HUKUM BAGI MANUSIA

Oleh: Harkaman

            Adanya hukum yang berlaku di lingkungan masyarakat, bukanlah sesuatu yang bagi manusia. Karena jauh sebelum adanya manusia, hukum itu sudah ada. Dan hal ini bukan sebuah dari esensi kemanusian. Pada dasarnya manusia tidaklah membutuhkan hukum untuk mengatur kehidupannya. Namun terkadang manusia jauh dari sifat aslinya. Bahkan esensinya terberpisah dari raganya.

            Kenapa harus ada hukum yang mengatur? Agar manusia tetap pada poros yang telah digariskan oleh Allah SWT. Coba perhatikan jalan yang dipadati oleh kendaraan dan tidak ada aturan lalu lintas yang mengatur di sana, tentunya kecelakaan lalu lintas akan menjadi pemandangan sehari-hari.

            Diketahui bahwa jalan yang ada tidak selamanya lurus, ada tanjangan, tikungan, ada perempatan, dan lain-lain. Begitu juga dengan arah yang berlawan antar pengguna jalan kerap kali terjadi. Ini sangant relevan dengan kehidupan manusia yang mempunyai aturan. Bukan berarti di sini manusia dibatasi oleh hukum, akan tetapi memberikan bantuan agar tetap dalam keadaan yang semestinya.

            Pribadi seorang muslim  haruslah memahami hal tersebut, terlebih harus menataati hukum-hukum yang telah diberlakukan oleh Allah SWT. Mengingat tujuan hukum bermaksud baik, tidak bertentangan dengan kemanusiaan, dari sini akan memberikan bukti yang nyata yang nantinya hukum itu sangat  berperan dalam kehidupan manusia. Nantinya manusia tidak sadar kalau ada hukum yang mengikat mereka, karena apa yang mereka lakukan dengan sebuah kebiasaan baik, maksud saya adanya hukum atau tidak adanya hukum, perbutan dan sikapnya sama saja. Tidak lagi merasakan adanya perintah yang mengahruskan mereka, akan tetapi ini sudah menjadi kesadaran.

            Manusia adalah makhluk sosial, mereka saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karakter  yang berbeda dan tujuan yang berbeda tentunya akan menjadi konflik di tengah-tengah mereka. Dari sini hukum akan berada di tengah-tengah mereka, agar stabiitas tetap terjaga, kerukunan dan solidaritas hidup. Pada dasarnya kehidupan sosial inilah akan dinaungi oleh hukum.

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 179)

                Hukum bisa saja dinafikan, karena manusia tidak membutuhkan hukum selam ia menjadi manusia, tetapi hukum itu diberlakukan disaat manusia tidak menjadi manusia. Apabilah hukum semakin banyak, maka itu sebuah pertanda bahwasanya kemanusiaan sedang menurun, moralitas semakin menipis, sikap kasih dan saying, serta kepedulian antar sesama memudar.