Jihad Fi Sabilillah

Oleh: Harkaman

            Pertama kita harus tahu apa yang dimaksud jihad. Di sini saya akan mengutip sebuah argumen dari Moustafa al-Qazwini dalam bukunya “Panggilan Islam”, beliau mendefenisikan bahwa kata jihad ialah berusaha keras untuk memajukan semua aspek kehidupan. Walau kata ini di dalam bahasa Ingris telah diartikan dengan konotasi militer murni, pada kenyataannya kata itu mencakup dimensi yang luas dalam kehidupan manusia: kehidupan keluarga, bekerja untuk pengembangan spiritual, dan yang terakhir menentukan perang untuk mempertahankan diri.

            Cukup jelas makna jihad yang diungkap oleh Moustafa al-Qazwini, sekarang saya akan menggangdengkannya dengan kata fi sabilillah (di jalan Allah). Ada poin yang sangat penting yang harus kita garis bawahi, bahwa jihad terdapat unsur usaha keras atau mengerahkan segala kemampuan. Jihad fi sabilillah adalah usaha atau kerja keras yang dilakukan untuk mencari ridho Allah, atau berjuang di jalan Allah, demi menegakkan agamanya di permukaan bumi ini.

            Setiap orang tentunya menginginkan pahala yang besar, maka dari itu banyak yang berlomba-lomba untuk berjihad. Pertanyaan saya, manakah jihad yang besar itu, apakah membunuh orang kafir sebanyak-banyaknya, merusak tempat-tempat ibadah non-muslim, bom bunuh diri dan atau melakukan hal-hal yang besar lainnya. Namun saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam riwayat dikatakan Nabi bersabda “Kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar karena jihad yang besar adalah memerangi diri kalian sendiri” hadits dikeluarkan ketika sekolompok orang usai melakukan perang. Mungkin anda bertanya mengapa bisa demikian? Kita sudah korban tenaga dan harta yang banyak, tapi apa yang kita inginkan belum tercapai.

            Terserah sepakat atau tidak terhadap hadits tersebut, sekalipun anda menganggap hadits tersebut palsu atau lemah, tapi lihatlah pesan yang ingin disampaikan. Jika tidak melihat hal itu, maka yang terjadi sikap fanatisme makin mebesar dan tentunya akan merusak citra agama islam. Baikalah, yang dimaksudkan jihad tersebut di atas adalah bagaimana mengenal diri dan mampu mengendalikan diri kita sendiri. Sebagaimana yang kita saksiskan saat ini banyak pemeluk agama Islam yang menginjak-menginjak ajaran agamanaya secara langsung ataupun tidak langsung. Sekarang sudah bukan zaman berjihad dengan memegang pedang sambil menunggangi kuda dan ini bukan jalan yang ditempuh oleh orang-orang barat untuk menghancurkan Islam.

            Jika kita masih berfikir seperti itu, maka kita akan hancur angkat pedang melawan roket-roket yang sangat canggih.Oleh karena itu, jihad yang sesungguhnya adalah jihad ilmu. Bagaiamana mengetahui segala macam pengetahuan agar bisa bangkit, agar kita tidak diremehkan oleh agama lain serta kita punya kesiapan untuk menangkis ketika ada serangan yang sifatnya tiba-tiba. Nah, untuk mendapatkan hal itu, imu pengetahuan harus duikuasai dengan baik. Bacalah dan cari tahulah semuan pengetahuan. Saat ini, angkat senjata sudah bukan zamannya apalagi sampai bom bunuh diri. Hasilnya tidak memberikan sumbangsi yang baik, akan tetapi citrah umat Islam rusak. Namun tidak dimaksudkan kapada kita untuk sombong.

            Ketika negara Islam diserang dengan roket-roket yang canggih. Bagaimana anda bisa membendung serangan seperti itu, kegagahan dan kepiawaian dalam berperang tidak lagi dapat kita andalkan. Karena musuh yang kita hadapi berada dibalik layar. Oleh karena itu, dengan jihad ilmu, mencari dan mempelajari semua pengetahuan serta teori-teori yang ada. Akan tetapi Islam tidak memaksudkan anda harus sombong, tetaplah menjaga diri, agar tidak ada riya yang ikut serta berperang dalam perjuangan anda, jangan pula baru mempelajari sedikit sudah merasa lebih pintar daripada orang lain.

            Bandingkanlah semuanya, satu hal yang mesti kita ingat adalah tidak fanatik ilmu. Maksud saya seperti anda hanya mengkaji ilmu alam sedangkan anda melupakan ilmu matematika, ataukah anda hanya berpandangan pada satu tokoh saja. Ini sangat tidak profesionla, tidak seperti ini yang diinginkan oleh ajaran Islam.

            Terlepas dari hal itu, unsur rohaniyah harus tetap dijaga, karena ini sangat berpengaruh terhadap diri anda. Jangan sampai anda hanya memperhatikan kebutuhan jasmani anda saja sedang kebutuhan rohani anda terlupakan.  Selalulah berusaha memberikan makan yang terbaik dan menjaga kebersihannya. Apabilah ternodai maka segeralah membersihkannya dengan penuh ampun dan penyesalan. Karena tidak sedikit di antara kita yang tampaknya sehat, akan tetapi rohani mereka tersiksa. Rohani dapat layu ibarat bunga yang tidak diberikan air dan pupuk. Maka untuk menumbuhkan itu menjadi baik, tentunya harus melakukan perawatan sebagai mana merawat tanaman.