aghlabiyah yang terakhir, yakni Ziyadutullah. Said kemudian memproklamirkan diri sebagai Imam dengan gelar “Ubaidullah Al-Mahdi”. Dangan demikian, terbentuklah pemerintah dinasti Fathimiyah di Afrika Utara dengan Al-Mahdi sebagai khalifah pertamanya. Adapun para penguasa Dinasti Fathimiyah adalah sebagai berikut.

2.1.1        Al-Mahdi (934-949 M)

Al-Mahdi merupakan penguasa Fathimiyah yang cakap. Dua tahun semenjak penobatanya, ia menghukum mati pimpinan propagandanya yakni Abu Abdullah Al-Husain karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya yang bernama Abul Abbas   untuk melancarkan perebutan kekuasaan Khalifah. Kemudian Al-Mahdi melancarkan gerakan perluasan willayah kekuasaan keseluruh Afirika yang terbentang di Mesir saampai diwilayah Fes di Maroko.

Al-Mahdi ingin menaklukan Spanyol dari kekuasan Spanyol dari kekuasan Umayah. Oleh karena itu ia menerima hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Muhammad bin Hafsun, pimpinan pergerakan pemberontakan di kota Spanyol. Namun ambisinya ini belum berhasil sampai ia meninggal dunia pada tahun 934 M.

2.1.2        Al-Qa’im(934-949 M)

Al-Mahdi digantikan oleh putranya yang tertua bernama Abul Qasim dan bergelar Al-Qa’im. Ia meneruskan gerakan ekspansi yang telah dimulai oleh ayahnya. Pada tahun 934 M, ia mengerahkan pasukan jumlah besar kedaerah selatan pantai Perancis. Pasukan ini berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria. Mereka melancarkan pembunuhan, penyiksaan, pembakaran kapal-kapal, dan merampas budak-budak. Al-Qaim merupakan perajurit pemberani, hampir setiap ekspedisi militer dipimpinnya secara lansung. Ia merupakan Khalifah Fathimiyah pertama yang menguasai lautan Tengah. Al-Qaim meninggal pada tahun 946 M, ketika itu terjadi pemberontakan di Susa’ yang dipimpin oleh Abu yazid. Al-Qaim digantikan putranya Al-Manshur.

Al-Manshur adaalah pemuda yang sangat lincah. Ia berhasil menghancurkan kekuatan Abu Yazid. Al-Manshur membangun kota di wilayah perbatasan Susa’ yang diberi nama Al-Mansuriah.

2.1.3        Mu’iz Lidinillah (965-975 M)

Ketika Al-Manshur meninggal, putranya yang bernama Abu Tamim Ma’ad menggantikan kedudukannya sebagai khalifah dengan bergelar Mu’iz Lidinillah. Penobatan Mu’iz sebagai khalifah keempat menandai era baru dinasti Fathimiyah. Banyak keberhasilan yang dicapainya. Pertama kali ia menetapkan untuk mengadakan peninjauan keseluruh wilayah kekuasaannya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya ia menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh demi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Ia menghadapinya secara tuntas sehingga musuh tunduk.  Muiz menempuh kebijakan damai terhadap para pimpinan dan gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada mereka yang menunjukan loyalitasnya. Oleh karena itu dalam tempo singkat masyarakat makmur.

Ketika di Spanyol terjadi permusuhan antara Abdurrahman III dan penguasa Franka, maka Mu’iz memanfa’atkan kesempatan ini dengan mengerahkan ekspansi militer ke Maroko dengan pimpinan Jauhar. Gubernur Umayah gagal mempertahankan wilayah ini sehingga Maroko diduduki pasukan Mu’iz.

Peaklukan atas Maroko ini menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan antara dua pemerintahan muslim yaitu Dinasti Umayah dan Fatimiyah. Beberapa tahun kemudian Maroko dapat direbut kembali oleh Abdurahman III. Pihak Fathimiyah kemudian melancarkan serangan ke wilayah pantai Spanyol dibawah pimpinan Hasan bin Ali. Abdurahman membalas serangan ini dengan mengepung dan melancarkan wilayah perbatasan Susa’. Pihak Romawi memanfaatkan kesempatan ini dengan menyerbu Creta dan berhasil mendudukinya pada tahun 967 M. Oleh karena itu Creta yang diduduki umat Islam semenjak khalifah Al-Makmun menjadi lepas.

