MODIFIKASI DAN INOVASI IBNU SINA ATAS FILSAT ARISTOTELES

Pemakalah: Harkaman

BAB I

MUKADDIMAH

Nama Ibnu Sina, tentunya tidak asing lagi di telinga kita, begitu juga dengan Aristoteles, keduanya cukup terkenal di dunia Timur dan Barat. Siapa sangka keduanya ternyata memiliki kesamaan dan memiliki perbedaan. Sebagai seorang filosof yang masyhur, membuat pembahasan ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Kita harus mengenal mereka dan mengkaji filsafat yang telah mereka kembangkan.

Aristoteles adalah filosof yang pertama kali mencetuskan aliran peripatetik, walau pada saat itu bukanlah istilah peripatetik yang digunakan. Entah istilah apa, namun yang terpenting adalah apa yang ia bicarakan. Sedang dalam dunia Islam dikenal Ibnu Sina sebagai salah satu pelopor aliran peripatetik. Dengan demikian kita bisa mengambil sedikit berkesimpulan bahwa ajaran Aristoteles telah dilanjutkan oleh Ibnu Sina salaku filsof yang menganut aliran yang sama. Namun sampai di mana keterikatan Ibnu Sina terhadap filsafat Aristoteles, itulah menjadi poin pembahasan pada bab selanjutnya.

Ibnu sebagai kaum intelektual tidak akan menelan mentah-mentah filsafat Aristoteles, pasti ia melakukan modifikasi dan inovasi atas filsafat Aristoteles. Jika tidak demikian, maka konsekuensinya Ibnu Sina hanyalah seorang pencuplak. Bisa pula dikatakan bahwa filsafat tidak mengalami perkembangan. Pada hal semakin hari pembahasan mengenai filsafat semakin menjelimet.

Saya kira ini adalah tuntutan zaman, mata harus memandang lebih dalam, kaki harus melangkah lebih jauh dan otak harus berpikir lebih keras lagi. Siapa yang tidak bisa beradaftasi dengan alam, maka ia akan tertelan oleh zaman. Karena akan selalu ada seleksi alam yang harus di hadapi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Logika

Terkenalnya aliran filsafat peripatetik bukan karena penyebab kemunculan istilah peripatetik itu sendiri, sebagaimana yang dipahami bahwa metode pengajaran yang telah dilakukan oleh pencetus filsafat peripatetik, Aristoteles, dengan mengelilingi murid-muridnya di saat memberikan pelajaran. Akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah kedudukan logika yang sangat tinggi di mata filosof yang beraliran peripatetik. Mereka menjadikan rasio sebagai metodologi tertinggi.

Bermula dari aksi protes yang dilakukan oleh Aristoteles terhadap gurunya, Plato, yang mengatakan bahwa apa yang ada di dunia ini merupakan bayang-bayang dari ide-ide yang ada di atas atau lebih dikenal dengan istilah ide-ide Plato. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat suatu benda terdapat dalam benda itu sendiri, bukan di dalam alam ide, sebagaimana yang diungkapkan oleh Plato.

Kedudukan logika di mata filosof yang menganut aliran peripatetik inilah yang menjadi fashl utama dari aliran yang lain, seperti aliran iluminasionis, ‘irfani dan hikmah muta’aliyyah. Secara sangat umum, ajaran Aristoteles tentang logika berhubungan dengan ajaran mengenai induksi, deduksi dan silogisme.[1]

Di dalam Islam munccul juga filosof yang menganut aliran peripatetik sepertiAl-Kindi, Al-Farabi dan  Ibnu Sina. Ibnu Sina merupakan salah filsuf Islam yang cukup terkenal mengembangkan filsafat Aristotels. Namun dalam bidang metodologi Ibnu Sina tidak melakukan sebuah modifikasi atau pun inovasi, tetap saja ia memegang kaidah-kaidah logika yang telah diperkenalkan oleh Aristoteles. Karena Ibnu Sina juga menganggap bahwa logika adalah kunci filsafat, yang pencarian (pengetahuan)-nya adalah kunci kebahagian manusia.[2]

Kaidah yang dimaksudkan di atas adalah kaidah logika formal. Melakukan pembuktian secara tidak langsung, karena menggunakan simbol-simbol, baik itu berupa kata-kata atau konsep maupun representasi. Kendati pun demikian Ibnu Sina selaku filosof Islam tidak bisa menafikan intuisi murni, namun kekuatan logika lebih ia utamakan.

