Dzat Dan Sifat Tuhan

Oleh: Husnul Amilin & Inas Sakinah

1. Sifat Tuhan Perspektif Asy-Ariyah dan Al-Maturidiyah

Abu Musa Hasan al-Asyari dan Abu Mansur Muhammad al-Maturidi adalah dua tokoh besar yang pemikiran-pemikiran mereka dijadikan landasan utama bagi mazhab teologi Asyariyah dan Maturidiyah. Mazhab Asyariyah menjadikan pemikiran al-Asyari sebagai pondasi pemikiran mereka, sementara mazhab Maturidiyah menjadikan pemikiran al-Maturidi sebagai pondasi pemikiran mereka. Pemikiran kalam yang diusung oleh Al-Asyari dan Al-Maturidi mengenai sifat-sifat Tuhan secara umum tidaklah berbeda, namun jika kita coba membahasnya lebih dalam lagi, barulah akan kita temukan beberapa perbedaan.

Al-Asyari dan al-Maturidi sebagai pelopor dari mazhab teologi Asyariyah dan Maturidiyah sepakat bahwa Tuhan itu memiliki sifat, berbeda dengan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak bersifat. Pertama dari sudut pandang golongan Asyariyah yang mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki sifat dan itu dapat diketahui dari Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang sifat-sifat Tuhan, seperti Yang Maha Mendengar, Mengetahui, Melihat, Kuasa, dan lain sebagainya. Kaum Asyariyah juga menetapkan bahwa sifat-sifat Tuhan sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas itu bersifat kekal (qadim) sama kekalnya dengan dzat-Nya.[1] Namun untuk menghindari adanya dua hal yang bersifat kekal mereka berargumen bahwa sifat-sifat Tuhan itu bukan Tuhan dan bukan pula selain Tuhan, yang dalam Bahasa Arab disebutkan seperti ini “la hiya huwa wa la hiya ghairuh”.[2]   Kalangan Maturidiyin(para pengikut Maturidiyah) juga demikian. Mereka juga mengakui bahwa Tuhan itu memiliki sifat dan sifatnya itu Qadim. Jadi, dalam hal Tuhan bersifat atau tidak, tak perlu lagi penulis paparkan pendapat dari golongan Maturidiyah karena dalam hal ini mereka sepaham dengan golongan Asyariyah.

Tuhan tidaklah terwujud dalam bentuk materi melainkan immateri. Oleh karena itu kedua golongan baik itu Maturidiyah maupun Asy’ariyah sepakat bahwa Tuhan itu tidak mungkin memiliki sifat-sifat jasmani sebagaimana yang juga dimiliki oleh manusia.[3] Walaupun di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan itu seakan memiliki sifat-sifat Jasmaniyah seperti  ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa” Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.”[4] dan surat yang lainnya” Dan tetap kekal wajah Tuhanmu”[5]. Dalam dua ayat di atas disebutkan bahwa Tuhan memiliki tangan dan wajah. Dan oleh kedua golongan yaitu Asyariyah dan Maturidiyah sepakat bahwa tangan dan wajah Tuhan itu tidak bisa disamakan dengan tangan dan wajah yang ada pada manusia. Lantas bagaimana cara masing-masing golongan ini mengartikan tangan dan wajah Tuhan tersebut?. di sinilah terjadi perbedaan yang cukup mendasar antara kedua kelompok teologi ini.

Menurut golongan Maturidiyah sifat-sifat jasmaniyah Tuhan seperti yang penulis ungkapkan di atas bisa diartikan sebagai berikut, kata yadun bisa diartikan sebagai kekuasaan, ainun bisa diartikan sebagai pengetahuan. Intinya adalah bahwa sifat-sifat jasmaniyah yang dinisbatkan kepada Tuhan itu memang tidak bisa kita samakan sebagaimana sifat-sifat jasmaniyah yang juga dimiliki oleh manusia. Karena bagaimana mungkin Tuhan sebagai entitas yang tak terbatas disamakan dengan manusia yang serba terbatas. Namun bisa kita artikan dengan makna-makna seperti yang telah penulis sebutkan di atas.