Penaklukan Mesir merupakan cita-cita terbesar gerakan ekspansi Mu’iz. Mu’iz telah lama menanti datangnya cita-cita itu. Maka ketika Mesir dilanda kerusuhan pada tahun 968 M. Mu’iz segera memerintahkan Jauhar untuk mengerahkan pasukan menaklukan Mesir. Dan akhirnya dapat dikuasai. Jauhar segera membangun kota Fustat menjadi kota baru dengan nama Qhairah (kairo). Semenjak 973 M kota ini dijadikan ibu kota pemerintahan Dinasti Fhatimiyah. Selanjutnya Mu’iz mendirikn masjid Al-Azhar. Masjid ini oleh Khalifah Al-Aziz dijadikan sebagai pendidikan tinggi Al-Azhar. Universitas Al-Azhar yang berkembang saat ini bermula dari pendidikan tinggi ini.

Khalifah Mu’iz meninggal pada tahun 975 M, setelah memerintah selama 23 tahun. Ia merupakan khalifah terbesar. Ia adalah pendiri Dinasti Fathimiyah di Mesir. Kecakapannya sebagai negarawan terbukti oleh perubahan Fatimiyah sebagai dinasti kecil menjadi imperium besar. Menurut Sayid Amar Ali, ketenaran Mu’iz dalam bidang pendidikan dan pengetahuan sebanding dengan khalifah Al-Makmun yang berhasil membawa kemakmuran dan kemajuan peradaban Afrika Utara. Muiz bukan saja orang yang berpendidikan tinggi tetapi pandai dibidang syair dan kesustraan Arab, ia juga menguasai beberapa bahasa dan fasih berpidato.

2.1.4        Al-Aziz

Al-Aziz menggantikan kedudukan ayahnya, Mu’iz. Ia termasuk khalifah yang bijaksana dan pemurah. Kemajuan imperium Fathimiyah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan ini. Pembangunan fisik dan arsitektur merupakan lambang kemajuan pada masa ini.

Ia meninggal pada tahun 996 M, dan bersamaan dengan inilah berakhirlah kejayaan Dinasti Fathimiyah.

2.1.5        Al-Hakim (996-1021 M)

Sepeninggal Al-aziz, khalifah Fathimiyah dijabat oleh anaknya yang bernama Abu Al-Manshur Al-Hakim. Pemerintahan Al-Hakim ditandai dengan sejumlah kekejaman. Ia menghukum mati pejabat-pejabat yang cakap tanpa alasan yang jelas. Dalam sepuluh tahun masa pemerintahannya, kaum Yahudi merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga negara sehingga merekapun mengadakan perlawanan. Al-Hakim segera mengeluarkan maklumat umum untuk menghancurkan seluruh gereja kristen di Mesir dan menyita tanah kekayaan mereka. Menteri kristen dipaksa untuk menanda tangani maklumat tersebut. Kalangan kristen dipaksa memilih tiga alternatif,yaitu menjadi muslim atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib raksasa sebagai simbol kehancuran mereka.

Al-hakim adaah pribadi muslim yang taat. Ia pendiri sebuah tempat pemujaan suku aliran Druz di Lebanon, yang sampai sekarang masih ada. Al-hakim mendirikan sejumlah masjid, perguruan, dan pusat observatori di Syiria. Pada tahun 1306 M, ia menyelesaikan pembangunan Dar Al-Hikmah sebagai sarana penyebaran teologi syi’ah.

2.1.6        Az-Zahir (1021 -1036)

Al-hakim digantikan oleh putranya Abu Hasyim Ali yang bergelar Az-Zahir. Ia naik tahta pada usia 16 tahun, sehingga pusat kekuasaan dipegang oleh bibinya yang bernama Sit Al-Mulk. Sepeninggal bibinya, Az-Zahir menjadi raja boneka ditangan menterinya. Pada masaa pemerintahan ini rakyat menderita kekurangan bahan makanan dan harga barang tidak dapat terjangkau. Kondisi karena musibah banjir terus menerus.

Peristiwa yang paling terkenang pada masa ini adalah penyelesaian persengketaan keagamaan pada tahun 1025 dimana tokoh-tokoh mazhab Malikiyah diusir dari  Mesir. Sekalipun demikian, Az-Zahir cukup toleran terhadap kelompok Sunni. Ia bersedia membuat perjanjian  dengan kaisar Romawi, yakni kaisar Constatine VIII. Sang kaisar diizinkan kembali membangun gereja Yerussalem yang   roboh akibat kerusuhan yang terjadi d isana. Ia meninggal pada tahun 1036 M, setelah memerintah selama 16 tahun.

 

2.2  KEMAJUAN  PERADABAN PADA MASA DINASTI FATHIMIYAH.

2.2.1 Bidang administrasi.

Administrasi kepemerintahan Dinasti Fathimiyah secara garis besar tidak berbeda dengan Dinasti Abbasiyah. Sekalipun muncul beberapa jabatan yang berbeda. Khalifah menjabat sebagai kepala negara  baik dalam urusan dunia maupun spiritual.

