https://i2.wp.com/www.islamituindah.my/wp-content/uploads/2011/03/sedekah2.jpg

PEMIMPINKU TUAN SEMBAKO

Oleh: Harkaman

            Banyak calon pemimpin yang hendak menduduki suatu jabatan tertentu, mereka mengikat sebuah janji manis kepada masyarakat. Tujuan utama mereka adalah hanyalah untuk memikat hati masyarakat, agar diberikan dukungan. Tidak hanya berjanji, bahkan mereka melakukan berbagai cara, agar dapat memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, tidak sedikit dari mereka melupakan kata-katanya yang masih tergiang-ngiang dalam ingatan masyarakat. Janji hanyalah janji, mungkin inilah yang disebut sebagai janji politik.

            Sekarang siapa yang salah? Merekakah yang yang berjanji? Atau mereka yang dijanji? Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa merekalah yang berjanji salah dan di lain sisi merekalah yang dijanji salah.

Sebaiknya, kita mengamati pemimpin dan masyarakat kita saat ini. Bagaimana prilaku mereka yang sesungguhnya. Pertama; Pemimpin. Apabilah mereka terpilih karena menyogok masayarakat. Maka jalur seperti ini tidak diragukan lagi kesalahannya. Mereka inilah nantinya hanya memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri dan membuat rakyat menderita. Akan tetapi, apakah penderitaan rakyat merupakan kesalahan mutlak pemimpin. Satu-satunya alasan yang paling masuk akal, bilah kesalahan sepenuhnya dilimpahkan kepada pemimpin, adalah bahwa pemimpin tersebut sedang menderita kelainan jiwa. Akibatnya, dia tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

            Apa yang telah disebutkan di atas, merupakan benar-benar dampak dari kelainan jiwa. Bagaiamana tidak? Jika dia tidak mampu membedakan antara haknya dengan hak orang lain. Maka alasan inilah yang memperkuat bahwa dia gila. Pemimpin seperti ini, di dalam benak mereka tidak pernah sedikitpun terbesik niat untuk memikirkan tentang nasib rakyatnya. Karena yang difikirkan hanyalah cara untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Sedang kewajibannya sebagai seorang pemimpin ia lupakan.

            Kedua; Masyarakat. Sejak awal, masyarakat semestinya mampu menentukan pilihan yang terbaik. Bukan berdasarkan iming-imingan sesuatu yang sifanya semantara saja. Dengan kata lain, mereka menjual suaranya dengan cara menerima sogokan dari suatu calon pemimpin.

Faktanya, rakyat lebih senang memilih seorang pemimpin yang siap memberikan mereka sesuatu, misalnya sembako (lazimnya, yang sering digunakan adalah beras) atau berupa uang tunai, serta hadiah-hadiah yang menggiyurkan. Dengan demikian, rakyat sendirilah yang telah menggadaikan masa depan mereka, masa 5 tahun dihargai dengan 5 kg beras, yang mungkin hanya mampu bertahan selama 5 hari saja.

            Oleh karena itu, rakyat tidak boleh lagi menuntut apa-apa setelah terpilihnya pemimpin tersebut. Bukankah ia telah menikmatinya terlebih dulu, menikmati pemberian dari calon pemimpin.Wajar saja, jika pemimpin tidak mempedulikan mereka lagi. Bukankah kepeduliaan itu sudah diberikan terlebih dulu. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang memunyai anggapan bahwa korupsi itu biasa saja.

Mereka pemimpin sejak awal awal hanya membeli suara rakyat, kemudian korupsi. Mereka bertujuan untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan sebelumnya, dan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Maka dihalalkanlah segala cara, yang penting bisa menghasilkan uang.

            Pola fikir masyarkat yang masih rendah, mereka tidak terlalu mementingkan masa depan- khsusnya para pertani, nelayan, buruh, dll- hanya memikirkan makan apa hari ini. Hal inilah merupakan faktor utama para oknum dapat dengan muda membodohi masyarakat. Masyarakat masih kurang peduli terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Urusan politik dan pemerintahan adalah urusan politikus saja. Padahal rakyat dan pemerintah memiliki keterikatan yang sangat kuat antara keduanya.

            Masyarakat lupa bahwa tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengayomi dan mebantu mereka keluar dari keterbelakangan, agar mereka mendapat penghidupan yang lebih baik. Sayangnya, masyarakat dibutakan oleh 5 kg besar. Mereka fikir bahwa 5 kg beras mampu menghidupinya selama 5 tahun, pada hal hanya mampu menghidupinya selama 5 hari.