AL-QUR’AN DAN AKTIVITAS ILMIAH

BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman seakan memberikann gairah baru pada kehidupan manusia saat ini. Seakan tidak ada lagi batas antara alam ghaib dan alam fisik. Karena adanya dukungan dari perkembangan tekhnologi dan informasi yang begitu pesat. Apa yang terjadi di belahan dunia barat, timur, selatan dan utara akan tersebar dalam hitungan detik saja.

            Perkembangan zaman melahirkan paradigma baru, khususunya dalam persoalan agama. Pada zaman dahulu orang-orang beragama, karena sebuah ketakutan dan ketidaktahuan mereka. Misalnya terjadinya hujan, banjir dan gempah membuat orang-orang gelisah, kenapa hal itu bisa terjadi. Sehingga mereka tergiring untuk harus percaya sesuatu yang kuasa di luar dirinya, itulah Tuhan. Namun dalam perkembangan zaman, apa yang dulunya menjadi sebuah sesuatu yang mistik, kini dijawab oleh pengetahuan tentang alam. Akibatnya perlahan-lahan sebagian orang mulai meninggalkan kepercayaan (agama) mereka.

            Sejarah mencatat sebuah perubahan besar terjadi pasca renaisan hingga pra-modern. Terjadi sebuah revolusi pemikiran dan  keyakinan secara besar-besaran, guna untuk mengharmoniskan kehidupan manusia kembali.

            Beberapa agama kemudian memunculkan teori baru untuk mempertahankan agama mereka. Karena tidak ditemukannya korelasi antara agama dan sains. Agama dinilai hanya mengurusi urusan manusia denngan Tuhan. Sementara persolan yang sifatnya kontemporer tidak bisa dijawab.

            Di dalam dunia Islam, hal ini berbeda dengan apa yang telah disebutkan di atas. Islam sebagai agama yang diperkirakan tertelan oleh zaman, sebagaimana agama-agama lain. Namun tidak memberikan pergesaran makna ajaran hingga saat ini. Walau sudah banyak hal yang berubah. Ini cukup mencengangkan, satu-satunya agama yang masih bertahan dengan teradisi-teradisinya, di saat zaman mulai berubah. Dia masih saja tetap eksis. Sebuah kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW 14 abad silang. Al-Qur’an hingga saat ini, masih menjadi rujukan bagi umat Islam dunia, bukan hanya pada persoalan mistik saja, akan tetapi sampai kepada urusan keilmuan. Mungkin itulah yang menyebabkannya Islam hingga saat ini masih tetap eksis.

1.2. Rumusan Masalah

Sungguh menarik membahas masalah tentang keterkaitan sains dengan al-Qur’an, dimana keduanya memiliki dimensi yang berbeda. Sains yang kebenarannya didasarkan atas pengalaman empiris. Sedangkan al-Qur’an kebenarannya bersifat mutlak. Karena bersumber dari Allah SWT. Oleh karena itu, saya akan mencoba merumuskan beberapa permasalahan. Yaitu:

1.2.1.        Bagaimana konsep ilmu menurut Islam?

1.2.2.      Apakah di dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan tentang aktivitas ilmiah?

1.2.3.       Sejauh mana kedudukan sains dalam memberi makna Al-Qur’an?

1.3. Hipotesis

Al-Qur’an sebagai kitab suci dan merupakan sumber inspirasi bagi sarjana Muslim. Membuktikan keterlibatan al-Qur’an dalam penelitian mereka. Sehingga melahirkan berbagai macam teori dan temuan.

Kita ketahui bersama, bagaimana para ilmuan Muslim di Masa Bani Umayyah dan Bani Abbasyi’ah membuktikan kehebatan mereka. Hingga mampu menggemparkan dunia dengan aktivitas ilmiah mereka . Di balik itu, pastilah ada rahasia yang memberikan pengaruh besar dalam penelitian yang dilakukan.

Banyak literaturr menyebutkan bahwa di masa itu, para ilmuan Muslim benar-benar mengkaji ajaran Islam, khususnya kitab suci Al-Qur’an. Mereka menyadari dan berhasil membuktikan bahwa Al-Qur’an itu tidak hanya berbicara pada persoalan ibadah saja. Akan tetapi berbicara tentang keilmuan. Dua dimensi inilah yang memperkuat teori dan temuan para ilmuan Muslim, hingga ruhnya masih terasa hingga sekarang. Membuat temuan mereka masih eksis, salah satu bukti banyaknya buku-buku Islam yang kemudian diterjemahkan di Barat dan  memberikan sumbangsi besar bagi peradaban mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu, aktivitas ilmiah semakin meningkat dan berbagai macam teori serta temuanpun muncul. Agama perlahan-lahan mulai kehilangan maknanya, karena dipisahkan dari persoalan keilmuan, dibatasi hanya pada persoalan ibadah. Namun tidak dalam Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan saat ini justru mempermudah memahai suatu ayat Al-Qur’an.

