Urgensi Persatuan Umat

Oleh: Harkaman

            Akidah tidak dilahirkan oleh sebuah hasil perebutan kekuasaan, di mana nafsu akan berkuasa, kemudian berdampak pada semua aspek pemerintahan. Dan ini bukanlah yang menjadi inti permasalahan Islam, sehingga umat terbagi menjadi beberapa golongan besar, mislanya sunni, syi’ah, wahabi salafiyah, dan lain-lain

            Golongan tersebut di atas adalah golongan yang sama-sama beriman kepada Allah dan mengakui Muhammad sebagai utusan Allah. Namun pada realitas pengaplikasian pemahaman al-Qur’an dan sunnah Nabi memiliki perbedaan. Misalnya saja dalam persoalan kepemimpinan. Syi’ah mengatakan pemimpin harus dipilih dari kalangan ahlul bait (keluarga Nabi), sedangkan ahlu sunnah mengatakan bahwa pemimpin itu harus dari kalangan Quraisy. Bukankah yang seharusnya menjadi pemimpin adalah yang mempunyai kapabilitas tentang hal ini dan bukan yang menjadi syarat utama apa yang ditawarkan oleh kalangan syiah maupun ahlu sunnah.

            Apalah arti dari perbedaan ini? Jika tidak bisa saling mengerti satu sama lain. Apakah kita harus bercermin pada partai politik pemerintahan antara buruh dan konservatif yang memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengatur pemerintahan Inggris. kenyataanya mereka tidak pernah berselisih, karena persoalan perbedaan pandangan. Karena masyarakat inggris memahami betul tindakan seperti itu hanya berdampak pada peruncingan permasalahan dan menimbulkan permusuhan.

            Adapun yang terjadi di tengah-tengah umat Islam bahwa kedengkian para penguasa terus terwarisi, hingga menghasilkan perpecahan antara syi’ah dan sunni. Dan merembek pada permasalahan-permasalahan akidah, menggoyahkan keyakinan para pengikut dan saling mengkafirkan. Inikan tidak benar, sangat melenceng dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

            Di dalam al-Qur’an Allah menjelaskan  orang-orang yang suka membuat perpecahan:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat.” (QS.al-An’am: 159)

                Dengan begitu mudahnya mengkafirkan satu golongan tanpa mengetahui sedetail mungkin tentang golongan tersebut. Bisa dikatakan ini sebuah penyakit dari sikap fanatik. Di zaman Nabi orang kafir yang di saat nyawa mereka terancam (hampir mati dalam perang) kemudain mengucapkan syahadat, tidak perbolehkan oleh Nabi untuk di bunuh. Sekarang orang yang dengan jelas  bersyahadat dengan Tuhan yang sama dan Nabi yang sama masih saja dikafirkan. Karena yang mereka anggap benar hanyalah golongan mereka sendiri. Seakan-akan dia menjadi wakil Tuhan, sehingga benar-salah hanya merekalah yang tahu.

            Apakah dengan mengkafirkan-menyalahkan orang lain lantas semuanya akan beres, apakah itu nerupakan jalan yang baik, terlebih lagi ketika penyampaian yang tidak penuh dengan hikmah.  Apa pun bentuk kebenaran, bahkan sangat jelas akan tetapi cara yang salah. Tetap saja mendapat penilaian yang salah. Nabi yang merupakan utusan Allah, disaat melakukan dakwah Beliau melakukannya dengan penuh kelembutan, cara yang baik, masih saja mendapat pengingkaran dari umatnya.

            Mau tidak mau umat Islam harus melepas baju kemazhabatan mereka untuk menuju persatuan, dengan satu sorakan Laa Ilaaha Illallah Wa Muhammadan Rasulullah.