TASAWUF DAN PSIKOLOGI (ILMU JIWA)

  1. Hubungan Tasawuf dengan Psikologi ( Ilmu Jiwa)

Pembahasan Tasawuf , terutama tasawuf amali, sangat erat kaitanya dengan pembahasan penyucian diri atau jiwa manusia. Dalam hal ini akan terlihat adanya hubungan antara jiwa dan raga manusia, dimana ketika seseorang melakukan proses penyucian jiwa melalui riyadhah, maka akan terjadi proses transformasi diri. Misalnya ketika seseorang sudah berhasil menahan diri dari sifat amarah, maka akan terpancar pada dirinya sifat penyabar. Karena orang lain akan tahu bahwa seseorang itu penyabar dari penampilan dirinya. Adanya keterkaitan antara jiwa dan raga dalam pembahasan tasawuf inilah yang menjadikan tasawuf erat hubungannya dengan psikologi yang banyak membahas tentang jiwa. Dan sekarang ini kajian tentang jiwa yang  lebih ditekankan pada personality (kepribadian) disebut dengan Transpersonal Psikologi. Kalau dulu istilahnya kesehatan mental.

Problem kepribadian (mental) meliputi semua unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan persaaan; yang mana semua itu akan sangat mempengaruhi perilaku seseorang dalam menghadapi masalah. Dalam hal inilah muncul dua kondisi manusia yaitu yang sehat mental dan yang kurang sehat mental.

Orang yang sehat mental adalah orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan pribadinya. Misalnya ketika ada  masalah dia tidak mudah stress, tapi mencoba mencari solusi pemecahannya dengan cara mencari sebab-sebab permasalahannya. Orang yang sehat mentalnya tentulah tercermin dalam diri orang yang baik kepribadiannya yang sangat tercermin dalam tingkah laku atau akhlaknya. Dia tidak akan sombong ketika memiliki kelebihan dari yang lain; dia tidak akan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati yang lain dsb. Pada porsi inilah ajaran-ajarn tasawuf sangat menunjang. Misalnya ketika seseorang sangat bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, maka ajaran tasawuf mengatakan bahwa semua ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Pada orang yang resah dan galau, maka ajaran tasawuf akan mengatakan dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.

  1. Komparasi antara Psikologi Barat dengan Psikologi Sufi (pemikiran Robert Frager)

 a. Psikologi barat (tradisional) beranggapan bahwa manusia tidak lebih dari tubuh dan pikiran yang berkembang dari sistem saraf tubuh. Sementara menurut psikologi sufi elemen terpenting dalam diri manusia adalah hati yang merupakan tempat intuisi batiniah, pemahaman dan kearifan. Manusia tidak hanya sekedar tubuh dan pikiran, namun juga perwujudan ruh Ilahi. Dan dimensi Ilahiah inilah yang seharusnya kita optimalkan dalam kehidupan ini. Karena kita dicipta oleh Allah untuk mengikuti jalan penyucian dan penyempurnaan diri dan  kemudian akan kembali ke Allah.

 b. Menurut psikologi barat, puncak kesadaran seorang manusia terdapat pada kesadaran rasional.Beitu juga dalam menetapkan kecerdasan seseorang dengan kecerdasan intelektual. Oleh karena itu psikologi barat menempatkan nalar logika sebagai puncak keahlian dan jalan manusia memperoleh pengetahuan. Sementara psikologi sufi menempatkan puncak kesadaran ada pada hati, begitu pula puncak kecerdasan seseorang ada pada kecerdasan spiritual. Dan dalam memperoleh pengetahuan tidak hanya tergantung pada kemampuan nlar logika dan rasional, tapi juga bisa melalui jalan penyucian diri. Dalam ajaran Islam dengan jalan takwa Allah akan memberi pengetahuan kepada seseorang.

 c. Tentang alam semesta psikologi barat bernggapan bahwa alam adalah materi semata yang diperuntukan bagi kehidupan manusia. Namun bagi psikologi sufi alam adalah materi hidup yang mempunyai ruh dan merupakan manifestasi atau tanda eksistensi Allah. Oleh karena itu bila kita bersahabat dengan alam, maka alampun akan bersahabat dengan kita, sebaliknya bila alam kita aniaya, maka dampak buruknyapun akan menimpa kita.

d. Berkaitan dengan sifat manusia, psikologi tradisional memusatkan perhatianya hanya pada keterbatasan manusia dan tendensi –tendensi neurotik, atau pada kebaikan lahiriah dan sifat positif dasar manusia. Sementara psikologi sufi menempatkan manusia pada posisi antara sifat malaikat dan sifat hewan. Manusia mempunyai potensi bisa lebih tinggi dari malaikat, dan lebih rendah dari binatang.

        3. Jalan Tasawuf

 Tasawuf sebagai metode pendekatan diri kepada Allah bisa melalui banyak jalan.

 a.      Jalan Hati.

Mengabdi kepada Allah adalah salah satu praktik mendasar dalam menempuh jalan tasawuf. Niat pengabdian dan penghambaan diri hanya kepda Allah pada akhirnya membuahkan rasa Cinta. Dan ketika rasa Cinta ini sudah membara maka tidak ada lain dalam kehidupan ini selain ingin selalu bersama dengan yang dicinta. Rumi dalam sebuah syairnya menulis:

               Sejak kudengar dunia Cinta

               Kuserahkan hidupku, hatiku

               Dan mataku di jalan ini

               Mulanya, aku meyakini bahwa cinta

               Dan yang dicintai adalah berbeda

               Kini, kupahami mereka adalah sama

               Aku melihat keduanya dalam kesatuan.

 b.     Jalan Akal.

Kearifan seorang sufi tidak hanya ditandai dengan pengetahuan yang ada dalam kepalanya, namun juga menerapkanya. Karena bagi seorang sufi seorang sarjana yang tidak mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya bagaikan seekor keledai yang mengangkut banyak buku.

 c.      Jalan Kelompok.

Sebagai makhluk sosial manusia cenderung untuk memebentuk sebuah kelompok atau komunitas. Nah jalan tasawuf bisa juga dengan cara berkelompok. Mereka kemudian melakukan praktik spiritualnya secara bersama-sama dalam wirid mingguan, manakib bulanan dsb; dimana dalam kelompok tersebut ada seorang Syekh atau pemimpin yang senantiasa memberikan pelajaran.

 d.     Jalan Pelayanan.

Jalan pendekatan ini lebih erat kaitannya dengan aktifitas sosial, kepedulian terhadap sesama dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Bukankah dalam ajaran Islam juga disebutkan bahwa tidak beriman seseorang ketika dia tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar.

 e.      Jalan Zikir.

Jalan berzikir, jalan mengingat Allah adalah salah satu jalan pendekatan diri. Tentu dalam berdizikir ini ada yang bersifat jahr, dengan lisan, ada yang bersifat kalbu dengan hati. Dengan senantiasa berdizikir inilah kita akan senantiasa memusatkan perhatian kita kepada Allah.

Catatan:

1. Artikel tersebut ditulis oleh dosen pengampu mata kuliah “Pengatar Tasawuf” STFI Sadra Jakarta Tahun Akademik 2012-2013

2. Artikel tersebut sudah  dipersentasikan di kelas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STFI Sadra Jakarta

3. Editor: Harkaman