TAFAKKUR “Tangga Pertama Menuju Tuhan”

 Segala puji bagi Allah yang Mahasuci dalam keazalian, keabadian, dan ketunggalan-Nya dari yang sebanding dan serupa dengan-Nya. Dia juga Mahasuci dalam keindahan, keagungan, dan kesempurnann-Nya dari makalah-makalah yang dikemukakan orang-orang yang menyimpang. Tidak ada masa yang membatasi-Nya. Tidak ada seorangpun yang menolong-Nya. Tidak ada cahaya yang menampakkan-Nya. Tidak ada tirai yang menyembunyikan-Nya. Dialah yang satu dan tunggal. Dia Mahasuci dan menjadi tempat bergantung yang tidak diragukan lagi.

Saya bersaksi dengan kesempurnaan kekuasaan-Nya akan berbagai keajaiban ciptaan-Nya. Segala yang selain-Nya, Dialah yang membuatnya ada, mengaturnya, dan menumbuhkannya. Mahahidup, Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Mendengar, Maha melihat, Maharaja, dan Mahabesar. Tidak ada yang bisa mendekatkan orang yang dijauhkan-Nya. Tidak ada yang bisa menjauhkan orang yang telah didekatkan-Nya. Maha berbicara dengan kalam azali yang Mahaagung dari berbagai pertanyaan bagaimana.[1]

Seseorang yang telah meraih kesuksesan dalam suatu hal, tentunya dia telah melalui beberapa rintangan dan menempuh pelbagai jalan. Ada jalan yang dapat mengantarkannya untuk mendapatkan kesuksesan yang diinginkan dan ada juga jalan yang harus dia hindari. Tidak semua jalan yang telah dilalui itu mulus, sesekali harus melewati jalan yang berliu-liku, sesekali harus merubah arah dan mencari jalan yang lain. Begitu juga dengan jalan yang harus dilewati oleh para pencari kebenaran, agar bisa sampai kepada ma’rifatullah.

Para pencari kebenaran harus menempu jalan yang tepat, agar bisa sampai ketempat tujuan mereka. Tidak sedikit pencari kebenaran menempuh jalan yang salah sehingga ia tidak pernah sampai ke tempat tujuannya. Karena ia tidak memiliki peta dan tidak pula memiliki kunci pembuka pintu ma’rifah. Dalam hal ini, meniscayakan pentingnya sebuah pengetahuan bagi para pencari kebanaran, agar tetap bisa melanjutkan perjalanannya. Pada akhirnya pencapaian seseorang akan berbeda-beda. Ada yang berhasil sampai di ujung jalan, di tengah jalan dan bahkan ada berada di awal jalan saja. Di sisi lain, ada suatu kelompok yang sama sekali tidak berniat untuk menenmpu jalan kebenaran. Sehingga posisi mereka berada  jauh di luar garis start.

 Sesekali harus menghindarkan diri dari tempat-tempat kemaksiatan. Namun jangan sampai disalah pahami, lari dari suatu kawasan yang penuh perbuatan makisat bukan berarti lari dari  ketentuan Allah SWT. Bahkan termasuk bagian dari satu ketentuan-Nya yang tidak boleh harus dilakukan. Demekian pula tidak termasuk perbuatan tercela mencerca tempat-tempat yang mengandung kemaksiatan, mengutuk faktor-faktor yang menyebabkan faktor kemaksiatan semata, dengan niat semata-mata untuk menghindar dari kemaksiatan itu sendiri. Karena itu sudah melekat sebagai teradisi ulama salaf.[2]

Syarat untuk menempu jalan kebenaran ialah kita harus berjuangan keras, harus serius, focus dan istiqamah. Jangan sampai terbuai oleh nafsu dan menjadi budak baginya. Karena perjuangan tersulit adalah berjuang melawan hawa nafsu.