Sementara golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa sifat-sifat jasmaniyah Tuhan itu tidak bisa kita maknai seperti itu(seperti yang dimaknai oleh golongan Maturidiyah). Bagi golongan ini, kata yaddun itu tidak bisa kita maknai kekuasaan, kata ainun itu tidak bisa kita maknai pengetahuan. oleh karenanya sifat-sifat jasmaniyah itu tidak bisa kita maknai. Hal ini sesuai dengan perkataan al-Asy’ari” Tuhan mempunyai mata dan tangan yang tak dapat diberikan gambaran ataupun definisi.”[6] Nampaknya alasan golongan Asyariyah mengatakan bahwa sifat-sifat jasmaniyah Tuhan itu tidak boleh diberikan gambaran maupun definisi adalah karena akal manusia sebagai sesuatu yang terbatas tidak mampu untuk menjangkau sesuatu yang tidak terbatas. Memang Tuhan itu memiliki tangan dan wajah namun manusia dengan kelemahan dan keterbatasan dirinya, tidak akan mampu memahami bagaimana tangan dan wajah Tuhan itu. [7]

Berdasarkan atas alasan-alasan yang diberikan oleh kedua kelompok ini, penulis beranggapan bahwa dalam hal ini sebetulnya tidak ada pertentangan  yang terjadi antara golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah, karena mereka sama-sama menyatakan kesepakatannya bahwa sifat-sifat jasmaniyah Tuhan seperti yang termaktub di dalam Al-Quran itu tidaklah sama dengan sifat-sifat jasmaniyah yang dimiliki oleh manusia. Hanya saja dari golongan Maturidiyah—menurut penulis—telah lebih unggul satu langkah dari golongan Asy’ariyah. Karena golongan Maturidiyah telah berani menafsirkan sifat-sifat jasmaniyah Tuhan seperti tangan yang diartikan kekuasaan dan wajah diartikan entitas. Sementara golongan Asyariyah mengatakan bahwa sifat-sifat jasmaniyah Tuhan seperti tangan dan wajah tetap disebut sebagai tangan dan wajah, hanya saja tidak bisa disamakan dengan tangan dan wajah yang ada pada manusia.

2.      Sifat Tuhan perspektif Mu’tazilah

Pembicaraan akan sifat-sifat Tuhan merupakan salah satu ranah kajian dari ilmu kalam yang cukup penting untuk didiskusikan. Dari sekian aliran-aliran kalam yang ada,hanya ada tiga aliran kalam yang memiliki perbedaan pemikiran yang sangat ekstrim mengenai sifat-sifat Tuhan ini yakni aliran Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Maturidiyah[8].

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa aliran Mu’tazilah memiliki lima doktrin atau ajaran pokok yang menjadi prinsip utama aliran Mu’tazilah. Salah satu dari lima doktrin tersebut yaitu tauhid, dimana dalam akidah tauhid ada beberapa jenis dan tingkatan: tauhid zati (keesaan zat), tauhid sifati (keesaan sifat), tauhid af’ali (keesaan perbuatan) dan tauhid ibadi (tauhid dalam ibadah)[9]. Tauhid sifati-lah yang menjadi bahan pokok perdebatan antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah, mereka memiliki pemikiran yang bertolak belakang satu sama lain. Aliran Mu’tazilah berpendapat mengenai permasalahan ini bahwa Tuhan itu tidak bersifat.

