Sunnah Nabi Muhammad SAW

Oleh: Harkaman

            Saya ingin bertanya terlebih dulu, kenapa harus memahami sunnah Nabi? Seberapa penting bagi umat Islam?

            Sunnah Nabi (al-Hadits) merupakan sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an. Ada yang mengatakan bahwa al-Hadits penjelas bagi al-Qur’an dan ada yang mengatakan menjelaskan sesuatu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Namun yang terpenting adalah kebenaran sebuah riwayat. Bukan memperdebatkan persepsi yang benar tentang kedudukan hadits terhadap al-Qur’an.

            Dalam kehidupan masyarakat saat ini, tidak sedikit hadits-hadits yang dhaif (palsu) beredar di tengah-tengah mereka. Mengingat beberapa abad yang lalu sejarah hadits dimulai, tentunya memiliki perjalanan yang sangat panjang hingga bisa sampai kepada kita. Lantas bagaimana bisa membedakan mana hadits yang bisa dijadikan sebagai rujukan (sohih) dan hadits yang dhoif. Jalan yang terbaik adalah mengadakan penelitian.

            Ada poin yang penting ketika ingin meninjau kebenaran sebuah hadits, yaitu membandingkan dengan al-Qur’an. Jika sesuai dengan al-Qur’an maka sudah pasti shohih, akan tetapi jika bertentangan maka kesahihannya perlu dipertanyakan. Namun simpelnya menolak hadits tersebut lebih baik dilakukan.

            Hadits dhoif  bisa dijadikan sebagai dalil dalam tahapan tertentu, dalam artian penguat. Namun tidak boleh dalam konteks pembahasan aqidah dan kedhoifannya tidak terlalu lemah. Pada persoalan penyeruan untuk melakukan perbuatan baik, maka hadits tersebut sah-sah saja dijadikan sebagai dalil . Terlebih lagi pada hadits yang lemah namun mempunyai penguatan dari hadits yang lain, maka kedudukannya bisa jadi hasan (baik).

Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya “Memahami Islam” diantara cara-cara berdakwah adalah dengan membangkitkan perasaan sentiment melalui kalimat-kalimat yang bijaksana (hikmah)-entah darimana sumbernya-atau dengan cerita-cerita menyentuh hati, walaupun hasil karangan. Apabilah cara ini bisa menyadarkan hati seseorang, maka dibolehkan untuk menyebutkan untaian-untaian kalimat yang dinisbatkan kepada Rasulullah itu dalam batas yang telah dijelaskan tersebut.

Agar tidak dibodohi oleh orang yang suka menjual hadits-hadits palsu, kita harus memahimi hadits. Dan memahami al-Qur’an, dimana tidak ada pertentangan tentang kebenarannya, namun yang dipertentangkan adalah maksudnya. Karena para mufassir memiliki pemahaman sendiri tentang maksud al-Qur’an.