FIQIH MENJAWAB

Oleh: Harkaman

            Di zaman Nabi SAW persoalan fiqih tidak menjadi ikhttilaf, karena setiap masalah yang dikeluhkan atau pun yang dirasakan oleh para sahabat dapat ditanyakan langsung kepada Nabi Muhammad. Paska kepergian Nabi atau lebih dikenal dengan istilah zaman para sahabat, barulah kemudian muncul sedikit perbedaan di kalangan shabat. Namun tidak serumit persoalan yang ada sekarang. Nah. Untuk menjawab permasalahan yang sifatnya modernis tentunya fiqih pun harus sejalan dengan zamannya. Agar tidak terjadi keos, hingga meresahkan umat Islam.

            Pertanyaan saya apakah fiqih itu meman sesuatu hal yang rumit? Persoalan fiqih ini adalah persoalan masalah paradigma ulama menanggapi nash-nash (al-Qur’an dan al-Hadits). Pada kenyataannya, sebelum persoalan fiqh muncul, itu terlebih dahulu di bahas masalah ushul fiqih, dan inilah yang menjadi dasar utamanya. Karena kaidah-kaidah untuk menetapkan sebuah hukum adalah persoaln ushul fiqih.

            Jalaluddin Rahmat mengatakan dalam bukunya “Dahulukan Akhlak di Atas Fikih”: “Tujuan fikih itu menyelesaikan masalah yang sifatnnya temporal”. Saya sepakat dengan perkataan pak Jalal tersebut. Produksi yang dihasilkan inilah kemuian yang dijadikan sebagai hukum. Ya. Kita kembali kepada persoalan, fikih dan akhlak menghukumi dzohirnya saja, di balik itu tidak akan dibahas.

            Karena tujuan fikih menyelesaikan masalah yang bersifat trmporal, atau perkara ini tidak di ada di zaman Nabi SAW. Misalnya bayi tabung. Bagaimana hukumnya? Namun pertanyaan ini bukan waktu yang tepat dikaji. Karena yang akan mnejadi perhatian saya yaitu membahasan masalah esensial fikih.

            Jika persoalan fikih yang terus ingin diperdebatkan, lantas kapan kita berpikir untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terus menghantui umat Islam. Karena fiqih yang berbeda, umat dengan begitu mudahnya menghukumi satu kelompok yang berbeda dengan kelompoknnya. Anda kafir, anda bid’ah, anda salah dan lain-lain.

            Agama Islam adalah agama yang mudah, lalu jangan kita mempersulit hal tersebut. Doktrin Sami’na wa Atha’na terkadang harus kita laksanakan atas fatwa ulama. Karena fiqih sebuah keniscayaan akan adanya ikhtilaf. Karena wilayahnya adalah wilayah ijtihadi. Jadi persolan ini tidak harus menjadi perdebatan yang berujung pada permusuhan. Berbeda, ketika membahas persoalan tauhid, persoalan ini wajib sama yang kita percayai yaitu Allah SWT.