Kementeriannya terbagi menjadi dua yaitu ahli pedang dan ahli pena. Selain  jabatan diluar istana, terdapat juga jabatan ditingkat daerah, yaitu Mesir, Syria, dan daerah-daerah di Asia kecil. Dalam bidang kemiliteran terbagi tiga jabatan pokok, yaitu Amir, petugas keamanan, dan berbagai resimen.

2.2.2        Kondisi sosial

Mayoritas khalifah Fathimiah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama nonmuslim. Mayoritas Khalifah Fathimiyah berpola hidup mewah dan santai. Dinasti Fathimiyah berhasil mendirikan negara yang sangat luas dan peradaban yang berlainan semacam ini di dunia Timur. Hal ini sangat menarik perhatian karena sistem administrasinya yang sangat baik sekali, aktivitas artistik, luasnya toleransi relijiusnya, efisiensi angkatan perang dan angkatan laut, kejujuran pengadilan, dan terutamanya perlindungan tehadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

2.2.3        Kemajuan ilmu pengetahuan dan kesusastraan.

Sumbangan Dinasti Fathimiyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak sebesar sumbangan Abbasiyah di Baghdad dan Umayah di Spanyol. Diantara para khalifah Fathimiyah adalah tokoh pendidikan dan orang yang berperadaban tinggi. Al-Aziz termasuk diantara khalifah yang mahir dalam bidang syair. Ia telah mengubah masjid Agung Al-Azhar menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi.

3.1 DINASTI AL-MURABITUN (448H/1056M-541H/1147M)

Al- Murabitun adalah sebuah nama dinasti Islam yang berkuasa di Magribi dan Spanyol. Asal usul dinasti ini berasal dari Lemtuna, salah satu anak dari suku Sahaja. Mereka adalah keturunan orang-orang Barbar Sahara dari kabilah Lamatunah, salah satu cabang dari Shanhajah. Mereka menamakan dirinya dengan Murabithun karena belajar dengan Abdullah bin Yasin di Ribath yang dia dirikan untuk tempat belajar dan beribadah di padang Sahara Maghrib. Mereka juga sering dikenal dengan Multsimin.

Abu Bakar bin Umar al- Lamatuni mengatur pasukan dan berjihad sehingga berhasil menaklukan Sus dan Mushadamah. Didalam pasukan itu ada anak pamannya yang bernama Yusuf bin Tasyafin  yang terus naik pamornya. Maka, akhirnya Abu Bakar menyerahkan kekuasaan padanya.

Dia adalah raja Barbar pertama yang memerintah Maghrib. Disebutkan dia adalah raja terbesar dimasanya.

            3.1.1 Bergabungnya Andalusia kedalam pemerintahan Murabhithun

Al-Mu’tamid bin Ibad, raja di Seville di Andalusia meminta bantuan padanya untuk melawan orang-orang Kristen Spanyol. Maka, dengan segera dia bergerak dengan pasukannya dan berhadapan dengan pasukan Kristen dibawah pimpinan raja mereka Franco VI. Yusuf berhasil mengalahkan mereka dengan kekalahan yang sangat telak pada Perang Zalaqoh yang sangat masyhur pada tahun 479 H /1086 M. Dia kemudian berhasil menguasai seluruh daerah Andalusia. Kemudian menghancurkan semua raja-raja kabilah yang kecil dan lemah itu. Maka, jadilah Andalusia berada dibawah pemerintah Murabithun.

Pemerintahan mereka di Maghrib memanjang dari Tunis disebelah Timur dan Lautan Atlantik disebelah Barat, serta Laut Tengah disebelah Utara hingga keperbatasan Sudan ke arah Selatan. Dia membangun kota Marikisy yang kemudian dijadikan sebagai ibukota pemerintahan oleh anaknya Ali bin Yusuf.

Dia melanjutkan jihad ayahnya dan berhasil mengalahkan orang-orang Kristen Spanyol pada Perang Iqlisy pada tahun 502 H/1108 M. Perang ini adalah perang terbesar setelah perang Zalaqoh. Setelah itu pemerintahan ini mengalami  kemunduran dan melemah hingga akhirnya dikalahkan oleh orang-orang Muwahhidun pada tahun 541 H/1147 M.

Pemimpin yang paling menonjol ada empat :

  • Yahya bin Umar (pendiri)

wafat tahun                                               448 H/1056 M.

  • Abu Bakar bin Umar                                 448-453 H/1056-1061 M.
  • Yusuf bin Tasyafin                                     453-500 H/1061-1160 M.
  • Ali bin Yusuf                                              500-537 H/1106-1142 M.