Berangkat dari situ, muncullah pandangan bahwa bahwa sains sekarang  telah islami, karena banyak penemuan baru sains yang bersesuaian dengan konsep-konsep Al-Qur’ann tentang alam.[1] Misalnya tentang asal mula alam semseta, teori atom, teori keseimbangan alam, teori penciptaan manusia dan lain-lain.

1.4. Tujuan Penulisan

Dengan tulisan sederhana ini, berharap dapat memberikan makna yang tidak sederhana. Saya bermaksud untuk memberikan penafsiran (pemakanaan) Al-Qur’an dengan memanfaatkan temuan sains saat ini. Karena hal ini, akan mempermudah kita untuk mencerna maksud dari suatu ayat Al-Qur’an.

Selain itu, saya ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa keberhasilan yang pernah diraih umat Islam di masa lalu, karena mereka terinpirasi dari Al-Qur’an. Mengingat dimensi yang telah dimiliki Al-Qur’an tidak hanya mencakup persoalan ibadah akan tetapi pada persoalan keilmuan juga.

Dan yang terpenting adalah untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT, sebagai pencipta dari segalanya. Walau Dia tidak tercipta, namun bisa menciptakan kehidupan dan alam semesta serta isinya.

1.4. Manfaat Penulisan

Ketika memahami dimensi lain dari Al-Qur’an tentunya meberikan sensasi yang berbeda. Dengan melakukan pengkajian pada sesuatu yang memberikan sesuatu yang tidak bisa, maka akan mempermudah kita untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan. Penjelasan Al-Qur’an dipandag dari sudut keilmuan memberikan efek yang berbeda dengan penjelasan pada umumnya.

Tulisan ini dapat memberikan pemahaman tentang kebenaran-kebenaran Al-Qur’an yang bersesuaian dengan penemuan sains. Akan menambah kepercayaan (keimanan) kita terhadap Allah SWT.

BAB II

AL-QUR’AN DAN AKTIVITAS ILMIAH

2.1. Aktivitas Ilmiah

Aktivitas ilmiah adalah suatu proses pencarian atau pembuktian sesuatu oleh seorang peneliti dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

            Metode atau cara kerja ilmu pengetahuan pertama kali oleh filosof Yunani bernama Aristoteles. Metode sebagai upaya mendapatkan pengetahuan yang benar merupakan penolakan Aristoteles terhadap idealisme Plato.[2] Plato mengatakan bahwa proses mengetahui manusia ketika berhadapan dengan alam semesta di dunia indrawi, dimana manusia melakukan proses pengingatan kembali terhadap apa-apa yang pernah didapatkan di dunia ide. Aristoteles mengatakan yang sebaliknya bahwa hal itu bukan sebuah proses pengingatan kembali dari di dunia ide, melainkan sebuah abstraksi dari dunia konkret menuju dunia ide melalui tahap-tahapan tertentu.

            Aristoteles memandang penelitian ilmiah sebagai kelanjutan dari observasi-observasi empiris ke prinsip-prinsip umum dan kemudian prinsip-prinsip umum kembali lagi ke observasi. Proses dari observasi ke prinsip umum disebut induksi dan proses dari prinsip-prinsip umum ke observasi dinamakan deduksi.[3]

Saya akan memberikan satu contoh penelitian dengan menggunakan salah satu metode ilmiah, yaitu metode induksi. Apabilah seorang ilmuan hendak melakukan penelitian dengan menggunakan metode ini, maka harus melalui berapa tahapan berikut.

  • Perumusan Masalah: masalah yang hendak dicarikan permasalahan ilmiahnya.
  • Pengajuan hipotesis: mengajaukan penjelasan yang masih bersifat sementara untuk diuji lebih lanjut melalui verifikasi.
  • Pengambilan sampel: pengumpulan data dari beberapa fakta partikular yang diangggap bisa mewakili keseluruhan untuk keperluan penelitian lebih lanjut.
  • Verifikasi: pengamatan disertai pengukuran statistik untuk memberi landasan bagi hipotesis.
  • Tesis: hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.[4]

Dalam penerapannya di lapangan, bagaimana metode induksi ini digunakan. Contoh: Seorang ekonom meneliti tentang murahnya harga ikan di daerah pesisir. Pertama-tama peneliti merumuskan masalah terlebih dulu, yaitu harga ikan di daerah pesisir murah, selanjutnya mengajukan hipotesis, harga ikan di daerah pesisir itu murah karena di sana banyak nelayang dan hasil tangkapannya mudah  didapat. Selanjutnya mengambil beberapa sampel saja misalnya 60 daerah pesisir. Dari sampel yang ada masuklah pada tahap  verifikasi, hal ini dilakukan dengan pengukuran statistik yang ketat untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Ketika hasil verfikasi sesuai dengan hipotesis, maka jadilah dia tesis.