“Dari Jabir, telah datang kepada Nabi sekelompok pasukan perang, lalu Nabi bersabda, “Kamu sekalian telah kembali kepada sebaik-baik tempat kembali dari jihad asghar (jihad kecil) menuju kepada jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, “Apa jihad akbar itu, wahai Rosulullah?” Rasulullah menjawab, “Jihadnya seseorang melawan nafsunya.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitab Kitabul Zuhud)

Ketika seseorang mampu menjaga diri dari perbuatan yang membuaikan dengan cara berjuang melawan hawa nafsu. Maka ia dapat mengangkat derajat jiwa (nafs) menjadi yang mengerti (faqiyah)  dan tenang (muthmainnah).[3]

Pengertian , Dalil dan Pembagian Tafakkur

                 Tafakur berasal dari kata تَفَكّرَ-يَتَفَكَّرُ-تَفَكُّرًا yang berarti merenungi atau memikirkan. Di dalam tasawuf, tafakkur digunakan dalam arti meluangkan waktu, betapapun sedikitnya, untuk merenungkan tugas-tugas kita terhadap pencipta dan penguasa kita-yang telah menghadirkan kita ke bumi, yang telah menganugerahkan kepada kita seluruh sarana kenikmatan dan kesenangan hidup, yang telah melengkapi kita dengan tubuh yang baik serta pelbagai daya dan indra yang sempurna untuk beragam tujuan. Semua itu membuat akal manusia terkagu-kagum.[4]

Berkenaan dengan masalah tafakkur, Allah Swt. berfirman dalam surat Ali-‘Imran ayat 190-191:

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191)

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib :”Bangunkanlah hatimu dengan tafakur, jauhlah dari tempat tidurmu pada malam hari, dan bertakwalah kepada Allah, Tuhanmu”. [5]

Berpikir itu terdiri dari tiga bagian. Pertama, berpikir mengenai makhluk-makhluk Allah dan menjadikannya sebagai dalil keberadaan Allah. Inilah yang banyak dilakukan oleh para ulama Allah swt. Kedua, berpikir mengenai detail-detail ciptaan Allah dan kelebihan nikmat-nikmat Allah. Ini merupakan bagian dari materi bersyukur pada Allah. Ketiga, berpikir untuk beramal dan memurnikannya. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang rajin beribadah.[6]

Menurut Ibnu ‘Athailah pikiran itu ada dua macam, yakni pikiran yang timbul dari pembenaran atau iman, dan pikiran yang timbul dari penyaksian atau penglihatan. Yang pertama bagi ahli iktibar, sedang yang kedua bagi kaum yang telah menyaksikan dan melihat dengan mata batin.[7]

Keutamaaan Tafakkur

Tafakkur merupakan kunci pelbagai pintu makrifat, khazanah dan pengetahuan. Tafakkur merupakan prasyarat bagi manusia untuk bersuluk menuju Allah SWT.[8] Bagi seorang pencari kebenaran harus melalui jalan ini, agar bisa memasuki pintu berikutnya.

Seseorang yang sudah berada pada tahap ini. Akan terbentuk sebuah benteng pertahanan dalam dirinya, agar tidak terjerumus ke jalan yang salah. Berusaha menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan perbuatan yang dapat menjatuhkan derajatnya, sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Oleh karena itu, para pencari kebenaran akan berusaha memenjarakan nafsunya, menempatkan pada tempatnya dan memfungsikan sesuai dengan fungsi nafsu. Serta tidak membiarkan keuatan akalnya terkalahkan oleh kekuatan nafsunya.  Mereka sadar bahwa melawan hawa nafsu dapat mengangkat derajat jiwa (nafs) menjadi yang mengerti (faqiyah)  dan tenang (muthmainnah).[9]

Satu kisah yang cukup mashur di telinga kita, yaitu kisah Nabi Ibrahim As. yang sedang berusaha mencari kebenaran. Bagaiaman Beliau berusaha merenungkan fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya. Hingga berkesimpulan bahwa semua yang dia temui hanyalah merupakan ciptaan dan pencipta semua itu diyakini memiliki kuasa atas semuanya.[10]

Ketika  tangga pertama ini sudah berhasili dilalui, maka akan membantu seorang pencari kebenaran menju kepada tangga yang kedua. Namun tanpa tangga pertama, tentunya tidak mampu menaiki tangga-tangga berikutnya. Para pencari kebenaran rapu tanpa pertahanan yang kokoh di dalam dirinya.

