BAHAYA SIFAT KIKIR

Oleh: Harkaman

            Seperti apakah bahaya sifat kikir, sebelum membahas hal itu, mari kita ketahui terlebih dahulu kikir itu sendiri.

Orang kikir adalah orang yang telah kehilangan hakikat dirinya. Tujuan kehidupan yang sebenarnya tampak gelap, karena terhalangi oleh kekikiran. Sayyidina Ali mendefenisikan juga seperti hal itu, bahwa diri  sejatinya telah hilang. Biasanya orang seperti itu mempunyai ambisi yang tinggi dalam persoalan harta. Orang psikolog mengungkapkan penyebabnya yaitu apabilah manusia dikuasai oleh harta. Maka yang terjadi dia akan rela mengorbankan dirinya demi harta dan sebaliknya dia tidak ingin mengorbankan hartanya demi kebahagiannya.

            Sayyidina Ali Ra pernah mengatakan “ Aku heran terhadap orang kikir, ia dahulukan kemiskinan yang ia cari, dan tinggalkan kebahagiaan yang justru dicarinya. Di dunia menjalani kehidupan orang miskin, di akhirat menjalani hisab yang kaya.” (Nahjul Balagha)

            Demekian itulah perilaku yang teramat buruk, harta lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Agar bisa menyisihkan uang, dia rela tidak menikmati makanan yang nikmat dan bergizi, hingga pakaian yang dikenakannya tidak selayaknya untuk dipakai.

            Tidak sedikit orang kaya yang merasa miskin dan banyak orang miskin tapi merasa kaya. Kebahagian tidaklah diukur dengan materi, akan tetapi mereka menganggap neraca kebahagian itu adalah materi. Setiap kebahagian berhak dan siapa saja bisa memperolehnya. Baik itu orang kaya, miskin, sehat, sakit, orang tua, ataupun anak-anak. Tidak ada pengklarifikasian khusus untuk hal ini.

            Bukankah ini merupakan sebuah penyakit yang sangat berbahaya, bahkan ini akan berujung pada sebuah kematian. Ketika kecintaan seseorang terhadap dirinya sudah pudar, maka kepedulian ikut memudar. Setiap hari yang menjadi beban pikiran hanyalah harta, kesehatan badan tidak lagi diprioritaskan, apalagi persoalan rohani, sangat mustahil untuk dipedulikan.

            Maka dari itu selayaknya sebagai makhluk Tuhan yang dimuliakan, menjaga dirinya dari perbuatan kikir, baik itu terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.