INILAH GHIBAH

Oleh: Harkaman

            Saya pernah memperingatkan seorang ibu-ibu berumuran 40 tahunan, ketika sedang asyiknya menceritakan keburukan temannya. Kemudian beliau mengatakan “apa yang salah dari perbuatan saya ini, bukankah apa yang dilakukan teman saya itu benar terjadi”.

            Menyebarkan perlakuan buruk atau menggungjing adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan adalam Islam. Sekiranya apa yang dikatakan itu benar. Maka itulaha ghibah dan bila tidak benar apa yang telah dijadikan sebagai bahan pembicaraan. Maka itulah yang disebut fitnah.

 “Telah menceritakan kepadaku Malik dari Al Walid bin Abdullah bin Shayyad bahwa Al Muthallib bin Abdullah bin Hanthab Al Makhzumi ia mengabarkan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah ghibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menjawab: “Engkau sebut pada diri seseorang, sesuatu yang benci jika mendengarnya.” Laki-laki itu bertanya lagi; “Wahai Rasulullah, walaupun yang diucapkan itu benar” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika yang engkau katakan itu hal yang batil, maka itu dusta.”( Muwatha’ Malik 1565)

            Surat an-Nur ayat 19 menjelaskan tentang larangan tersebut “ Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui.”

            Sudah jelaslah bahwa ghibah itu seperti apa dan larangan dalam Islam. Siapakah hati yang tidak sakit apabilah dighibah. Pepatah mengatakan “Jika ingin mencubik orang lain, maka cubiklah diri anda terlebih dulu). Artinya jangan lakukan suatu perbuatan yang orang lain tidak menyukainya. Karena anda pun tidak suka dengan hal itu.

            Ada bebarapa hal yang harus dipahami juga, karena beberapa perbuatan menceritakan keburukan orang lain yang tidak dianggap sebagai ghibah. Ini diberikan pengecualiaan karena mengangdung sebuah kemaslahatan. Misalnya, seseorang mencari informasi dan meminta pendapat, informasi yang harus diberikan tentunya harus sesuai dengan fakta. Sepeti ingin melakukan kerja sama, agar rekan kerja tahu orang yang kan akan ditemani bekerja sama, terlebih dahulu harus mengetahui rekan kerjanya. Agar sejauh mana orang tersebut bisa mempertimbangkan kelayakan orang tersebut. Atau seseorang yang ingin mengawinkan anaknya, dan lain-lain. Orang yang dimintai keterangan harus mengunggkapakan kebenaran dengan penuh keikhlasan dan disertai dengan nasehat yang baik.

            Contoh lain yang dibolehkan agama menampakkan kezaliman seseorang. Yaitu apabilah harta benda kita dirampas atau dirampok. Tentunya berada di antara dua pilihan yaitu mendiami kezaliman dan mencegahnya dengan menyampaikan di khalayak. Orang yang mengumumkan tersebut tidak dikatakan ghibah,dijelaskan “ Allah tidak menyukai Ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisa’ : 148 ).

            Saya tidak ingin melewatkan fakta yang ada, tidak sedikit seseorang yang suka menggungjing. Lagi-lagi mereka berdalih bahwa apa yang dikerjakan orang itu benar apa adanya. Seburuk-buruk orang itu, tidak diperbolehkan. Karena yang keluar dari mulut itu adalah untuk memuaskan nafsunya yang tidak terkontrol itu. Lantas apa bedanya kita dengan orang yang kita gungjing itu, jika perangai juga buruk. Berbeda dengan gunggjingan yang Allah lakukan terhadap fir’aun, dan orang-orang zalim lainnya. Agar bisa mengambil pelajaran dari kisah masa lalu, sehingga tidak terjerumus ke jalan yang sama.