Argumentasi Tentang Kerancuan Tafakkur

            Diriwayatkan dari Rasulullah Saw. Yang bersabda, “Berpikirlah mengenai makhluk Allah dan jangan berpikir mengenai Allah. Karena kalian tidak akan pernah mampu memikirkan kuasa-Nya.”[11]

            Riwayat tersebut di atas cukup mashur di kalangan umat Islam. Dengan berdalih pada riwayat tersebut di atas, ada sekelompok orang beranggapan bahwa bertafakkur hukumnya haram. Tanpa menelaah lebih dalam maksud dari riwayat tersebut. Di dalam Al-Qur’an ayat tentang berzikir dan berpikir mempunyai kwantitas yang sama. Jadi, salah besar orang yang hanya mengedepankan zikir dan melupakan berpikir.

            Adapun tujuan pelarangan terhadap bertafakkur yang sebanrnya adalah agar orang tidak melakukan pembicaraan yang bertujuan mengukur kedalaman Zat Allah dan kualitas Zat-Nya dengan mencari alasan-alasan keberadaan-Nya. Jika tidak demikian, pembicaraan tentang zat Allah yang bermaksud menegaskan Zat itu, kesempurnaannya dan Transendensi-Nya, tidak akan menimbulkan kebingungan atau kekacauan.[12] Di laur rana tersebut, maka itulah yang dimaksudkan riwayat yang telah disebutkan di atas.

            Abdul Aziz Al-Darini mangatakan:”Seseorang yang mengosongkan sifat-Nya atau orang yang menyerupakan-Nya dengan yang lain-Nya, maka ia kan terherumus pada kesesatan”.[13]

Awal Perjalanan Menuju Tuhan

Berpikir merupakan sebuah pendahuluan untuk meraih keimanan hati. Apabilah keimanan telah diraih dalam hati seseorang, maka ia berpengaruh terhadap organ-organ tubuhnya. [14] Karena berpikir adalah lentera hati. Ketika ia tiada, maka hati tak punya cahaya.[15] Dengan demikian seorang pencari kebenaran tidak mampu melanjutkan perjalanannya tanpanya.

Ada nilai-nilai yang terkandung di balik tafakkur. Tidak seorangpun mampu memahaminya, kecuali bagi orang yang pernah mengalaminya. Sejuta fadilah yang ditumbuhkan olehnya di dalam diri seorang pencari kebenaran. Memancarkan cahaya yang begitu terang sehingga menerangi setiap langkahnya dan menenteramkan jiwanya. Mereka orang-orang cendikia akan meningkatkan iman dan membuat mereka melampaui batas-batas sebab-akibat. Sedangkan mereka para saksi atas keagungan Allah yang mendapat pancaran cahaya akan memperluas ilham dan saluran mereka menuju yang Gaib.[16]

Tafakkur melahirkan kesadaran diri, menyadarkan kita bahwa semuanya bergantung kepada Allah SWT.[17] Hal ini didukung dengan adanya argumen (burhan) yang meniscayakan adanya penguasa tunggal (wujud yang satu), bahwa semua wujud tidak bisa eksis tanpa ada-Nya. Ibnu Arabi mengungkapkan teori manifestasi yang melahirkan konsep wahdatul wujud. Hanya ada satu wujud dan yang selainnya hanyalah sebuah manifestasi dari Tuhan yang Esa.[18]

Merenung dan memikirkan dalil serta argumen makrifatullah akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kufur dan akan menumbuhkan keimanan. Pintu kesempurnaan pun akan terbuka baginya. Ia terdorong untuk mengamalkan tuntutan iman.[19]