Sebagaimana aliran kalam yang lain, aliran Mu’tazilah meyakini keesaan Tuhan. “ tiada suatu apapun yang pantas menyertai keberadaan Tuhan” itulah pendapat mereka tentang keesaan Tuhan. Sehingga mereka khawatir apabila Tuhan memiliki sifat, maka tentunya sifat-sifat itu akan kekal sebagaimana kekalnya zat Tuhan. Oleh karena itu muncul yang namanya paham ta’addud al-qudama (berbilangnya yang kadim). Aliran Mu’tazilah ini percaya bahwa paham tersebut bisa merusak ajaran tauhid dan menjadi syirik, sehingga akhirnya mereka pun meniadakan sifat Tuhan. Bagi aliran Mu’tazilah, apa yang disebut sebagai sifat Tuhan bukanlah sifat yang berdiri di luar dzat, tetapi sifat yang merupakan esensi Tuhan.[10] Oleh karena itu, ketika Tuhan mengetahui, Dia mengetahui bukan dengan sifat-Nya melainkan dengan pengetahuan-Nya dan pengetahuan-Nya itu adalah dzat-Nya, Tuhan berkuasa dengan kekuasaan-Nya dan kekuasaan-Nya itu adalah dzat-Nya, Tuhan hidup dengan kehidupan-Nya dan kehidupan-Nya itu adalah dzat-Nya. Demikian seterusnya.[11]

Mahmud Subhi berpendapat bahwa pemikiran Mu’tazilah ini dilatarbelakangi oleh konsep Nasrani tentang sifat Tuhan. Dalam ajaran Nasrani, Isa al-Masih adalah seorang manusia, tetapi dalam dirinya terdapat sifat Tuhan. Keberadaan sifat itu membawa arti dalam diri Isa terdapat ta’addud, yaitu Isa sebagai manusia dan juga sifatnya sebagai Tuhan.[12] Ajaran nasrani ini sepertinya menjadi perbandingan bagi konsep Mu’tazilah tentang sifat Tuhan dalam Islam. Oleh karena itu, alasan aliran Mu’tazilah menafikan sifat Tuhan demi mempertahankan keesaan Tuhan semata, atau yang disebut dengan paham tauhid.

Abu al-Hudzayl pun berpendapat bahwa jika Tuhan bersifat, maka ada unsur susunan pada diri Tuhan. Susunan itu membawanya kepada adanya bagian-bagian. Bagian-bagian tersebut adalah dzat dan sifatnya yang sama-sama kadim dan setiap yang kadim adalah Tuhan. Sehingga menurut Abu Hudzayl paham syirik pun muncul di sini. Oleh karena itu, Tuhan pasti tidak bersifat seperti manusia.

Ada sebagian tokoh Mu’tazilah  yang tidak diketahui namanya mengatakan bahwa pemberian sifat kepada Tuhan hanya bertujuan memberitahukan kepada manusia bahwa Tuhan itu Mahasempurna.[13] Jadi pemberian sifat-sifat itu bukan benar-benar adanya kepada Tuhan, melainkan hanya sekedar metode untuk memperkuat keyakinan manusia kepada Tuhan.

Meskipun aliran Mu’tazilah ini menafikan sifat-sifat Tuhan, tetapi ternyata mereka tidak menolak konsep “sifat Tuhan”. Hanya pengertian tentang sifat dan kedudukannya saja yang berbeda.  Mereka menafikan sifat Tuhan yang apabila sifat tersebut berdiri sendiri dan terpisah dari dzat-Nya. Bagi aliran Mu’tazilah, sifat-sifat itu merupakan esensi Tuhan sendiri. Dengan demikian kata-kata sifat itu adalah dzat-Nya yang tidak dapat dipisahkan.  Karena itu bagi aliran Mu’tazilah, Tuhan tetap Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Mahakuasa, dan lain-lain.

Aliran Mu’tazilah membagi sifat-sifat Tuhan menjadi dua, yaitu sifat dzatiah dan sifat fi’liah. Sifat dzatiah adalah sifa-sifat yang merupakan esensi Tuhan, seperti al-wujud , al-qadim, al-hayah, dan al-qudrah. Sedangkan sifat fi’liah adalah sifat-sifat yang merupakan perbuatan Tuhan dalam hubungan-Nya dengan makhluk seperti al-iradah, al-‘adl dan kalam.

