URGENSI ILMU PENGETAHUAN

Oleh : Harkaman

            Betapa pentingnya peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia, sehingga Nabi menegaskan dalam haditsnya: “Diwajibkan atas muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu”.  Bukan hanya persoalan akhtrati , tapi juga persoalan duniawi.

            Ketertinggalan umat islam saat ini merupakan bukti lemahnya pengetahuan yang dimiliki oleh umat islam. Ibarat mereka sudah terbang, umat islam masih naik unta. Ini harus disadari oleh setiap muslim, jangan hanya bisa bisa menjadi pemakai, akan tetapi penghasil atau pembuat. Itukan lebih baik.

            Jika persoalan tersebut lebih mengarah kepada sudut pandang duniawi, bukan berarti tidak berkaitan dengan urusan akhirati. Coba lihat faktanya banyak orang yang miskin jauh dari agama, karena kekufuran sangat dekat dengan orang-orang yang mempunyai ekonomi rendah, sebaliknya keserakahan dimiliki oleh orang yang sudah berkecukupan.

            Orang sangat mudah lalai, karena ilmu yang dimiliki tidak bermanfaat atau bahkan tidak memiliki pengetahuan, sehingga terjerumus kepada lebah yang disebut kelalaian. Persoalan ini adalah persoalan iman dan persoalan iman lagi-lagi kembali kepada persoalan ilmu. Bagaimana mungkin seseorang bisa beriman dengan benar, jika dia tidak punya pengetahuan akan hal itu.

            Faktanya tidak sedikit orang yang memberikan interpretasi bebas dan tidak benar terhadap nash (al-Qur’an dan al-Hadits). Sehingga maksud yang sesungguhnya tidak didapatkan, justru hanya menimbulkan masalah. Coba lihat permasalahan sekarang permusuhan di internal umat islam, seringkali terjadi. Ini karena interpretasi yang keliru.

            Pernah terjadi di zaman Imam Ja’far as-Shodiq, seseorang mencuri 4 roti kemudian diberikan kepada orang miskin. Ketika dia ditanya oleh Imam, kenapa anda lakukan hal itu. Dia kemudian membacakan surat al-An’am ayat 160 Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” Saya meman mencuri tapi saya mensedekahkan hasil curian itu. Jadi pahala saya 40 dan dosa saya 4, akan tetapi saya masi punya 36 pahala lgi. Jadi saya masi untung.

            Inikan merupakan salah satu contoh dari interpretasi yang keliru terhadap ayat al-Qur’an. Dipahami bahwa cara yang salah tidak menghasilkan perbuatan yang baik. Jangan menganggap hadits yang mengatakan “segala amal perbuatan tergantung pada niatnya”. Bahwa niat bisa membantu itu menghalalkan mencuri, ini sangat keliru. Namun pada pemabahasan lain akan dibahas keadaan yang membolehkan mencuri. Tapi tidak dibahas di tempat ini.

            Ada hal lain yang akan menjadi penutup, yaitu pembicaraan mengenai tentang pemamnfaatan ilmu pengetahuan. Mendapat renspon dalam agama islam, jangan sampai banyak umat yang rugi, bakan terjerumus ke dalam lembah kesesatan karena ilmunya diarahkan ke jalur yang tidak benar.

            “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jum’ah : 5)