Allah Mobile Wallpaper

Hak Sang Pencipta

Oleh: Harkaman

            Seperti apakah hubungan antara hamba dengan pencipta, apakah seperti murid dan guru, pegawai dengan direktur, orang yang fakir dengan yang pemberi reski, seorang pendosa dengan yang pemberi ampun, namun yang sesungguhnya adalah pengakuaan seorang yang rendah terhadap kebesaran yang Maha agung.

            Seringpula diartikan bahwa hubungan tersebut bagaikan orang tua dengan seoang anak. Dimana seorang anak memiliki ketergantungaan terhadap orang tua mereka. Ketika butuh sesuatu selalu bersandar kepada orang tua, mulai dari makan bahkan sampai buang kotoran selalu membutuhkan bantuan orang tua mereka. Di kala meranjak dewasa, masa kanak-kanak ditinggalkan sehingga ketergantungan tersebut mulai memudar hingga akhirnya hilang. Dan mereka sudah tidak bergantung lagi kepada orang tuanya, lantas bisa berbuat sesuka hati dan berbuat durhaka.

            Ketergantungan yang dimiliki oleh seoarng hambah terhadap Allah bersifat abadi, mulai dari pangkuan ibunya hingga akhirat kelak. Setiap saat dan setiap waktu manusia tidak bisa terlepas dari bantun Allah.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. “ (QS. al-Anbiya : 42)

            Sebuah ketergantungan hamba inilah yang tidak lepas, semestinya harus dipahami. Seringkali kita temukan orang-orang yang sombong seakan mereka yang mengatur kehidupan mereka secara mutlak. Orang kaya menjadi angkuh dan melupakan siapa yang menganugerahinya nikmat tersebut, orang miskin terjerumus ke dalam lembah kekufuran, karena tidak memahami hakikat hidupnya,  dosa-dosa bertebaran di muka bumi, melayang-layang di udara. Semua ini disebabkan karena tidak adanya pemahaman antara hak seorang hamba dengan yang Maha pencipta.

            Mungkin anda memiliki banyak hal, apa pun yang anda inginkan dengan mudahnya anda dapatkan. Tinggal bilang ini-itu, maka hajat itu akan terpenuhi. Lupa diri pun menjadi cirikhasnya dan Tuhanpun terlupakan. Ketika saatnya tiba, di mana ia terjatuh. Kebingungan yang akan menjadi temannya, penolong yang sesungguhnya tidak diketahuinya. Maka dari itu masalah yang dihadapi semakin berat dan memusingkan dirinya sendiri.

“Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?.” (QS. al-Anbiya’ : 43)

Pada realitasnya, tidak ada yang mampu menjadi penolong bagi manusia. Harta yang diperuntuhkan, kedudukan, ataupun jabatan tidak bisa menolongnya dengan sempurna, kasarnya tidak bisa. Bukankah semua itu Allah yang menghendaki. Semuanya tidak ada artinya apabilah ingin dibandingkan dengan Allah yang memiliki segala-galanya, Dialah Tuhan yang maha sempurna.