Perasaan Yang Salah

 I love you. I miss you. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Kata-kata itulah yang sering kali diungkapkan oleh sepasang pemuda kepada sang kekasih. Mereka berjanji untuk saling meyayangi selamanya hidup semati. Walau kenyataannya salah satu dari mereka pergi, maka gugurlah semua janji yang telah terucap dan mualialah tumbuh benih-benih yang baru.

 Betapa banyak saudara-saudara kita yang berbuat maksiat dengan dalil cinta. Padahal apa yang diperjuangkan itu bukan cinta. Jika anda pernah membaca buku “Lailah Majnun” karya Nizami. Diceritakan bahwa Qais yang sedang mabuk cinta, tidak lagi melihat dirinya ada kecuali kekasihnya Lailah. Pertanyaannya seperti itukah yang anda rasakan? Paling hanya yang anda sedang turuti adalah dorongan rnafsu bukan cinta.

 Ya. Kualitas cinta tergantung pada objek cinta itu. Mengapa Qais bisa merasakan hal demikian, karena objek yang dicintainya itu adalah objek yang tertinggi, Lailah yang dimaksudkan adalah Tuhan. Mencintai Lailah bukan Lailah yang tampak pada penglihatan manusia biasa (lahiriah), tapi hakikatlah yang dicintainya, dengan mencintai Lailah dia melihat Tuhannya. Tuhan yang telah menciptakannya.Tuhan yang kuasa dirinya dan atas segala sesuatu, baik itu di langit mauoun di bumi.

Sedikit khawatir kepada saudara-saudara kita yang sekarang sedang asyik menikmati pacaran, kasih dan sayang merka dihabiskan di masa-masa pacaran, sehingga tidak ada lagi untuk masa depan. Setelah menikah kemesrahan tidak lagi menjadi sesuatu yang indah. Saat-saat indah itu sudah berlalu, mereka habiskan di waktu pacaran. Hal seperti ini memicu timbulnya perceraian. Sebagaimana yang kita saksikan para artis di negeri ini, angka perceraian sangat tinggi. Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang semestinya harus di lakuakan setelah adanya status yang resmi (suami-istri). Akan tetapi sebelum pernikahan terjadi, sudah dilakukan terlebih ulou. Akibatnya setelah menikah tidak ada lagi yang sangat special dari status resmi itu.

Sebaiknya rasa kasih dan sayang anda disimpan dulu saja untuk masa depan, pacar belum halal untuk mendapatkan lebih. Janji-janji yang sudah terucap tidak mempunyai arti yang kuat, tidakkah anda ingat dia hanya pacar, kedudukannya tidak lebih dari seorang teman, tidak mungkin melebihi status kekasih halal anda.  Oleh karena itu, jadikalnlah dia sebagai pasangan yang halal, agar tidak ada lagi batasan untuk saling mencintai dan mencurahkan perasaan. Kesempurnaan pun sudah terbentuk pada diri seseorang yang sudah mempunyai kekasih halal, tinggal ditambah dengan taqwa saja. Dengan status tersebut, dapat juga menjauhkan kita dari perbuatan maksiat. Dalam riwayat Nabi pernah mengatakan iman seseorang belum sempurna sampai dia menikah.

Kenapa harus mencintai orang yang belum halal bagi anda? Tidakkah ini akan mengganggu anda? Coba bayangkan, jika setiap hari anda memikirkannya dan memberikan perhatian kepadanya. Lantas apa yang anda dapat? Bahagiakah anda? Karena anda sebenarnya meman menginginkan kebahagian, bagaimana mungkin bisa bahagia dengan tipuan-tipuan nafsu. Nafsu anda tidak akan pernah puas, bahkan sebaliknya yang akan terjadi, nafsu justru semakin menjadi-jadi dan membeludak di dalam diri.