Proses Menjadi Muslim

Oleh: Harkaman

            Di saat berumur 16 tahun saya dikagetkan oleh sebuah pertanyaan yang belum pernah saya temukan sebelumnya “Mengapa Anda Menjadi Seorang Muslim?”. Pertanyaan tersebut pertama kalinya muncul di sebuah kajian epistimologi yang diadakan oleh para alumni pondok dan diadakan di pondok saya juga.

            Hari itu benar-benar mengungcang keyakinan para peserta yang hadir, kembali di lontarkan sebuah kata-kata “Aku tahu anda-anda ini Islam karena keluarga anda Islam juga, kesimpulannya anda Islam keturunan. Lantas apa bedanya anda dengan orang Nasrani dan Yahudi yang sejak lahir hidup di lingkungan nonmuslim?”

            Setelah beberapa pertanyaan yang sempat mengacaukan keyakinan para peserta barulah kemudian diberikan penjelasan yang cukup merapatkan barisan keislaman kita. Terkecuali saya yang masih merasa kebingungan, belum puas dengan hasil jawaban pembicara. Ada satu argumen yang muncul dalam benakku “Mereka membela Islam karena kebetulan saja berada pada posisi yang mengharuskan mengakui keunggulan Islam”. Mungkin terlalu cepat untuk memberi penilaian, akan tetapi ini adalah kenyataan. Yang semakin membuat saya bingung adalah pembelaan terhadap agama Islam saya benarkan dan pemebelaan terhadap agama Nasrani juga saya benarkan, karena penjelasan-penjelasan yang dilontarkan masuk akal dan bisa dimengerti.

            Saya jadi teringat buku Ayatullah Murtadha Muthahhari “Dasar-dasar Emistemologi” dalam buku tersebut menceritakan tentang Imam al-Ghazali yang sempat meragukan dirinya untuk menemukan sebuah kebenaran, diceritakan al-Ghazali mengatakan seperti ini “Aku ragu tentang pengetahuan, tapi aku tidak ragu bahwasanya aku ragu”. Maksudnya dia yakin bahwa dirinya ragu. Jika al-Ghazali berangkat dari sebuah keraguan menuju sebuah kebenaran. Justru sebaliknya yang saya akan lakukan, keyakinan yang saya miliki tentang kebenaran Islam membuat saya ragu.

            Islam keturunan sebuah pengkeleman yang sangat memalukan, dari itu saya harus bisa menjelaskan kebenaran ini. Karena hingga saat ini persoalan aqidah masih dalam posisi warisan (taqlid).

            Keyakinan (aqidah) yang kokoh pastinya dilatarbelakangi oleh hasil pencarian yang tidak singkat. Mencicipi manisnya penderitaan, kebimbangan yang menggoncang jiwa membuat tidur terasa tidak nyenyak, hari serasa cepat berlalu. Namun itulah kenyataan yang eksistensinya tidak bisa dinafikan oleh seluruh manusia di dunia ini.

                        Tiga tahun lebih keyakinan yang membuatku ragu akhirnya sedikit menghidupkan jiwa spiritual saya. Konsep-konsep dan nilai-nilai yang ditawarkan islam sangatlah ilmiah, khususnya pada persoalan aqidah. Para sufi dan filosof muslim pun mengungkapkan yang demikian, walau penjelasan yang ditawarkan berbedah, namun bisa diapahami bahwa yang mereka ingin katakan bahwa Tuhan itu Esa dan Islam itu benar.

            Sebaliknya, saya justru merasakan betapa nikmatnya menjadi seorang muslim. Bisa mempelajari al-Qur’an, banyak hal telah saya dapatkan dari pengalaman pencarian tersebut.

            Saya ingin mengatakan jangan mengaku sebagai seorang muslim sebelum berani bertanya ”mengapa menjadi muslim?”. Bagaimana mungkin anda bisa menjawab jikalau bertanya saja tentang keislaman anda sendiri tidak bisa dilakukan. Tidak hanya sebatas mengetahui perbuatan baik dan buruk. Karena nilai-nilai kebaikan itu bersifat universal, yang berarti tanpa agama manusia pun bisa melakukan perbuatan baik. Tanpa agama masi bisa menolong sesama dan berbagai macam perbuatan baik lainnya.