4.1 DINASTI MUWAHHIDUN

              Dinasti Muwahhidun berawal dari gerakan-gerakan agama-politik yang didirikan oleh seorang dari Berber. Dia adalah Muhammad ibn Tumar (1078-1130) dari suku Masmuda. Muhammad menyandang gelar simbolis al-Mahdi dan menyatakan diri sebagai Nabi yang diutus  untuk memulihkan Islam kepada bentuknya yang murni dan asli. Dia mengajarkan kepada sukunya dan suku liar lainnya di Maroko doktrin tauhid , keesaan Tuhan, dan konsep spiritual tentang Islam. Ini merupakan bentuk protes pada paham antropomorfisme berlebihan yang menyebar di kalangan umat Islam. Karena itu, pengikutnya disebut al-Muwahhidun. [1]

              Diceritakan pada waktu masih muda ia pernah memperkosa seorang wanita  saudara penguasa Murabitun ‘Ali ibn Yusuf di jalanan Fez karena ia berjalan-jalan tanpa memakai cadar. Pada tahun 1130, Ibn Tumar digantikan sahabat sekaligus jenderalnya, ‘Abd al-Mu’min ibn ‘Ali, anak seorang pembuat tembikar dari suku Zanatah. Dikatakan juga bahwa dinasti Muwahhidun sebagai dinasti terbesar yang pernah dilahirkan di Maroko, dan imperium besar yang tak ada bandingannya dalam sejarah Afrika.

         Sesuai dengan ajaran mereka yang mengangap bahwa ajaran merekalah yang sejati dari ajaran Islam yang sebenarnya, maka mereka melakukan peperangan ke seluruh Maroko, dan wilayah-wilayah sekitarnya, di beritakan bahwa pada tahun 1144-1146, ‘Abd al-Mu’min menghancurkan pasukan Murabitun dekat Talimcen, yang berhasil dikuasai beserta Fez, Ceuta, Tangier, dan Agmat; setelahmengepung Maroko selama 11 bulan diperkirakan tahun 1146-1147 ia berhasil mengahiri dinasti Murabitun. Dan  sejak saat itu Maroko berubah menjadi ibu kota dari dinasti Muwahhidun. Pada tahun 1145 ‘Abd al-Mu’min mengirim satu pasukan ke Spanyol yang pada waktu itu keadaan politik maupun sosial masyarakatnya sedang kacau dan antipati terhadap kepemimpinan penguasa pada waktu.[2]  Dalam waktu lima tahun pasukan yang dikirimnya berhasil berhasil menaklukan wilayah muslim di semenanjung itu, kecuali kepulauan Belearic yang disisakan di tangan penguasa Murabitun terakhir.

Kemudian ekspansi dilanjutkan pada tahun 1152 ke Aljazair, 1158 ke Tunisia, dan 1160 ke Tripoli. Dan  untuk pertama kalinya dalam sejarah Muslim seluruh pesisir Atlantik   hingga  ke Mesir dihimpun dengan Spanyol sebagai satu imperium independen. ‘Abdul al-Mu’min wafat pada 1163. Dan diteruskan oleh cucunya bernama Abu Yusuf al-Manshur (1184-1199) yang terkenal hebat dan tenar. Seperti  kebanyakan penguasa Berber lain, bahwa ia sendiri berasal dari keturunan budak Kristen.

Shalah al-Din pernah mengirim hadiah melaui duta yang ia kirim yang dipimpin oleh keponakannya Usamah ibn Muqidz, kepadanya yang (Saladin) mengakui khalifah Abbasiyah, dia mengirim 180 kapal laut untuk membantu kaum muslim berperang dalam perang salib. Banyak peninggalan-peninggalan pada masa al-Manshur yaitu monumen-monumen yang diklaim sebagai monumen paling luar biasa di Maroko ataupun Spanyol. Pada tahun 1170 ibu kota Muwahhidun dipindah ke Seville. Naiknya al-Manshur menjadi penguasa dengan ditandai dengan pendirian menara yang sekarang disebut Giralda sebagai pelengkap masjid besar (1172-1195), ia juga membangun Ribath al-Fath dan juga membangun rumah saki.

Para khalifah Muwahhidun  di Spanyol memfokuskan perhatian untuk memenagi perang suci melawan Kristen namun hal itu tak terwujud karena kalah telak dari Kristen yang membuat mereka terusir dari Las Navas de Tolosa pada 1212. Dan dari pertempuran itu dari 600.000 pasukan muslim yang lolos hanya 1000 yang selamat termasuk Al-Nashir yang menyelamatkan diri ke Maroko namun dua tahun setelahnya ia wafat, dengan demikian berakhirlah Dinasti Muwahhidun.

5.1 PEMERINTAHAN AYYUBIYAH DI MESIR, SYAM, DAN LAINNYA (567-648 H/1171-1250 M)       

Ayyubiyyun berasal dari keturunan Kurdi dan Azarbaijan yang melakukan migrasi ke Irak. Pendiri pemerintahan ini adalah Shalahudin Yusuf  bin Ayyub. Ayahnya Najmudin Ayyub adalah gubernur Tikrit. Kemudian dia dipindah ke Mushol, lalu ke Damaskus.