Oleh karena itu, setelah melaksanakan semua ketentuan ilahi, mengenakan pakaian syariat, menyibukkan diri dengan penyucian sirr, pencerahan roh dan penjernian kalbu, sedikit demi sedikit seorang pesuluk akan menyaksikan penjelmaan cahaya gaib pada cermin jiwanya. Ia akan terbawa oleh tarikan-tarikan batin dan kerinduan fitrah alamiah untuk menuju alam gaib.[20] Hingga muncul pandangan seperti yang diungkapkan oleh Wuhab ibn al-Ward:”Apa yang aku cintai adalah apa yang paling dicintai Allah SWT.”[21]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Darini, Abdul Aziz. 2003. Melancong Ke Surga “Tatacara Menggapai Cinta Ilahi”. Jakarta: Hikmah

Al-Ghazali, Imam. 2005. Rindu Tanpa Akhir. Jakarta: Serambi

Al-Haidari ,Sayyid Kamal. 2003.  Jihad Akbar. Bandung: Pustaka Hidayah

Al-Jaylani ,Syekh ‘Abdul Qadir. 2005. Pendar Kearifan. Jakarta: Serambi

Al-Qur’an Digital Versi 2.1.  http://www.alquran-digital.com: 2004

Amini, Ibrahim. 2002.  Risalah Tasawuf ”Kitab Suci Para Pesuluk” . Jakarta: Alhuda

‘Atailah, Ibnu. 2004. Al-Hikam “Rampai Bunga Hikmah”. Jakarta: Serambi

Kartanegara, Mulyadi. 2006. Gerbang Kearifan. Jakarta: Lentera

Khomeini, Imam. 2004. 40 Hadis “Telaah atas Hadis-hadis Mistis dan Akhlak”. Bandung: Mizan

Khomeini, Imam. 2002. Cahaya Sufi. Jakarta: Misbah


[1]Abdul Aziz  Al-Darini. Melancong Ke Surga “Tatacara Menggapai Cinta Ilahi”. (Jakarta, Hikmah: Cet. I, 2003). Hal. 25

[2]Imam al-Ghazali. Rindu Tanpa Akhir. (Jakarta, Seramb: 2005). Hal. 316

[3]Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaylani. Pendar Kearifan. (Jakarta, Serambi: Cet. 1, 2005). Hal.30

[4]Imam Khomeini. 40 Hadis “Telaah atas Hadis-hadis Mistis dan Akhlak”. (Bandung, Mizan: Cet. I, 2004. Hal. 4

[5]Dalam Sayyid Kamal Al-Haidari. Jihad Akbar. (Bandung, Pustaka Hidayah: Cet. I, 2003). Hal. 173

[6]Abdul Aziz  Al-Darini. Op.Cit. Hal.27

[7]Ibnu ‘Atailah. Al-Hikam “Rampai Bunga Hikmah”. (Jakarta, Serambi: Cet. II, 2004). Hal. 359

[8] Imam Khomeini. Cahaya Sufi. (Jakarta, Penertbi Misbah: Cet. 1, 2002). Hal.81

[9]Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaylani. Op.Cit.. Hal.30

[10]Al-Qur’an Digital Versi 2.1.  http://www.alquran-digital.com: 2004. QS. Al-An’am ayat 75-79.

[11]Abdul Aziz  Al-Darini. Op.Cit. Hal. 27

[12]Imam Khomeini. Op.Cit. Hal. 226

[13] Abdul Aziz  Al-Darini. Op.Cit. Hal. 25

[14] Sayyid Kamal Al-Haidari. Op.Cit. Hal. 176

[15]Ibnu ‘Athailah. Op.Cit. hal. 358

[16]Ibnu ‘Athailah. Ibid.Hal. 358

[17]Ibrahim Amini. Risalah Tasawuf ”Kitab Suci Para Pesuluk” . (Jakarta, Alhida: Cet. I, 2002). Hal. 239

[18]Mulyadi Kartanegara. Gerbang Kearifan. (Jakarta, Lentera Hati: Cet. I, 2006). Hal. 61

[19] Ibrahim Amini. Op.Cit. Hal. 240

[20]Imam Khomeini. Op.cit. Hal.116

[21]Dalam Imam al-Ghazali. Op.Cit. Hal. 320

Oleh:
Harkaman