Mengenal Diri

Oleh: Harkaman

            Mengenal diri merupakan wacana lama yang selalu disampaikan oleh orang-orang bijak terdahulu, hingga kini masih tetap menjadi prioritas. Sejauh mana mengenal siapa diri kita, sampai disitu apa yang bisa kita berikan kepada diri sendiri. Tidak akan keluar dari pemahaman yang dimiliki. Maka dari orang-orang yang mengenal dirinya tidak memiliki keraguan untuk bertindak.

            Semua manusia memiliki potensi yang sama, walau kadar dan prioritas yang berbeda. Bagi seseorang yang asing dengan dirinya sendiri, tentunya tidak menyadari hal ini. Hanya orang-orang yang bersahabatlah dengan dirinya bisa mengetahui potensi yang dimiliki. Tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan hingga putus asa, karena tidak mengenmal dirinya.

            Al-Qur’an telah menyampaikan kepada manusia bahwa mereka diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Multi potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT, kenyataannnya banyak manusia yang melihat dunia tampak murung dihadapannya, seakan semuanya telah berakhir dengan pedih dan penuh kegelapan.

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .” (QS. At-Tin : 4)

            Dalam ayat lain disebutkan :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar…” (QS. Fush- Shilat : 53).

            Benar adanya bahwa di dalam diri manusia terdapat potensi yang besar, akan tetapi hanya sedikit yang menyadarinya. Dalam mencapai derajat yang tinggi media yang terbaik adalah diri sendiri. Ada riwayat yang sangat masyhur “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal dirinya”. Banyak lagi dalil-dalil yang tidak disebutkan yang membahas tentang pengenalan diri. Cukup beberapa dalil tersebut sudah cukup kuat dan masyhur di kalangan umat Islam.

            Dari penjelasan yang ada tentunya tidak ada alasan bagi seorang manusia apalagi seorang pribadi muslim untuk menafikan potensi yang dimiliki, mereka sehingga dituntut unruk memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Berbagai macam fenomena yang ada di alam semesta harus mereka telusuri, apa yang Allah targetkan. Bukan berpangku tangan lantas pasrah terhadap takdir. Takdir meman ditentukan, namun ketentuan itu menjadi rahasia. Sehingga kewajiban untuk berikhtiyar adalah sebuah keharusan bagi manusia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-‘Imran : 190)