Salahuddin berhasil menyatukan satu kekuatan Islam yang sangat besar setelahnya sebelumnya kaum muslimin dilanda perpecahan dan penderitaan serta kelemahan. Dengan pasukan yang besar itu, dia mengahadapi kekuatan pasukan Salib dan berhasil menang atas mereka dengan kemenangan yang sangat telak  dalam perang Hiththin yang sangat terkenal pada tahun 583 H/1187 M. Dia berhasil kembali mengambil Baitul Maqdis dan mngusir oang-orang Salibih dari sebagian besar wilayah Syam setelah sebelumnya mereka berhasil menduduki wilayah Syam selama sembilan puluh tahun.

5.1.1          Batas-batas pemerintahan Salahudin

Selain Syam dan Mesir, negeri-negeri di pesisir Tharablis, Tunisia, Nawbah, Tunis, Hijaz, dan Yaman juga tunduk berada dibawah pemerintahan Salahudin.

5.1.2          Wafat dan sifatnya

Salahuddin wafat pada tahun 589 H/1193 M. Dia terkenal sebagai sultan yang adil, toleran, pemurah, zuhud, dan memiliki sifat Qana’ah.

        Tidak seorangpun yang memiliki sifat keturunan seperti dia. Sehingga, membuat pemerintahannya terus turun pamornya dan berakhir dengan kematian  rajanya yang terakhir al-Malik Saleh Najmudin .

6.1 DINASTI SALJUK BESAR (432-583 H/1040- 1187 H)

 6.1.1 perkembangan Saljuk       

            Orang-orang saljuk adalah keluarga besar al-Ghizz yang  besar dari Turki. Mereka menisbatkan dirinya kepada nenek moyang mereka yang bernama Saljuk bin Talqaq. Dia hidup di negeri Turkistan di bawah pemerintahan orang-orang Turki  yang menyembah berhala. Orang orang Samaniyun meminta bantuannya untuk mengusir orang-orang kafir Turki dari negeri mereka. Maka, dia membantu mereka dengan mengirimkan anaknya Arselan dan Setelah itu Mikail bin Arselan. Dia terus melanjutkan perang dengan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya.

Mikail digantikan oleh dua anaknya yang bernama Tughril Beik dan Daud Beik. Pemerintahan Samaniyah runtuh pada tahun 390 H/1000 M. Maka Tughril Beik menguasai Marw, Naisabur, Jurjan, Tabaristan, Karman, Khawarizm, Ashfahan dan wilayah-wilayah yang lain. Dia mengumumkan berdirinya negeri mereka pada tahun 432 H/1040 M. Orang-orang Saljuk membagi wilayah kekuasaan mereka yang luas itu menjadi beberapa wilayah dan memilih Tughril Beik sebagai  raja mereka secara keseluruhan dengan menjadikan Ray sebagai pusat pemerintahan.

6.1.2 Orang orang saljuk di Baghdad       

            Pada tahun 448 H/1056 M Tughril memasuki Baghdad dan al-Malik ar-Rahim, sultan terakhir pemerintahan Buwahiyun. Dengan demikian, berakhirlah pemerintahan Buwahiyun 

Dan berdirilah pemerintahan Saljuk sebuah pemerintahan beraliran Sunni yang besar. Pemerintahan ini berhasil menyelamatkan Baghdad dari orang-orang Buwahiyun yang beraliran Syi’ah Rafidhah sesat serta berhasil menyelamatkan khalifah Bani Abbasiyah dari gerakan Albasasiri yang menyimpang.

                6.1.3 Gerakan Albasasiri

AlBasasiri adalah salah seorang panglima perang yang berasal dari Turki yang menjadi pengikut al- Malik ar-Rahim. Dia telah membangkang atas tuannya dan terhadap Khalifah serta berusaha untuk mengambil kekuasaan. Maka khalifah Al-Qaim meminta bantuan kepada pemimpin Saljuk Tughril Beik yang saat itu datang ke Baghdag. Dia berhasil menumpas Albasasiri. Berkat keberhasilannya ini khalifah tunduk pada Tughril dan kokohlah kaki orang-orang Saljuk di Baghdad.

                Orang-orang Saljuk memperlakukan Khalifah dengan segala rasa hormat dan takzim serta penuh loyalitas. Para sejarawan menyebutkan bahwa sebab utama dari semua itu adalah adanya kesamaan mazhab. Sedangkan, menteri teragung dari orang-orang saljuk adalah menteri yang berasal dari Iran yang bernama Nizhamul Muluk bersama dengan ketujuh anak dan cucu-cucunya.