 

 2.2. Konsepsi Islam Tentang Ilmu

            Dalam dunia Barat telah terjadi pemisahan antara agama dan ilmu. Hal ini terbalik di dalam Islam, justru antara agama dan ilmu tidak dipisahkan. Gagasan pemisahan antara agama dengan ilmu ditolak dengan tegas. Islam mengharuskan umatnya untuk menuntut ilmu. Islam sangat menghargai derajat ulama dan ilmuan. Islam menjadikan aktivitas dakwah untuk mengajak orang lain mencari kebenaran dan petunjuk sebagai inti agama serta menjadikan kemanfaatan ilmu untuk kebahagian sebagai inti dari pencarian ilmu itu sendiri.[5]

            Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

            “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

            Ada dua hal yang terkandung di dalam ayat tersebut di atas, yaitu mengenai tentang iman dan ilmu. Kedua hal itu kerap kali digandengkan di dalam Al-Qur’an, karena memiliki keterkaitan yang sangat mendasar. Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai tentang iman yang direpsentasikan sebagai ibadah dan ilmu sebagai intelektual.

2.3. Dimensi Al-Qur’an

Saya menilai pembahasan tentang Al-Qur’an sangat menarik. Terlebih kedudukannya sebagai kalam ilahi yang memiliki dua dimensi. Yaitu dimensi spiritual dan dimensi intelektual. Ketika al-Qur’an berbicara masalah ibadah, dia tidak melupakan unsur keilmuannya, sebaliknya di saat berbicara masalah keilmuan tidak melupakan unsur ibadahnya.

Al-Qur’an bukanlah kitab sains. Tetapi ia memberikan pengetahuan tentang perinsip-perinsi sains, yang selalu dikaitkannya dengan pengetahuan metafisik dan spiritual.[6] Di dalam Al-Qur’an disebutkan sebuah perintah membaca dengan menyebut nama Tuhan.[7] Menjadi sebuah landasan bagi umat Islam sebagai perintah untuk mencari pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, harus didasarkan pada fondasi pengetahuan kita tentang realitas Tuhan.

Di dalam dunia Islam Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan. Dimana Al-Qur’an merupakan sumber  inspirasi bagi sarjana muslim.[8]  Karena kitab suci umat Islam itu tidak hanya berbicara mengenai masalah agama, akan tetapi berbicara semua masalah pengetahuan.

2.4. Al-Qur’an Dan Aktivitas Ilmiah

Sejak dulu aktivitas ilmiah sudah ada dalam dunia Islam. Contoh kegiatan ilmiah yang berhubungan dengan wahyu adalah ilmu tafsir. Penafsiran Al-Qur’an merupakan  salah satu aktvitas intelektual utama kaum Muslim sejak awal.[9]

Dalam telaah Al-Qur’an sendiri banyak ilmu yang dilahirkan. Ketika membahas lafal-lafal Al-Qur’an dan cara membacanya lahirlah ilmu tajwid dan ilmu qiraa’ah. Ketika membahas makna-makna ayat al-Qur’am muncul masalah penafisran dan pemahaman, dan lahirlah ilmu tafsir, asbaab al-nuzul, tanzii, ta’wiil, mhkaam dan mutasyaabihaat, naasikh-mansukh. Ketika mebaca ayat-ayat hukum perlu pula ilmu fiqh, ushuul al-fiqh, dan juga ilmu-ilmu hadits sebagai penjelas dan penafsir ayat.

