Antara Dzikir Dan Syukur

            Jakarta adalah kota yang masyarakatnya paling aktiv mengadakan kegiatan Dzikir yang lebelnya Akbar. Faktor apa yang menyebabkan hal itu? Saya kurang mengerti. Ternyata di balik kegiatan dzikir yang sering diadakan di tempat terbuka atau lapangan, terdapat cerita yang tidak sempat diungkap di hadapan publik.

Saya dan Zahir teman sekamar di kosan. Awalnya hanya bercerita biasa, ngobrol sebagaimna biasanya, entah apa yang menyebabkan perbincangan kami tertuju pada masalah Dzikir Akbar di Jakarta .  Dia menceritakan kepada saya betapa lucunya beberapa kegiatan dzikiraan  di Jakarta. Kenapa? Tanyaku memotong pembicaraan.

            Zahir kemudian menceritakan pengalaman yang pernah dialami. Waktu itu, dia sedang pulang dari Blok M, kebetulan lewat di sebuah acara Dzikir Akbar, Wow….. kedengarannya sungguh menakjubkan. Akbar Men. Pasti banyak orang. Namun di balik Dzikir Akbar itu ada juga Syukur Akbar. Dua kegiatan berlangsung di satu tempat dalam waktu yang sama? Tanya saya yang semakin tidak mengerti maksud perkataan Zahir.

            Begini men . . . ! Sebenarnya agenda acaranya hanya untuk dzikiran, tapi acara syukuran itu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Maksud gima tuh? Saya makin tidak mengerti apa yang dikatakan Zahir.

            Kamu harus perhatikan dengan baik ya! Katanya sambil memperlihatkan wajahnya yang jauh lebih serius dibandingkan  sebelumnya.  Di barisan depan 5-10 barislah orang-orang kebanyakan khusyu’ berdzikir hingga mengeluarkan air mata, apakah karena itu efek dari lafaz suci yang dikeluarkan atau hanya karena terharu mendengar kata-kata yang dipaksa-paksakan oleh ustad yang sedang memimpin dzikir agar jama’ahnya menangis. Ala Kulli Hal. Hanya mereka danTuhan yang tahu. Yang satu inilah membuat saya jadi tersenyum tipis dengan wajah perihatin di dalam mobil, di kala saya melintas di daerah itu. Di barisan belakan itu, banyak pasangan remaja yang kencang (duduk berdua-duaan) dengan pasangan mereka masing-masing.

            Hehe! Dengan sedikit tertawa Zahir melanjutkan ceritanya, inilah dinamakan antara Dzikir dan Sykur. Dzikir di barisan depan dan Syukur di barisan belakan. Karena para remaja memanfaatkan moment-moment seperti ini untuk berkencang dengan pacar. Yaya. Kapan lagi ada waktu yang seindah ini.