6.1.4 Pembaagian kekuasaan Saljuk  pada Lima Wilayah

  1. Saljuk Raya. Saljuk ini meliputi Khurasan, Raya, Irak, Jazirah Arab, Persia, dan Ahwaz.
  2.  Saljuk Karman.
  3. Saljuknirak dan Kurdistan (yang merupakan cabang dari Saljuk Raya)
  4. Saljuk Suriah
  5. Saljuk Romawi (Asia kecil)

 

 

6.1.5 Perbatasan Pemerintahn Saljuk

Mereka menguasai seluruh wilayah di Asia Tengah, Khurasan, Iran, Irak, Syam, Anatolia  (yakni wilayah-wilayah Samaniyun, Ghaznawi, Buwahiyun, dan Romawi).

6.1.6 Mundurnya pemerintahan Saljuk dan akhir pemerintahan mereka

Pemerintahn mereka menjadi lemah akibat adanya perang Salib, pemberontakan Hayasyin, dan adanya perpecahan internal karena luasnya wilayah dan berdirinya negeri-negeri kecil Atabik.

7.1 DINASTI BUWAIHI

Dikatakan bahwa fase yang bahkan lebih gelap dalam sejarah kekhalifahan dimulai pada Desember 945, ketika Khalifah al-Mustakfi 944-946 (khalifah dari dinasti Abbasiyah) di Baghdad menerima Ahmad ibn Buwaih yang  termasyhur dan mengangkatnya sebagai amir al-umara’ dengan gelar kehormatan Mu’iz al-Dawlah (orang yang memberi kemuliaan pada  Negara)[3].

Ayahnya adalah seorang yang suka berperang bernama Abu Syuja’. Ia merupakan pimpinan dari gerombolan yang suka berperang. Iya mempunyai tiga putra termasuk Ahmad, perlahan-lahan mereka menguasai jalan menuju selatan, Isfahan, Syiraz dengan provinsinya pada tahun 934 dua tahun kemudia menguasai provinsi-provinsi di Ahwaz (sekarang Kuzistan) dan Karman. Ahmad  meminta namanya disebut dalam hutbah jum’at dengan nama sang khalifah walaupun jabatannya hanya amir al-umara .

Pada bulan Januari 946, al-Mustakfi digulingkan oleh Mu’izz al-Dawlah yang kemudian memilih al-Mutsi (946-974) sebagai Khalifah baru. Maka festival-festival Syiah mulai diselenggarakan, terutama perayaan berkabung peringatan hari kematian al-Husain 10 Muharam, dan perayaan bergembira memperingati pengangkatan ‘Ali sebagai penerus Rasulullah di Ghadir al-Khumm. Pada periode ini bisa dikatakan sebagai periode paling buruk dan menyedihkan dalam kekhalifahan karena khalifah hanya sekedar formalitas belaka atau boneka di tangan amir al-umara yang suka memecah belah kaum muslim.

Ada yang mengatakan bahwa Buwaihi bukanlah yang pertama memangku gelar sultan sebagaimana banyak klaim dari sejarawan. Bahwa orang-orang buwaihi ini merasa cukup puas dengan gelar amir atau malik yang dibubuhkan pada julukan kehormatan seperti Mu’izz al-Dawlah, ‘Imad al-Dawlah (tiang Negara), dan Rukn al-Dawlah (pilar Negara). Semua gelar itu adalah gelar-gelar yang diberikan serantak kepada putra Buwaih oleh khalifah. Yang kemudian setelah mereka sebutan-sebutan angkuh itu menjadi kebiasaan.

Selain masa jaya mereka menaik turunkan khalifah  sekehendak hatinya (945-1055), Irak sebagai sebuah provinsi diperintah dari ibukota Buwaihi, Syiraz di Faris. Dar al-mamlakah adalah istana yang dibangun di Baghdad. Pusat pada masa itu bukan lagi sebagai pusat dunia muslim, karena keunggulan internasionalnya ditandingi oleh Syiraz, Ghaznah, kairo, dan Kordova. Kekuasaannya mencapai puncaknya pada masa kepemimpinan ‘Adud al-Dawlah (949-983) putra Rukn al-Dawlah. Dibawah kepemimpinannya 977 ia berhasil mempersatukan beberapa kerajaan kecil di Persia dan Irak. Sehingga membentuk Negara yang hamper membentuk imperium. Walaupun istananya di Syiraz namun ia tetap memperindah Baghdad, memperbaiki kanal-kanal, mendirikan masjid, membangunrumah sakit, juga membangun gedung-gedung publik. Ia  juga pernah membuat rumah suci yang disebut (masyhad) di atas makam ‘Ali. Ia juga bekerjasama dengan wajir Kristen untuk menciptakan perdamaian dengan cara memperbaiki gereja dan juga biara. Ia dikenal sebagai orang  yang peduli dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Ia juga mebangun observatorium terkenal meniru al-Ma’mun. setelah ia wafat ia digantikan anaknya Baha’ al-Dawlah (989-1012) yang pada 991 ia meruntuakan Khalifah al-Tha’i. tahun 993 ia mendirikan sebuah akademi di Baghdad lengkap dengan perpustakaan dengan menyimpan 10.000 buku.