Satu hal yang mesti digaris bawahi, penemuan Aristoteles tentang logika formal ini mengundang banyak kontra di antara banyak filosof. Sebagian menanggapinya positif dan sebagian lagi menanggapinya dengan negatif. Walau demikian, karya Aristoteles dalam bidang logika tentang silogisme masih menduduki posisi pertama dalam bidang logika.

 2.2. Metafisika

            Pembahasan metafisika dalam filsafat tentunya hal yang sangat menarik kita bicarakan. Berbicara tentang metafisika tidak akan lepas pada pembahasan tentang ketuhanan. Inilah yang membuat kajian yang satu ini sangat menarik khsusnya bagi para filosof Islam.

            Dalam filsafat Aristoteles dikenal sebuah teori penggerak yang tidak digerakkan (penggerak awal). Dia yang menjadi penyebab pertama dan tidak tersebabkan lagi. Para murid Aristoles kemudian menafsirkan pendapat ini sebagai repsentasi Tuhan.

            Sekalipun Aristoteles membahas tentang Tuhan, namun itu belum terlalu terfokus dan detail pembahasannya. Sehingga menimbulkan kekecewaan pada Ibnu Sina sebagai filosof Islam yang menganggap kajian tentang ketuhanan harus dinomorsatukan.  Rasanya ada sebuah keganjalan, jika pembahasan ini tidak mendapat pembahasan secara proporsional dalam kajian filsafat. Harus diakui bahwa Peripatetik Islam agak menyimpan pada ajaran Aristoteles murni mengenai pembahasan ini.

Pada dasarnya teori tentang penggerak yang tidak tergerakkan ini meman belum utuh, mengingat masih banyak persoalan yang tidak bisa ia selesaikan, misalnya saja tentang bagaimana dari Tuhan yang Esa menghasilkna keberagaman, sebagaimana yang kita saksikan di alam semesta.

Kritikan juga juga muncul oleh salah seorang filosof yang menyangga pendapat Aristoteles tersebut di atas. Jika Tuhan sebagai penggerak awal, sebagaimana yang dipahami oleh Aristoteles, maka pada proses selanjutnya Tuhan tidak lagi memiliki perang. Maka Tuhan akan menjadi pengangguran. Arti lain, Tuhan tidak lagi dibutuhkan saat ini. Karena meman filosof yang mendukung pemikiran Aristoteles beranggapan bahwa Tuhan tidak tersibukkan dengan sesuatu yang diluar diri-Nya. Tuhan hanya memikirkan diri-Nya karena Dia adalah ‘aql. Dengan kata lain, Tuhan adalah subjek sekaligus objek pemikiran. Karena itu Tuhan tidak perlu tahu hal-hal yang bersifat partikular (juz’iyat). Hal-hal yang bersifat partikular adalah khusus bagi yang terbatas yang terpengaruh dengan berbagai kejadian dan objek pengetahuan setelah terjadi.

 Pendapat tersebut di atas tidak dapat diterima oleh Ibnu Sina. Baginya Tuhan Maha mengetahui segala yang sudah atau yang akan terjadi dalam kekuasaan-Nya sejak azali. Jadi pengetahuan-Nya itulah yang menjadi sebab bagi terjadinya segala sesuatu.[3]

Dari sinilah kemudian Al-farabi berpikir keras, kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Sina, sehingga menghasilkan teori emanasi yang lebih konflex dibandingkan dengan teori Aristoteles tentang penggerak awal . Kemudian melahirkan tiga wujud, yaitu wajibul wujud, mumkinul wujud dan mumtani’ul wujud.