Dalam hal ini, Thabathabaa’i menjelaskan bahwa telaah Al-Qur’an dan hadits Nabi tidak hanya berperan sebagai sumber inspirasi bagi sarjana Muslim, tetapi juga secara alamiyah menumbuhkembangkan ilmu-ilmu filsafat, matematika, kealaman, kesusastraan, dan sejarah. Sejumlah ayat yang menyuruh kaum Muslim untuk memikirkan tatanan alam semesta yang berhubungan dengan eksistensi dan keesaan Tuhan dan sejumlah problem  pelik seperti baik-buruk dalam ilmu kalam mendorong sarjana Muslim untuk menekuni ilmu filsafat.[10]

2.4.1. Big Bang dan Perluasan Alam Semesta

Sebelum ditemukannya teori Big Bang. Ada sebuah observasi yang dilakukan oleh Edwin P. Hubble (1889-1953) melalui teropong bintang raksasa pada tahun 1929 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta. Ini berarti bahwa alam semesta berekspansi.[11]

Pada abad ke-20, lompatan besar terjadi dalam bidang astronomi. Pertama, pada tahun 1992, seorang ahli fisika Rusia, Alexandre Friedman, menemukan bahwa alam semesta tidak statis. Berpijak pada teori Relativitas Einstein, Friedman menghitung bahwa sebuah implus kecil saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut.[12]

Adanya gebrakan baru tentang alam semseta, bahwa terjadi perluasan pada bumi. Mengundang banyak ilmuan untuk meneliti hal ini dan membuka jalan bagi pendapat-pendapat baru. Hingga akhirnya sampai kepada kesimpulan yang mengatakan semua benda alam pada suatu masa memadat dalam sebuah titik tunggak yang memiliki “volume nol”, karena gaya gravitasinya yang besar. Alam semesta kemudian tercipta dari ledakan titik massa yang memiliki “volume nol”. Selanjutnya dinamakan dengan istilah “Big Bang”.

Kalangan ilmiah modern sepakat bahwa “Big Bang” adalah satu-satunya penjelasan masuk akal yang dapat dibuktikan untuk permulaan dan pembentukan alam semesta.[13] Kemunculan teori tersebut memberikan bantahan terhadap argumen yang beranggapan bahwa alam ini tidak ada permulaannya (alam ini tidak ada yang menciptakan).

2.4.2. Alam Semesta Dalam Perspektif Al-Qur’an

Setelah mengetahui penciptaan alam semesta melalui teori “Big Bang” tersebut di atas. Saatnya kita melihat tinjaun Al-Qur’an seperti apa. Mari kita perhatikan ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (Qs. Al-Anbiya: 30)

Ayat tersebut memberikan keterangan tentang terciptanya alam semesta. Berarti Al-Qur’an sudah terlebih dulu mengungkapkan perihal alam semsesta, jauh sebelum ditemukannya teori “Big Bang”. Karena 14 abad kemudian setelah kedatangan Al-Qur’an barulah ditemukan teori tersebut.

Di ayat lain juga disebutkan perihal tentang alam semesta. Yaitu sebagai berikut:

“Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 101)

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS. Adz-Dzari’at:47)

 

2.5. Kedudukan Sains Dalam Memaknai Al-Qur’an

Adanya penemuan ilmiah bukan berarti Al-Qur’an merupakan sebuah kitab ilmiah, kemudian membahas secara rinci tentang sains.  Dalam hal ini saya akan mengutip pendapat Syaikh Musthafa Al-Maraghi yang mengatakan:

”Bukanlah maksud saya untuk mengatakan bahwa kitab suci ini mencakup, secara perinci atau ringkas, seluruh sains dalam gaya buku-buku teks, tetapi saya ingin mengatakan bahwa Al-Qur’an mengandung perinsip-perinsip umum, dalam artian seseorang dapat menurunkan seluruh pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia yang ingin diketahuinya dengan bantuan prinsip-prinsip tersebut. Adalah kewajiban para ilmuan yang terlibat dalam berbagai sains itu untuk menjelaskan perincian yang diketahui pada masanya kepada masyarakatnya…

“Adakalanya penting untuk tidak memperluas (makna ayat) sejauh itu agar kita dapat menafsirkannya dalam sorotan sains. Juga seseorang tidak boleh melebih-lebihkan penafsiran fakta-fakta ilmiah sehingga dapat cocok dengan ayat Al-Qur’an. Bagiamanapun, jika makna lahiriyah ayat itu konsisten dengan sebuah fakta ilmiah yang tetap mantap, kita menafsirkannya dengan bantuan fakta itu. [14]

            Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Musthafa. Karena temuan ilmiah adalah hasil dari eksperimen yang didasarkan atas pengalaman empiris. Jika demikian, maka ada kemungkinan terjadi perubahan di masa akan datang. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan tekhnologi terus berkembang dari hari ke hari. Oleh karena itu, temuan ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai tafsiran dan pembuktian secara mutlak. Akan tetapi, hanya sebagai salah satu metode yang dapat mempermudah kita untuk memahami Al-Qur’an.