Pertengkaran yang terjadi antara Baha’, Syaraf, dan saudara ke tiga mereka, Shamshan al-Dawlah,  juga pertikaian antara angota-anggota keluarga kerajaan untuk menentukan penerus mereka, dan fakta bahwa Buwaihi kecendrungan Syiah sehingga dibenci oleh orang Baghdad yang Sunni, yang menjadi sebab utama runtuhnya dinasti ini pada tahun 1055.

8.1  Dinasti Aghlabiyah

Aghlabiyah merupakan dinasti kecil pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah, yang para penguasanya adalah berasal dari keluarga Bani al-Aghlab, sehingga dinasti tersebut dinamakan Aghlabiyah. Dinasti Aghlabiyah adalah salah satu Dinasti Islam di Afrika Utara yang berkuasa selama kurang lebih l00 tahun (800-909 M). Wilayah kekuasaannya meliputi Ifriqiyah (Tunisia), Algeria dan Sisilia. Dinasti ini didirikan oleh Ibn Aghlab Ibn Salim, seorang pejabat Khurasan dalam militer Abbasiyah.

            Aglabiyah terbentuk pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid, ia   memberikan kewenangan kepada Ibrahim ibn Aghlab atas Provinsi Ifriqiyah, yang tujuannya untuk melemahkan dua kekuatan yang mengancam kekuasaan Abbasiyah pada waktu itu. Dua kekuatan itu adalah dinasti Idrisiyah (yang berpaham Syi’ah)  dan kedua dari golongan Khawarij. Dua kekuatan inilah yang dianggap mengancam oleh pemerintahan pada waktu itu, karena mereka semakin kuat. Setelah sukses mengamankan keadaan, Ibrahim bin al-Aghlab mengusulkan kepada Harun ar-Rasyid supaya wilayah tersebut dihadiahkan kepadanya dan anak keturunannya secara permanen. Ia berjanji jika hal itu dikabulkan ia akan selalu mengirim upeti ke Baghdad 40.000 dinar per tahun.

            Meskipun memiliki hak otonomi penuh atas wilayah tersebut, ia masih tetap mengakui kekhalifahan di Baghdad. Dinasti Aglabiyah berkuasa kurang lebih satu abad, mulai dari tahun 800-909 M. Pada tahun 800 M Ibrahim I diangkat sebagai gubernur (amir) di Tunisia oleh Khalifah Harun ar-Rasyid, karena ia sangat pandai menjaga hubungan dengan Khalifah Abbasiyah seperti membayar pajak tahunan yang besar, maka Ibrahimi I diberi kekuasaan oleh Khalifah, meliputi hak-hak otonomi yang besar seperti kebijaksanaan politik, termasuk menentukan penggantinya tanpa campur tangan dari penguasa Abbasiyah. Hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh antara Afrika Utara dengan Baghdad. Sehingga Aghlabiyah tidak terusik oleh pemerintahan Abbasiyah.

8.1.1 Kinerja Para  Khalifah Aglabiyah

Para penguasa Dinasti Aghlabiyah yang pernah memerintah adalah sebagai berikut:

1.    Ibrahim I Ibn al-Aghlab (800-812 M)

2.    Abdullah I (8l2-817 M)

3.    Ziyadatullah (817-838 M)

4.    Abu ‘Iqal al-Aghlab (838-841 M)

5.    Muhammad I(841-856 M)

6.    Ahmad (856-863 M)

7.    Ziyadatullah (863- M)

8.    Abu Ghasaniq Muhammad II (863-875 M)

9.    Ibrahim II (875-902 M)

10.  Abdullah II (902-903 M)

11.  11. Ziyadatullah III (903-909 M)

Adapun beberapa hal yang terbilang positif yang berhasil dilakukan oleh para pemimpin dinasti adalah:

  1. Penguasa Aghlabiyah pertama berhasil memadamkan gejolak Kharijiyah Berber di wilayah mereka.
  2.  Dilanjutkan dengan dimulainya proyek besar merebut Sisilia dari tangan Bizantium pada tahun 827 M di bawah Ziadatullah I yang amat cakap dan energik, dengan meredakan oposisi internal di Ifriqiyyah yang dilakukan Fuqaha (pemimpin–pemimpin religius) Maliki di Qayrawan (Cairovan). Disamping itu, suatu armada bajak laut dikerahkan, sehingga membuat Aghlabiyah unggul di Mediterania Tengah dan membuat mereka mampu mengusik pantai Italia Selatan, Sardinia, Corsica, dan Meriteran Alp. Kemudian Aghlabiah juga berhasil merebut Malta pada tahun 868 M. Daerah-daerah tersebut yang menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Aghlabiyah. Dengan demikian, pada tahun 878 M sempurnalah penguasaan atas Sisilia, yang kemudian pulau itu di bawah pemerintahan Muslim. Pertama di bawah kekuasaan Aghlabiyah dan kedua di bawah Gubernur-Gubernur Fathimiyah, sampai penaklukan oleh Norman pada abad XI. Pulau itu menjadi pusat bagi penyebaran kultur Islam ke Eropa.[4]