3.    Kesimpulan

Setelah selesai memaparkan masing-masing pandangan dari masing-masing mazhab teologi di atas, maka pada tahap kesimpulan ini kami akan mencoba untuk mencari jalan tengah dari kedua macam pandangan yang memang terkesan bertolak belakang ini. Sekali lagi ingin penulis ulangi bahwa pada pembahasan tentang sifat Tuhan ini ada dua pandangan yang berbeda yaitu kelompok Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak memiliki sifat dan kelompok Asy’ariyah serta Maturidiyah yang mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki sifat. Kelompok Mu’tazilah sekalipun mereka menafikan sifat Tuhan, itu bukan berarti bahwa Tuhan itu tidak mengetahui, tidak melihat, dan lain sebagainya. Mereka tetap meyakini bahwa Tuhan itu maha mengetahui dengan ilmunya dan ilmunya itu tidak lain adalah dzatnya. Berbeda dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah yang mengatakan bahwa Tuhan itu mengetahui, melihat, dan itu dengan sifatnya bukan dengan dzatnya.

Kemudian yang jadi permasalahannya itu, sekaligus yang menjadi kritik golongan Mu’tazilah terhadap Asy’ariyah dan Maturidiyah, bahwa golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah mengatakan bahwa sifat Tuhan itu qadim sebagaimana dzatnya Tuhan yang qadim. Sehingga ketika adanya dua hal yang qadim, maka itu akan memunculkan yang namanya ta’addud al-qudama’(terbilangnya dua hal yang qadim). Ketika kita telah mempercayai adanya dua hal yang qadim, itu berarti kita telah mengatakan bahwa Tuhan itu tesusun, tersusun dari sifat dan dzat. Sementara di sisi lain kita telah meyakini bahwa Tuhan itu tidak tersusun (bashith) seperti manusia yang juga tersusun dari sifat dan dzat, yang suatu ketika sifat manusia ini bisa saja terpisah dari dzatnya. Golongan Asy’ariyah dalam merespon kritikan Mu’tazilah, mengatakan bahwa sifat Tuhan itu bukanlah dzat-Nya tapi bukan pula selain dzat-Nya. Bagi kami, pernyataan ini memang sulit untuk dipahami, karena bagaimana mungkin sifat Tuhan itu bukan dzat dan bukan pula selain dzat. Kalau sifat ini bukan dzat dan selain dzat, kemudian sifat ini apa?.

Penulis juga yakin bahwa semua golongan ini baik itu Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah, sama-sama meyakini bahwa Tuhan itu tidaklah tersusun. Maka oleh karena itu—walaupun tanpa referensi yang jelas—penulis berkeyakinan bahwa ketiga golongan yang berselisih ini tidaklah berselisih dari segi tujuan, melainkan hanya berselisih dari cara penyampaian saja.


[1] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Hlm. 136

[2] Noer Iskandar, Pemikiran Kalam al-Maturidi. Hlm 33

[3] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Hlm. 137

[4] Surat al-Fath:10

[5] Surat al-Rahman:27

[6] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Hlm.  138

[7] Ibid,hlm.138

[8]Afrizal M., Ibn Rusyd 7 Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hal. 44.

[9]Murthada Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam: cara mudah menembus kebuntuan berfikir, (Jakarta:  Pustaka Zahra, 2002) hal. 37.

[10]M.Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam, (Jakarta: Amzah, 2011) hal. 77, lih. Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, hal. 53.

[11] M.Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam, (Jakarta: Amzah, 2011) hal. 77, lih. Abu al-Fath Muhammad Abdul Karim bin Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, al-Minah wa al-Nihal, hal.49.

[12] Afrizal M., Ibn Rusyd 7 Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hal. 44, lih. Al-Iraqi, Naz’ah ‘Aqliyah, hal.228.

[13] Afrizal M., Ibn Rusyd 7 Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hal. 46, lih.Ibn Rusyd, Manahij, hal.151