SAYANG UNTUK DILEWATKAN, TAPI

Oleh : Harkaman

Malam ini pukul 00.00 tanggal 1 januari 2014, keindahan malam kota Jakarta tampak di mataku. Momen ini akan datang setiap tahunnya. Kota yang sering disapa dengan nama kota Metro Politan dihiasi oleh jutaan kembang api yang berhamburan di angkasa. Sangat banyak orang yang menikmati keindahan itu. Ada yang berkelompk dan mengadakan sebuah pesta besar-besaran, ada juga yang sendiri saja. Tapi tidak sedikit juga orang yang berada di sekitarnya mengutuk mereka itu yang sedang berpesta. Tangisan bayi-bayi yang sedang kelaparan dan kehausan tak terdengarkan, karena yang mereka dengar hanyalah suara kembang api. Banyak tangan yang meminta sesuap nasi, namun tak terlihat. Karena yang mereka lihat adalah keindahan kembang api.

Mata kiriku senang menyaksikan keindahan malam ini, tapi mata kananku terus merinti menangis. Sungguh sayang untuk dilewatkan momen perayaan tahun baru ini, tapi sayang perayaan ini sangat monoton dari tahun ke tahun, hanya ada penghamburan uang, unsur poya-poya lebih diutamakan. Perayaan ini sama sekali tidak menghasilkan sesuatu yang baru yang kaya tetaplah kaya, yang miskin tetaplah miskin.

Saya pernah berpikir bahwa betapa baiknya, jika uang yang digunakan untuk merayakan tahun baru itu digunakan untuk kepentingan sosial. Bukankah itu lebih bermakna dan lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara. Daripada dibakar begitu saja. Maksud saya uang dibakar itu, karena digunakan untuk membeli kembang api. Saya yakin uang yang habis dibelikan kembang api tidak kurang dari satu miliyar. Ini baru di kota Jakarta, belum di kota-kota lain.

Entah sampai kapan tradisi perayaan tahun baru  akan terus seperti ini. Mungkin saat tahun baru tidak dikenal lagi atau tahun baru datang setiap hari. Sehingga gairah untuk merayakannya tidak ada lagi.

Sungguh disayangkan, banyak orang yang larut dalam kesenangan sesaat ini. Hingga ia melupakan esensi tahun baru yang sebenarnya apa. Ia hanya mencari kepuasan, padahal jiwanya terus haus, karena ia tidak akan pernah terpuaskan dengan persoalan materi. Ia benar-benar lupa bahwa yang seharusnya ia lakukan di tahun baru adalah intropeksi diri-mengevaluasi diri- agar lebih baik lagi.