 

 

8.1.2 Peninggalan-peninggalan Bersejarah Dinasti Aghlabiyah  

                Ada beberapa peniggalan yang ditinggalkan oleh dinasti ini:

  1. Pembangunan kembali Masjid Agung Qayrawan oleh Ziyadatullah I;
  2.  Pembangunan Masjid Agung Tunis oleh Ahmad;
  3. Pembangunan karya-karya pertanian dan irigasi yang bermanfaat, khususnya di Ifriqiyah selatan yang kurang subur.

8.1.3 Kemunduran Dinasti Aghlabiyah

Menjelang akhir abad IX, posisi Aghlabiyah di Ifriqiyah merosot. Hal ini disebabkan karena amir terakhirnya yaitu Ziyadatullah III tenggelam dalam kemewahan (berfoya-foya), dan seluruh pembesarnya tertarik pada Syi’ah, juga propaganda Syi’iah, yaitu Abu Abdullah. Perintis Fatimiyah, Mahdi Ubaidillah mempunyai pengaruh yang cukup besar di Barbar, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan militer, dan Dinasti Aghlabiyah dikalahkan oleh Fatimiyah (909 M), Ziyadatullah III diusir ke Mesir setelah melakukan upaya-upaya yang sia-sia demi untuk mendapatkan bantuan dari Abbasiyah untuk menyelamatkan Aghlabiyah (Bosworth,1993:47).[5]

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari berbagai kondisi dinasti-dinasti kecil yang pernah ada dan memberikan pengaruhnya dalam perjalanan sejarah Islam. Banyak hal dapat dipelajari dari  perjalanan sejarah Islam tersebut, mulai dari dinasti Umayah, Abbasiyah yang dikatakan sebagai dinasti besar yang memberikan  pengaruh peradabannya  dalam Islam bahkan dunia, begitu juga dinasti-dinasti kecil yang pernah muncul dan menunjukan pengaruhnya.

Dari dinasti-dinasti itu mereka pernah mengalami masa jaya dan mundur, masa jaya mereka tidak terlepas dari cara pengelolaan system pemerintahan yang baik pada masa awal-awal terbentuk. Namun hal itu tak berlangsung lama karena masalah yang timbul dalam internal dan luar dari kekuasaan mereka. Beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan mereka hancur adalah karena ketidak cakapan beberapa khalifah yang memimpin, selain itu juga mereka lalai terhadap tugas mereka sebagai khalifah yang seharusnya berlaku adil dan bijaksana dalam mengelola negaranya.

Selain hal itu juga, factor yang membuat masa Islam jaya di bawah kekuasaan dinasti-dinasti kecil itu menjadi runtuh adalah, karena sesama dinasti-dinasti Islam pada masa itu sering antar dinasti yang ada saling menjatuhkan dan menghancurkan satu sama lain, yang hal itu menjadi titik lemah pemerintahan Islam. Dan kelemahan itulah yang dimanfaatkan oleh pihak luar (Kristen pada masa perang salib) untuk menghancurkan Kekuasaan Islam di berbagai wilayah kekuasaannya, yang menyebabkanIslam harus puas dan menderita atas fakta kekalahan mutlak dari musuh-musuhnya, yang membuat Islam harus pergi atau menganakat kaki dari kekuasaannya semula dan rela peninggalan-peninggalan peradabannya dimusnahkan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Munir Amin, Samsul, 2010. sejarah peradaban islam: Amzah

Hitti K, Philip, 2002, history of the arabs: Jakarta, Serambi

Prof. Dr.Hamka, 2005, Sejarah Umat Islam: Pte. Ltd. Singapore, Pustaka Nasional

Ahmad al-Usairy, 2008,Sejarah Isam: Jakarta, Akbar

Internet


[1] Philip K. Hitti,history of the Arabs, hal. 694

[2] Di dalam buku Philip K. Hitti history of the Arabs bahwa pada awalnya al-Manshur ragu terhadap Shalah al-Din karena ia menyebut khalifah dengan amir al-muslimin bukan dengan amir al-mu’minin

[3] Philip K. Hitti. Op. cit. hal. 597

[4] internet

[5] Ibid