ISLAM BATINIYAH

Oleh: Harkaman

Islam batiniyah (kata kunci). Zaman telah berubah, kini manusia dimanjakan oleh tekhnologi-tekhnologi yang canggih. Kini para peneliti berlomba-lomba memperkenalkan diri dan menawarkan sebuah konsep kehidupan manusia. Sebagai umat Islam sudah seyokyanya kita mengintropeksi diri, dari ketinggalan yang sedang dihadapi saat ini. Baik anda yang islam batiniyah atau yang sekadar lahiriyah saja. Sudah saatnya umat Islam terbangun dari sorakan-sorakan kemujuan bangsa lain.

Pada abad ke-9 H Islam pernah mengalami perkembangan yang sangat luar biasa sehingga mampu memberi warnah yang menyinari dunia saat itu. Bukankah Rasulullah meninggalkan pusaka yang tidak ternilai harganya, yakni Al-qu’anil Karim, semua konsep telah disediakan di dalamnya. Namun sayangnya hanya sedikit sekali yang ingin benar-benar mengkaji isi kandungan al-Qur’ani al-Karim dan sunnahnya.

Pada zaman itu meman para ulama benar-benar mengkaji kandungan dari warisan Nabi, dan apa yang mereka lakukan itu benar-benar membuahkan hasil. Misalnya saja, Ibnu Sina dengan karyanya Alkanun at-Tib, hingga saat ini masih menjadi rujukan para ilmuan di bidang kedokteran, dan masih banyak teori-teori dari Ibnu Sina yang belum dipahami secara konperehensip.

Sekarang kita bisa saksikan bagaimana dengan jepan yang begitu dikenal dengan perinsip menghargai waktu, sementara umat Islam tertinggal jauh dari hal demikian. Sedangkan dia memiliki konsep tentang waktu:”Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS.Al-asr:1-2). Namun sedikit sekali ummat Islam yang mengamalkan ayat tersebut.

Indonesia merupakan Negara yang mayoritas Islam dan dikenal pula negara yang masyarakatnya menggunnakan jam karet, waktu belum menjadi hal sangat sakral. Pada konsep yang diajarkan oleh al-Qur’an sudah jelas. Dalam hadits Nabi SAW bersabda:”Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebaskannya, maka kamu akan ditebas.”

Kini tinggal sejarah umat Islam pernah mengalami masa ke-emasan, zaman itu hanya bias kita baca dalam buku-buku, hingga saat ini umat Islam tidak pernah lagi menampilkan penampilan terbaiknya di dunia. Dan hal ini meman sangat berbeda dengan umat Islam terdahulu, di mana mereka benar-benar memahami agama Islam. Mungkin kita bisa tersenyum, setelah mengetahui bahwa umat Islam adalah umat terbesar di seluruh dunia, itu ketika berbicara masalah kwantitas namun secara kwalitas itu tidak bisa membuat kita tersenyum.

Keislaman mereka hanya bisa kita tahu saat memeriksa KTP mereka, karena prilaku yang mereka tampakkan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Islam hanya dianggap sebagai sebuah syarat untuk tinggal di Indonesia, yang mengharuskan mereka untuk memeluk sebuah agama, atau dengan kata lain formalitas saja.

Meman jika hasil dari pencatatan sipil pemeluk Islam merupakan terbanyak dibandingkan dengan agama-agama lain. Akan tetapi itu adalah hal yang dzohir saja tapi pada hakikatnya tidak seperti itu. Buktinya yang menjalankan syari’at Islam tidak sebanyak dari hasil pencatatan tersebut.