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

            Aktivitas ilmiah menggemparkan dunia. Dimana agama mulai ditinggalkan karena tidak relevan lagi dengan kebenaran ilmiah yang telah ditemukan oleh ilmuan. Namun berbeda halnya apa yang terjadi di dalam dunia Islam. Hasil temuan ilmiah justru membuat barisan pertahanan Islam semakin kokoh. Karena temuan-temuan ilmiah modern bersesuaian dengan apa yang diterangkan di dalam Al-Qur’an.

            Kendatipun ditemukannya fakta-fakta ilmiah bukan berarti rahasia Al-Qur’an tersingkap sepenuhnya. Terlebih lagi menjadikannya sebagi tolak ukur kebanaran penafsiran Al-Qur’an. Temuan ilmiah tidak bisa disandingkan dengan Al-Qur’an, dia hanya berkedudukan sebagai pendukung atas apa yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, sehingga mempermudah kita untuk memahami suatu ayat Al-Qur’an.

            Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak bisa dikatakan sebagai kitab ilmiah. Namun tidak bisa dinafikan keterangan yang diberikan Al-Qur’an tentang prinsip-prinsip ilmiah. Para ilmuan Muslim pun menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi mereka dalam setiap aktivitas ilmiah yang dilakukan. Inilah yang menyebabkan para saintifik muslim terdahulu, mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Sehingga membawa barisan Islam berada di paling depan. Bisa kita lihat banyaknya ilmuan yang lahir mulai dari zaman Bani Umayyah dan puncaknya di zaman Bani Abbasyi’ah. Karena mereka benar-benar melakukan pengkajian terhadap ajaran Islam.

            Spirit Al-Qur’an mampu membawa mereka terus melangkah. Mereka menyadari adanya dua dimensi penting dari Al-Qur’an yaitu dimensi iman dan ilmu atau dimensi spiritual dan intelektual.

3.2. Saran

            Sebagai seorang peneliti tentunya tidak akan berhenti pada kesimpulan. Harus terus melakukan sebuah penelitian lanjutan, hingga pada titik yang tidak memungkinkan lagi bergerak. Oleh karena itu, penulis akan terus berusaha memberikan yang terbaik. Dalam hal ini, dibutuhkan masukan-masukan yang dapat mensupport penelitian ini.

            Apa yang telah tertulis di dalam karya ilmiah ini, hanyalah sedikit sekali dari sekian banyak keajaban Al-Qur’an. Maka dari itu, harapan penulis kepada pembaca agar tidak berhenti di sini. Sebagaimana niat penulis akan terus berusaha memperbaiki karyanya.

            Semoga dengan karya sederhanana ini, terbuka suatu jalan kecil yang bisa mengantarkan kita kepada Tuhan, sembari mencicipi nikmatnya perjumpaan anatara orang yang merindu dengan orang yang dirindukan. Itulah seorang hamba dengan penciptanya.


[1]Armahadi Mahzar. Revolusi Integralisme Islam. (Bandung, PT Mizan Pustaka: Cet.1, 2004). Hal. 217

[2]Toeti Heraty Noerhadi. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan.  (Jakarta, Teraju: Cet. 2002). Hal. 30

[3]Toeti Heraty Noerhadi. Ibid. Hal.32

[4] Toeti Heraty Noerhadi. Ibid. Hal. 38

[5]Ahmad Fuad Pasya. Dimensi Sains Al-Qur’an. Google: books.goolge.co.id. Hal. 31

[6]Osman Bakar. Tauhid Dan Sains. (Edisi Revisi, Bandung, Pustaka Hidayah: Cet.1, 2008).  Hal.149

[7]QS. Al-‘Alaq:1

[8]Husein Heriyanto. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. (Bandung, Mizan: Cet. 1, 2011). Hal.37

[9]Husain Heriyanto. Ibid. Hal. 38

[10]Husain Heriyanto. Ibid. Hal. 39

[11]M.Quraish Shihab. Mukjizat Al-Qur’an. (Bandung, Mizan: Cet. 13, 2003). Hal. 171

[12]Harun Yahya. Keajaiban Pada Atom.  (Bandung, Dzikra: Cet. 1, 2003). Hal. 6-7

[13]Harun Yahya. Al-Qur’an Dan Sains. (Bandung, Dzikra: Cet. 1, 2004). Hal. 81

[14]Dalam Mehdi Golsani. Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an. (Bandung, Mizan: Cet. 1, 2003). Hal. 62

Makalah

By:
Harkaman