Karena di dalam Islam kita pahami bahwa hal apapun selalu ada keterikatan Tuhan di sana. Khsususnya penjelasan bagaimana Ibnu Sina dapat menjelaskan satu wujud yang kemudian menghasilkan keberagaman. Dimana Tuhan dimaksudkan sebagai Wajibul wujud dan lebih jelasnya nanti pada pembahasan lain tentang teori emanasi Ibnu Sina. Sebuah perpaduan teori dari Plotinus dengan penemuan ilmiah saat itu.

2.3. Jiwa

Untuk memahami ajaran Aristoteles tentang jiwa. Kita harus mengingat bahwa jiwa adalah “forma” tubuh, dan bahwa bentuk sapsial adalah salah satu jenis “forma”.[4] Hubungan jiwa dan bentuk adalah meberikan kesatuan. Sebuah bangunan yang indah berawal dari parsial batu.

Jelasnya defenisi jiwa yang dikemukakan Aristoteles Yang berbunyi: “kesempurnaan awal bagi jasad rohani yang organis” ternyata tidak memuaskan Ibnu Sina. Pasalnya, defenisi tersebut belum memberikan tentang hakikat yang membedakannya dari jasad. Menurut Aristotels, manusia sebagaimana layaknya benda alam lain terdiri dari dua unsur: madat (materi) dan shurat (form). Materi adalah jasad manusia dan form adalah jiwa manusia.

Justru itulah untuk membedakan hakikat jiwa dari jasad, Ibnu Sina mendefinisikan jiwa dengan jauhar rohani. Defenisi ini mengisyaratkan bahwa jiwa merupakan substansi rohani, tidak tersusun dari materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara keduanya bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa pada hancurnya jiwa (roh). Pendapat ini lebih dekat pada Plato yang mengatakan jiwa substansi yang berdiri sendiri (al-nafs jauhar qaa’im bi dzatih).[5]

                                                                    

 

  BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Setelah berbicara panjang mengenai modifikasi dan inovasi Ibnu Sina atas filsafat Aristoteles. Saatnya menarik poin-poin penting. Adapun poin-poin tersebut adalah sebagai berikut:

  • Secara metodologis Filsafat Ibnu Sina dan Filsafat Aristoles sama. Mereka lebih mengedepankan perisnip-perinsip logis yang menggunakan logika formal dengan mengedepankan rasio.
  • Aristotels di kala menjelaskan tentang metafisik belum serinci dari apa yang kemudian dipaparkan oleh Ibnu Sina. Di zaman Aristoteles masih banyak permasalahan yang belum terjawab khsususnya tentang masalah ketuhanan, dan ini terjawab di zaman Ibnu Sina.
  • Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa bersifa kekal dan tidak bisa mengalami perubahan. Sedangkan Aristoteles berpedapat bahwa jiwa merupakan forma tubuh. Sebenarnya ini lebih mendekati pendapat plato.

3.2. Saran

Penulis sadar tentang apa yang ada di dalam karya ilmiah ini masih mempunyai banyak kekurangan. Namun setidaknya kami sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik. Semoga ke depannya kami bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Oleh karena itu kami berharap saran yang membangun dari para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

 

Inati, Shams. 2003.  Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan Nasution, Hasyimsyah.2002. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media

Tjahjadi, Simon Petrus L.. 2004.  Petualangan Intelektual. (Yokyakarta: Kanisius

Russel, Betrand. 2002. Sejarah Filsafat Barat. Yokyakarta: Pustaka Pelajar

Zar, Sirajuddin. 2004.  Filsafat Islam.  Jakarta: PT RajaGrafindoPersada

 


[1]Simon Petrus L. Tjahjadi. Petualangan Intelektual. (Yokyakarta, Kanisius: 2004). Hal.64

[2]Shams Inati. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. (Bandung, Mizan: Cet. I, 2003). Hal. 290

[3] Hasyimsyah Nasution. Filsafat Islam. (Jakarta, Gaya Media Pratama: Cet. Ke-3, 2002). Hal. 70

[4]Betrand Russel. Sejarah Filsafat Barat. (Yokyakarta, Pustaka Pelajar: Cet. I, 2002). Hal. 230

[5]Sirajuddin Zar. Filsafat Islam.  (Jakarta, PT RajaGrafindoPersada: Cet. I, 2004). Hal. 108